
Kini Xika dikepung dari tiga arah. Dan ia tak bisa menghindar dengan sempurna karena petir yang berenang di kakinya. Apakah ia hanya bisa bertahan? Tapi melihat tiga serangan yang datang, tampaknya ia akan menerima luka yang tidak ringan.
Mendadak Xika teringat dengan teknik yang jarang digunakannya. Star Glance. Terakhir kali ia menggunakan teknik itu hanya untuk membuat Xingli tetap tinggal. Sayangnya ia gagal. Sepertinya ia jarang sekali menggunakan teknik itu.
Tapi kalau ia tidak salah, sebelumnya ia pernah menggunakan teknik itu dan luka di tubuhnya hampir sembuh. Ia tidak ingat bagaimana melakukan hal itu. Hanya kenangan dengan Xingli yang ia ingat, yang tentunya kembali membangkitkan rasa sakit di hatinya.
Ia segera menepis pikiran itu. Saat ini, kalau ia berhasil menggunakan Star Glance lagi, mungkin ia dapat menghilangkan petir di kakinya, atau setidaknya membuat semacam penghalang untuk memperkercil serangan yang ia terima.
Di saat ketiga serangan itu semakin dekat, Xika menutup matanya. Ia berusaha untuk berkonsentrasi dan mengingat kembali sensasi waktu itu. Kalau direka ulang, saat itu ia menerima serangan Xingli dan Heiliao untuk mencegah keduanya saling bunuh.
Bukan luka yang ringan tentunya. Tapi setelah itu ia bicara dengan Xingli......dan mengucapkan janji itu. Janji untuk saling bersama dan tidak meninggalkan satu sama lain. Ia percaya bahkan sampai saat ini, Xingli masih memegang janji itu di dalam hatinya, meskipun saat ini ia pergi.
Dan kemudian, tubuhnya mulai bersinar. Sama seperti waktu itu, ketika ia memegang kedua tangan Xingli dan mengucapkan janji itu. Tubuhnya mulai mengeluarkan sinar bintang. Ia merasakan sensasi yang sama seperti waktu itu meskipun kali ini tidak ada Xingli.
Xika melirik sekilas kakinya. Ia tak merasakan kesemutan seperti sebelumnya, dan tak ada lagi petir kecil yang berenang di kakinya. Kemudian ia mengangkat kepalanya dan melihat hanya tinggal sepersekian detik sampai serangan-serangan itu mengenainya.
Tak ada waktu lagi. Xika melompat dan melakukan tendangan berputar yang berhasil menghancurkan dua burung yang menyerangnya. Dampak dari pria berjubah gading yang membuat tanah bergetar dapat ia hindari dengan melompat ke atas. Namun masalahnya, duri-duri tajam dari tanah tidak berhasil ia hindari.
Dalam waktu yang singkat, Xika refleks mengangkat kedua tangannya untuk menahan duri-duri itu. Mungkin tangannya akan terluka, tapi setidaknya duri-duri itu tidak mengenai titik vitalnya.
Tapi apa yang tidak Xika ketahui adalah duri-duri itu menyentuh tangannya saat ia masih bersinar, dengan kata lain ketika Star Glance masih aktif. Dan duri-duri itu langsung hancur seketika begitu menyentuh tangan Xika.
KRAK!
BLAR!
"Apa?!"
"Tidak mungkin!"
"Eh?" Xika melihat tangannya dengan bingung. Keduanya masih bersinar beserta seluruh badannya. Meskipun tidak terlalu mengerti, tapi Xika yakin ini karena Star Glance. Entah kenapa kali ini teknik itu berlangsung lebih lama dibanding sebelumnya. Ia harus memanfaatkannya sebaik mungkin.
"Hati-hati! Tubuhnya mendadak bercahaya! Ia pasti menggunakan semacam teknik penguatan tubuh!" Pria berjubah gading berteriak memperingati teman-temannya. Tampaknya ia tahu banyak mengenai teknik penguatan tubuh.
"Huh! Kalau begitu tinggal serang dari jauh!" Mei Xu berteriak. Sambil melompat mundur, ia mengayunkan kedua tangannya dan dua buah petir kecil namun berbahaya meluncur dari tangannya.
Xika mengepalkan tangan kanannya. Star Glance berhasil menghilangkan petir di kakinya. Ia penasaran apakah kali ini juga bisa menghalangi petir itu. Jadi ia tidak menghindar. Ketika petir kecil itu datang, Xika mengayunkan tangannya dan menghantam petir itu.
BZZT!
SYUSH!
"Eh?"
"Mustahil!"
Xika mengharapkan sedikit rasa sakit atau kesemutan. Tapi bukan keduanya yang ia rasakan. Malahan, ia tidak merasa memukul sesuatu. Rasanya seolah sedang berlatih memukul, hanya pukulan kosong pada angin. Tidak mengenai apapun.
