
Sehari berlalu. Xika menghabiskannya untuk berkultivasi. Tadinya ia hendak tidur, tapi dua mahkluk lain yang bersamanya tidak membiarkannya melakukan itu. Siang tadi Xika sudah cukup beristirahat, jadi kali ini Xika tidak bisa berisitirahat lagi.
Pagi datang. Xika membuka matanya menghentikan kultivasinya. Ia menunggu kedua anak itu datang. Waktu berlalu namun keduanya masih belum datang. Mungkin mereka dilarang bermain karena kemarin sudah terlalu lama bermain. Dengan pikiran itu, Xika berhenti menunggu mereka dan mencoba tidur. Menebus waktu tidurnya yang hilang kemarin.
"Kakak!"
Tapi baru beberapa detik ia menutup matanya, sebuah suara memanggilnya. Xika melebarkan auranya sebelum membuka matanya. Dan ia terkejut bukan hanya dua anak yang datang melainkan enam.
Syut!
Xika langsung membuka matanya memastikan ia tidak salah. Ia melihat enam anak berjalan mendekatinya. Ia memang tidak salah.
Fan Ao yang pertama sampai. Ia menyapa Xika. Tapi sebelum Xika sempat menanyakan anak-anak lainnya, Fan Mu memanjat Xika kemudian memeluk Xika erat-erat. Xika mengusap kepalanya lembut.
"Fan Ao, siapa mereka?"
"Ah, ini teman-temanku. Aku membawa mereka kemari untuk bermain bersama. Ayah bilang karena kami seumuran kami harus bermain bersama jadi aku membawa mereka. Boleh kan?" tanya Fan Ao penuh harap.
"......." Xika menggaruk pipinya tak menjawab. Ia mengalihkan pandangannya menatap dua mahkluk yang mencegahnya tidur tadi malam.
"Sebaiknya kau tanyakan pada mereka." ucap Xika pada akhirnya.
Huo Bing dan Heiliao saling pandang. Dua saja sudah pusing kemarin, sekarang ada enam?
".............."
Fan Mu menoleh dan menemukan Heiliao. Ia turun dari Xika dan langsung berlari menuju Heiliao. Serigala itu membantunya naik karena tinggi badannya tidak sampai sepertiga tinggi Heiliao.
Awalnya anak-anak yang lain takut melihat Heiliao. Tapi setelah Heiliao membantu Fan Mu naik, mereka mulai menatapnya dengan berbeda.
"Fan Ao, kau tidak mau memperkenalkan teman-temanmu?"
"Ah! Benar. Teman-teman, kenalkan ini......kak, aku tidak tahu nama kakak....ehe....."
Xika tersenyum kecil.
"Xing Xika."
Fan Ao mengangguk penuh semangat.
"Teman-teman, kenalkan Kak Xing. Kalian bisa memanggil Xing Ge. Xing Ge, kenalkan ini teman-temanku," Fan Ao menunjuk temannya dari kiri ke kanan, "Itu Liang Zhu. Di sebelahnya Li Fan. Lalu yang menunduk itu San Du, sementara yang badannya paling besar itu Jun Si."
"Halo."
Xika menyapa sambil memperhatikan mereka satu-satu. Liang Zhu, anaknya cukup pemalu. Ia bersembunyi di belakang Li Fan saat Xika menatapnya. Tapi Xika dapat melihat bahwa anak itu pasti akan menjadi wanita yang menawan dewasa nanti. Di depannya Li Fan. Gadis kecil itu tersenyum lebar. Rambutnya yang pendek menambah kesan ramahnya.
Di sampingnya, terdapat anak lelaki yang menunduk. San Du. Anak itu tidak mengangkat kepalanya sama sekali. Xika bahkan tidak dapat melihat wajahnya. Kenapa dia bersikap seperti itu? Lalu yang badanya paling besar, Jun Si. Tubuhnya terlihat kuat. Sepertinya ia akan menjadi kultivator yang hebat di masa depan.
"Apa kab-"
Belum selesai Xika bicara, Fan Ao sudah mengajak teman-temannya menemui Heiliao dan Huo Bing meninggalkan Xika sendiri.
"........"
Li Fan menatap Huo Bing dengan penasaran. Sepertinya ia baru pertama kali melihat roh seperti Huo Bing. Di belakangnya, Liang Zhu mengintip dengan malu-malu. Jun Si tidak tertarik dengan roh seperti Huo Bing. Ia lebih tertarik dengan serigala seperti Heiliao. Sementara San Du......di mana San Du?
