Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-188


__ADS_3

Kedatangan gadis itu membuat banyak pria yang hendak kembali ke kediaman mereka menghentikan langkah. Mereka menatapnya dengan terkejut sekaligus senang karena tidak setiap hari murid biasa seperti mereka dapat melihat salah satu dari Empat Gadis Tercantik.


"Astaga.....kau cepat sekali.....tunggu aku dong....."


Ketika melihat salah satu dari Empat Gadis Tercantik sudah bisa dikatakan keberuntungan, maka harus disebut apa ketika melihat dua dari Empat Gadis Tercantik? Jika ditambah dengan Xingli, maka lengkap sudah kebahagiaan para murid lelaki ini. Meskipun kurang satu, tapi biarlah.


"Cepat, kemarilah.....itu dia....."


"Jadi pria itu yang kau ceritakan terus siang malam tanpa henti?"


"Sttt....jangan katakan keras-keras...." ucap gadis pertama dengan wajah bersemu malu.


"Yah, aku tak melihat ada yang menarik darinya. Aku heran kenapa kau malah tertarik dengan pria seperti itu."


"Kau tidak akan mengerti sampai kau bertemu dengannya."


"Aku sudah bertemu dengannya dan aku masih tidak mengerti."


"Bukan itu maksudku! Huh!"


Sementara kedua gadis itu bicara tak mempedulikan para murid lain yang menatap mereka dengan pandangan tak baik, lelaki yang mereka bicarakan tengah bersama gadis lain.


Tap! Tap!


"Aku penasaran apa elemenmu." ucap Xika dengan suara rendah.


"........."


Seperti biasa, Xingli hanya diam saja sembari menatap Xika. Xika sudah biasa akan hal itu, jadi ia tak ambil pusing. Ia berbalik dan menatap Heiliao dan Huo Bing.


"Bagaimana pertarunganku tadi?"


"Biasa saja. Kau bahkan hampir dikalahkan Nona Xingli tadi."


"Apa? Jelas-jelas kami seri!"


"Dari sudut pandangku kau hampir dikalahkan Nona Xingli."


"Sialan! Heiliao, bagaimana denganmu?" Xika berbalik meminta pendapat Heiliao karena tak terima dengan pendapat Huo Bing.


"Lumayan."


Xika melebarkan matanya.


"Hanya itu? Lumayan? Tidak ada tanggapan lain seperti, hebat, atau wow, atau semacamnya?"


"Tidak."


Xika kembali berbalik pada Huo Bing. Ia berbisik pelan, namun masih terdengar oleh Heiliao dan Xingli.


"Pst...kau apakan dia? Kenapa dia jadi hemat bicara lagi?"


"Aslinya kan memang dia hemat bicara. Cuma kadang otaknya rusak saja jadi mulutnya bisa bicara."

__ADS_1


DUAK!


Alih-alih berdebat, Heiliao lebih memilih untuk memukul kepala Huo Bing.


"AW! Sialan!"


Dan dengan itu Huo Bing serta Heiliao kembali berdebat, seperti biasa. Xika yang sudah bosan menyaksikan pemandangan itu berbalik kembali menatap Xingli.


"Yah, tadi lumayan seru. Mau bertarung lagi kapan-kapan?"


Xika mengucapkan hal itu bukan hanya sekedar basa-basi. Ia benar-benar berniat untuk bertarung dengan Xingli lagi. Alasan utamanya karena bertarung dengan Xingli menambah wawasannya dalam bertarung. Dalam dunia kultivasi, rekan dan rival merupakan hal yang penting. Tanpa keduanya kau tak akan bisa berkembang.


Dengan adanya rival, kau akan memiliki motivasi dan tujuan untuk berkembang, sementara rekan membantumu untuk berkembang. Xika sudah memiliki Tian Yin si bajingan sialan sebagai rival. Ia juga memiliki Huo Bing dan Heiliao sebagai rekannya. Tapi keduanya adalah Spirit Beast yang sudah berumur ratusan tahun dan memiliki pengalaman segudang.


