Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-208


__ADS_3

"ARGHHHHHHHH!!!!!"


Si peringkat 37 menjerit meratapi kedua tangan dan kakinya. Matanya bergantian menatapi pecahan es-es kecil yang adalah tangan dan kakinya sebelum dibekukan dan dipecahkan oleh Xingli. Ia masih tak percaya dengan hal ini.


Sebagai pria yang menyandang peringkat ke-37 dari Seratus Murid Dalam Terkuat, ia tidak pernah diperlakukan seperti ini. Kalaupun musuh-musuhnya bisa melakukan apa yang Xingli lakukan saat ini, tapi mereka tak akan berani melakukannya karena banyaknya koneksi yang ia miliki.


Tapi saat ini, ia menjadi orang cacat. Tanpa tangan, tanpa kaki. Dan yang lebih parah adalah pelaku yang membuatnya cacat adalah Xingli, gadis pujaan hatinya yang telah ia kejar selama ini. Semua itu rasanya masih tidak nyata. Tapi rasa sakit di sekujur tubuhnya menyatakan bahwa hal itu memang nyata.


Akhirnya pria itu hilang kesadaran karena pendarahan dan mentalnya yang terguncang. Xingli menatap pria itu tanpa bicara, tanpa emosi, dan tanpa perubahan apapun di wajahnya.


Tap!


Xika berjalan ke samping Xingli. Ia menatap si peringkat 37 yang sudah kehilangan kedua lengan dan kakinya.


"Hm, ucapan yang bagus. Diatas langit, masih ada langit." Xika mengangguk-ngangguk melihat pria itu. Tapi tentu saja yang dilihat tidak bisa membalas karena sudah tak sadarkan diri saat ini. Dan mungkin sebentar lagi akan kehilangan nyawanya.


Tindakan Xingli itu cukup untuk membuat kerumunan yang datang diam seribu bahasa. Sebagian besar karena takut pada Xingli. Di akademi ini, pembunuhan dilarang. Dan apa yang baru saja dilakukan Xingli itu hampir membuat pria sebelumnya meninggal. Entah apakah ia akan bertahan atau tidak.


Harusnya, murid yang melakukan hal serupa dengan Xingli akan merasa gelisah dan panik karena takut ketahuan dan dihukum oleh Akademi. Tapi Xingli, ia melakukannya di hadapan banyak murid. Selain itu, ia tidak terlihat takut, panik, ataupun gelisah.


Wajahnya tenang, namun matanya menatap tajam. Malahan, sepertinya ia tidak keberatan melakukan hal serupa pada siapapun yang berniat mengganggunya.


Plok! Plok! Plok!


Sebuah sosok melangkah keluar dari kerumunan sambil bertepuk tangan. Ia tidak terlihat takut ataupun gentar terhadap Xingli seperti murid-murid yang lainnya.


"Hebat. Bahkan akupun tidak akan mampu mengalahkan pria itu secepat dan sebrutal dirimu."


Yang bicara adalah seorang perempuan. Ia mengenakan gaun hijau panjang yang cukup ketat dan memperlihatkan sebagian lekuk tubuhnya. Para lelaki yang hadir tidak bisa mengalihkan pandangan mereka dari gadis itu. Rambutnya panjang dan diikat satu.


Ia memakai anting yang berbentuk pisau kecil. Di pinggangnya, tersampir sebuah kipas yang berwarna senada dengan gaunnya.


"Harus kuakui, bahkan kau melebihiku saat di usia yang sama." Gadis itu melirik Xingli lekat-lekat dari atas sampai bawah.


SRAT!


Sebuah tembok tanah muncul di antara Xingli dan gadis itu, menghalangi pandangannya.


"Hei, ular hijau! Jangan lihat Xingli dengan tatapan menjijikanmu itu. Tidak sopan tahu!" ucap Xika. Ia yang membuat tembok tanah dan menghalangi pandangan gadis bergaun hijau itu.

