Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-45


__ADS_3

Xika berlari bersama Xingli dengan ular air yang masih hidup di tangannya.


Xika berlari tanpa arah sementara Xingli hanya mengikutinya dengan diam di belakang.


Mendadak ular air itu mendesis.


"Ssss....."


Sontak Xika melihat tangannya dan baru ingat bahwa ia belum membunuh ular air yang berada di tangannya.


"Sial!"


Xika mencengkram ular air itu sampai mati kemudian melemparkannya entah kemana.


Mendadak Xika berhenti dan membuat Xingli hampir menabraknya.


Samar-samar, Xika dapat mendengar suara desisan ular dari jauh.


"Sial!"


Xika menoleh mencari tempat persembunyian. Akhirnya ia memutuskan untuk memanjat pohon.


"Xingli! Kemarilah. Panjat pohon ini. Pelan-pelan. Benar, benar begitu. Jangan membuat suara."


Setelah selesai membantu Xingli memanjat pohon, Xika memanjat pohon lain yang tidak terlalu jauh dari pohon yang dipanjat Xingli.


Kini Xingli dan Xika berhadapan.


Xingi hanya menatap Xika sementara Xika menempelkan telunjuknya di bibirnya menyuruhnya diam.


Mereka berdua diam selama beberapa saat.


Kemudian suara binatang melata terdengar. Bersamaan dengan suara binatang itu mendekat, terdengar juga suara desisan yang membuat ekspresi Xika semakin buruk.


Xingli mulai merasa ada yang tidak beres setelah melihat ekspresi Xika yang memburuk.


Tidak lama kemudian, terlihatlah mahkluk yang mengeluarkan desisan itu sebelumnya.


Dan tebakan Xika benar. Siapapun pasti bisa menduganya bahwa hewan itu adalah ular.


Namun yang diluar dugaan Xika adalah ukuran hewan itu.


Ukuran hewan itu kira-kira sebesar Heiliao sebelum ia menjadi telur.


Mungkin bila ular itu menegakkan seluruh badannya ia akan berukuran dua kali panjang pohon yang dipanjat Xika dan Xingli.


Namun mahkluk itu tidak melakukannya. Ia hanya sedikit mengangkat kepalanya kemudian menoleh ke kiri dan kanan seolah mencari sesuatu atau lebih tepatnya seseorang.


Setelah mencari selama beberapa saat namun masih tidak menemukan mangsanya, ular itu bergerak pergi.


Xika dan Xingli menahan nafas selama ular itu di bawah mereka.


Mereka masih tidak bergerak selama beberapa saat meskipun ular itu sudah pergi.


Setelah yakin bahwa ular itu sudah pergi, barulah Xika dan Xingli dapat bernafas lega.


Xika menghela nafas lega sementara Xingli menatapnya penuh pertanyaan. Xingli sudah menduga bahwa Xika lah yang dicari ular itu.


Yang menjadi pertanyaan di benaknya adalah mengapa ular itu mencarinya dan bagaimana ia bisa tahu bahwa ular itu akan datang.


"Aku tahu-aku tahu. Akan kujelask-"


Ucapan Xika terhenti melihat mahkluk panjang yang melingkar di pohon tempatnya berada.


"Sssss...."


Belum sempat Xika bertindak, ular itu sudah mendesis.


Xika segera melompat turun karena merasa akan sulit melawan ular itu di daerah kekuasaanya.


Bertemu ular berukuran sedang di pohon yang ia gunakan sebagai tempat persembunyian memanglah di luar dugaan Xika, tapi ada hal lain yang tidak diduganya.


Yaitu bahwa desisan kecil dari ular yang kini berada didepannya dapat memanggil kembali ular besar sebelumnya.


Namun saat ini Xika masih belum menyadari bahaya dari desisan itu. Jadi ia masih berdiri dengan tenang di hadapan ular berukuran sedang itu.


Xika melempar beberapa kartu yang dengan mudah dihindari ular itu.

__ADS_1


Tapi ular itu bergerak sesuai dengan perkiraan Xika. Ia melempar kartu itu secara berpola dan ular itu masuk ke dalam jebakannya.


Dari bawah ular itu, tanah naik dan menghentikan dirinya untuk bergerak.


Xika mengambil satu lagi kartu dari balik jubahnya kemudian menebas ular itu menjadi dua.


Ia bernafas lega kemudian hendak memanggil Xingli turun.


Tapi sebelum ia bisa melakukan hal itu terdengar lagi desisan yang sama dengan sebelumnya.


Ekspresi Xika langsung memburuk.


Ia tidak sempat melarikan diri dan ular besar yang mencarinya sebelumnya kini ada di depannya sedang menjulurkan lidahnya.


