Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-156


__ADS_3

"........."


"........."


Baik Heiliao maupun Huo Bing langsung berhenti. Tak ada yang bicara selama beberapa saat setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulut Xika. Mereka menatap Xika dan menemukan mata indah yang bersinar terang dengan penuh kepercayaan.


"Xika........aku tak bermaksud meragukan, tapi.......apa kau yakin....?"


"Tentu saja. Aku sangat yakin."


"Kenapa? Apa ada sesuatu yang menunjukkan bahwa kartu itu memang berhubungan dengan orangtuamu?"


"Ada. Di atas kartu ini," Xika menunjuk gambar malaikat yang tertera di bagian atas kartu, "Malaikat ini melambangkan ibuku. Sementara di sisi belakangnya, badut joker yang sedang memegang sabit itu melambangkan ayahku."


"Bagaimana kau bisa yakin? Bisa saja malaikat dan badut itu menunjukkan pasangan lain."


"Tidak mungkin. Mereka pasti ayah dan ibuku. Aku pernah melihat lukisan dengan gambar yang sama persis. Mereka sendiri yang mengatakannya padaku. Jadi aku tak mungkin salah."


Huo Bing dan Heiliao masih terlihat ragu tapi mereka tidak ingin mematahkan semangat Xika jadi tak bertanya lebih jauh. Mereka berusaha mengalihkan topik.


"Omong-omong, aku masih penasaran kenapa pria tadi sangat ketakutan saat melihat serigala gosong ini."


"Heh. Tentu saja karena aku menyeramkan."


"Menyeramkan? Lebih tepat disebut menggelikan."


"Sebaiknya kau berkaca dulu sebelum bicara."


"Tanpa perlu berkacapun aku sudah tahu bagaimana wajah tampanku ini."


Xika langsung menghentikan keduanya sebelum berdebat lebih jauh. Tapi ia memang sama penasarannya seperti Huo Bing tentang ketakutan yang ditunjukkan bukan hanya oleh Zheng Wei, tapi juga seluruh warga desa.


"Aku juga penasaran. Dan bukan hanya pria tadi saja yang menampilkan ekspresi seperti itu."


"Maksudmu pria-pria lain yang menyerang kita?"


"Tidak. Lebih dari itu. Pria yang tadi itu bernama Zheng Wei. Ia mengajakku berkeliling desa karena tahu bahwa aku adalah putra ayah. Ia berharap para warga yang lain dapat melihat ayahku dalam diriku sama seperti dirinya. Awalnya memang begitu. Dari kejauhan, banyak sekali orang yang menyapaku dan memanggilku dengan nama ayahku. Namun setelah mereka tahu bahwa mereka salah orang, ekspresi yang sama kembali timbul."


Alis Heiliao berkerut bingung.

__ADS_1


"Menurutku, itu bukan ekspresi yang dibuat-buat. Murni timbul karena adanya suatu masalah. Trauma mungkin?"


"Ya, menurutku juga begitu. Tapi aku tidak tahu trauma apa yang mereka alami. Besok aku akan mencoba menanyakannya."


"Cukup dengan ekspresi mengerikan itu. Ayo bahas hal lain. Ah! Bagaimana kau bisa mendapatkan kartu itu? Apa orangtuamu menitipkannya pada salah satu warga desa?"


"Tidak. Aku menemukan sebuah tugu batu yang bersinar."


"Apa tugu itu berubah menjadi kartu juga seperti di Simulocus?"


"Mirip. Tapi ketika aku mendekati tugu itu, para warga memandangiku dengan amarah. Dan amarah mereka lebih besar dari perasaan takut. Tadinya aku hendak mundur karena merasa telah melanggar batas suci desa mereka atau semacamnya. Tapi sepertinya aku tak akan mendapatkan kesempatan lagi. Jadi kuputuskan untuk menyentuh tugu batu saat itu juga."


"Lalu? Lalu? Apa yang terjadi?"


Xika menceritakan pengalamannya yang baru terjadi beberapa saat lalu. Huo Bing dan Heiliao mendengarkan dengan seksama. Mereka cukup terkejut ketika siluet ayah dan ibunya muncul. Apalagi ketika terdengar suara tawa yang begitu membahana. Tapi hal itu meyakinkan mereka bahwa kartu itu memang berhubungan dengan orangtua Xika.


"Ah, Xika. Bukankah masalah kita di tempat ini sudah selesai? Kau sudah menemukan apa yang memanggilmu. Ini saatnya kita pergi. Mungkin kita akan menemukan petunjuk tentang orangtuamu di tempat lain."


"Ya, kau memang benar. Tapi entah kenapa aku merasa harus tinggal di desa ini lebih lama lagi. Ada sesuatu yang menungguku. Yah, meskipun secara teknis kita tidak tinggal di dalam desa."


"Apa perasaan ini sama dengan yang memanggilmu?"


"Mirip. Hanya saja kali ini.........aku merasakan firasat buruk."


Tapi Xika menolak. Ia merasa tidak enak. Desa itu memiliki hubungan baik dengan ayahnya. Meskipun penduduknya bersikap tidak ramah padanya, tapi ia tidak bisa begitu saja menerobos masuk ke dalam. Zheng Wei mengatakan akan mengajaknya berkeliling besok pagi. Jadi lebih baik mereka mencari kegiatan lain untuk membunuh waktu. Mereka mengobrol dan bermain kartu sampai malam.