__ADS_1


Gadis itu terdiam. Tapi ia mengeluarkan aura mengerikan yang membuat para lelaki di sekitarnya menjauh. Ia menatap Xika seperti menatap kotoran.


"Hahhhh......Lelaki memang selalu mengganggu ya? Sudah kuduga lelaki memang seharusnya dibawah wanita." Gadis itu mengarahkan tatapannya kembali pada Xingli, "Bagaimana kalau kau bergabung denganku? Bukankah ia pria yang telah menodaimu? Bergabunglah denganku dan akan kita balaskan dendammu bersama-sama. Tak akan ada lagi orang yang berani membicarakanmu. Kita hapus rumor buruk tentangmu mulai dari pria itu.


Bagaimana? Jujur saja, sebenarnya kau juga terganggu bukan dengan tatapan mereka? Kemanapun kau pergi, mereka selalu mengikuti bagaikan lalat mengerubungi makanan. Ditambah pria ini, yang telah merengut kesucianmu, kau juga pasti ingin membunuhnya, bukan? Bergabunglah denganku, dan kita akan menguasai pria bersama."


Gadis itu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Di belakang wanita itu, berdiri beberapa gadis lain yang mengenakan pakaian serupa. Bergaun hijau dengan anting pisau kecil. Para pria segera menyingkir sejauh mungkin dari gadis-gadis itu.


Green Viper. Begitulah gadis-gadis itu menamai kelompok mereka. Semuanya terdiri dari wanita dan sebagian besar berparas rupawan. Namun mereka tidak mempedulikan paras ataupun kemampuan. Yang mereka pedulikan adalah gender.


Selama ia wanita, maka ia diterima. Pria? Hancurkan.


Tujuan utama mereka adalah menundukkan seluruh pria di akademi dan membuat wanita berada di atas pria. Ada berbagai macam alasan para wanita bergabung dengan kelompok ini. Ada yang merasa tidak nyaman dengan para lelaki karena paras mereka yang rupawan sehingga dilihat secara intens kemanapun mereka pergi. Jadi mereka bergabung untuk mencari perlindungan.


Ada juga yang memiliki alasan lebih buruk. Mereka telah dipermalukan oleh lelaki. Memiliki hubungan buruk dengan para lelaki, seperti patah hati, diduakan, atau direngut kesuciannya. Sayangnya, pria selalu dianggap lebih baik daripada wanita. Jadi tak ada yang menegakkan keadilan untuk mereka.


Dan ketika kelompok Green Viper muncul beserta tujuan mereka, maka gadis-gadis yang telah memiliki sejarah buruk dengan pria langsung bergabung tanpa berpikir dua kali.


Lu Bei, salah satu anggota yang bergabung cukup lama sedang mengajak Xingli untuk bergabung dengan Green Viper? Xika tak bisa berkata. Kalau Xingli mulai resah dengan pria-pria di sekelilingnya, bisa saja ia menerima tawaran itu. Untuk sesaat, kekhawatiran melintas di mata Xika.


Namun kekhawatiran itu seketika lenyap ketika melihat mata Xingli. Xika tahu bahwa Xingli tak akan meninggalkannya. Gadis itu sudah berjanji, dan Xika percaya gadis itu akan menepatinya.


BRAK!


"Bagaimana? Tertarik untuk bergabung?"


Lu Bei menatap Xingli dengan pandangan percaya diri. Tak ada gadis yang menolak tawarannya ketika mereka berada di posisi Xingli. Jadi ia yakin bahwa Xingli juga pasti akan menerima tawarannya.


"Haus? Mau minum?"


Xika memberikan sekantung air pada Xingli yang menerimanya tanpa ragu. Keduanya mengabaikan Lu Bei sepenuhnya, seolah gadis bergaun hijau itu tak ada.


Tubuh Lu Bei bergetar karena marah. Selama ini, ia hampir tidak pernah menerima penolakan. Tapi saat ini, yang ia terima lebih buruk dari penolakan. Apa yang Xika dan Xingli lakukan saat ini adalah penghinaan baginya. Penghinaan total.


