Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-313


__ADS_3

Para kultivator dari Ibukota mengubah posisi mereka dan kini berdiri sejajar dengan para ular. Masing-masing mulai mengepung Xika, Huo Bing, dan Heiliao tidak peduli dimana mereka berada.


Huo Bing menggertakkan giginya. Ia benci perubahan situasi yang mendadak seperti ini, terutama kalau itu tidak menguntungkannya. Ia melihat para kultivator dari Ibukota dan menyadari bahwa tidak ada gunanya lagi bernegosiasi dengan mereka.


Meskipun masih ragu, tapi para kultivator dari Ibukota sudah menetapkan pilihan mereka. Mencoba melanjutkan negosiasi hanya akan menimbulkan kecurigaan lebih.


"Heh, sayang sekali. Padahal kami bisa menghemat Buah Kehidupan. Apa boleh buat....." ucapnya tersenyum kecewa, namun kepercayaan diri tak pernah meninggalkan wajahnya. Bahkan dalam situasi apapun, ia harus selalu terlihat percaya diri, meskipun sebenarnya ia tidak merasa demikian.


Pak Tua yang berdiri di pohon atas hanya mendengus menanggapi ucapan Huo Bing. Ia hanya melirik sekilas ketiga manusia yang menjadi incarannya, kemudian menutup matanya seolah keberadaan mereka tidak lagi penting.


Di satu sisi Xika lega bahwa Pak Tua itu tidak menunjukkan niat untuk ikut bertarung, tapi di sisi lain sikap Pak Tua itu yang menunjukkan bahwa ia yakin tidak perlu ikut bertarung untuk dapat meringkus Xika dan kawannya membuat Xika sendiri khawatir.


"SHAAAA!!!!"


Seekor ular kuning membuka rahangnya dan berniat mencaplok kepala Xika. Ia segera menundukkan badan kemudian melompat ke dahan lain. Sayangnya, belum sampai ia ke dahan lain, dua buah ludah korosif mengepungnya dari arah yang berbeda.


SYUT!


Xika memutar Space Shifter dan membuat sebagian besar ludah korosif itu terbang ke arah lain, namun sebagian masih mengenai dirinya dan membuat bajunya bolong-bolong.


TAP!


Baru mendarat, tiga buah rahang seukuran lengannya telah siap menyambutnya. Xika menghempaskan ketiganya secara bersamaan, namun ketiga ular tersebut melilitkan ekor mereka ke leher Xika sehingga membuatnya ikut terjatuh ke bawah.


Seketika ia merasa sesak. Lilitan seekor ular mungkin dapat menghambatnya bernafas, tapi itu bukan masalah. Namun tiga? Itu sudah cukup untuk membuatnya sulit berkonsentrasi bahkan hanya untuk bergerak sekalipun.


"Xika!"


Huo Bing, dikepung oleh ular dan manusia dari segala arah, memaksakan diri untuk menoleh melihat Xika. Tindakan yang membuatnya mendapat tiga goresan di lengan, perut dan pahanya.


BRUK!


Xika tidak bisa melakukan apapun sehingga ia hanya bisa pasrah saja ketika dirinya terbawa jatuh. Namun lilitan ular-ular itu mengendur untuk sesaat ketika mereka terjatuh. Xika tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dan segera membebaskan diri.


"Aku baik-baik saja!" ucapnya setelah berguling menjaga jarak dengan ketiga ular yang baru saja membelit lehernya. Ia meraba lehernya dan menyadari masih ada bekas lilitan mereka di sana. Ia bersumpah dalam hati, kalau ia harus mati, maka ketiga ular itu yang akan pertama ia bawa bersama ke dunia bawah.


Mendadak ia merasakan gerakan aneh di kedua kakinya. Tanpa menoleh, ia segera membakar kedua kakinya dan melangkah mundur. Namun cengkraman di kakinya sama sekali tidak mengendur sekalipun ia sudah membakar kakinya.


Ia menoleh dan menemukan dua ekor ular merah melilit kakinya. Ular-ular itu juga meliriknya kemudian membuka rahangnya dan menyemburkan api kecil yang tidak mampu melukai Xika, namun membuat Xika mengerti mengapa apinya tidak bekerja pada mereka.


Kedua ular itu adalah ular spesial yang mampu bertahan hidup di suhu panas sekalipun. Xika bahkan pernah membaca ada Spirit Beast yang menjadikan gunung berapi sebagai rumahnya dan berenang-renang dalam kolam lava. Semoga saja bukan kedua ular di kakinya.

