
Huo Bing menatap Xika dengan penuh tanya. Ia jarang melihat Xika dengan wajah muramnya. Dan hal itu pastinya tidak berarti baik.
"Ada apa?"
Xika tidak langsung menjawab pertanyaan Huo Bing. Ia bingung. Sampai-sampai kepalanya terasa mau pecah. Ia masih tidak percaya bahwa bocah dengan pakaian mahal di masa lalu adalah penyebab pembantaian desanya.
Sebenarnya, selama ini ia sudah tahu. Hanya saja ia terus menyangkal fakta itu di kepalanya dan lebih mempercayai kebohongan yang ia buat sendiri.
Dari perkataan bocah itu dulu ketika para pembantai itu bertanya padanya ia sudah tahu bahwa bocah itu adalah salah satu penyebab desanya hancur. Tapi ia masih tidak mau mempercayainya. Mungkin karena ia menginginkan teman? Entahlah.
Xika tidak berniat untuk percaya. Untuk kedepannya pun tidak. Tapi ketika fakta sudah disajikan di depanmu dan kau masih menolaknya, itu hanya berarti satu hal. Kau bodoh.
Ia masih merenung selama beberapa saat. Dan baik Huo Bing maupun Heiliao tidak mengganggunya. Mereka bahkan tidak berdebat, hal yang sangat jarang mereka lakukan.
Setelah perasaanya lebih tenang, Xika akhirnya membuka mulutnya. Dengan berat hati ia menceritakan tentang bocah merah dengan simbol burung dan ular yang sedang bertarung tertera di atas bajunya. Ia juga menceritakan tentang bagaimana bocah itu terhubung dengan pembantaian desanya dan tentang dirinya yang masih menolak fakta itu.
Sampai saat ini. Ia sudah tidak bisa menolak lagi ketika mendengar fakta itu keluar dari mulut pemuda berjubah merah tersebut. Perkataannya yang mempertanyakan identitas dirinya sudah berarti sangat jelas. Pemuda itu memang berniat membunuhnya.
Setelah Xika menceritakan isi kepalanya yang sangat berantakan tidak ada satupun yang berbicara untuk beberapa saat. Keadaan sangat hening. Bahkan suara percakapan di kamar sebelah terdengar jelas meskipun Xika tidak tertarik untuk mendengarnya.
Akhirnya Heiliaolah yang memecah keheningan.
"Pemuda itu bukan kultivator biasa. Bagaimana kau bisa melarikan diri darinya dulu?"
Dan pertanyaan Heiliao itu sukses mendapat pelototan tajam dari Huo Bing. Sedetik kemudian Heiliao sadar bahwa ia memang tidak seharusnya menanyakan itu, setidaknya untuk saat ini. Tapi perkataan Xika berikutnya membuat kedua mahkluk itu terkejut.
"Entahlah. Aku tak begitu ingat. Mereka sempat bergiliran menyerangku. Setelah itu ingatanku kabur. Yang kurasakan hanya berbagai macam rasa sakit yang kuterima. Rasa sakit terakhir yang kuterima berasal dari dantianku dan setelah itu semuanya benar-benar gelap. Hal pertama yang kulihat adalah pamanku."
Baik Huo Bing maupun Heiliao sama-sama terkejut tidak menduga Xika akan menjawab pertanyaan mereka. Huo Bing ingat ketika Xika pertama kali menguasai elemen angin, anak itu mendadak teringat kenangan buruk yang sepertinya terkait dengan desanya. Ia sama sekali tidak mau bicara saat itu.
Heiliao mengerutkan keningnya. Sepertinya hancurnya dantian anak itu memang disengaja. Serigala itu tidak habis pikir. Bahkan Spirit Beast sekalipun tidak akan tega melakukan hal tersebut meskipun tidak sejenis. Manusia memang lebih mengerikan daripada hewan.
"Jadi pemuda itulah penyebab hancurnya dantianmu?"
Huo Bing kembali memelototi Xika. Kali ini dengan ucapan 'tidak bisakah kau menutup mulutmu?' tanpa suara.
Xika mengangguk muram.
"Secara tidak langsung, ya."
"Lalu sekarang bagaimana? Apa yang akan kita lakukan?"
"..........."
Xika tidak langsung menjawab. Perlu beberapa waktu baginya untuk menjawab.
"Kita tidak perlu melakukan apa-apa. Fokus saja pada rencana kita sebelumnya."
Kedua mahkluk itu mengerutkan keningnya secara bersamaan. Kalau Huo Bing mengajak Xika untuk bertarung dengan Hei Bao, anak itu pasti tidak akan ragu sedetikpun. Tapi kali ini ia tidak mau bertindak apa-apa pada pemuda yang telah menyebabkan dantiannya retak?
