
Xingli yang pertama menyerang.
Ia mengayunkan pedangnya yang ditahan oleh tangan Heiliao. Terlihat perisai qi tipis melindungi lengannya. Heiliao menghempaskan pedang Xingli dan memberikan cakaran yang entah bagaimana dilakukannya dalam wujud manusia.
Xingli menggeser tubuhnya menghindari serangan Heiliao dan memberikan tendangan. Heiliao menunduk, tapi sayangnya tendangan itu hanyalah pengalih perhatian. Sambil menendang, Xingli memunculkan sebuah lubang putih dan mengambil sebuah pedang dari sana.
Ia mengayunkan pedangnya dan hendak memenggal kepala Heiliao, ketika Huo Bing berteriak.
"Hentikan! Apa yang kalian lakukan? Kenapa saling menyerang?"
Sebenarnya mereka saling bunuh, tapi Xika tak akan mengoreksi Huo Bing di saat seperti ini. Ia sama bingungnya seperti burung itu. Kenapa Heiliao dan Xingli saling menyerang? Keduanya sama-sama pendiam dan tak pernah ada percakapan diantara mereka, jadi mustahil ada dendam karena salah bicara.
Kalau begitu apa masalahnya? Mendadak Xika teringat ketika ia bersama Xingli di tanah kering waktu itu. Seekor serigala hitam muncul dan berakhir memakannya lalu memindahkannya ke tempat lain. Sebelum serigala itu sempat memakannya, ia memberikan geraman kesal pada Xingli.
Xingli juga bereaksi tidak jauh berbeda dari serigala itu, sama-sama kesal dan menunjukkan tanda tidak suka. Apa mereka pernah bertemu sebelumnya? Kalau dipikir-pikir, sepertinya serigala itu cukup mirip dengan Heiliao.
"Xika! Bantu aku! Kenapa diam saja?"
Ucapan Huo Bing menyadarkan Xika dari lamunannya. Kini Xingli dan Heiliao sudah kembali menyerang, padahal sebelumnya Huo Bing berhasil menghentikan mereka.
"Apa yang harus kita lakukan?"
"Kau pikir untuk apa aku meminta bantuanmu? Aku juga tidak tahu!"
"Kita harus menghentikan mereka. Tapi.....bagaimana?"
Huo Bing tidak menjawab, tapi Xika juga tahu burung itu tengah berpikir keras. Kemampuan Heiliao kurang lebih setara dengan Huo Bing, sementara Xingli setara dengan Xika. Wajar kalau Xingli kalah dalam pertarungan itu.
Tapi karena keduanya setara atau lebih kuat darinya, sulit masuk di tengah pertempuran mereka tanpa terluka. Huo Bing juga sama. Sekalipun ia bisa menghindari serangan Xingli, belum tentu ia bisa meghindari serangan Heiliao.
Apa yang harus ia lakukan? Xika bingung. Haruskah ia memihak salah satu? Yang mana? Tidak, tidak. Ia tidak bisa memilih. Keduanya terlalu berharga. Ia harus menghentikan keduanya. Sekalipun ia harus terluka.
"XINGLI! HEILIAO! HENTIKAN!"
Dan......itu tidak berhasil. Keduanya bahkan tidak menoleh sama sekali. Xika sudah menduganya. Tampaknya ia memang harus masuk ke tengah pertarungan mereka.
WHUK!
Xika membuka sayapnya. Kali ini ia tidak melapisinya dengan qi. Warna biru kehijauannya terlihat dengan jelas. Ia menarik nafas dalam-dalam kemudian mengepakkan sayapnya.
Tepat ketika pedang Xingli dan cakar Heiliao hendak bertemu, Xika tiba diantara keduanya, hingga yang jadi sasaran keduanya adalah Xika.
SLASH!
CRAT!
Darah menyembur dari depan dan belakang tubuh Xika hingga membasahi pakaian Heiilao dan Xingli. Keduanya tertegun melihat Xika yang berdarah. Sepertinya ia berhasil.
"Bodoh! Apa yang kau lakukan?" Heiliao berkata marah. Di sampingnya Xingli juga menatap Xika dengan amarah yang sama. Baru kali ini Xika melihat mereka saling sepakat dalam satu hal.
"Harusnya aku yang bilang begitu. Apa yang kalian lakukan? Mendadak bertarung? Bahkan hendak saling membunuh? Apa kalian gila? Kenapa kalian melakukan itu?"
"........"
__ADS_1
"........"
Keduanya tidak menjawab. Wow. Xingli dan Heiliao sama-sama kompak untuk urusan ini.
Heiliao menggeram pada Xingli. Kedengarannya ia baru saja mengambil keputusan yang berat.
"Pergilah. Kulepaskan kau kali ini demi Xika."
Heiliao bicara pada Xingli? Apa Xika bermimpi? Heiliao hampir tak pernah bicara selain pada Xika dan Huo Bing.
"Aku tak akan meninggalkannya." Gadis itu juga kedengarannya baru saja mengambil keputusan yang berat.
Apa gadis itu baru saja mengatakan tak akan meninggalkannya? Apa itu ungkapan cinta? Tunggu, bukan itu masalahnya. Xingli juga bicara? Xika hanya pernah mendengarnya bicara sekali. Oke, tiga kali.
Heiliao kembali menggeram. Ia tampaknya bersiap untuk bertarung lagi. Xingli juga sudah memasang kuda-kuda siap bertarung.
Set!
Xika melemparkan kartunya membungkus kedua lengan dan kaki Xingli hingga gadis itu tak bisa bergerak. Kemudian ia melirik Huo Bing dan menemukan burung itu juga melakukan hal yang serupa.
