
Setelah memberitahukan nama ayahnya, Xika tak lagi bicara dengan mahkluk itu. Ia berusaha menggabungkan diri dengan obrolan Heiliao dan lainnya. Tidak terlalu sulit, karena apa yang mereka bicarakan tidak jauh dari tempat ini, mahkluk misterius yang baru saja bicara dengannya, dan tumpukan batu spasial yang akan menyebabkan pertumpahan darah bila diketahui dunia luar.
"Aku yakin sekali, seluruh dunia kultivator akan teraduk sekali lagi ketika tahu keberadaan tambang ini. Tatanan penguasa juga akan berubah banyak. Kita harus menjaga rahasia tempat ini baik-baik."
"Aku setuju. Tapi kalau kita tak membiarkan siapapun memasuki tempat ini, maka itu pasti akan mengundang rasa penasaran dari banyak serigala. Sebaiknya siapa yang kita biarkan masuk?"
"Aku merasa kita harus membuat dua macam daftar. Satu untuk mereka yang akan menjaga celah ini, satunya lagi untuk mereka yang diizinkan masuk ke tambang ini."
"Itu ide yang bagus. Tapi bagaimana kita harus memilih dari sekian banyak serigala?"
"Kita lakukan seperti biasa. Jangan beritahu mereka. Amati dengan seksama ketika mereka latihan. Bujuk mereka dengan godaan. Kita akan tahu siapa yang benar-benar layak."
Lang Yan dan Xuehao mengangguk setuju. Memang seperti itulah mereka biasa memilih atau melihat sifat asli seekor serigala. Mereka tidak akan memberitahu mereka, tentu saja. Kalau mereka tahu sedang diadakan seleksi, mereka akan bersikap baik dengan sengaja, jadi tidak bisa membedakan mana yang benar-benar layak dan mana yang tidak.
"Ah! Penjaga yang kita tempatkan ini tidak boleh serigala biasa. Mereka harus berdiri saling berhadapan. Satu menghadap celah ini satu lagi menghadap arah sebaliknya. Jadi kalau ada serangan dari celah maka kita akan tahu, dan kalaupun ada serangan dari hutan kita juga akan tahu."
"Ide yang konyol. Tapi aku cukup setuju. Hanya itu satu-satunya cara mengawasi dua arah. Menurutmu sebaiknya berapa banyak kita tempatkan serigala untuk menjaga tambang ini?"
"Perkiraanku sekitar empat sampai enam. Tapi jumlah itu bisa berubah. Kita amati dulu mereka. Setelah terkumpul daftarnya, barulah kita tentukan mana yang akan masuk tambang dan mana yang akan menjaga."
"Heh. Ide yang bodoh."
"Eh? Kenapa anda berpikir begitu?"
Xika cukup terkejut mendengar suara itu kembali bicara setelah diam cukup lama.
"Tidak akan ada serangan dari tambang ini. Mereka hanya perlu menempatkan penjaga untuk membatasi siapa yang akan masuk tambang."
"Kenapa anda begitu yakin?"
"Kenapa kau tidak yakin?"
Xika diam sebentar. Setelah beberapa saat, ia kembali bicara.
"Ehh....disini ada begitu banyak celah. Kalau tidak salah sekitar tujuh ribu. Siapa yang tahu mahkluk apa yang akan masuk melalui celah itu?"
"Aku tahu."
Xika terkejut mendengar jawaban suara itu. Suaranya terdengar sangat percaya diri, seolah ia akan tahu semua mahkluk yang masuk ke tempat ini dengan tepat tanpa salah.
"Bagaimana anda bisa tahu?"
"Karena akulah tambang ini. Aku yang mengendalikan tambang ini, tali sebelunmya, dan kartu itu juga. Aku mengendalikan setiap celah yang ada disini. Aku membiarkan mereka meledak setelah berusia cukup tua dan aku membuat celah baru untuk mencukupi jumlah. Aku menutup celah bagi mereka yang tak layak masuk dan aku membiarkan mereka yang layak untuk masuk."
"Kalau begitu......kenapa anda membunuh Tangan Ungu? Anda membiarkannya masuk karena ia layak bukan? Lalu kenapa anda membunuhnya?"
"Dia memiliki perannya sendiri. Dan perannya telah terpenuhi. Selain itu, ia melanggar peraturan. Jadi aku bisa membunuhnya."
Xika duduk di atas Heiliao sambil mengerutkan keningnya sedikit. Ia memikirkan kata-kata mahkluk itu baik-baik. Kalimatnya terdengar memiliki arti lain. Apa yang dimaksud dengan peran? Apa yang dilakukan Tangan Ungu? Dan apa yang dimaksud dengan peraturan? Setelah berpikir selama beberapa saat, Xika hanya menemukan dugaan terkait pertanyaan terakhir.
