Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-194


__ADS_3

Di Gedung Utama, para penatua sedang berkumpul.


"Jadi apa yang akan kita lakukan terhadap anak ini?" Seorang pria botak bicara sambil menatap semua yang hadir di ruangan itu satu persatu.


"Menurutku sebaiknya kita menunggu dan lihat selanjutnya. Kita tak bisa terburu-buru dalam hal ini." Wanita berjubah biru yang pertama angkat suara.


"Menunggu? Lalu bagaimana kalau kita terlambat karena menunggu? Tak ada jaminan bahwa anak itu tak berbahaya!" Pria berjubah merah menjawab wanita itu.


"Tidak, menurutku, anak itu tidak akan mengganggu kalau dia tak diganggu lebih dulu." Kali ini Penatua Fen yang berbicara. Kelihatannya ia berusaha melindungi Xika.


"Fen, kau sendiri yang bicara sebelumnya, bahwa anak itu memberimu perasaan bahaya yang tak ingin kau usik."


"Bukan anak itu, tapi dua orang lainnya. Keduanya memiliki pandangan layaknya hewan buas, tapi hewan buas sekalipun tak akan menyerang seandainya wilayah mereka tak diserang ataupun mereka terdesak. Aku yakin keduanya juga seperti itu." Penatua Fen masih tak mau kalah.


"Begitukah? Lalu bagaimana dengan hyena?"


Penatua Fen tak bisa menjawab perkataan pria berjubah merah itu. Memang di antara segala macam hewan buas, hyena adalah pengecualian. Meskipun ia yakin kalau kedua pria yang bersama Xika itu diumpamakan sebagai hewan, keduanya bukanlah hyena, tapi ia tak bisa mengatakan itu tentu saja.


"Apa kalian ingat kalian bereaksi seperti ini juga ketika gadis Yin itu datang? Kita semua panik dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Lalu pada akhirnya? Tak ada yang terjadi dan semua kekhawatiran kita terbukti sia-sia." Wanita berjubah biru itu kembali bicara.


"Kali itu kita beruntung. Aku tak yakin keberuntungan akan selalu menyertai kita." Pria berjubah merah masih tetap pesimis.


"Darimana kau tahu itu adalah keberuntungan atau kesialan? Meskipun gadis itu tidak melakukan apapun, tapi bukan berarti ia berada di pihak kita."


"Tidak melakukan apapun juga sudah termasuk bantuan. Dan kurasa membicarakan masalah pihak terlalu dini, Lao Yan." Pria botak sebelumnya kembali bicara.


Termasuk pria botak itu, total ada lima orang di ruangan tersebut. Masing-masing mengenakan jubah warna merah, biru, hijau, dan kuning yang melambangkan keempat elemen dasar. Kecuali si pria botak. Pria botak itu mengenakan pakaian putih, tapi auranya sama sekali tak kalah dari keempat lainnya. Bahkan samar-samar, auranya lebih kuat dari mereka berempat.


Setelah hening sesaat, pria botak itu melanjutkan.


"Tapi menurutku Lan Shui benar. Kita tak bisa terburu-buru dalam hal ini. Dan sepertinya ini masih belum waktunya untuk kita bertindak. Seperti yang dikatakan Fen, kita tidak mengetahui elemen anak itu. Kita masih belum bisa mengambil keputusan."


"Bukankah kita juga belum mengetahui elemen gadis itu sampai sekarang? Tiga tahun berlalu dan kita masih belum mengetahuinya. Apa kau berniat menunggu elemen anak itu terungkap juga? Sampai kapan? Tiga tahun? Lima tahun? Atau sampai semuanya sudah terlambat?" Pria yang dipanggil Lao Yan kembali bicara.


BRAK!


Pintu terbuka dan muncullah seorang elder tua. Ia kelihatannya sedang terburu-buru.

__ADS_1


"Pe-penatua.....mohon maaf, tapi......"


Lao Yan hendak membentak elder tua itu tapi pria botak mengangkat tangannya dan Lao Yan berhenti meskipun wajahnya masih kesal.


"Bicaralah."


"Ada seseorang yang mengalahkan Seratus Besar. Dan ia berencana menentang semuanya. Saat ini ia sudah mengalahkan sepertiga dari mereka."


"Apa?!"


"Apa ada yang berniat menentang Mu Zhan Academy? Dari kekuatan mana orang itu berasal? Berapa usianya dan apa tingkat kultivasinya?"


Dibandingkan pria berjubah kuning yang panik, pria botak itu terlihat lebih tenang.


"I-itu......"


Para Penatua menyadari ada sesuatu yang tidak beres mengingat elder tua itu ragu-ragu untuk bicara. Tapi seperti sebelumnya, pria botak itu masih tenang.


"Bicaralah." katanya lagi.


"Usianya kurang lebih delapan belas tahun, kultivasinya......saya kurang yakin....dan dia.....berasal dari akademi."


"Elder Mo, bukankah itu hal yang biasa bagi para murid untuk saling bertarung? Apa kau sadar kau telah mengganggu percakapan penting kami demi urusan tidak pentingmu?" Lao Yan bicara dengan tenang tapi setiap kata yang keluar dari mulutnya dipenuhi dengan ancaman.


"Ta-tapi......Penatua Yan, anak itu mengalahkan Seratus Besar tanpa ampun. Beberapa harus berbaring selama satu tahun sementara beberapa yang lebih sial harus berbaring selama tiga-empat tahun....."


"Perkelahian diizinkan. Itulah perarturan akademi. Elder Mo, sebaiknya kau kembali sekarang." Lao Yan masih tak peduli.


