Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-101


__ADS_3

Xika langsung mengubah posisinya menjadi duduk. Ia melakukannya cukup cepat hingga membuat Huo Bing yang di sampingnya terkejut.


Sebelum Huo Bing sempat mengajukan pertanyaan, Xika telah mengedarkan penglihtannya dan melihat berbagai pendatang baru itu.


Serigala. Ada banyak sekali serigala dengan ukuran dan jenis yang berbeda-beda. Masing-masing melakukan aktivitasnya sendiri, tapi ada satu hal yang sama. Mereka semua mengelilinginya.


Xika bergerak mendekat ke Huo Bing.


"Apa mereka adalah musuh Heiliao? Apa kita ditawan? Apa kau sudah punya rencana melarikan diri?"


Xika berusaha berbisik sepelan mungkin. Tapi pendengaran para serigala lebih tajam dari yang Xika bayangkan. Mereka semua mendengarnya. Tapi kelihatannya mereka tidak terlalu peduli. Beberapa menatapnya dengan aneh, beberapa menatapnya dengan senyum, dan beberapa kelihatannya tersinggung dengan ucapan Xika.


"Tenanglah. Mereka di pihak kita. Teman Heiliao mungkin. Serigala itu tidak memberitahukan detilnya padaku. Pokoknya kita aman untuk sementara."


Beberapa serigala memandang mereka. Yang lain menatap Xika dengan aneh karena ia bicara sendiri sementara yang lain tidak. Xika menyadari tatapan mereka.


"Apa mereka bisa melihatmu?"


"Ya dan tidak."


"Sialan! Tidak bisakah kau bersikap normal? Sudah cukup dengan sikap misterius Heiliao, tidak perlu kau tambah juga."


"Hehehe.......aku sedang menirunya. Sejujurnya, aku ingin tahu apa rasanya melakukan tindakan misterius seperti tadi."


"Dan bagaimana perasaanmu?"


"Biasa saja."


"Kalau begitu jangan bersikap misterius lagi, bodoh!" ucap Xika sambil memukul kepala Huo Bing. Burung itu hanya mengusap kepalanya sambil tersenyum lebar.


"Omong-omong, dimana Heiliao?"


Beberapa serigala yang tadinya sedang dalam posisi santai langsung tegak ketika mendengar perkataan Xika. Mereka menatap Xika dengan pandangan tidak suka.


"Apa aku salah bicara?"


"Mungkin. Sepertinya mereka tidak suka kau memanggil namanya langsung. Dan untuk pertanyaanmu sebelumnya, mereka yang kuat bisa melihatku, sementara yang lemah tidak."


"Bagaimana dengan jawaban atas pertanyaan keduaku?"


Huo Bing mengingat-ingat sebentar.


"Oh! Entahlah. Ia hanya mengatakan perlu menyelesaikan urusan keluarga. Ia pergi setelahnya."


Xika masih tidak terlalu mengerti apa yang dilakukan Heiliao. Sepertinya serigala itu meminta kerabatnya untuk menjaga dirinya sampai lukanya sembuh.


"Lalu apa yang kita lakukan sekarang?"


"Entahlah. Untuk sementara kita akan menunggu lukamu pulih. Aku tidak tahu apa yang akan kita lakukan setelahnya."


Xika menatap sekelilingnya. Dari kecil, ia sangat suka dengan serigala. Dan kini ada ribuan dari mereka dengan berbagai jenis. Tentu saja ia tidak akan melewatkan kesempatan ini. Ia menatap mereka semua seolah mereka adalah hartanya yang berharga dan akan hilang kalau ia tidak menjaganya.


Beberapa serigala tampaknya terganggu dengan tatapan Xika. Mereka sudah terbiasa dengan pandangan yang penuh dengan niat membunuh. Tapi menghadapi pandangan aneh dari Xika mereka tidak pernah.


"Hei, Xika. Sepertinya kau mengganggu mereka dengan tatapanmu."


"Benarkah?" tanya Xika tanpa menoleh. Ia masih sibuk memandangi pemandangan indah yang baru pertama kali dilihatnya.


"Kenapa kau begitu suka dengan serigala?" tanya Huo Bing berusaha mengalihkan pandangan Xika. Dan itu berhasil.


"Apa kau tahu kenapa tidak ada toko hewan yang menjual serigala sebagai peliharaan? Xika balas bertanya.


Huo Bing mengerutkan keningnya, berpikir sebentar. Kemudian menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak."


"Karena tidak ada yang bisa menjinakkan serigala."


Telinga para serigala langsung berdiri. Perbincangan Xika kali ini cukup menarik minat mereka. Meskipun masih ada beberapa yang berusaha tidak kelihatan tertarik.


"Ada banyak hewan peliharaan yang dijual. Mereka semua awalnya adalah binatang liar. Sampai manusia menangkap mereka dan menghilangkan sisi liar mereka."

