Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCs-265


__ADS_3

Mendadak Tu Shi merasakan firasat buruk ketika melihat senyum Xika. Rasanya ada sesuatu yang tidak beres. Tapi ia menolak untuk mengakui kekalahan. Ia menolak untuk percaya bahwa Xika dan Liang Jihua yang hanya berdua dan telah terdesak dapat membalikkan situasi mengalahkan mereka berduapuluhempat.


"Heh. Masih tersenyum sekalipun diambang kekalahan? Apa kau jadi gila?"


Dalam hati Tu Shi meyakinkan dirinya bahwa senyum kemenangan Xika hanyalah gertakan belaka. Ia tak akan termakan tipuan bodoh begitu.


"Kau akan lihat siapa yang kalah sebentar lagi." jawab Xika tak ambil pusing. Ia mengangkat tangan kanannya kemudian mengarahkannya pada perisai Tu Shi dan membuat gerakan mencengkram. Beberapa saat kemudian, perisai itu meledak dan menghempaskan Tu Shi beberapa meter ke belakang.


Sekedar tambahan informasi, Xika meledakkan perisai Tu Shi sambil membantu pertarungan Liang Jihua. Karena konsentrasi yang ia butuhkan semakin banyak, maka Xika mengangkat tangan kirinya menuju pertarungan Liang Jihua, sementara tangan kanannya masih terarah pada Tu Shi.


"Bah! Hanya ledakan kecil seperti itu, kau tak akan mampu melukaiku! Setidaknya berikan ledakan yang lebih besar sepuluh kali lipat!"


"Benarkah? Tapi tampaknya aku tidak membutuhkan ledakan untuk melukaimu."


"Apa-"


JLEB!


Belum selesai Tu Shi bicara, rasa sakit yang teramat sangat muncul di perutnya nyaris mengenai dantiannya. Ketika menoleh ke bawah, ia menemukan sebuah tombak tengah menembus perutnya. Dan itu bukanlah tombak biasa, itu adalah tombak yang terbuat dari tanah. Tanahnya sendiri.


"T-tapi.......b-bagaimana bisa......? T-tanahku........"


Tombak itu mendadak keluar sendiri dari tubuh Tu Shi dan memberinya tambahan sakit, setelah itu tombak berputar dan memukulkan ujungnya yang tumpul ke kepala Tu Shi.


BUK!


"Apa kau pikir seranganku daritadi hanya untuk membuang tenaga?"


Bruk!


Tu Shi jatuh berlutut. Rasa sakit di perutnya semakin bertambah. Tubuhnya terus-menerus berteriak kesakitan. Tapi ia masih mengabaikannya. Setidaknya ia ingin tahu alasannya kalah sebelum tersingkir dari babak ini.


Tadinya Xika tidak ingin menjelaskan pada Tu Shi, tapi ketika menoleh ia mendapati Liang Jihua tengah menatapnya dengan mata penasaran yang sama dengan Tu Shi. Kalaupun ia tidak mengatakannya pada Tu Shi sekarang, gadis buas itu pasti akan bertanya nanti.


"Yah, apa boleh buat. Kau ingat pisau angin yang kubuat beberapa saat lalu? Aku bukan sekedar menyerang. Pisau yang kulemparkan pada perisaimu itu perlahan-lahan memecah perisai tanahmu. Meskipun hanya ada retakan kecil, kecil sekali, itu sudah cukup bagi anginku untuk masuk dan menghancurkan tanahmu. Setelahnya aku tinggal mengendalikan tanahmu menggunakan anginku."


"T-tapi......itu.....tanahku......bagaimana.......?"


Xika mengerti pertanyaan Tu Shi. Sekalipun ia mengendalikan tanah Tu Shi menggunakan elemen anginnya, harusnya Tu Shi juga masih memiliki kendali setidaknya sedikit terhadap tanahnya. Namun bagaimana bisa Xika mengendalikannya seolah itu tanahnya sendiri?


