
Hutan. Habitat alami para serigala yang penuh dengan pepohonan lebat. Matahari menembus masuk dari sela-sela daunnya yang memiliki berbagai bentuk dan mengenai wajah polos seorang remaja 15 tahun. Remaja itu menggeliat kemudian merubah posisi tidurnya agar terhindar dari sinar matahari.
Di sampingnya, ada pemuda lain. Ia berbaring di tengah rumput-rumput aneh yang berwarna ungu. Pemuda itu sudah membuka matanya. Ia melihat pemuda berwajah polos tanpa beban di sampingnya dengan kening berkerut, karena seorang serigala mendekatinya.
Serigala berbulu abu yang menatap Xika dengan penasaran. Ia mendekatkan wajahnya pada Xika sampai moncongnya hampir menyentuh hidung Xika. Ia mengendus-ngendus Xika beberapa kali, dan membuat Shu Mang semakin bingung. Tampaknya Xika juga terganggu dengan tindakan Lang Yao itu.
Ia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum sadar apa yang ada di depan matanya. Dan ia langsung mengayunkan tangannya menuju wajah besar itu.
Buk!
"Aw! Kenapa kau memukulku?"
"Kenapa wajahmu dekat sekali dengan wajahku?"
Lang Yao tidak menjawab. Ia mengelus-ngelus bagian wajah yang Xika pukul. Xika menatap serigala itu dengan bingung sekaligus aneh.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Lang Yao mendekatkan wajahnya lagi, kemdudian bertanya sambil tersenyum misterius.
"Menurutmu?"
Buk!
"Jangan dekat-dekat dengan wajahku."
Lang Yao meringis pelan.
"Dan cepat beritahu aku apa yang kau lakukan disini. Kalau tidak aku akan menghajarmu. Aku tidak mau tidurku terganggu."
Disamping mereka, Shu Mang menatap keduanya dengan bingung tanpa bicara. Lebih tepatnya ia tidak bisa bicara melihat tindakan keduanya. Dan lagi, alasan macam apa itu? Menghajar serigala itu karena tidak mau tidurnya terganggu? Shu Mang benar-benar tidak mengerti pikiran Xika.
"Aku kemari hendak mememeriksanya." ucap Lang Yao sambil memberikan tanda menggunakan kepalanya menunjuk Shu Mang.
"Lalu kenapa kau malah melihatku?"
"Aku hanya tertarik dengan manusia yang telah menjadi bagian dari serigala. Manusia yang telah mengalahkan Lang Jin, dan yang juga membuat serigala terhebat menjadi 'pengasuhmu'."
Shu Mang melebarkan matanya menatap Xika. Semuanya informasi yang dikeluarkan Lang Yao itu sangat mengejutkan. Ia memang sudah menduga Xika memiliki hubungan tidak biasa dengan para serigala, tapi ia tidak menyangka kaum serigala akan menganggapnya sebagai bagian dari kaum serigala. Dua informasi lainnya juga tidak kalah mengejutkan.
Berbeda dengan Shu Mang yang sangat terkejut, Xika sama sekali tidak peduli dengan ucapan Lang Yao. Ia bahkan memutar matanya saat Lang Yao bicara. Normalnya, manusia selalu ingin terlihat lebih hebat dibanding yang lain. Jadi Xika harusnya bangga dengan ucapan Lang Yao yang menyanjung dirinya, harusnya. Tapi seperti yang kita tahu, Xika bukanlah manusia normal. Tidak, ia sangat jauh dari kata normal.
"Cepat periksa dia."
"Aku membutuhkan bantuanmu. Masih ada rumput-rumput beracun di sekelilingnya."
Xika menghela nafas dengan kesal. Rumput ini sangat mengganggu. Rumput inilah penyebab utama semua masalah ini terjadi. Dari mulai ia membohongi Shu Mang, hingga ia ditunjuk dari juru bicara para serigala. Kemudian ia berdiri dan mencabuti semua rumput beracun yang mengelilingi Shu Mang.
Baik Shu Mang maupun Lang Yao sama-sama terdiam melihat apa yang dilakukan Xika. Lebih tepatnya mereka bingung hingga tak bisa bicara. Beberapa menit berlalu, dan Xika selesai mencabuti semua rumput beracun itu. Kini tak ada lagi 'kasur mewah' Shu Mang.
"Baiklah. Rumput pengganggu sudah dibereskan. Silahkan kau periksa sendiri. Aku mau tidur lagi."