__ADS_1


Terdengar geraman dari berbagai arah. Semua serigala dan Huo Bing setuju dengan ucapan Xika. Mereka semua memiliki raut tidak suka di wajahnya.


"Anjing, kucing, gajah, ular, elang si raja langit, dan bahkan singa yang terkenal sebagai raja hutan berhasil mereka jinakkan. Tapi dari sekian banyak hewan yang berhasil mereka tangkap. Ada satu yang tidak bisa mereka jinakkan.


Dan hewan itu adalah serigala."


Kembali terdengar geraman dari sekelilingnya. Tapi kali ini berbeda dengan geraman sebelumnya, ini adalah geraman persetujuan.


"Kau tahu kenapa itu, Huo Bing?"


Huo Bing kembali menggeleng.


"Serigala tidak bisa dijinakkan. Kau bisa membunuh mereka tapi kau tidak bisa menjinakkan mereka. Mereka tak akan pernah tunduk pada siapapun, bahkan bila itu berarti kematian. Mereka menjunjung harga diri mereka sampai akhir hayat. Dan itulah yang kusuka dari serigala. Kehormatan mereka."


"Lalu kalau begitu, setidaknya manusia bisa menangkap mereka tanpa harus membunuh bukan?"


Kali ini gantian Xika yang menggeleng.


"Tidak. Ditangkap berarti merendahkan kehormatan mereka. Mereka tidak akan membiarkan manusia melakukan hal itu. Hal lain yang kusuka dari serigala adalah kegilaan. Kau tahu kenapa manusia tidak bisa menangkap mereka? Karena pada detik-detik terakhir mereka akan menunjukkan kegilaan. Antara musuh mereka yang mati atau mereka yang mati. Tapi lebih baik mati terhormat daripada hidup penuh dengan penghinaan."


Xika tersenyum mengakhiri. Ia kembali teringat dengan hidupnya selama sepuluh tahun terakhir. Pengalaman itu mengajarkannya hal ini. Penghinaan yang ia terimalah yang membuatnya bisa mengucapkan kalimat terakhir.


"Tapi sayangnya tidak semua serigala seperti itu, nak."


Sebuah suara terdengar dari balik hutan. Beberapa saat kemudian barulah Xika dapat melihat dengan jelas sosok yang berbicara.


Sosok itu adalah serigala, tentu saja. Tapi ukurannya lebih besar dari serigala lain, meskipun tidak sebesar Heiliao. Kurang lebih ia tigaperempatnya Heiliao. Berbeda dengan Heiliao yang bulunya hitam sepenuhnya, serigala ini berwarna hitam dengan putih di ujung tiap bulunya.


Xika menatap serigala itu.


"Benarkah? Kenapa aku tidak tahu?"


"Kau tidak tahu? Padahal serigala itu berada di sisimu sepanjang waktu. Apa kau tidak tahu siapa yang mengasuhmu selama kau tidur?"


Dan Xika tahu bahwa Heiliaolah yang dibicarakan serigala itu.


"Apa ini? Semacam perpecahan klan?"


"Tidak juga. Ini bukanlah perpecahan. Hanya perbedaan pendapat bahwa kami membutuhkan Alpha baru. Pengasuhmu tidak lagi layak untuk menjadi Alpha."


"Tunggu. Kau baru bilang bahwa Heiliao adalah Alpha?" Xika tampak terkejut. Dan serigala itu tidak tahu bagaimana harus merespon.


"Heiliao adalah Alpha. Kau tahu itu?" tanyanya pada Huo Bing.


"Tidak juga."


Alpha adalah sebutan bagi pemimpin suatu kaum Spirit Beast. Ia sudah lama bermimpi ingin bertemu dengan Alpha para serigala. Dan serigala itu baru saja mengatakan bahwa Heiliao adalah sang Alpha? Agak tidak cocok, menurutnya.


"Benar. Tapi pengasuhmu tidak akan menjadi Alpha lagi."


Dan dengan polosnya Xika bertanya,


"Kenapa?"


Serigala itu kembali kesulitan merespon. Ia terbiasa berhadapan dengan lawan-lawan yang memiliki rencana dalam rencana. Mereka tidak mengatakan apa yang mereka maksud. Berhadapan dengan Xika yang terus terang dan blak-blakan adalah pengalaman baru baginya.


"Karena ia sudah tidak layak lagi."


Xika kembali mengajukan pertanyaan yang sama.


"Kenapa?"


"Karena ia telah mengabaikan tugasnya selama bertahun-tahun. Dan kami tidak akan menerima pengasuh sebagai Alpha kami."


Xika mengerutkan keningnya. Ia memikirkan alasan pertama. Kapan Heiliao meninggalkan tugasnya? Apakah ia terlalu larut dalam perasaannya ketika ditinggal kekasihnya sampai-sampai mengabaikan tugasnya? Tebakannya itu tidak salah.