Heiliao hendak mencari makan di sekitar desa tapi Xika melarangnya karena serigala hitam itu bisa membuat warga desa ketakutan. Huo Bing tidak setuju tapi Xika bersikeras melarang. Akhirnya mereka menyelesaikannya menggunakan Capsah. Wajah Huo Bing sudah kusut tak berharap banyak tapi ia masih mau mencoba.


Siapa sangka, kali ini Xika benar-benar kalah. Ia tidak mengalah dengan sengaja. Huo Bing dan Heiliao saling berpandangan selama beberapa saat tak yakin dengan hasil permainan itu. Setelah Xika mengakui kekalahannya untuk ketujuh kalinya barulah mereka percaya.


Huo Bing bersorak keras karena mereka bisa mencari makan. Heiliao juga ingin melolong tapi dilarang Xika.


"Jangan menimbulkan suara. Jangan perlihatkan dirimu. Tangkap secukupnya. Lebih baik kembali tanpa membawa buruan daripada terlihat."


"Tenanglah. Kau seperti ibu yang akan melepaskan anaknya untuk pertama kali. Percaya saja padanya. Oke?"


Xika mengangguk. Kemudian Heiliao berlari pergi menyatu dengan gelapnya malam. Huo Bing dan Xika menunggu sambil mengobrol.


"Hei Xika. Bagaimana perasaanmu?"

__ADS_1


"Hm? Aku baik. Kenapa memangnya?"


"Bukan itu yang kumaksud, sialan. Maksudku perasaanmu terhadap gadis cacat tanpa ekspresi itu. Apa kau masih menyukainya? Kau sudah berpisah untuk waktu yang lama."


"Sudah kubliang aku tak tahu. Aku masih tak bisa memastikan perasaanku padanya. Kuakui aku mengagumi parasnya, sekalipun tak memiliki ekspresi. Tapi untuk menjalin hubungan yang lebih dalam aku tak yakin."


"Hubungan yang lebih dalam? Memangnya sebaik apa hubunganmu dengan dia sebelumnya?"


"Bukan itu maksudku.......Ah, sudahlah....."


"He? Ahhh.....kau malu ya? Kau suka padanya tapi tak berani mengakui? Apa lagi yang kautakutkan? Aku ini saudaramu. Aku pasti akan mendukungmu sekalipun mahkluk yang kau cintai adalah kodok buruk rupa."


"Sialan! Jangan membandingkan Xingli dengan kodok!"


"Ups! Ada yang marah......hehehe.....akui saja. Kau suka padanya kan?"


Xika benar-benar tak bisa membalas ucapan Huo Bing. Biasanya ia bisa membalikkan perkataan burung itu, tapi kali ini tidak. Setiap kali ia ingin membalas, ia teringat dengan kekasih Huo Bing yang meninggal secara tragis. Ia tak bisa mengungkitnya.


"Diamlah. Sebaiknya kita bicarakan ini nanti setelah bertemu dengannya."


"Hm? Ohhh.....jadi kau mau mengutarakan perasaan secara langsung baru memberitahuku? Yah, baiklah tak apa. Meskipun sedikit sakit hati, tapi tak apa asal kisah cinta saudaraku sukses." ucap Huo Bing dengan muka yang dibuat-buat.


"Burung Gosong! Bukan itu maksudku!"


Tapi sebelum Huo Bing bisa menggoda Xika lebih jauh lagi, terdengar suara lolongan serigala. Xika dan Huo Bing langsung berhenti. Mereka saling bertukar tatap. Harusnya, tak ada banyak hewan buas seperti serigala di sekitar hutan ini. Dan lolongan tadi itu terdengar begitu familiar. Hanya ada satu serigala yang melolong seperti itu.


Tap!


Whush!


Xika langsung bergegas menuju Heiliao. Harusnya serigala itu tak akan melolong tanpa alasan jelas. Ia sudah tahu bahwa sebisa mungkin jangan menarik perhatian. Jadi kenapa ia melolong? Harusnya Heiliao tak akan menemui mahkluk kuat sampai membutuhkan pertolongan. Apa maksud lolongannya itu?


"AUUUUUUUU!!!!!"


Suara lolongan kembali terdengar. Dan suara itu menandakan posisi Heiliao. Ia masih cukup jauh dengan serigala itu. Xika berpikir sebentar. Kalau ia menggunakan sayapnya, ia dapat pergi lebih cepat. Tapi ada resiko terlihat oleh para warga desa. Harusnya tak apa karena saat ini cukup gelap.


WUS! WUS!


Xika mengepakkan sayapnya dan kecepatannya meningkat drastis. Huo Bing juga ikut terbang di sebelahnya. Burung itu tak bicara selama perjalanan. Bahkan sorot jenaka yang biasa muncul di wajahnyapun hilang digantikan ekspresi serius.

__ADS_1


Beberapa saat berlalu dan Xika dapat mendengar keributan tak jauh darinya. Ia berhenti untuk mengecilkan sayapnya kemudian berlari mendekat. Samar-samar ia dapat melihat api di kejauhan. Ia mempercepat langkahnya dan akhirnya ia sampai.


Disana ia melihat serigala hitam dengan seekor rusa di mulutnya dikelilingi oleh warga desa yang memancarkan niat membunuh.


__ADS_2