"Hm, bagaimana menjelaskannya ya? Anggap saja begini, kendali dan pemahamanku terhadap elemen angin lebih besar dibanding pemahaman dan kendalimu pada tanah."


Tu Shi mengerutkan keningnya. Ia masih tidak puas dengan jawaban Xika. Rasanya itu masih tidak mungkin. Tombak yang menusuknya, harusnya ia bisa merasakan setidaknya sedikit auranya, tapi nyatanya tidak. Selain itu, samar-samar ia merasakan aura lain yang masih familiar juga tapi ia tidak tahu itu apa.

__ADS_1


Mendadak Tu Shi membelalakkan matanya seolah menyadari sesuatu.


"J-jangan-jangan kau...."


BUK!


"Aku sudah memberikan penjelasan, sekarang keluarlah." Setelah memukul kepala Tu Shi sampai pingsan, Xika mengaktifkan jimat Tu Shi dan mengirimnya kembali ke Akademi.


Sementara Liang Jihua, menghabisi beberapa orang yang tersisa sebelum menghampiri Xika. Ia menatap Xika dengan pandangan rumit. Entah apa yang ada di kepalanya, perasaan bersalah yang tak kunjung hilang atau rasa penasaran yang masih bertahan namun ragu untuk bertanya.


Xika menyadari tatapan Liang Jihua, tapi mengabaikannya sepenuhnya. Ia berjalan mengirim satu-persatu lawan yang mereka tumbangkan kembali ke Akademi. Namun karena jumlah musuh yang banyak, butuh waktu yang lumayan untuk mengirim mereka kembali ke Akademi.


Mungkin karena Liang Jihua masih ingin mengatakan sesuatu, jadi ia membantu mengirimkan yang lain kembali ke Akademi. Atau mungkin saja ia memang menjadi baik, meskipun kemungkinannya sangat kecil.


Akhirnya, setelah selesai mengirim mereka kembali ke Akademi, kini yang tersisa hanya tinggal Liang Jihua dan Xika. Masih dengan perasaan ragu, Liang Jihua berbalik dan hendak bertanya pada Xika, namun Xika tengah meminum pil penyembuh kemudian duduk bersila menyembuhkan lukanya.


Liang Jihua mengerutkan alisnya kesal, tapi ia tak berkata apa-apa. Ia juga duduk bersila untuk memulihkan diri, sambil tetap awas dengan keadaan sekitar, kalau-kalau Xika sudah selesai duluan.


Butuh waktu satu jam bagi Xika untuk membuka matanya kembali. Mungkin sekilas terdengar lama, tapi kalau dipikir baik-baik, satu jam adalah waktu yang sangat singkat untuk pemulihan diri. Beberapa orang bahkan membutuhkan dua atau tiga bulan untuk menyembuhkan luka yang sama dengan Xika.


Segera saja Liang Jihua mendekat sebelum Xika sibuk melakukan hal lain. Ia menatap Xika tepat ke matanya, tapi setelah melihat matanya yang gelap dan membentuk pola aneh yang samar, Liang Jihua jadi lupa apa yang hendak ia lakukan.


Alhasil Liang Jihua menatap Xika dalam diam dan itu berlangsung sekitar satu sampai dua menit.


"Permisi, Nona. Kalau kau menatapku secara terang-terangan seperti itu tanpa mengatakan apapun orang lain akan mengira kau sedang jatuh cinta padaku."


"Baiklah, apa yang ingin kau katakan?" tanya Xika terang-terangan. Tindak-tanduk gadis itu jelas sekali terbaca. Membuatnya kembali teringat dengan Xingli. Ia jadi penasaran, bagaimana kabar gadis itu sekarang? Apa ia baik-baik saja?


"A-anu.....sebelumnya......aku........minta maaf........" Dua kata terakhir diucapkan Liang Jihua dengan sangat pelan, tapi Xika mengubah arah angin hingga mendengar perkataan itu dengan sangat jelas.