__ADS_1
Xika menoleh dan menemukan anak itu berada di sampingnya, masih dengan kepala tertunduk. Kenapa ia tidak ikut dengan temannya? Jujur, Xika tidak memiliki pengalaman dengan anak-anak jadi ia tidak tahu harus melakukan apa-apa. Tapi setidaknya ia harus mengajak anak itu ngobrol.
"Kenapa kau tidak bergabung dengan teman-temanmu?"
San Du cukup kaget ketika Xika mengajaknya bicara. Kemudian ia menggeleng perlahan. Xika tidak mengerti arti gelengannya itu.
"Hei. Mau kutunjukkan sesuatu yang menarik?"
San Du sedikit mengangkat kepalanya menatap Xika dengan penasaran. Ia mengangguk. Xika tersenyum.
Xika mengeluarkan Cosmos dari saku jubahnya kemudian mengocoknya beberapa saat. Ia melebarkannya dan meminta San Du memilih salah satu.
"Baiklah. Tanpa membuka mataku, aku akan menebak kartu di tanganmu." ucap Xika sambil menutup matanya membuat San Du agak kebingungan.
Setelah diam beberapa saat, Xika membuka mulutnya.
"Jack hati. Benar kan?"
San Du melihat kembali kartunya kemudian menatap Xika dengan kaget. Tebakan Xika memang benar. Ia mengangkat kepalanya lagi. Tapi Xika masih belum bisa melihat wajahnya.
Ternyata, bukan cuma San Du yang tertarik melihat sulap Xika. Fan Ao, Fan Mu, dan lainnya juga tertarik. Fan Mu menepuk-nepuk Heiliao memintanya mendekat pada Xika. Fan Ao juga melakukan hal yang sama pada Huo Bing.
Mereka langsung mengelilingi Xika dan memintanya melakukan sulap tadi lagi. Huo Bing dan Heiliao bertukar tatap kemudian sama-sama menghela nafas lega. Akhirnya mereka bisa beristirahat. Sekarang giliran Xika yang kerepotan menghadapi anak-anak itu.
"Coba lihat, kartu apa ini?"
Liang Zhu menjawab dengan malu, "Tiga hati."
"Benarkah?" Xika menggosok kartunya kemudian kembali memperlihatkannya pada Liang Zhu dan lainnya. Kartu itu tidak lagi memiliki tiga hati tapi empat.
"Hebat."
Anak-anak sangat menyukai sulap Xika. Perlahan, mereka mulai menyukai Xika. Liang Zhu kini sudah tak berdiri di belakang Li Fan lagi, San Du juga kini memperlihatkan wajahnya. Fan Ao, Fan Mu, dan lainnya juga semakin dekat dengan Xika.
Xika terus melakukan sulap sampai matahari berada di puncaknya. Meskipun ia menikmatinya, tapi ia juga lelah melakukan banyak sulap berturut-turut seperti tadi. Ia hendak beristirahat. Tapi anak-anak tidak mengijinkannya.
"Xing Ge, satu lagi!" ucap Fan Ao penuh harap. Yang lain juga ikutan memohon. Xika benar-benar tidak bisa berkutik. Ia tidak masalah melakukan satu sulap lagi. Yang menjadi masalah adalah anak-anak itu sudah dua puluh kali mengucapkan 'sekali lagi' pada Xika.
"Tunggu dulu.....biarkan aku beristirahat sebentar....." ucap Xika merasakan pikirannya lelah. Ia sudah melakukan sulap selama berjam-jam tanpa henti.
"Ayolah, Xing Ge. Satu lagi saja."
"Li Fan, kau sudah mengatakan itu dua puluh kali."
"Kali ini benar-benar terakhir."
"Yang itu sudah lima belas kali."
".......Xing Ge jahat!"
"Ahhh...baiklah-baiklah. Tapi sebelum itu, bisakah kalian memberitahuku tentang serbuan binatang liar?"
"Hmmmm.....kalau tidak salah ayahku mengatakan hal itu terjadi sekitar tiga puluh tahun yang lalu."
"Ibuku selalu menolak menceritakana apapun yang berhubungan dengan hal itu. Ia hanya bilang itu hal yang buruk dan tak mau mengingatnya."
__ADS_1
"Pamanku bilang hal itu lebih dari buruk. Ia bilang itu mengerikan."
Xika mengangguk-ngangguk. Anak-anak ini memberinya cukup informasi. Tapi sepertinya kalau ia ingin mendapatkan informasi yang lebih jelas ia harus bertanya langsung pada penduduk desa, yang berarti tidak mungkin untuk saat ini.