Kedua kaki dan tangan Heiliao terbungkus es hingga membeku dan mencegahnya bergerak. Entah kenapa, Heiliao terlihat lebih tenang dibanding Xingli. Serigala itu terlihat kesal, tapi ia tak memberontak dan berusaha menghancurkan es Huo Bing, sekalipun Xika tahu serigala itu sebenarnya bisa melakukannya.
Melihat Heiliao sudah tenang, Xika memutuskan untuk menghampiri Xingli lebih dulu yang sampai saat ini masih berusaha melepaskan diri dari kartu Xika.
Xika melihat gadis itu. Sekalipun wajahnya kesal dan sedang meronta dengan susah payah, ia masih terlihat cantik. Dan kata pertama yang ia keluarkan adalah,
"Nona, apa tadi kau baru saja mengungkapkan perasaanmu?"
Apa yang dikeluarkannya? Sial.
Lubang putih muncul di depan mulut Xingli dan mengeluarkan jarum yang nyaris mengenai leher Xika kalau ia tidak menghindar.
Kemudian Xingli membuka matanya dan menunjukkan ekspresi marah sekaligus kesal yang membuat Xika terbengong-bengong. Sekali itu Xingli menampilkan ekspresi untuk waktu yang cukup lama.
"Rupanya kau punya ekspresi juga. Kupikir kau mengalami cacat hingga tak bisa berekspresi."
SYUT!
Dan satu lagi jarum melayang ke lehernya.
"Xika, sudah dulu main-mainnya. Kau tak lihat serigala ini sudah hendak melepaskan diri?"
"A-ah! Ya, ya."
Xika mengesampingkan ekspresi marah Xingli yang menurutnya sangat lucu dan menanyakan alasan ia menyerang Heiliao.
"Jadi.......kenapa kau menyerang Heiliao? Apa kau punya dendam padanya?"
Xingli tak menjawab, tapi tekad untuk membunuh Heiliao di matanya tidak berkurang sedikitpun. Hmm, ia harus membuat Xingli bicara. Apa ia tak mau bicara karena ada Heiliao?
"Huo Bing, sini sebentar."
Burung itu mendekat dan Xika membisikkan sesuatu padanya. Huo Bing mengangguk setuju. Ia pergi menjauh dan melambaikan tangannya. Penghalang kedap udara yang dibuatnya menyusut hingga hanya menutupi Heiliao dan Huo Bing.
__ADS_1
Xingli mengerutkan kening melihat hal itu tapi tak mengatakan apapun.
Xika mengingat-ingat apa yang dilakukan Huo Bing sebelumnya dan berusaha melakukan hal yang sama. Kedua pupil matanya menyala dan keluarlah lima simbol elemen hingga melayang di atas mereka. Entah Xingli menyadari simbol kelima atau tidak.
Simbol itu semakin membesar dan membesar hingga akhirnya menutupi Xika dan Xingli berdua. Xika mengetuk simbol yang menyelimutinya dengan agak tidak yakin. Ia mengetes dinding elemen itu dengan meneriaki Huo Bing 'Burung narsis' tapi burung itu tidak peduli. Sepertinya ia berhasil membuat penghalang kedap suara.
"Baiklah Xingli, saat ini tak ada yang bisa mendengar percakapan kita. Bisakah kau mengatakan padaku alasanmu menyerang Heiliao?"
Xingli tidak bicara. Tapi tatapannya bertanya apakah Heiliao benar-benar serigala yang sama dengan waktu itu.
"Ya, dia serigala yang sama. Tapi aku tak bisa membiarkan siapapun membunuhnya, kau sekalipun. Ia adalah saudaraku, kau tahu."
Xingli melebarkan matanya.
"Yah, bukan saudara kandung. Kami mengikat sumpah dan ia pernah menyelamatkanku. Kami mengalami pertarungan hidup dan mati bersama. Dia berharga bagiku. Bisakah kau tidak membunuhnya? Tolong?"
Xika bicara dengan sungguh-sungguh dan Xingli dapat melihat hal itu. Pandangannya yang keras dan dingin mulai melunak. Kemudian ada hal lain yang terpancar di matanya. Gadis itu menatap kartu Xika yang menahannya dari tadi.
"Apa? Kau ingin aku melepaskanmu?" Xika melirik kartu-kartu yang membungkus Xingli dengan ragu. "Tapi janji ya, jangan menyerangku atau siapapun?"
Xingli memutar matanya.
"Baiklah, baiklah."
Kartu-kartu melepas dari tubuh Xingli dan gadis itu menggerak-gerak tangannya dengan sangat senang.
"Dia musuh alamiku."
"Eh?" Xingli baru saja bicara padanya? Tanpa diminta? Wow.
"Kami ditakdirkan untuk saling bertarung."
"Yah, kalau begitu jangan saling membunuh ya?"
"............"
"Tolong?"
Xingli menghela nafas. Kemudian mengangguk dengan enggan.
Xika merasa sepertinya ada cerita panjang mengapa Heiliao dan Xingli ditakdirkan untuk bertarung, tapi sepertinya Xingli tak akan menceritakannya pada Xika untuk saat ini.
"Yah, karena sepertinya masih ada waktu," Xika melirik pada Huo Bing yang masih bicara pada Heiliao, "bagaimana kalau kita membicarakan hal lain?"
"Aku akan bicara."
Xika mengharapkan Xingli memutar matanya, mendengus kesal, atau tidak menjawabnya. Tapi ia tak pernah berharap Xingli akan bicara.
"Eh?"
"Kalau kau berjanji tidak akan meninggalkanku." ucapnya dengan wajah serius.
"EH?!"
__ADS_1