"Eh, senior. Apa perarturan itu terkait dengan permainan kartu sebelumnya?"
__ADS_1
"Ya. Dan jangan panggil aku senior."
Jawaban suara itu kembali membuatnya bingung. Bukannya berfokus pada pertanyaan Xika terkait permainan kartu, suara itu malah berfokus pada bagaimana Xika memanggilnya.
"Lalu bagaimana saya harus memanggil anda?"
"Panggil aku Paman Kong Yu (空狱). Dan jangan terlalu formal denganku. Kau bisa menanyakan apa yang tidak kau mengerti padaku."
"...................."
Kali ini Xika benar-benar bingung. Suara yang mengaku sebagai Paman Kong Yu itu berubah 180 derajat. Sikapnya yang dingin sebelumnya bagaikan menguap tak bersisa. Ia bahkan meminta Xika bersikap informal dan memperbolehkannya menanyakan hal yang tidak ia mengerti. Hanya ada satu alasan kenapa semua itu terjadi.
Ayahnya.
"Ehh, kenapa saya harus memanggil anda Paman?"
"Ayahmu pasti menginginkan hal itu. Sama denganku. Dan sudah kubilang, jangan terlalu formal denganku."
"Ayahku? Apa anda, ekhem, Paman mengenal ayahku?"
"Lebih dari mengenal. Tapi aku tak akan membicarakannya. Kau tidak akan mengetahuinya dariku."
"Eh? Kenapa?"
"Karena aku tak bisa memberitahukan takdir padamu. Begitu juga dengan masa depan."
"Tapi apa yang kutanyakan bukanlah masa depan. Itu ayahku sendiri, kenapa aku tidak boleh mengetahuinya? Ia dulu ayahku, sekarang ayahku, dan di masa depanpun akan tetapn menjadi ayahku. Itu termasuk masa lalu, masa sekarang dan masa depan."
"Aku tidak akan berdebat denganmu. Tapi aku juga tidak akan membicarakan ayahmu. Kau bisa menanyakan hal lain padaku."
"Kalau begitu beritahukan tentang ibuku."
"Itu juga tidak bisa."
"Apa?! Tadi kau bilang aku boleh menanyakan hal lain padamu. Ini bukan tentang ayahku, kenapa masih tidak boleh juga?"
Suara itu batuk-batuk beberapa kali.
"Nak, biar kuralat. Kau boleh menanyakan apapun padaku yang tak berkaitan dengan takdir."
Xika membuat wajah bingung sekaligus kesal yang dicampur menjadi satu hingga menjadi ekspresi aneh. Sayangnya, Huo Bing dan lainnya masih tidak memperhatikan dirinya. Xika terdiam beberapa saat, memikirkan pertanyaan apa yang bisa ia tanyakan pada suara yang mengaku sebagai Paman Kong Yu ini.
"Tempat apa ini?"
"Sayangnya, pertanyaan itu masih berhubungan dengan takdir. Ada pertanyaan lain?"
"Ahhhhhhh! Takdir sialan! Siapa itu takdir? Aku tidak kenal. Aku benci takdir." ucap Xika merengut.
Kalau Xika bisa melihatnya, Kong Yu sedang memberikan senyum pahit pada Xika. Tapi sayangnya pemuda itu tidak bisa melihatnya, jadi wajahnya tetap merengut.
"Jangan marah begitu. Aku akan ceritakan sedikit pengalamanku dengan ayahmu. Kami sering bermain kartu bersama. Tapi sayangnya aku tak pernah menang. Huahahahaha........Dasar Taiyang sialan........" ucap Kong Yu sambil tertawa di kalimat terakhir.
__ADS_1
"Huh! Hanya begitu saja. Aku juga sering bermain dengan ayahku. Dan aku juga tidak pernah menang darinya. Tidak ada yang spesial. Justru kalau kau bisa mengalahkannya baru aku kaget."
Bukannya tersinggung, suara itu malah tertawa. Tawa yang mengingatkan dirinya akan kenangan-kenangan lama.
"Baiklah, baiklah. Aku akan beritahukan satu hal lagi. Kau ingat peta yang ada di kartumu? Aku sudah menambahkan beberapa bagian. Kau bisa mengeceknya nanti."
"Ah, benar. Kemana tugu batu itu? Aku menempelkan kartu padanya setelah itu bersinar dan menghilang. Lalu kenapa bisa ada gambar orangtuaku? Apa kau juga mengenal ibuku?"
"Ya, aku juga mengenal ibumu sebagaimana aku mengenal ayahmu. Tapi seperti yang kubilang, hal itu juga berkaitan dengan takdir. Jadi aku tak akan membahasnya lebih lanjut. Dan untuk pertanyaan pertamamu, jawabannya ada di tanganmu."