Sementara Xika terkejut melihat tinjunya yang bisa menahan petir gadis itu, Mei Xu membelalakkan matanya tidak percaya. Sampai saat ini, tak ada orang yang bisa menahan serangannya, apalagi menghancurkannya semudah itu. Semua yang berhadapan dengannya pasti memilih untuk menghindar.
"Huh! Kau bisa menahan petir Mei Xu, tapi apa kau bisa menahan seranganku?" Pria berjubah gading melangkah maju sambil mengayunkan lengannya.
"Heh. Aku juga penasaran." Xika tersenyum. Ia berlari menuju pria itu. Ketika jaraknya sudah dekat, ia mengangkat kakinya dan bertemu dengan tinju pria itu.
BUK!
WHUSH!
BRAK!
Hasilnya? Pria berjubah gading itu terhempas hingga menabrak pohon di belakangnya. Tiga orang yang lain menatap pria berjubah gading itu dengan tatapan tidak percaya. Masing-masing memang memiliki kemampuan dan peran sendiri, tapi pria berjubah gading itu memiliki kekuatan paling besar diantara mereka.
Melihatnya dikalahkan hanya dalam satu serangan seperti itu membuat mereka menahan nafas. Tampaknya mereka salah mencari musuh kali ini.
__ADS_1
"Wow." Xika menatap pria berjubah gading yang terhempas itu dengan takjub. Bahkan ia sendiri kaget dengan kekuatannya. "Baiklah. Siapa berikutnya?" tanyanya dengan senyum di wajah. Sayangnya, senyum itu sukses membuat bulu kuduk musuhnya merinding.
"T-tunggu dulu.....bagaimana kalau kita berdamai saja? Ah, tidak! Biarkan kami menjadi tim sekelompokmu, bukan bawahan! Ya, biarkan kami menjadi bawahanmu! Kami pasti bisa berguna untukmu! Kemampuan kami juga tidak terlalu buruk bukan?" Pria bermantel bulu bicara dengan gugup.
"He? Berdamai? Bawahan? Apa kalian memberikanku kesempatan untuk tawar-menawar ketika kalian menyerangku?"
Glek!
"A-anu...itu....sebenarnya kami terpaksa...."
"Oh? Belum pernah aku melihat orang terpaksa berwajah semangat seperti kalian."
"Ukh...K-kami tidak bohong! Kami melakukan ini karena dipaksa oleh Han Feng." Mei Xu ikut bicara.
"Han Feng?" Rasanya Xika pernah dengar namanya, tapi tidak tahu dimana.
"Benar, Han Feng dari Burning Abyss Clan."
"Ah! Dia." Xika menganggukkan kepalanya. Huo Bing pernah menyebut nama itu sebelumnya dalam daftar peserta yang harus diwaspadai. Ia tak menyangka Han Feng berhasil membuat orang lain bekerja untuknya dalam waktu sesingkat ini.
"Jadi kalian dipaksa Han Feng? Lalu kenapa wajah kalian sangat bersemangat saat menyerangku?"
"A-anu....sebenarnya, meskipun terpaksa, tapi Han Feng juga menjanjikan kami imbalan bila berhasil memuaskan dia."
"Lalu? Apa yang Han Feng janjikan dan apa yang harus kalian lakukan untuk mendapatkan imbalan itu?"
"Ia....." Pria bermantel bulu melirik pria yang menggunakan teknik batu sebelumnya dan mengangguk. "Ia menjanjikan kerja sama dengan Burning Abyss Clan. Bila hasil kerja kami memuaskannya, maka ia mengatakan bahwa Burning Abyss Clan bersedia menaungi klan kami."
"Dan kau percaya padanya? Apa kau yakin ia tidak akan mengingkari janji? Kau tidak bisa melakukan apapun bila ia mengingkari janjinya. Juga, apa yang harus kalian lakukan untuk mendapatkan kerja sama itu?"
Dalam hati Xika merasa agak bingung dengan pikiran keempat orang ini. Mereka dipaksa untuk bekerja di bawah Burning Abyss Clan, dan hadiahnya adalah menjadi bawahan Burning Abyss Clan. Apa bagusnya itu?
"Kami tidak memiliki pilihan lain. Lagipula kalau kami menolak kami akan langsung dikeluarkan dari babak ini. Kau yang berasal dari kekuatan besar seperti Akademi tidak akan mengerti. Tujuan kami para sekte kecil dan menengah mengikuti kompetisi ini adalah untuk menjalin kerja sama. Kalau ada satu saja kekuatan besar yang bersedia menaungi kami, maka itu sudah lebih dari cukup."