Gadis itu menatapnya dengan takut-takut, entah apa yang membuatnya begitu. Tapi yang pasti, respon Xika berikutnya diluar perkiraannya.


"Hah? Apa kepalamu terbentur terlalu keras tadi? Seorang gadis buas sepertimu barusan meminta maaf padaku?"


Kali ini, Liang Jihua menatap Xika secara langung. Wajahnya memerah, entah karena malu atau kesal karena ucapan Xika, atau mungkin keduanya.


"Permintaan maaf diterima. Lain kali perhatikan ucapanmu." ucap Xika sambi berjalan pergi. Ia tak terlalu mengambil pusing masalah tersebut. Bukan, bukan ia yang baik hati. Ia berharap sikapnya yang baik itu dapat membuat Liang Jihua menceritakan siapa temannya itu.


Tentu saja, Liang Jihua terkejut bahwa Xika menerima permintaan maafnya semudah itu. Berbeda dengan kebanyakan orang, gadis itu mengira Xika tampaknya menginginkan hal lain sebagai permintaan maaf, bukan sekedar ucapan di bibir. Entah apa yang membuatnya berpikir seperti itu. Sayangnya, ia tidak tahu harus memberikan apa sebagai permintaan maaf. Jadi ia melakukan satu-satunya hal yang ia tahu.


"Aku.......aku berhutang padamu...........panggil aku kalau butuh bantuan......." ucap gadis buas itu semakin pelan di tiap kata.


Entah Xika mendengarnya atau tidak, karena saat Liang Jihua bicara Xika sudah berjalan lumayan jauh. Tapi yang pasti, Liang Jihua berjanji ia akan melakukan yang terbaik untuk membantu Xika.

__ADS_1


Beberapa jam kembali berlalu. Selama waktu itu, Xika dan Liang Jihua hanya bertemu beberapa kelompok kecil yang tak layak disebutkan. Ketika hari mulai gelap, Xika bersikeras untuk mengeliminasi satu kelompok lagi sebelum beristirahat.


Ia menyelesaikannya tepat saat matahari terbenam. Setelah itu Xika berjalan mencari tempat yang cocok untuk beristirahat. Akhirnya ia berhenti di tempat yang membuat Liang Jihua mengerutkan kening. Tempat Xika berhenti adalah sepetak rumput lebat yang ditumbuhi pepohonan lebat tidak jauh dari sana di sekelilingnya.


Liang Jihua bingung kenapa Xika ingin beristirahat di tempat terbuka seperti ini. Kalau dilihat sekilas memang ini tempat yang cukup tertutup, tapi kalau ada musuh yang kebetulan lewat, keberadaan musuh akan sangat tersembunyi balik pepohonan dan dirinya serta Xika tak akan memiliki tempat untuk bersembunyi.


Sayangnya, sebelum Liang Jihua sempat bicara, Xika sudah tertidur duluan dengan selimut digulung dan dijadikan pengganti bantal. Samar-samar Liang Jihua mendengar dengkuran tidur pria itu. Kalau ia yang pertama kali bertemu Xika, pasti akan mengerutkan kening sambil menggurutu bahwa Xika adalah pria lemah yang hanya mementingkan dirinya sendiri dan tidak menghargai wanita.


Tapi mengingat pertarungan yang telah mereka alami hari ini, Liang Jihua memahami bahwa sehebat-hebatnya lelaki itu, ia juga butuh istirahat. Malahan, sampai sekarang ia masih merasa bersalah karena telah memaki Xika padahal pria itu telah menolongnya.


Jadi, ia bertekad untuk membiarkan Xika tidur sebanyak yang ia mau, sementara dirinya sendiri akan menjaga lingkungan sekitar kalau-kalau ada musuh yang lewat.


Sayangnya, tidak lama setelah Xika tertidur, Liang Jihuapun ikut tertidur tanpa sengaja. Meskipun Xika memiliki luka yang lebih berat dibanding Liang Jihua, tapi bukan berarti gadis itu tidak terluka atau kelelahan sama sekali. Tubuhnya menolak untuk terus terjaga, alhasil menciptakan suasana kondusif yang cocok untuk musuh menyerang.