"Sial!"


"........."


"Sssssssssss."


Xika dan ular itu saling bertatap-tatapan.


Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya. Tapi suara itu bukan suara Huo Bing yang ia rindukan, melainkan suara yang terdengar agak berat.


"Dimana dia? Dimana dia?"


"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."


"Jangan pura-pura tidak tahu. Aku tahu kau manusia yang sering bersamanya. Katakan padaku dimana dia atau kau akan mati."


"Bodoh. Kukatakan atau tidak pun kau pasti akan membunuhku bukan? Apakah semua ular sebodoh ini?"


"Hehehe......kau cukup tahu bagaimana kami ternyata. Tapi kalau kau memberitahuku dimana dia maka akan kuberikan kematian yang cepat dan tidak menyakitkan."


"Dari mana kau tahu tidak menyakitkan? Apa kau sudah pernah mengalaminya?"


Ular itu mendesis kesal karena perkataan Xika dan ia maju membuka rahangnya hendak menelan Xika bulat-bulat.


"Single!"


Serangan Xika sukses mengenai ular itu dan membuatnya mengeluarkan desisan menyakitkan tapi itu tidak cukup untuk membunuhnya.


Xika melompat mundur untuk menjaga jarak setelah berhasil melakukan serangan.


Ia melakukan kontak mata dan mengirimkan suaranya pada Xika agar ular tersebut tidak menyadari keberadaan Xingli.


"Apa kau tahu di mana kota terdekat dengan kultivator yang cukup kuat?"


Xingli berpikir sebentar kemudian mengirimkan suaranya pada Xika.


"Sekitar lima kilometer ke arah utara."


Xika berpikir sebentar kemudian mendecakkan lidahnya. Tadinya ia hendak melarikan diri ke kota terdekat sehingga ular itu tidak akan mengejarnya sampai batas tertentu. Tapi jaraknya terlalu jauh. Memang ia bisa terbang untuk mempersingkat waktu, tapi ia hanya bisa terbang selama beberapa jam sebelum qi nya habis.


Paling-paling, ia hanya menempuh setengah perjalanan. Dan setelah ia kehabisan energi, ular itu dapat memangsa dirinya dengan tenang. Jadi itu jelas bukan pilihan bagus.


Xika masih memikirkan cara agar lolos dari ular di depannya ini, tapi ia melihat Xingli hendak menyerang ular itu.


"Hei Ular sialan! Apa seranganku terlalu menyakitkan untuk kau tahan?"


Tanpa sadar, Xika berteriak dan memancing ular itu sehingga membuat Xingli tidak jadi menyerangnya.


Xingli menatapnya dengan penuh tanya sementara Xika mengirimkan suara pada Xingli.


"Tidak usah memikirkanku. Kau lari saja dulu. Mungkin ini saatnya kita berpisah. Bila langit mengijinkan maka kita akan bertemu lagi. Pada saat itu akan kupastikan takdirku denganmu."


Xingli diam mendengar perkataan Xika. Kemudian mukanya memerah mendengar kalimat terakhir Xika. Tapi ia tidak bisa menangkap arti dari kalimat terakhir Xika dengan jelas karena memang itulah yang Xika inginkan.


Setelah menenangkan hatinya yang entah kenapa berdebar-debar, ia melihat Xika.


Tapi ia menemukan bahwa Xika sudah cukup jauh darinya dan ular besar itu masih mengejarnya.


Xingli tersenyum kecil, kecil sekali, bahkan hampir tidak terlihat.


"Xing Xika, bila langit mengijinkan maka kita akan bertemu lagi. Pada saat itu mari kita pastikan takdir kita bersama."


Kemudian Xingli melompat dari pohon satu ke pohon yang lain dan menuju arah yang berlawan dengan Xika.

__ADS_1


Xika tidak melihat senyum kecil yang muncul di wajah Xingli. Tapi ia cukup lega gadis itu tidak keras kepala dan melawan ular itu bersamanya. Ia sudah meminjam pil dari Xingli, ia tidak mau berhutang lagi pada gadis itu. Tapi ia sama sekali lupa bahwa ia telah menyelamatkan Xingli dua kali.


Yang pertama dari kepungan hewan aneh dalam lubang hitam Heiliao, yang kedua dari Heiliao sendiri. Sudah dapat dipastikan bahwa Xingli akan berakhir dengan kematian bila ia bersikeras bertarung dengan Heiliao. Meskipun alasan Xingli bertarung dengan Heiliao adalah Xika sendiri.


Xika berlari melintasi pohon-pohon hendak membuat ular itu bingung dan berhenti mengejarnya. Tapi hal itu tidak berhasil. Ular itu tetap mengikutinya.