Ia tahu bahwa mereka selalu menahan diri ketika bertarung dengannya. Jadi ia ingin memiliki rekan yang seusia, tapi juga memiliki kemampuan yang tak jauh berbeda. Meskipun di mata banyak orang keduanya sama kuat. Dengan bertarung melawan Xingli, bukan hanya Xika yang berkembang tapi Xingli juga.


Sama seperti kata pepatah, besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya. Tapi pepatah itu hanya berlaku kalau kau bertemu orang yang setara atau lebih kuat darimu. Karena kalau Xika bertarung melawan orang yang lebih lemah darinya maka tak akan ada gunanya. Ia tak akan berkembang.


Xingli juga menyadari hal ini, jadi gadis itupun mengangguk. Meskipun tak mengucapkannya, tapi sepertinya Xika dan Xingli sepakat bahwa pertarungan mereka berikutnya tak akan ada penonton. Mereka berencana menggunakan kemampuan penuh mereka.


"Oh? Apakah aku tak salah lihat? Yin Xingli, si gadis es sedang bicara dengan seorang pria?"


Pada saat itu, sebuah suara menyita perhatian Xika, Xingli, Huo Bing dan Heiliao. Tentu saja semua murid yang masih ada juga tak mau ketinggalan menyaksikan pertunjukan ini.


Xika menoleh dan melihat siapa yang berbicara. Normalnya, tak banyak orang yang berani dan mau mengajak Xingli bicara. Gadis itu seolah memiliki tembok di sekelilingnya yang mencegah orang mendekat. Kali ini ada seseorang yang mengajak Xingli bicara, ia ingin tahu orang seperti apa.


Yang bicara adalah salah satu dari Empat Gadis Tercantik, Qing Hu si Rubah Penggoda. Tapi Xika tak menyadari hal itu. Baginya semua gadis sama saja. Yah, kecuali Xingli.


"........."


"Jadi kau yang namanya Xing Xika. Apa rumor itu benar?" Gadis cantik itu berbalik dan menatap Xika.


"Siapa kau?"


Pertanyaan Xika itu sukses membuat ekspresi semua yang hadir membeku. Mereka tak menyangka bahwa Xika tak mengetahui siapa gadis menggoda di depan mereka ini. Bagaimana mungkin Xika tidak tahu Qing Hu si Rubah Penggoda, salah satu dari Empat Gadis Tercantik?


"Perkenalkan, dia adalah Qing Hu yang sering dijuluki Rubah Penggoda."


Pada saat itu, seorang gadis cantik lain muncul dan memperkenalkan Qing Hu. Ketika Xika melihat siapa yang bicara, ia kembail teringat momen kekalahannya dari Tian Yin.


Wu Liao.


Ia tak pernah menyangka gadis itu berada di sini juga.


Sebelum Xika maupun Wu Liao bicara, Qing Hu mengangkat tangannya dan memberikan senyum manis nan memikat.


"Salam kenal."


".........."


Set!


Set!

__ADS_1


Xika menoleh ke kiri, kemudian kanannya. Banyak orang bertanya kenapa ia terlihat kebingungan seperti itu. Akhirnya Xika menyikut Huo Bing di sampingnya.


"Pst...dia bicara denganmu....."


Sekali lagi, Xika berhasil membuat semuanya terkejut. Qing Hu yang adalah dewi impian dalam banyak pria saat ini sedang mengangkat tangannya mengajak Xika bersalaman. Tapi pria itu malah meminta temannya yang berbicara. Itu sama saja dengan tidak menganggap kehadiran Qing Hu sama sekali.


Kalau pria lain yang ada di posisi Xika, maka mereka pasti akan menyambut lengan itu cepat-cepat, takut si Rubah berubah pikiran. Mereka bahkan tak akan melepaskan tangan gadis itu. Tapi sikap Xika ini.......sungguh membuat orang banyak menggelengkan kepala.


"Pftttt.......penyakit bodohmu sudah mulai keluar lagi ya, Xika? Aku tak akan menggangu kalau begitu. Ayo, Serigala Gosong."


".........."


Huo Bing berjalan menjauh bersama Heiliao meninggalkan Xika yang kebingungan. Mereka berhenti di dekat murid lain, hendak menyaksikan pertunjukkan kebodohan Xika juga.