"Yah, aku tidak bisa mengatakan apa-apa untuk alasan pertama. Ia sendiri yang harus membereskannya."


Dan ucapan Xika itu membuat raut wajah serigala di depannya cukup puas. Tapi ucapan berikutnya menghilangkan ekspresi itu.


"Tapi aku bisa melakukan sesuastu untuk alasan kedua. Kenapa kau tidak akan menerima pengasuh sebagai Alphamu?"

__ADS_1


Serigala itu membentuk eskpresi aneh di wajahnya, seolah-olah Xika bertanya, 'kenapa kau tidak mau menerima kucing sebagai raja para serigala?'.


"Karena ia menurunkan harga dirinya? Karena aku terlalu lemah untuk diasuhnya? Tidak penting untuk menerima perhatiannya?"


"Kau bisa bilang begitu."


"Kalau begitu yang jadi masalah adalah diriku bukan? Kalau aku layak maka kau tidak akan protes bila Heiliao tetap menjadi Alpha meskipun ia mengasuhku bukan?"


Huo Bing hinggap di bahunya dan berbisik.


"Psttt....Xika, apa yang kau lakukan?"


"Sttt.....diamlah."


Serigala itu berpikir sebentar kemudian mengangguk. Ia menemukan bahwa ucapan Xika ada benarnya juga. Xikalah yang menjadi permasalahan utama. Mungkin bila Xika adalah sosok yang berbeda dari yang mereka bayangkan, mereka akan tetap menerima Heiliao sebagai Alpha meskipun ia menjadi 'pengasuh' anak itu. Tapi sayangnya untuk saat ini, Xika sama persis dengan sosok manusia yang ada dalam pikiran mereka. Yah, tidak semua.


"Kalau begitu bagaimana kalau kita bertaruh? Kalau aku menang maka kau akan mengakuiku dan Heiliao akan tetap menjadi Alpha."


"Bagaimana kalau kau kalah?"


"Kau yang putuskan. Aku sudah mengajukan tawaranku, dan kini giliranmu."


Serigala itu berpikir sebentar.


"Pengasuhmu akan menyerahkan warisannya pada serigala lain dan ia tidak akan menjadi Alpha lagi. Ia harus menyelesaikan tugas-tugas yang telah ia abaikan selama bertahun-tahun, kemudian setelah ia selesai, ia akan diasingkan dari kaum serigala. Ia tidak diperbolehkan bertemu dengan serigala lainnya. Dan ia tidak akan diakui sebagai serigala."


Perkataan serigala itu menimbulkan reaksi dari berbagai serigala lain yang hadir. Ada yang terkejut, ada yang senang, ada juga yang merasa sedih.


Xika sedikit mengerutkan keningnya.


"Bukankah syaratmu terlalu banyak?"


"Yah, kami harus berhati-hati dalam memilih pemimpin."


"Kalau begitu aku akan menambahkan syaratku."


Serigala itu diam saja. Sepertinya ia tidak keberatan. Mungkin ia merasa yakin akan memenangkan pertaruhan ini.


"Aku ingin diriku dan temanku ini, roh burung campuran antara Phoenix dan Cygnus kalau kalian tidak bisa melihatnya, dianggap sebagai kaum serigala. Dan aku ingin kaum serigala akan mengabulkan permintaanku apapun itu, satu kali."


Kali ini giliran serigala itu yang mengerutkan alisnya.


"Sekarang kau yang terlalu banyak. Kau dan temanmu akan diperlakukan sebagai musuh kaum serigala bila kau kalah."


Xika berpikir sebentar, kemudian ia mengangguk.


"Baiklah."


Serigala itu juga mengangguk dengan puas.


"Siapa namamu?"


"Xing Xika. Dan kau?"


"Lang Jin. Lang 狼 Serigala dan Jin 荩 Setia. Sesuai namaku, aku akan setia dengan janjiku."


Xika mengangguk. Kemudian sesuatu terlintas di kepalanya.


"Tunggu dulu. Apakah kau cukup untuk mewakilkan kaum serigala?"


"Mungkin tidak. Tapi aku akan menyebarkan berita ini. Dan akan kuminta pendapat semua petinggi kaum serigala tentang pertaruhan kita."


Serigala itu diam sebentar.


"Dalam hal apa kita akan bertaruh?"


"Aku membutuhkan pengakuanmu. Jadi kau yang tentukan. Kuharap kau bersikap adil."


"Kami memang tidak suka padamu. Tapi kami tidak serendah itu sampai bersikap curang agar menang. Aku akan minta petunjuk para petinggi."


Xika mengangguk.

__ADS_1


Setelah itu, Lang Jin berlari pergi menyebarkan kabar pertaruhan mereka ini.


__ADS_2