"Baiklah, masing-masing pegang satu kartu."
Xika membagikan enam kartu pada keenamnya.
"Sekarang tutupi kartu itu dengan kedua lengan kalian. Setelah itu buka dengan cepat."
Mereka melakukan apa yang Xika minta, dan ketika mereka membuka lengan mereka lagi, kartu yang sebelumnya mereka pegang hilang digantikan setangkai bunga Azalea, masing-masing memiliki warna yang berbeda.
"Uwahhh......"
"Xing Ge benar-benar hebat....."
"Hehehe.....sudah dulu ya? Aku mengantuk. Kalian main dulu dengan kakak serigala dan kakak hantu." ucap Xika hendak memejamkan matanya, tapi anak-anak itu tidak mengijinkannya.
"Tidak!"
"Xing Ge tidak boleh tidur!"
"Bagaimana kalau kita main di sungai saja agar Xing Ge tidak ngantuk?"
"Ide bagus!"
Jadi dengan terpaksa Xika membawa (dibawa) anak-anak ke sungai. Kemudian saat ia masih mengumpulkan kesadarannya, anak-anak itu mendorongnya hingga jatuh ke sungai. Setelah Xika mengeluarkan kepalanya dari air, anak-anak itu langsung berlari dengan tawa di wajah mereka. Tawa yang sangat indah.
Setelah Xika menangkap satu-satu anak-anak itu, mereka bermain di air bersama. Beberapa takut air, tapi setelah Xika membuat mereka mengambang di air dengan qi nya, mereka mulai menyukainya. Mereka mencipratkan air satu sama lain.
Dari hal itu, Xika jadi terpikirkan ide baru untuk melatih elemennya.
Xika mengeringkan tubuh anak-anak itu kemudian meminta mereka pulang. Tentu saja semuanya menolak. Tapi Xika berjanji besok mereka akan bermain lagi. Fan Ao yang telah mengalami janji Xika juga ikut meyakinkan yang lain. Setelah mendapatkan bunga Azalea yang dibuah Xika dari kartu, akhirnya anak-anak itu mau pergi. Mereka melambaikan bunga itu sepanjang jalan pulang.
Dengan cepat, beberapa bulan berlalu. Selama beberapa bulan ini, anak-anak itu datang menemui Xika tiap hari. Mereka bermain berbagai hal. Xika mengajarkan mereka permaian capsah (bisa dibilang judi meskipun saat ini Xika tidak menggunakan taruhan).
Selain itu, Xika juga menemani anak-anak bermain sambil melatih elemennya. Ia menerbangkan mereka dengan elemen angin. Liang Zhu takut pada awalnya, tapi dari enam orang anak, ia yang paling sering meminta Xika menerbangkan dirinya. Ia membuat mereka mengambang di bagian sungai yang dalam, anak-anak sangat menyukainya karena mereka merasa seolah mereka bisa berenang sendiri.
Kadang-kadang Xika juga membuat kembang api. Ia membuat kubah dari tanah untuk menutupi sinar matahari dan membuat sekelilinganya menjadi gelap, kemudian membuat kembang api. Mata anak-anak berbinar terang melihat kembang api itu.
Xika menikmati waktunya bersama dengan anak-anak ini. Begitu juga dengan Huo Bing dan Heiliao. Beberapa bulan ini adalah bulan-bulan damai yang jarang mereka dapatkan.
Saat ini, Xika sedang bermain di sungai bersama anak-anak. Ia membuat mereka mengambang dan beputar-putar. Fan Mu bertepuk tangan saking senangnya, sementara Li Fan menepuk air dengan kedua tangannya dan membuat air terlompat ke mana-mana.
Mendadak Xika menangkap sesuatu dari sudut matanya. Itu bukan tangan atau kaki anak karena pergerakannya sangat halus dan licin. Warnanya kuning terang dengan garis merah mencolok.
SYUT!
Xika menangkap mahkluk itu untuk melihatnya lebih jelas. Tubuhnya yang panjang terasa licin di kulit Xika. Dan ketika ia sadar apa yang ia tangkap raut wajahnya memburuk.
*****************************
Xing Ge = Kak Xing
Gege adalah panggilan kepada kakak laki-laki dalam bahasa Tionghoa.
__ADS_1
Sekedar informasi, dibaca Keke, bukan menggunakan huruf g. Jadi kalau diucapkan maka yang terdengar adalah Sing Ke.