"Hei, tanganku masih menunggu, loh......." ucap Qing Hu dengan bibir dimanyunkan. Tindakannya itu membuat banyak pria berteriak heboh.


Melihat Huo Bing dan Heiliao pergi, maka yang bisa ia ajak bicara hanyalah Xingli.


"Wajibkah aku menjabat tangannya? Bukankah kita tidak pernah berjabat tangan sampai sekarang?"


Xika mendekat dan bertanya pada Xingli. Tindakan yang membuat tidak hanya para murid penonton, tapi bahkan Wu Liao dan Qing Hu terkejut.


Xingli pada dasarnya adalah seorang dewi es. Ia tak pernah dekat dengan siapapun, dan tak pernah mengijinkan siapapun mendekat. Kecuali dalam pertarungan, ia tak pernah berdiri dekat dengan pria kurang dari jarak satu meter.


Tapi saat ini Xika sangat dekat dengan Xingli dan bahkan bertanya padanya? Bukan itu saja, sikapnya ini kembali mengabaikan Qing Hu.


Dan yang lebih mengejutkan lagi Xingli mengangkat kedua bahunya. Wu Liao tak pernah melihat Xingli mengangkat kedua bahunya kecuali untuk mengayunkan pedang.


"Tch.....kau tidak membantu."


Bukannya bersyukur sudah dijawab oleh Xingli, Xika malah berkata seperti itu? Xingli menatapnya dengan tajam, tapi tidak mengucapkan apapun, juga tidak melakukan apapun. Reaksi yang kembali membuat semua orang terkejut. Sementara itu Huo Bing dan Heiliao sedang terbahak-bahak melihat kebodohan Xika berurusan dengan wanita.


"Duh....jangan menyamakanku dengan Xingli, dong~ Aku dan dia kan berbeda. Masa kau tidak bisa melihatnya sih?" ucap Qing Hu sambil menonjolkan pakaian minimnya.


"Ah....ya, benar juga." Xika melihat pakaian Qing Hu kemudian membandingkannya dengan pakaian Xingli. Tentunya ia melakukan itu secara terang-terangan hingga membuat Qing Hu terkejut sementara banyak pria sedang menahan amarah. Kalau saja mereka tak ingat bahwa Xika sekuat Xingli, maka mereka akan maju menyerang Xika sekarang juga. Berani-beraninya ia membandingkan kedua dewi dengan tatapan tidak sopan seperti itu.


"Ini, ambillah....."  Xika mengeluarkan beberapa keping emas dan menaruhnya di tangan Qing Hu yang mengajaknya bersalaman.


"Apa? Apa ini?"


"Hm? Itu uang tentu saja. Masa kau tidak tahu?"


"Tentu saja aku tahu ini uang! Yang kutanyakan adalah kenapa kau memberiku uang?!" Kali ini Qing Hu menatap Xika dengan bingung bercampur amarah.


"He? Kenapa bertanya lagi? Bukannya sudah jelas untuk membeli baju? Membandingkan bajumu yang begitu sedikit dengan Xingli, sepertinya kau kekurangan uang bukan? Ambillah. Tak apa."


"............"


Hening. Keheningan total. Kalau sebelumnya para murid masih bisa marah atau memberikan komentar atas tindakan Xika, kali ini mereka benar-benar dibuat tak bisa bicara. Sebelumnya juga begitu, tapi melalui kekuatan Xika. Kali ini ia membuat mereka tak bisa bicara melalui tindakannya.


"Ayahku bilang aku tak boleh pelit dengan orang yang berkekurangan." ucap Xika dengan wajah polos ketika melihat wajah bingung semua yang hadir.


"Bahahahahahaha........anak itu benar-benar bodoh! Pfttttt.....sialan, aku tak bisa menahan tawaku......" Huo Bing tertawa dengan puasnya. Reaksi Heiliao juga tak berbeda jauh.

__ADS_1


Pada saat itu barulah semua orang sadar bahwa Xika benar-benar mengira bahwa Qing Hu mengenakan pakaian terbuka karena tidak memiliki uang. Sungguh pola pikir yang menakjubkan.


__ADS_2