Shu Mang menatap Xika dengan aneh. Ia yakin mencabut rumput itu lebih melelahkan daripada mengobatinya. Tapi sebelum Xika bisa kembali ke alam mimpinya, Lang Yao menghentikannya.
__ADS_1
"Ah, apa kau punya mangkuk? Aku perlu wadah untuk menaruh obat-obatan yang kuracik."
"Lalu kau meracik obat-obatanmu itu sebelumnya dimana?"
"Di mangkuk. Sayangnya aku lupa membawanya."
Xika benar-benar kesal dengan Lang Yao.
"Kenapa kau tidak lupa membawa obatnya saja sekalian?"
"Hm? Ah, benar juga. Bagiamana kau bisa tahu? Luar biasa. Aku akan kembali untuk mengambil obatnya sekalian dengan mangkuknya."
Xika tidak bisa bicara melihat serigala aneh itu. Tapi Shu Mang yang lebih terkejut karena melihat Xika hendak melanjutkan tidurnya. Ia tidak akan bisa kembali tidur setelah terbangun. Apalagi ia bicara cukup panjang saat bangun. Tapi Xika tidak. Nyatanya, anak itu tidak membutuhkan banyak usaha untuk tertidur.
Jadi Shu Mang hanya diam menunggu Lang Yao kembali, atau Xika terbangun. Tapi tampaknya pilihan terakhir lebih mustahil. Sekitar lima belas menit kemudian Lang Yao kembali dengan menggigit sebuah bungkusan. Ia meletakkan bungkusan itu dan membukanya di bawah tatapan penasaran Shu Mang.
Bungkusan itu berisi berbagai macam tanaman, baik yang masih utuh atau yang sudah menjadi bubuk, mangkuk, alat untuk menumbuk, dan beberapa alat lainnya yang tidak Shu Mang tidak ketahui. Tanpa berbicara, Lang Yao mulai meracik.
Ia memasukkan tanaman-tanaman yang masih utuh ke dalam mangkuk untuk menumbuknya, kemudian setelah menjadi bubuk halus, ia menambahkan sedikit air dan mengaduknya. Air dan bubuk itu menyatu hingga membentuk cairan berwarna kuning. Tapi Lang Yao belum selesai. Ia memasukkan beberapa bubuk tanaman lain dan mengaduknya hingga menyatu. Cairan itu terus menerus berubah warna. Dan kini, cairan itu tidak lagi memiliki warna yang jelas. Terlihat keruh seperti air bekas mencuci pakaian.
Kemudian Lang Yao menatap Shu Mang dan berkata,
"Minumlah."
Glek!
Shu Mang menelan ludahnya memperhatikan air itu baik-baik. Ia yakin air bekas mencuci pakaiannya saja lebih bersih dari yang air di depannya ini. Lang Yao memahami tatapan Shu Mang. Ia menghela nafas.
"Baiklah, aku akan membuktikannya."
"Tahan ya."
Sebelum ia sempat bertanya, Lang Yao telah mengayunkan cakarnya tepat ke luka Shu Mang dan membuat garis di tubuhnya itu terbuka lebar.
"AHHHHHHH!!!!!"
Dan kali ini yang membangunkan Xika adalah teriakan histeris Shu Mang. Xika mengusap matanya beberapa kali, kemudian menatap Lang Yao. Serigala itu menatap cakarnya yang baru saja ia gunakan untuk mencabik Shu Mang. Cakarnya berwarna ungu.
"Lihat, cakarku juga ikut teracun bukan?"
Meskipun dadanya yang terbuka lebar itu menjerit sakit setengah mati dan membuat kepalanya pusing serta pandangannya buram, Shu Mang memaksakan dirinya untuk melihat dan seperti yang dikatakan serigala itu, cakarnya ungu, ia juga ikut teracun.
"Sekarang akan kucelupkan cakarku."
Cakarnya yang berwarna ungu dimasukkan ke dalam mangkuk berisi air bekas cuci pakaian. Ia membiarkan cakarnya terendam selama beberapa detik sebelum mengangkatnya kembali. Dan racun itu.............masih ada. Tapi sudah mulai berkurang. Sedikit demi sedikit, racun ungu itu menyusut. Tapi kecepatannya menyusut sangat lambat. Bahkan siputpun lebih cepat dari itu.
"Eh, karena kau mencelupkan cakarmu, bukankah seharusnya cairan-apapun itu dioleskan pada lukaku, alih-alih diminum?" tanya Shu Mang berharap ia tak perlu meminum air kotor itu.