Xika menoleh. Ia melihat Huo Bing menatapnya dan ia menyadari arti tatapan itu. Ia tersenyum lemah.
"Berapa tingkat kultivasinya?"
"Sekitar.......Forming Qi 5 atau 6."
"Lihat? Ia bahkan lebih kuat dariku. Kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Ehh....kau bahkan tidak ragu meskipun tahu bahwa Hei Bao di tingkat Forming Qi 8."
Xika mengalihkan pandangannya. Kini ia memandangi lantai kamarnya.
__ADS_1
"Aku tahu..........hanya saja aku......aku tidak bisa merasakan hal yang sama untuk pemuda itu. Mungkin aku masih takut padanya. Aku tahu bahwa dialah penyebab dantianku retak secara tidak langsung. Dialah yang menyebabkanku menerima penghinaan selama sepuluh tahun bersama pamanku. Hanya saja........aku tak bisa.........Ketika aku mengingat wajahya, perasaan tidak berdaya yang penuh dengan putus asa itu kembali menghantuiku."
Heiliao kelihatannya masih ingin protes tapi Huo Bing menghentikannya.
"Baiklah. Kalau kau berkata seperti itu maka kita tidak akan melakukan apapun."
Xika mengangguk pelan berterimakasih. Dan suasana kembali hening. Kali ini bahkan terasa lebih berat. Huo Bing tahu ia tidak bisa membiarkan Xika tetap seperti ini.
Dengan berat hati ia mengajak Xika bermain capsah. Sudut mulut Xika sedikit terangkat ketika mendengar ucapan Huo Bing. Heiliao juga ikut bergabung. Ternyata serigala itu juga tahu permainan capsah. Tidak butuh waktu lama agar senyum kembali muncul di wajah Xika.
Ia tertawa ketika melihat Huo Bing kalah lebih banyak dari Heiliao. Heiliao memberinya tatapan sombong yang langsung dibalas oleh Huo Bing. Huo Bing tertawa keras sekali ketika Heiliao kalah, jauh lebih keras daripada ketika ia menang melawan Xika. Suasanapun kembali cerah.
Heiliao dan Huo Bing sedang berdebat dan masih akan terus berdebat sampai esok hari kalau Xika tidak menghentikan mereka.
"Baiklah, baiklah. Bagaimana kalau kita membicarakan apa yang akan kita lakukan besok? Aku tidak jadi membeli apapun karena moodku hancur oleh pelayan sialan itu. Aku ingin lihat bagaimana mukanya saat Gong Tao benar-benar akan memberikannya padaku."
Huo Bing mengangguk.
"Benar. Selain itu, kita tidak bisa bertindak bebas karena adanya Gong Tao. Lagipula itu pertama kalinya kita bertemu dengan perwakilan Paviliun dan kita harus menentukan sikap."
Heiliao juga sependapat dengan Huo Bing.
"Ah, benar juga! Kenapa kau tidak menanyakan informasi tentang Hei Bao saat itu?"
"Ucapannya semakin menghancurkan moodku, waktu itu. Lagipula, kita tidak boleh membiarkan ia tahu hubungan apa yang kita miliki dengan Hei Bao. Dengan menanyakan kondisinya, ia bisa menebak sedikit-banyak hubungan kita dengannya."
"Bukannya ia sudah tahu bahwa ia yang menyerang klanmu?"
"Setidaknya ia tidak tahu hubunganku dengan pemuda itu."
Heiliao mengangguk-ngangguk.
"Lalu apa saja yang akan kita beli?"
Heiliao mengerutkan keningnya.
"Sepertinya itu terlalu jelas. Kita tidak bisa membiarkan mereka tahu tujuan kita."
"Bukannya hubungan kita dengan mereka masih netral?"
"Tidak bila mereka mengetahui hubungan kita dengan pemuda itu. Mereka pasti akan memilih pemuda itu."
"Jadi kita tidak akan membeli dari mereka?"
"Tidak. Akan sulit untuk mengumpulkan bahan-bahan selangka itu tanpa menggunakan Paviliun. Kesempatan menemukannya sangat kecil. Seperti mencari bulu Phoenix atau tanduk Unciorn."
"Bulu Phoenix? Tidak terlalu langka tuh." ucap Xika sambil melirik sayap Huo Bing.
Huo Bing tersenyum sombong. Tapi sebelum ia mulai menjelaskan tentang sejarah panjang keluarganya yang begitu agung dan mulia, Heiliao menghentikannya.
"Baiklah. Mungkin tidak selangka bulu Phoenix. Tapi masih selangka tanduk Unicorn."
"Hei!" protes Huo Bing.
"Jadi apa yang akan kita lakukan? Beli atau tidak?"