Untuk sesaat, ketiganya bertatapan. Dan mereka mencapai kesepakatan dalam diam. "Kami.....diminta untuk merebut mutiara sebanyak-banyaknya. Katanya hal itu akan memberikan manfaat, jadi Han Feng berusaha mendapatkan mutiara itu sebanyak mungkin untuk dirinya sendiri."
"Hm.....begitu...." Xika mengangguk berpura-pura mengerti. Mengumpulkan mutiara? Omong kosong. Han Feng bisa melakukan itu sendiri. Ada yang mereka sembunyikan. Apalagi pandangan ketika ketiganya saling bertatapan itu menyiratkan bahwa mereka setuju untuk menyembunyikan sesuatu.
Dan juga, terlalu terburu-buru untuk mengumpulkan mutiara sebanyak itu padahal tidak tahu manfaat apa yang akan didapatkan. Burning Abyss Clan bukanlah sekte kecil yang akan tergoda hanya dengan kata 'manfaat'.
Perlahan, sinar di tubuh Xika menghilang. Tiga orang yang tersisa menghela nafas lega karena mengira Xika akan melepaskan mereka.
"Hei."
SWUSH!
Xika menghilang dan muncul di balik pria bermantel bulu, kemudian melayangkan kakinya.
DUAK!
"Apa kau pikir aku akan percaya begitu saja?"
Selesai bicara, Xika kembali menghilang. Ia muncul di samping pria yang menggunakan teknik batu. Pria itu cukup sigap dengan membuat batu besar sebagai penghalang. Tapi Xika menyelimuti tangannya dengan angin yang berputar sehingga melubagi batu itu dengan kecepatan yang dapat dilihat mata.
JLEB!
WHUSH!
BRUK!
Xika berhasil melubangi perut pria itu dan membuatnya terhempas sembari berputar. Luka bekas terkoyak dapat terlihat jelas di tubuh pria itu.
"Hei." Xika menoleh pada Mei Xu, satu-satunya yang tersisa diantara keempatnya. "Sebaiknya kau menjawabku dengan jujur kalau tidak mau bernasib lebih parah daripada teman-temanmu. Aku tak akan berbelas kasih hanya karena kau adalah perempuan."
__ADS_1
Mei Xu menganggukkan kepalanya cepat-cepat.
"Apa yang Han Feng inginkan? Kenapa ia memaksa kalian bekerja di bawahnya?"
Mei Xu menelan ludahnya. Ia ragu-ragu mendengar pertanyaan Xika. Seharusnya ia tidak boleh mengatakan hal ini, bahkan sekalipun ia akan dikeluarkan dari babak ini. Tapi melihat kondisi rekan-rekannya yang lain.....itu lebih mengerikan dibanding keluar di babak ini.
Ia tahu Xika bukan orang yang membeda-bedakan pria dan wanita. Dan ia bisa merasakan bahwa Xika tidak main-main dengan perkataannya. Kalau ia menolak bicara, bisa-bisa ia tidak akan mampu berkultivasi lagi selamanya.
"I-ia.......mengetahui cara untuk mengambil mutiara tanpa membuat harta di gunung ini menghilang."
"Apa?!"
Mutiara yang menjadi tujuan dalam babak ini tersebar di mana-mana. Dari yang Xika tahu, kebanyakan berada di tanaman spiritual atau harta langka lainnya yang ada di gunung ini. Mutiara itu ditempatkan bukan tanpa alasan. Ketika para peserta mengambil mutiara itu, maka harta yang dijaganya akan menghilang secara otomatis, jadi para peserta tidak bisa mengambil harta itu.
Tapi Han Feng tahu cara untuk mengambil mutiara tanpa membuat harta di gunung ini menghilang? Dengan kata lain, ia dapat mengambil harta sekaligus mutiaranya yang menjaganya. Pantas saja ia memaksa orang-orang ini untuk bekerja di bawahnya. Daripada berfokus pada mutiara yang tidak jelas apa manfaatnya, lebih baik berfokus pada harta yang sudah jelas akan manfaatnya.
Lalu tindakan keempat orang ini......tampaknya mereka menyerangnya bukan karena perintah Han Feng. Han Feng pasti telah mengambil mutiara mereka. Mereka menyerangnya karena ingin mengumpulkan mutiara juga.
"Katakan padaku caranya."
Mei Xu tersentak. Tapi ia sudah menduga Xika akan mengatakn itu. Siapapun pasti akan menginginkan hal yang sama. Dia melirik teman-temannya sekali lagi sebelum menghela nafas.
"Ketika kau menemukan harta atau tanaman langka, jangan ambil mutiaranya. Ambil dulu harta tersebut dengan qi. Ketika harta atau tanaman itu sudah lepas dari habitat mereka, maka mutiara tersebut tak akan bekerja lagi. Tapi kau harus mengambilnya dengan tangan diselimuti qi, atau tanaman itu akan menghilang seketika begitu kau sentuh."
