Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-65


__ADS_3

Begitu Xika selesai bicara, formasi itu telah aktif dan memindahkan semua orang yang ada disini kecuali Xika.


Formasi itu hanya berlangsung selama beberapa detik. Setelah itu cahaya mulai meredup dan keadaan sama seperti sebelumnya.


Hanya saja, kali ini hanya ada Xika dan tiga ular tua itu di tempat ini.


Xika masih diam di tempatnya.


Ia cukup lega berhasil memindahkan teman-temannya ke tempat lain. Selain itu, ia juga sempat mengatakan slogan Stellar Joker.


Kelompok itu belum punya slogan jadi ia berusaha memikirkannya.


Ia mengatakannya di saat-saat terakhir sebelum mereka dipindahkan. Ia tidak tahu apakah mereka akan menerima itu sebagai slogan mereka, tapi setidaknya ia telah memberikan ide.


Sekarang Xika fokus pada tiga ular di depannya.


Mereka tidak mengatakan apa-apa selama beberapa saat. Mungkin karena terlalu terkejut melihat Xika menggagalkan rencana mereka di saat-saat terakhir.


Tempat itu hening selama beberapa saat.


Tapi Xika mulai berdiri. Ia sudah cukup beristirahat.


Pikirannya sudah lebih baik. Meskipun hanya sebentar, tapi pikirannya sudah lebih tenang setelah berhasil memindahkan teman-temannya. Selain itu, ia menggunakan lubang hitam Heiliao untuk menyerap qi dan memulihkan luka-lukanya.


Jadi baik pikiran maupun tubuhnya sudah lebih baik sekarang.


Ia berjalan mendekati ular-ular itu.


Mereka juga mendengar langkah Xika dan menyadari ia mendekat.


Mereka membalikkan badan dengan mata penuh amarah.


Xika berjalan semakin mendekat dan ia mulai bisa mendengar nafas mereka yang begitu memburu.


Mereka sudah tidak bisa menahan diri lagi.


Langsung saja mereka melesat menuju Xika.


Tiga buah rahang ular mengincar dirinya.


Tapi Xika tidak mundur. Ia berlari ke arah ular yang di tengah, kemudian menunduk dan memukul kepalanya dari bawah menggunakan Space Shifter.


Sementara dua serangan lainnya luput, tapi mereka tidak menyerah begitu saja. Mereka mengayunkan ekor mereka.


Xika menahannya menggunakan Space Shifter, tapi ia masih terhempas.


Namun setidaknya, tubuhnya tidak mengalami luka berarti, hanya sedikit guncangan.


"Kuakui, kau berhasil membodohi kami. Kau menggagalkan rencana kami di detik-detik terakhir dan memindahkan semua orang.


Tapi apa yang akan kau lakukan berikutnya? Apa kau pikir bisa menghadapi kami bertiga sendirian?" tanya ular itu dengan pandangan membunuh.


"Sendiri? Aku tidak sendiri.


Jangan salah sangka, ini bukan tiga lawan satu."


Xika berhenti sebentar, kemudian Huo Bing muncul dan Heiliao melompat dari pundaknya.


Kemudian ia tersenyum dan berkata,


"Ini tiga lawan tiga."


Ular-ular itu tidak langsung menyerang. Mereka mengamati tiga mahkluk di depan.


Kalau Huo Bing, mungkin ia memang cukup menjadi ancaman, Xika mungkin masih bisa memberikan beberapa kerusakan. Tapi apa yang bisa dilakukan serigala kecil itu?


Heiliao tampaknya menyadari pandangan meremehkan mereka.


Jadi ia membesarkan tubuhnya. Dan kini, kurang lebih ia seukuran dengan tubuh ular itu.


Ia menatap mereka dengan galak dan menggeram dengan ganas.


"Grrrr........."


Kini ular-ular itu tidak lagi menatap Heiliao dengan pandangan meremehkan, sebaliknya mereka menatapnya dengan penuh waspada.