Xika mengerutkan alisnya karena kesal setelah itu berganti menjadi bingung. Ada di tangannya? Ia menatap kedua tangannya yang berada di dalam saku jubahnya. Tangan kirinya tidak memegang apa-apa, sementara tangan kanannya........memegang kartu ayahnya.
Ia mengeluarkan tangan kanannya sambil tetap memegang kartu ayahnya. Kemudian ia menatapnya.
"Ini? Kartu ayahku? Aku tidak mengerti. Dimana tugunya?"
Kong Yu tidak menjawab. Tapi tumpukan kartu di tangan Xika berubah. Warna hitam muncul entah darimana dan terus naik hingga menutupi seluruh kartunya. Xika melebarkan matanya. Ia hendak protes, tapi kemudian ia sadar apa sebenarnya warna hitam itu.
Warna hitam itulah tugu batu yang ia cari sebelumnya. Ia bisa tahu dari permukaannya yang sedikit kasar dan dingin, sama persis dengan kartu yang ia mainkan saat pertama kali berada di tambang ini. Permukaannya juga memiliki pola yang sama dengan batu spasial. Dan tugu batu itu kini tengah menyelimuti kartunya, menjadi kotak tempat menyimpan kartu yang selama ini tak pernah ia miliki.
Ia pernah membeli beberapa bungkus kartu untuk menaruh kartu ayahnya, tapi ia tidak pernah menemukan kotak yang cocok. Ada yang kebesaran, ada yang kekecilan, ada juga yang pas-pasan, tapi Xika tidak menggunakannya karena terlihat akan robek dalam beberapa detik. Jadi ia menyerah untuk mencari kotak yang pas untuk kartu ayahnya. Tapi kali ini, tugu batu itu membungkus kartu ayahnya dengan sangat tepat seolah memang tugu batu itulah kotak tempat menyimpan kartu ayahnya.
"Heh. Tugu batu itu memang kotak dari kartu yang kau pegang. Taiyang menolak membawanya. Katanya, itu akan membuatnya unik. Sungguh pemikiran yang aneh. Anggap saja itu sebagai hadiah dariku. Sebelumnya kau menggunakan kartu itu sebagai pertahanan sekaligus serangan bukan? Kali ini kau bisa menggunakan kartumu sepenuhnya untuk serangan. Tugu batu itu akan menjadi pelindungmu. Kau bisa menggunakannya untuk melapisi seluruh tubuhmu.'"
Xika menatap kotak kartu di tangannya dengan terkagum-kagum. Kini ia bisa memberikan serangan penuh menggunakan kartunya tanpa perlu khawatir dengan pertahanannya. Kadang, ia suka khawatir dengan pertahanannya ketika menggunakan seluruh kartunya untuk menyerang. Tapi kini tidak lagi.
"Terima kasih. Paman Kong Yu."
"Sama-sama."
Entah mengapa, suara itu terdengar senang sekali. Mungkin karena Xika memanggilnya paman.
"Satu hal lagi. Jangan pernah berikan kartu ataupun kotak itu pada siapapun. Kalau bisa, jangan perlihatkan itu juga. Kalau kau ingin bermain kartu, sebisa mungkin gunakan kartu lain. Gunakan kartu ini hanya dalam keadaan terdesak dan dihadapan orang-orang yang kau percaya saja."
"Ya, aku mengerti. Dan mereka ini orang-orang yang kupercaya. Yah, kurang tepat disebut orang karena mereka adalah serigala dan roh burung. Apa aku boleh mengungkapkan keberadaanmu pada mereka?"
"Ya. Tapi yang mana yang kau percaya? Ada tiga serigala disini."
"Yang terbesar dan berwarna hitam seluruhnya. Tapi, dua lainnya juga tidak buruk kok. Seharusnya mereka juga tidak akan membiarkanku dalam bahaya."
Kong Yu terdiam selama beberapa saat. Xika menduga ia sedang berpikir.
"Nak, kau tahu ke arah mana pohon jatuh?"
"Eh?"
"Jawab saja."
"Emmm.....ke arah bawah?"
"Salah. Pohon jatuh pada sandarannya. Jangan terlalu percaya dengan orang disampingmu. Kau tidak pernah tahu apa yang mereka pikirkan. Dunia ini kejam. Jangan sampai kau jatuh. Kau harus bisa membedakan mana yang benar-benar bisa kau percayai dan mana yang tidak."
__ADS_1
"Ya, aku mengerti. Terima kasih. Tapi aku percaya mereka." ucap Xika sambil menatap Huo Bing dan Heiliao yang sedang berdebat.
"Mereka keluargaku."