Xika tak menyangka akan semudah itu. Tapi orang yang menerapkan trik ini cukup pintar. Dalam babak kali ini, tujuan utamanya adalah mendapatkan mutiara sebanyak-banyaknya. Ketika melihat harta dan mutiara, secara insting kita pasti akan mengambil mutiara terlebih dahulu baru harta. Karena mutiara adalah prioritas utama untuk saat ini.
"Tunggu disini. Aku akan mencobanya. Jangan harap kau bisa kabur sekalipun aku pergi."
Mei Xu mengangguk cepat-cepat. Entah kenapa, aura yang dipancarkan Xika terasa sama dengan Han Feng. Atau bahkan lebih kuat. Dihadapan aura seperti itu, ia merasa tak berdaya dan tak dapat berbuat apapun.
Tak jauh dari tempat pertempuran mereka, Xika menemukan setangkai bunga langka. Ia melakukan sesuai perkataan Mei Xu. Dan ia berhasil memetik bunga itu tanpa membuatnya menghilang. Seulas senyum muncul di wajah Xika. Dengan begini, panen babak ini akan lebih banyak.
Ia kembali dan menemukan Mei Xu masih di tempatnya. Bahkan, kelihatannya gadis itu tidak bergerak sama sekali.
"Heh. Baguslah kau tidak berbohong."
"A-anu.....Rahasia ini......bisakah kau tidak mengatakannya pada orang lain? Dan kalau Han Feng menemuimu, tolong jangan katakan kau tahu ini dariku." Mei Xu menatap Xika dengan pandangan memohon. Kalau pria lain mungkin akan langsung setuju.
Lagipula, meskipun Mei Xu tak secantik Xingli hingga dapat dikategorikan sebagai Gadis Tercantik, ia masih memiliki paras yang menawan. Bagi pria yang sadar diri, mereka akan lebih memilih mengejar Mei Xu dibanding Empat Gadis Tercantik yang jauh diluar jangkauan. Sayangnya, Xika sudah menetapkan Xingli sebagai tujuannya. Ia tak akan tergoda sekalipun semua Gadis Tercantik merayunya.
"Aku berjanji akan menutup mulutku. Tapi, kau juga harus menutup mulutmu."
"Tentu saja-" ucapan Mei Xu terhenti melihat senyum sinis di wajah Xika. Ia terlambat menyadari ada yang tidak beres.
Xika melambaikan tangannya dan jimat Mei Xu bercahaya. Tinggal beberapa detik sebelum Mei Xu keluar dan dinyatakan gugur dalam babak ini.
"Kau berbohong! Kau bilang akan melepaskanku kalau aku bicara!" ucap Mei Xu geram.
"Aku tak pernah bilang begitu. Aku bilang kau akan menderita lebih parah dibanding rekanmu bila tak menjawab pertanyaanku. Aku tak pernah mengatakan akan melepaskanmu. Lagipula, kalau kau mau rahasia ini aman, cukup seorang yang tahu. Membiarkanmu berkeliaran lalu dikalahkan dan membocorkan rahasia ini adalah langkah yang bodoh."
Mei Xu menggertakkan giginya. Apa yang dikatakan Xika memang benar hingga ia tak bisa membalas sama sekali. Tapi ia merasa begitu bodoh, dengan mudahnya membocorkan rahasia begitu saja.
"Jangan memasang tampang seperti itu. Kau seharusnya bersyukur hanya kukeluarkan dari babak ini. Kalau kau bertemu pria lain yang bejat kau mungkin akan kehilangan sesuatu yang lebih penting dibanding nyawamu. Juga, kau tidak mendapatkan luka yang parah. Hanya satu tendangan. Itu lebih baik dibanding temanmu."
Mei Xu terlihat masih kesal. Tapi ia tak punya pilihan lain. Gadis itu membuka mulutnya dan terlihat hendak memberikan ancaman, namun jimatnya bersinar semakin terang dan membawanya keluar gunung ini tanpa membiarkannya selesai bicara.
Xika juga melakukan hal yang sama pada tiga orang yang lain. Kalau Mei Xu tahu rahasia itu, artinya tiga orang ini juga tahu. Terlalu berbahaya membiarkan mereka begitu saja. Bisa saja mereka dipukuli oleh orang lain dan membocorkan rahasia ini juga.
SYUSH!
Semakin sedikit orang yang tahu rahasia ini, semakin baik. Dengan begitu, ia bisa mendapatkan harta di gunung ini. Ia hanya perlu berlomba dengan Han Feng.
Setelah mengirim ketiganya pergi, Xika berjalan pergi untuk mengumpulkan lebih banyak mutiara dan harta.
__ADS_1