"Normalnya begitu. Tapi kalau dioleskan hanya akan berfungsi untuk luka luar. Aku tidak tahu seberapa dalam lukamu. Jadi untuk berjaga-jaga, minum saja cairan ini."
Ekspresi Shu Mang semakin gelap. Sudah cukup buruk untuk meminum air bekas cucian, sekarang serigala itu telah mencelupkan cakarnya ke sana dan ia harus meminum air bekas kobokan serigala itu. Lang Yao memperhatikan arah tatapan Shu Mang dan menyadari bahwa anak itu memandang cakarnya.
"Hm? Cakarku, ya? Jangan khawatir, ini bersih kok."
__ADS_1
Shu Mang merasa lebih lega setelah mendengar itu. Tapi eksrepsinya kembali berubah ketika mendengar ucapan Lang Yao berikutnya.
"Paling aku hanya menginjak beberapa kotoran. Dua atau tiga mungkin............bisa juga empat.......Ah, dan aku tidak sengaja menginjak tanah basah, sepertinya ada yang buang air kecil di situ sebelumnya."
Shu Mang tidak tahu harus melakukan apa. Ia sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila ia meminum isi mangkuk itu. Ia menatap Lang Yao dengan wajahnya yang tak bersalah, dan tahu bahwa serigala itu akan terus memaksanya sampai ia meneguk habis semua isi mangkuk itu.
Kemudian ia menatap Xika yang sudah bangun daritadi tapi belum bicara. Sayangnya anak itu juga tidak memberikan banyak harapan. Ia hanya menonton dengan diam dan damai. Shu Mang menghela nafas. Sepertinya ia memang harus meminum isi mangkuk itu.
"Tidak akan ada efek samping, kan?"
"Entahlah."
"Entahlah? Kenapa kau tidak tahu? Memangnya kapan kau membuat racun, eh maksudku minuman ini?"
"Beberapa menit yang lalu. Bukankah kau melihatnya sendiri?"
"Bukan itu maksudku. Kapan kau menguji coba air kotor-cairan itu? Atau kapan kau berlatih membuatnya?"
"Hmmm.......sepertinya belum pernah. Itu tadi merupakan saat pertamaku. Selamat! Kau yang pertama mencobanya. Tunggu, atau itu aku?"
Shu Mang menunjuk-nunjuk Lang Yao. Mulutnya membuka dan menutup tapi tidak berhasil menemukan suara. Sayangnya Lang Yao salah memahami tindakan Shu Mang itu.
"Ah, sudah siap ya?"
Dan ia pun melayangkan mangkuknya menggunakan qi dan membuat semua isinya mengalir ke dalam tenggorokan Shu Mang. Pemuda itu tersedak beberapa kali dengan matanya yang melotot.
Xika berjalan mendekati Lang Yao.
"Apa kau benar-benar belum pernah mengujinya?"
"Ya."
"Lalu tidak akan ada efek samping?"
"Tepat."
"Kenapa kau yakin sekali kalau belum mencobanya?"
"Aku memang belum pernah mencobanya. Tapi guruku sudah. Ia serigala yang paling ahli dalam tanaman spiritual. Jadi, tenang saja."
"Kenapa kau tidak memberitahukannya pada Shu Mang?"
"Hm? Oh, itu. Aku ingin membuatnya tidak terlalu tegang agar lebih mudah menyerap khasiat obatnya."
"Kurasa kau malah membuatnya semakin tegang."
"Benarkah? Hahahaha.......biarlah. Toh, ia tidak akan mati karena tersedak. Tunggu, itu benar, kan?"
".........."
Sementara itu Shu Mang yang mendengar pembicaraan keduanya dari samping, berusaha keras untuk tidak mati karena tersedak dan menatap Lang Yao dengan sangat lebar seolah hendak memakannya hidup-hidup.
Akhirnya setelah melalui detik dan menit yang terasa begitu panjang dalam hidupnya, Shu Mang berhasil menelan semua air bekas mencuci pakaian itu. Tapi prosesnya belum selesai. Energi yang cukup melimpah mengalir masuk dari tenggorokannya menuju tempat di mana lukanya berada.
__ADS_1
Dan ia harus mengendalikan energi itu perlahan agar tidak terlalu cepat atau lambat karena, lukanya itu sangat dekat dengan dantiannya. Salah sedikit saja maka ia akan menjadi orang cacat seumur hidup. Xika dan Lang Yao hanya menatap pemuda itu dalam diam.
Kemudian sesosok serigala datang dari balik hutan dan menatap sosok Shu Mang yang cukup menderita.