"Aku mengerti. Pria itu yang menahanmu. Kalau begitu, akan kubunuh pria itu agar kau bisa berpikir dengan baik, sekaligus mengajarkan mahkluk hina itu apa itu arti kesopanan."


Selesai bicara, Lu Bei mengayunkan tangan kanannya dan membentuk tiga bilah angin yang akan mengoyak Xika bila berhasil mengenainya.


Xika menggeser tubuhnya dan menghindar bilah-bilah angin itu dengan mudah. Ia bahkan tidak menatap Lu Bei sama sekali.

__ADS_1


"Gantian ya. Tadi giliranmu, sekarang giliranku." kata Xika pada Xingli dengan senyum di wajahnya. Ia tidak menganggap Lu Bei sebagai lawan yang harus diwaspadai sama sekali.


Xingli mengangguk dan berhasil menyebabkan banyak pria terpana karena gadis itu menjawab ucapan Xika. Setelah melihat anggukan Xingli, Xika berbalik untuk bersiap, tapi kuku Lu Bei yang setajam pisau sudah di depan mata.


SET!


Kuku Lu Bei berhenti satu senti di depan wajah Xika. Hanya untuk sesaat, tapi sudah cukup bagi Xika untuk menghindar.


Lu Bei melihat tangannya sesaat sambil mengerutkan kening. Kemudian menyadari yang barusan itu terjadi karena Xika mengendalikan angin di sekitarnya untuk menghentikan tangan Lu Bei.


"Dalam waktu yang singkat itu, ia berhasi menahan seranganku." Lu Bei berkata dalam hatinya. Harus ia akui, Xika cukup hebat. Tapi hal itu hanya membuat Lu Bei semakin ingin mengalahkan Xika. Setelah itu baru dibunuh, atau ditaklukan, terserah. Yang penting saat ini ia harus mengalahkan Xika dulu.


"Rupanya kau juga pengguna elemen angin. Menguasi elemen yang sama dengan mahkluk sepertimu membuatku ingin muntah."


Huo Bing dan Heiliao tersenyum geli mendengar ucapan Lu Bei.


"Kalau begitu muntah saja." Xika tak mempedulikan ucapan menghina Lu Bei.


"Aku akan muntah. Di atas tubuhmu setelah kusayat-sayat!" teriak Lu Bei sambil menerjang maju.


Xika menghindari serangan-serangan yang diberikan Lu Bei tanpa kesulitan berarti. Ia tidak berusaha menangkis. Selama rentetan serangan yang diberikan, Xika mengamati baik-baik pola dan serangan Lu Bei.


Awalnya Xika menduga bahwa Lu Bei menggunakan semacam senjata khusus untuk menyerangnya, tapi ternyata gadis itu hanya melapisi tangannya dengan angin.


"Tampaknya kau percaya diri sekali ya. Bagaimana kalau kau kukalahkan dengan elemen angin juga?"


"Coba saja kalau bisa!"


Lu Bei kembali melayangkan rentetan serangan tangan yang diselimuti elemen angin. Tapi kali ini Xika tidak menghindar lagi. Ia juga melapisi tangannya seperti yang dilakukan Lu Bei. Ia menangkis sekaligus memberikan serangan balik dengan cara yang sama seperti Lu Bei.


"Dasar lelaki rendahan! Beraninya kau meniru teknikku!" geram Lu Bei kesal melihat Xika meniru dirinya.


"Yang begini kau sebut teknik? Siapapun bisa melakukan ini, bodoh!"


Kali ini Xika yang menerjang duluan. Ia memberikan serangan yang sama dengan cara Lu Bei juga, tapi dengan pola serangan yang berbeda sehingga Lu Bei kesulitan menangkisnya.


Sret!


Serangan Xika kembali menggores Lu Bei sehingga merobek gaunnya dan menampakkan kulit mulus yang sedari tadi tersembunyi.

__ADS_1


"Ah!" Lu Bei melirik luka yang baru diterimanya dengan amarah membara.


"BERANINYA!!"


__ADS_2