Selama beberapa saat, tidak ada yang terjadi.


Kedua belah pihak sama-sama tidak bergerak dan hanya memperhatikan pihak lawan.


Kemudian mereka langsung melesat maju melawan lawan masing-masing.


Xika melawan ular yang sama dengan yang sebelumnya. Ular yang bergaris merah kuning. Huo Bing melawan pemimpin ular itu yang nampaknya paling bijak, mungkin karena Huo Bing punya dendam yang besar dengannya. Sementara Heiliao, ia melawan ular yang berdiri di sebelah kiri. Ular itu tidak mengerluarkan suara dari tadi, sama seperti Heiliao yang juga pendiam.


Kedua belah pihak bertemu.


Ular di tengah berwarna coklat. Ia merupakan Phantom King Cobra. Ketika mulutnya hampir menyentuh Huo Bing, Huo Bing melebarkan sayapnya dan menghentikan geraknya di udara.


Kemudian Huo Bing mengarahkan kakinya menuju mata ular itu. Ular itu menggeser sedikit kepalanya sehingga Huo Bing tidak berhasil mengenai matanya, tapi cakar Huo Bing tetap melukai ular itu.


Setelah berhasil melancarkan serangan pertamanya, Huo Bing mundur dan terbang ke angkasa. Ia berputar beberapa kali untuk mencari posisi yang cocok untuk menyerang sekaligus mengamati keadaan.


Ia melihat Heiliao melawan ular berwarna hijau keputihan. Ia adalah Green Abyss Viper. Gerakannya cukup cepat dan dari yang Huo Bing dengar, racunnya cukup mematikan.


Tapi sepertinya Heiliao berhasil bertahan dengan baik. Untuk saat ini, kedua belah pihak setara, tidak ada yang berada di atas angin.


Kemudian Huo Bing melihat Xika. Bisa dibilang, ia yang paling lemah diantara mereka bertiga. Tapi anak itu bertarung dengan cukup baik. Ia menggunakan Space Shifter dan kartunya secara bersamaan dan membuat ular bergaris kuning merah itu cukup kerepotan. Ular itu merupakan Lighter Coral. Jenis yang jarang terdengar. Jumlahnya juga cukup sedikit. Karena itu Huo Bing tidak tahu banyak mengetahui ular itu. Tapi ia yakin Xika dapat mengalahkannya.


Setelah melihat keadaan, Huo Bing kembali melihat lawannya, tapi ia tidak menemukan lawannya di bawah.


Di belakang Huo Bing, rahang besar terbuka hendak mengigitnya.


Huo Bing terbang menghindar sementara Phantom King Cobra terjatuh.


Tapi ia berhasil menahan dirinya dengan baik. Ia berputar beberapa kali sehingga mendekat dinding, kemudian melilitkan dirinya di salah satu tonjolan batu. Setelah itu, baru ia turun pelan-pelan.


Huo Bing masih terbang, tapi kali ini ia mengamati lawannya.


Phantom King Cobra melemparkan racun ke arah Huo Bing yang dihindarinya dengan mudah.


Memang burung yang dapat terbang di udara, memiliki keuntungan melawan ular yang tidak bisa terbang.


Untuk saat ini, Huo Bing menyerang dari atas. Ia terbang berputar, kemudian menukik beberapa kali ke arah lawannya.


Kita beralih ke pertempuran Heiliao.


Saat ini Heiliao dan Green Abyss Viper saling bertukan serangan. Mereka membuka rahang masing-masing dan mengarahkannya menuju lawan mereka.


Viper menghindar gigitan Heiliao kemudian balas menyerang menggunakan ekornya. Heiliao melompat mundur dan mengarahkan cakarnya ke ekor Viper. Cakarnya berhasil menggoresnya sedikit.

__ADS_1


Viper membalasnya dengan meludahkan racun.