__ADS_1


Kemudian ia mencoba elemen lain. Kalau panas tidak berhasil, maka gunakan rasa sakit. Ia membuat duri-duri dari tanah di sekeliling kakinya untuk menembus perut ular-ular itu.


Sayangnya, ia tidak merasakan cengkraman di kakinya mengendur sedikitpun. Ia kembali melihat kedua ular itu dan menyadari sisik mereka yang berkilau. Kalau mereka bisa menahan panas, maka kulit mereka seharusnya kebal terhadap senjata tajam sampai pada sisik tertentu. Sial, umpatnya dalam hati.


Xika masih ingin mengenyahkan kedua ular di kakinya itu, namun ular-ular lain tidak memberinya kesempatan. Tiga ular lain telah bergabung dengan ular sebelumnya yang melilit lehernya dan mengepungnya dari arah yang berbeda.


Enam ular di sekelilingnya, dan dua ular yang sedang membelitnya. Belum sempat berpikir apa yang harus ia lakukan, rasa sakit muncul dari kedua kakinya. Brengsek, ular-ular ini bukan hanya membelitnya tapi juga menggigitnya. Ia tahu bahwa kalaupun mereka memiliki racun, racun mereka tidak akan bekerja padanya. Namun bukan berarti mereka tidak bisa melukai dirinya sama sekali.


SYUT!


Keenam ular itu melesat di saat yang bersamaan sambil membuka rahang mereka lebar-lebar. Sial, sial, sial! Xika mengumpat keras-keras dalam hati. Pada saat itu ia tidak punya waktu untuk berpikir. Badannya bergerak secara refleks.


SET!


Ia melompat. Tapi masih berada dalam jangkauan taring para ular-ular yang akan mendekat dalam waktu sepersekian detik lagi.


SRAK!


Kemudian dua buah sayap biru kehitaman muncul di belakang punggungnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi, jauh dari jangkauan taring para ular sialan itu.


Keenam ular tersebut hanya bisa melihatnya dengan bingung dari bawah, diikuti dengan ratusan pasang mata lainnya termasuk Huo Bing, Heiliao dan para kultivator dari Ibukota. Xika mengambil dua tarikan nafas, kemudian mengeluarkan kartunya dan memotong kedua ular yang masih menempel di kakinya. Kali ini ia menggunakan elemen ruang sehingga kedua ular itu langsung terbelah.


Huo Bing dan Heiliao saling berpandangan, kemudian di saat yang bersamaan keduanya melarikan diri. Huo Bing melompat ke atas dan membuka kedua sayapnya lebar-lebar sementara Heiliao telah menghilang ditelan lubang hitam miliknya sendiri.


"Lari!"


SWOSH!


Xika segera mengepakkan kedua sayapnya secepat mungkin mengejar Huo Bing. Tanpa disadarinya, sesosok bayangan hitam muncul dan hinggap di bahunya. Ia tidak menyadari kehadirannya sampai mahkluk itu berkata,


"Cobalah untuk lebih dekat dengan Huo Bing."


"Heiliao?" Xika menoleh dan menemukan seekor serigala kecil yang cukup lucu hinggap di bahunya.


"Ketika kau cukup dekat, cobalah untuk menyentuh Huo Bing. Aku akan memindahkan kalian berdua. Kita lakukan proses ini berulang kali sampai para ular itu kehilangan jejak kita."


Mengangguk dengan penuh semangat, Xika mengepakkan kedua sayapnya lebih cepat lagi hingga akhirnya menyusul Huo Bing.


TAP!


SYUT!

__ADS_1


Sesaat setelah Xika menepuk bahu Huo Bing, ketiganya segera berpindah tempat dan muncul kembali ke langit bagian lain. Xika menoleh ke kiri dan kanannya tidak melihat ada perbedaan dengan langit mereka berada sebelumnya, namun Heiliao tidak menghiraukannya.


"Terus maju," ucap serigala itu.


Masih sambil memegang bahu Huo Bing, Xika mengangguk dan terbang maju. Beberapa saat kemudian Heiliao kembali memindahkan mereka. Kejadian ini terus berlanjut beberapa kali.


"Maaf.......tubuhku refleks menghindar dan satu-satunya jalan hanyalah terbang......" ucap Xika memecah keheningan yang telah berlalu beberapa saat. Ia merasa bersalah karena telah mengungkapkan sayapnya yang seharusnya bisa menjadi rahasia bagi para ular.