"Kita akan tetap membelinya. Tapi kita tak akan membiarkan mereka tahu tujuan kita."
Mereka semua sepakat untuk tidak membiarkan Paviliun tahu mereka akan membentuk tubuh Huo Bing.
"Bagaimana caranya?"
__ADS_1
"Kita akan membutuhkan banyak uang."
Xika mengerutkan keningnya, tapi Heiliao tidak bicara lagi. Xika menyerah untuk mencari tahu dan pergi tidur.
-----------------------
Esok harinya, Xika berjalan kembali menuju Paviliun. Di perjalanan Heiliao menceritakan rencananya. Mereka akan membeli berbagai macam tanaman spiritual dan bahan-bahan yang cukup berharga, jadi tidak akan mencolok bila barang-barang yang Huo Bing butuhkan terselip satu atau dua.
"Tunggu dulu. Itu memang rencana yang bagus tapi aku tidak yakin memiliki uang sebanyak itu. Lagipula bukankah tanaman-tanaman itu akan sia-sia? Kita tidak akan menggunakannya."
"Untuk saat ini. Bila kau sudah lebih mahir dalam alkemis, bahan-bahan itu akan berguna."
"Itu memang benar. Tapi bagaimana dengan uangnya? Kau masih belum menjawabnya."
"Bukankah kau punya pil-pil yang sudah tak berguna?"
Selama di makam, Heiliao mengajarinya berbagai macam pil. Dan diantaranya ada pil yang sudah tak berguna lagi untuknya. Seperti Gathering Pill yang berguna untuk membantu kultivator di tahap Qi Gathering menerobos ke tingkat selanjutnya. Xika sudah di tingkat Qi Gathering 9 jadi ia tidak membutuhkan pil-pil itu lagi.
"Kau berencana menjualnya?"
"Tentu saja. Bukankah kau sudah tidak membutuhkannya lagi?"
"Tapi bukankah itu akan mengungkapkan identitasku sebagai alchemist?"
"Belum tentu. Kalau kau bertemu Cao Ping dan melihat pemuda itu menjual Gathering Pill apa kau akan bepikir bahwa ia yang membuatnya?"
"Yahhh......tidak sih....."
Heiliao mengangguk.
"Sama halnya dengan Gong Tao. Ia akan curiga, memang. Tapi ia tidak akan langsung menebak dirimu sebagai seorang Alkemis. Lagipula Alkemis cukup jarang di Dinasti Lin. Dan aku yakin Gong Tao mengenal hampir semuanya. Dengan menjual pil-pil itu Gong Tao akan semakin penasaran dengan dirimu."
Xika menganggukkan kepalanya dengan ekspresi yang masih tidak rela berpisah dengan pil-pil buatannya.
"Ah, satu lagi. Jual semua Condentation Pill yang kau punya."
"Apa? Lalu bagaimana aku akan menembus tahap Forming Qi? Kau lupa aku punya empat dantian?"
Condentation Pill berguna untuk kultivator tahap Qi Gathering 9 yang hendak menerobos ke Forming Qi, seperti Xika sekarang ini. Ia memang masih belum meminumnya karena hendak mengokohkan kekuatannya dulu. Ia berencana menggunakan pil-pil itu tidak lama lagi.
"Menjual pil-pil itu akan membuat Gong Tao mengira bahwa kau sudah di tahap Forming Qi. Itu akan membantu. Di usiamu yang saat ini, sudah cukup jenius untuk mencapai Forming Qi."
"Aku memiliki empat dantian dan aku baru mulai bekultivasi selama satu tahun. Kalau aku bukan jenius maka tidak akan ada orang yang pantas disebut jenius."
Heiliao mengangkat bahunya.
"Ah! Kau juga belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana aku akan menembus Forming Qi bila aku menjual semua pil itu?"
"Kau akan tetap menembusnya. Dan kau tidak boleh menggunakan pil untuk menembusnya."
Xika mengerutkan keningnya.
"Kenapa?"
"Karena kau akan menjadi lebih lemah. Kau boleh menggunakan pil untuk meningkatkan kultivasimu, tapi kau tidak boleh menggunakannya untuk menembus tahap berikutnya. Kultivator yang menembus dengan bantuan pil akan lebih lemah dari kultivator yang menembus tanpa menggunakan pil."
"Bukannya itu tidak terlalu berbeda?"
"Itu sangat berbeda. Setiap kali kau menembus, kau meletakkan dasarmu. Pil memang akan membantumu menembus lebih mudah, tapi hal itu juga akan melemahkan fondasi dasarmu."
Xika mengangguk-angguk mendengar penjelasan Heiliao.
__ADS_1
Dan seiring berakhirnya penjelasan Heiliao, merekapun sampai di pintu depan Immortal Pearl Paviliion.