Tidak lama kemudian, hal buruk yang dipikirkan Liang Jihua terjadi. Sebuah kelompok yang terdiri dari belasan orang menemukan Xika dan Liang Jihua yang tengah tertidur.


".......mengerti? Kita harus tetap bergerak sekalipun sudah gelap. Hanya itu satu-satunya cara untuk menghindari kelompok besar itu."


"Tapi Xin Mei, tidakkah menurutmu suara sebelumnya terlalu mencurigakan? Memang, kita mengetahui informasi persatuan sekte besar yang melawan sekte kecil dan menengah, tapi bisa saja itu adalah jebakan bukan? Coba kau pikir, hanya seseorang dari sekte besar yang mampu menyebarkan suaranya sejauh dan sejelas itu."


"Benar, benar! Bagaimana kalau informasi itu sengaja untuk memancing kita tetap bergerak sehingga mudah dikepung? Kalau kita diam saja kan, kemungkinan lawan menemukan kita berkurang."


Gadis yang dipanggil Xin Mei terdiam sesaat sebelum kembali menjawab.


"Bagaimanapun juga, lebih baik kita terus bergerak daripada hanya diam di tempat."


Sebenarnya masih ada beberapa orang lain yang tidak setuju, dan lebih memilih untuk diam di tempat, tapi mereka tidak sempat menyuarakan protes mereka karena seruan seorang rekan mereka.


"Hei, apa aku salah lihat karena gelap, atau memang ada yang sedang tidur di sana?"


Mendadak semua kelompok berhenti dan melihat ke arah yang ditunjuk salah seorang rekan mereka. Yang ditunjuk tentu saja adalah Xika dan Liang Jihua yang tertidur di tempat terbuka tanpa ada penjagaan sama sekali.


"Itu memang orang. Apa mereka juga peserta? Tapi apa yang mereka lakukan? Tidur di tempat terbuka seperti itu?"


"Xin Mei, bagaimana kalau kita menyergap mereka? Dua orang itu kelihatannya lumayan, sepertinya mereka memiliki mutiara yang cukup banyak."


"Benar, apalagi kita memiliki keuntungan sebagai pihak penyergap. Mereka juga sedang tidur tanpa ada penjagaan sama sekali. Kita pasti bisa menghabisi mereka dengan mudah."


"Tunggu dulu. Apa menurut kalian itu tidak aneh? Tidur di tempat terbuka seperti itu? Hanya ada dua macam orang yang melakukan itu. Pertama, orang bodoh yang memang tidak mengerti situasi. Kedua, orang hebat yang memang memiliki kemampuan untuk mengalahkan siapapun yang menyergapnya."


"Perkataanmu masuk akal. Rasanya kedua orang itu lebih cocok sebagai orang hebat dibanding orang bodoh. Mereka yang berani tidur di tempat terbuka seperti ini pastilah orang hebat yang yakin akan kemampuan mereka."


"Tidakkah pikiranmu itu terlalu berlebihan? Kalau kau bicara seperti itu, semua orang bodohpun bisa kau anggap hebat. Memangnya apa yang kalian takutkan? Mereka hanya berdua, sedangkan kita? Lebih dari tiga kali lipatnya!"

__ADS_1


Perdebatan masih terus berlanjut hingga akhirnya hanya bisa menunggu keputusan Xin Mei. Bagaimanapun, ialah ketua di kelompok mereka. Dan lagi, kebetulan kelompok mereka ganjil. Total lima belas orang. Masing-masing telah mengambil keputusan dan mencapai angka yang sama. Hanya tinggal Xin Mei yang belum memutuskan apakah hendak menyerang kedua orang itu atau tidak.


Akhirnya, setelah merenung beberapa saat, Xin Mei mengambil keputusan. Sayangnya, itu adalah keputusan yang  salah yang membawa kelompok mereka tersingkir dari babak ini.


__ADS_2