"Yan Xiaolu, tunggu sebentar." Penatua Fen memanggil nama lengkap Lao Yan. Ia merasa ada sesuatu yang tak beres sampai Elder Mo bergegas kemari. "Elder Mo, lanjutkan."


"Y-ya....berbaring beberapa tahun masih terhitung ringan.....saat saya pergi tadi, anak itu sudah menghancurkan dantian beberapa siswa. Mungkin sekarang ia sedang menghancurkan lebih banyak lagi.......selain itu......." Elder Mo kembali ragu, kemudian ia menggelengkan kepalanya, "Tidak, Penatua anda harus melihat sendiri apa yang mampu anak itu lakukan."


"Bicara yang jelas, Elder Mo!" Yan Xiaolu kesal karena Elder Mo bicara terpatah-patah dan tidak jelas.


"Yan Xiaolu, menurutku lebih baik untuk melihatnya langsung. Tidakkah kau penasaran?" Penatua Fen mencegah Yan Xiaolu untuk memarahi Elder Mo lebih jauh lagi. Dan Penatua Fen hanya mendapat dengusan kesal sebagai jawaban.


Jadi kelimanya bergegas keluar bersama Elder Mo untuk melihat murid yang dibicarakan itu. Tapi akan sangat mencolok kalau Kepala Akademi dan Empat Pelindungnya muncul secara bersamaan hanya karena seorang murid. Jadi mereka menyembunyikan keberadaan agar tak diketahui para murid.

__ADS_1


Tentu saja mereka bisa menontonnya dari jauh seperti yang beberapa dari mereka lakukan ketika Xika dan Xingli bertarung, tapi setelah mendengar perkataan Penatua Fen, Penatua yang tersisa jadi ikut penasaran dan memutuskan lebih baik untuk melihat dengan mata kepala sendiri.


Dan sampailah mereka. Pemandangan banyak murid yang terkapar memasuki mata mereka sementara yang lain sedang menonton. Tapi bukan itu yang membuat mereka terkejut.


Saat ini, di depan mata mereka, berdiri seorang siswa sedang bertarung dengan empat murid yang mereka ketahui termasuk dalam Seratus Besar. Keempat murid itu memiliki elemen yang berbeda. Dan yang lebih hebat lagi, siswa itu juga menguasai elemen keempat lawannya.


Pada tingkat kultivasi yang dicapai para Penatua, mereka dapat mengetahui dengan jelas apa yang terjadi dari jarak yang jauh sekalipun menutup mata. Ketika mereka membuka mata, maka mereka dapat melihat berbagai hal dengan lebih jelas lagi. Tapi saat ini mereka tidak mempercayai mata mereka sendiri.


BLAR!


Siswa itu berhasil menjatuhkan salah seorang lawannya yang menggunakan elemen api dengan serangan elemen yang sama. Lalu tak lama kemudian hal yang sama terjadi pada tiga lawannya yang lain. Siswa itu menjatuhkan lawannya dengan elemen yang sama yang dikuasai lawannya. Seolah-olah menunjukkan bahwa penguasaannya terhadap elemen lebih dalam dibanding mereka.


"Ahhh.....apa-apaan ini?" ucap Xika melihat lawan-lawannya yang berbaring tanpa daya di tanah. Ia menoleh pada Huo Bing. " Bukankah kau bilang perlahan-lahan semut besar akan datang? Kenapa daritadi hanya semut kecil saja yang datang?"


Sebenarnya, Xika masih bisa mengalahkan mereka yang saat ini terbaring di tanah tanpa menggunakan elemen. Hanya tubuh fisiknya saja sudah lebih dari cukup untuk mengalahkan mereka. Ia menggunakan keempat elemennya untuk menarik perhatian 'semut besar' yang dikatakan Huo Bing.


"Aku bilang perlahan-lahan. Bagi mereka untuk muncul sekarang masih terlalu cepat."


"Apa? Lalu menurutmu kapan mereka akan muncul?"


"Hmm.....yang pasti bukan hari ini." jawab Huo Bing tak jelas.


"Jadi untuk apa aku melakukan semua ini?" tanya Xika setengah pada dirinya sendiri.


"Apa kau pikir mereka semua akan muncul hari ini sekaligus?"


"Tentu saja. Kalau tidak kenapa aku melakukan ini?"


"Aku tak yakin mereka akan terpancing secepat itu." Heiliao menambahkan.


"Hm?" Huo Bing mengarahkan pandangannya tepat ke arah para Penatua yang sedang bersembunyi.


"Ada apa, Huo Bing?" tanya Xika karena burung itu mendadak mengalihkan perhatiannya.


"Tidak." Huo Bing menoleh sesaat pada Xika kemudian kembali menatap arah para Penatua sambil tersenyum, "Tidak ada apa-apa".


Ketika Huo Bing menoleh, Heiliao juga ikut menoleh. Ia tahu apa atau lebih tepatnya siapa yang ada di sana. Hanya saja alih-alih tersenyum seperti Huo Bing, serigala itu lebih memilih mengabaikan mereka.

__ADS_1


"Yah, jadi setidaknya hari ini sudah selesai? Kalau begitu ayo kita main kartu!" Xika berjalan pergi tak mempedulikan para murid yang bergeletakan di tanah tanpa daya. "Ah, Xingli," Ia berbalik, " Apa kau mau ikut?"


Dua detik. Xingli terdiam selama dua detik sebelum mengangguk dan berjalan bersama mereka. Tentunya pandangan iri dan cemburu tak lepas dari mereka. Hanya saja kali ini tak ada yang berani menghalangi mengingat tumpukan murid yang berhasil Xika kalahkan.


__ADS_2