"Tidak apa-apa.......lagipula itu satu-satunya jalan.....selain itu, kita jadi bisa melarikan diri berkatmu." hibur Huo Bing.


Heiliao tidak mengatakan apa-apa namun kepalanya terus menoleh ke belakang dan ke bawah. Alisnya berkerut menyadari ada yang tidak beres.


"Apakah mereka mengejar kita?" tanya Huo Bing tanpa menoleh sama sekali.


"Tidak. Justru itu yang menjadi masalah. Mereka melepaskan kita terlalu mudah. Bahkan tidak ada satupun ular yang berusaha mengejar."


Huo Bing berhenti dan menoleh ke belakang memastikan perkataan Heiliao. Memang seperti yang dikatakan Serigala Gosong itu, tidak ada pengejar sama sekali. Kalau para ular itu berusaha mengejar mereka, setidaknya ia masih bisa melihat beberapa di kejauhan, namun ia tidak melihatnya sama sekali. Itu artinya mereka sama sekali tidak berusaha mengejar.


Xika, tidak mempedulikan kejanggalan itu dan menarik nafas dengan lega. "Phew, syukurlah. Haruskah kita berhenti sebentar?"


Pada awalnya Huo Bing juga berniat mengabaikan kejanggalan itu dan beristirahat seperti yang Xika katakan, tapi mendadak ia teringat memori buruk. Sebuah memori tentang mahkluk berbentuk ular, tapi bukan ular. Sebuah memori tentang mahkluk berbentuk ular, namun memiliki kaki dan sayap. Sebuah memori tentang makhkluk yang bernama naga.


"Aku punya firasat buruk akan hal ini. Maju saja terus. Sebisa mungkin jangan berhenti kecuali kita telah sampai di kota yang penuh dengan kultivator."


Xika agak tidak setuju dengan Huo Bing, tapi memperhatikan ekspresi burung itu membuatnya mengurungkan niat untuk memprotes. Iapun mengangguk setuju dan kembali mengepakkan sayapnya sementara Heiliao di bahunya masih terus menatap arah belakang dan bawahnya.


Beberapa menit berlalu tanpa ada yang terjadi. Tapi entah mengapa ketegangan di udara semakin terasa. Bahkan Xika yang tadinya sudah mulai bersantai kembali waspada merasakan perasaan janggal yang semakin menguat ini.


Mendadak Heiliao berteriak, "AWAS!"


Namun terlambat. Sebuah cambuk raksasa berwarna hitam telah menghantam Xika dan Huo Bing dengan telak di punggung mereka dan membuat mereka jatuh seketika ke pohon-pohon di bawah.


BRUAK!!!


Ketiganya jatuh menembus puluhan ranting sampai berhenti di satu ranting yang cukup besar dan tebal untuk menahan mereka.


Xika merasa pusing yang luar biasa di kepalanya. Ia tidak bisa bergerak untuk beberapa saat. Huo Bing dan Heiliao tidak sampai separah Xika, namun mereka bedua tetap menerima dampak yang tidak ringan. Masing-masing segera mengeluarkan Buah Kehidupan dan menggigitnya, barulah mereka merasa lebih baik.


"Brengsek, apa-apaan itu?!" tanya Xika sambil memegang kepalanya yang masih pusing walau sudah tidak seberapa setelah ia memakan Buah Kehidupan.


Belum sempat Huo Bing bicara, terdengarlah suara kepakan sayap yang amat kencang di dekat mereka. Xika menoleh dan menyadari Huo Bing berada di sampingnya, jadi kepakan sayap itu bukan berasal dari Huo Bing. Lalu dari mana asalnya?

__ADS_1


Disertai dengan bunyi kepakan sayap yang terdengar semakin kencang, pohon-pohon di sekitar mereka mulai roboh hingga akhirnya menunjukkan sesosok mahkluk raksasa yang memiliki panjang bukan main. Di kedua punggungnya mengepaklah kedua sayap besar berwarna merah kehitaman. Tubuh mahkluk itu berwarna hitam kelam dengan duri-duri memenuhi sebagian besar tubuhnya. Di bawah tubuhnya, menapaklah keempat kaki yang tegap dan kokoh.


Di hadapan Xika, Heiliao, dan Huo Bing berdiri seekor naga.


__ADS_2