Sesekali Xika akan melemparkan kartunya untuk menghalangi pemandangan ular besar itu, tapi hal itu hanya bisa memperlambatnya sebentar kemudian ia kembali mengejar Xika.


Xika juga sudah mencoba melakukan Single lagi, tapi kelelahan akibat melakukan teknik itu lebih besar dibandingkan kerusakan yang ular itu terima, jadi ia berhenti melakukan teknik itu.


Tidak perlu menyebutkan Double, hasilnya pasti akan sama dengan Single.


Dan kini Xika kehabisan akal untuk meloloskan diri dari ular besar yang mengejarnya di belakang.


Xika melompat pada dahan sebuah pohon. Ia berhenti sebentar sampai ular itu hampir memakannya, kemudian melompat lagi ke cabang pohon lainnya. Ular itu menghancurkan pohon yang menghalangi jalannya.


Xika melakukan hal itu berulang kali, berharap ular itu akan kehabisan energi dan berhenti mengejarnya.


Tapi tampaknya ular itu memiliki energi diluar perkiraannya. Ular itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti atau kelelahan setelah menghancurkan lebih dari 20 pohon besar.


Sebaliknya, kini malah Xika yang kelelahan.


Melompat di detik-detik terakhir cukup menguras energi baik fisik maupun mental.


Xika sudah semakin lelah namun ular itu maih terus mengejarnya.


Mendadak sesuatu bergerak di balik jubahnya.


Xika memeriksanya dan menemukan bahwa itu adalah telur galaksi Heiliao. Ia mengambil telur itu namun telur itu terus bergerak seolah ingin melepaskan diri dari Xika.


"Sial, tunggu sebentar lagi. Apapun yang ingin kau lakukan, saat ini bukanlah saat yang tepat."


Selesai Xika bicara, telur itu bergerak semakin keras dan akhirnya lepas dari tangan Xika.


"Hei!"


Telur itu melayang dari tangan Xika dan menuju ular besar yang mengejar Xika di belakang.


Penglihatan ular memang tidak baik. Mereka mendeteksi mangsa mereka melalui suhu tubuh yang dipancarkan dari mangsa mereka. Dan ular besar yang mengejar Xika juga tidak berbeda.


Telur itu tidak mengeluarkan panas sama sekali jadi ular tersebut tidak menyadarinya.


Telur terus terbang sampai akhirnya mengenai ular itu.


Dan apa yang terjadi berikutnya sangat mengejutkan Xika.


Telur itu menembus kepala ular itu, bahkan Xika dapat melihat apa yang ada di belakang ular tersebut dari lubang yang dibuat oleh telur itu.


Ular itu seketika jatuh dan mati. Namun telur itu masih melayang. Ia melayang di atas ular besar itu dan menyerap ular tersebut.


Beberapa saat kemudian, yang tersisa dari ular itu hanyalah tulangnya.


Xika sampai tidak bisa berkata-kata menyaksikan apa yang dilakukan telur itu.


Kemudian telur itu terbang kembali menuju Xika dan Xika menyimpannya di balik jubahnya. Kali ini telur itu terasa lebih berat dari sebelumnya.


Xika mendekati tulang-tulang yang tersisa dan menyimpannya dalam cincin spasial.


Ia langsung duduk di tanah begitu selesai memasukkan ular itu.


Ia sangat kelelahan, namun ia tersenyum.


Ia memikirkan kembali perpisahannya dengan Xingli yang diluar dugaannya. Sama seperti pertemuannya yang diluar dugaan, demikian juga perpisahan mereka. Ia tidak sabar menantikan pertemuan mereka berikutnya. Xika memiliki firasat bahwa mereka akan bertemu kembali suatu saat nanti.


Xika tidak tahu bagaiman reaksi Xingli ketika mendengar bahwa ia akan memastikan takdirnya dengan Xingli, tapi Xika yakin bahwa ekspresi yang ditunjukkan Xingli layak untuk dilihat.


Setelah beristirahat selama beberapa saat, Xika berdiri dan memandang arah utara.


Dari Xingli, ia mengetahui letak kota terdekat yang menjadi tujuannya saat ini.


Karena Huo Bing masih belum bangun, Xika terpaksa mengambil keputusan sendiri. Ia hendak tinggal di kota itu selama beberapa waktu. Setidaknya kota itu bisa mencegah ular-ular yang mengincar dirinya menemukannya.


Jadi Xika berjalan menuju arah utara, tidak terlalu lambat tapi juga tidak terlalu cepat.


Mendadak ia tersenyum mengingat pertemuannya dengan Xingli.


"Yin Xingli, suatu saat kita akan bertemu lagi. Aku yakin."

__ADS_1


__ADS_2