Heiliao hanya menghindar.


Untuk saat ini, ia belum menggunakan kemampuan ruangnya. Ia bermaksud mengukur kekuatan lawannya dulu sebelum mengerahkan seluruh kemampuannya.


Sama seperti Xika yang saat ini hanya bertarung menggunakan kartu dan Space Shifter.


Tapi sepertinya ia tidak bisa menahan kekuatannya lagi.


Ketiga ular itu melakukan hal yang sama.


Mereka membuka mulut mereka dan menembakkan qi ke udara. Kemudian qi itu berubah menjadi ular-ular kecil yang menyerang Xika, Heiliao, dan Huo Bing.


Tiga sekawan itu kesulitan menghadapi ular-ular kecil yang datang secara tiba-tiba dan ditekan oleh ketiga ular itu.


Untuk saat ini, para ularlah yang berada di atas angin.


Huo Bing yang paling tidak kerepotan. Ia masih tetap terbang dan sesekali menembakkan bulu-bulu untuk mengurangi jumlah ular kecil di bawah.


Berbeda dengan Huo Bing, Xika dan Heiliao cukup kerepotan menghadapi ular-ular itu.


Heiliao yang sebelumnya tidak terlalu banyak bergerak, kini jadi harus banyak bergerak untuk menghindari dan menyerang ular-ular kecil itu. Ia juga harus tetap waspada dengan Viper dan memberikan serangan balasan sesekali.


Sementara Xika harus mengeluarkan kartunya lebih banyak dan lebih berkonsentrasi lagi. Ia harus membagi pikirannya untuk mengendalikan kartu yang menyerang Coral, kartu yang menyerang ular kecil, tubuhnya yang melawan Coral, dan memperhatikan keadaan sekitar kalau ular-ular kecil itu menyerangnya.


Ia memukul beberapa ular kecil yang mendekati kakinya. Tapi dari belakangnya datang lagi beberapa, kemudian dari kanan dan kirinya juga.


Ia memutar Space Shifter beberapa kali. Tongkat yang cukup panjang itu dapat Xika gunakan untuk menyerang dua arah sekaligus. Namun ia melupakan Coral untuk sesaat.


Dan akibatnya cukup fatal.


Coral mengayunkan ekornya dan menghantam punggung Xika dengan telak.


Xika terhempas beberapa meter. Ia sudah melapisi perut dan punggungnya dengan kartu, tapi serangan yang diterimanya masih memberikannya rasa sakit.


Ia terdiam sesaat kemudian berusaha berdiri. Tapi ular-ular kecil sudah merayap naik ke tubuhnya dan memberikan gigitan-gigitan kecil yang beracun.


"Sialan!"


Xika melapisi tubuhnya dengan api. Ular-ular yang berada di tubuhnya langsung terbakar.


"Sepertinya aku harus lebih serius lagi." ucap Xika dengan semangat bertarung di matanya.


Api di tubuhnya meredup beralih ke Space Shifter. Setelah itu, ia melapisi Space Shifter dengan angin juga, jadi api yang melapisinya berkobar lebih besar.


Ia menebaskan Space Shifter dan menghempaskan ular-ular kecil yang berada di jalannya.


Kemudian ia menarik Space Shifter dan memasang posisi bersiap untuk menusuk. Masih dengan api dan angin di tongkatnya, ia mengumpulkan qi di Space Shifter kemudian menusukannya ke Coral.


"Kau bisa menggunakan dua elemen? Kau cukup berbakat.


Tapi sayang sekali kau akan mati disini."


Setelah mengatakan itu, ia menggerakkan tubuhnya sehingga serangan Xika luput darinya.


Kemudian ia bergerak mendekat sambil meludahkan racun menuju Xika.


Xika menghindar, tapi beberapa masih mengenai dirinya.


Ular itu tersenyum melihat Xika terkena racunnya yang dapat mengkorosi.


Tapi Xika juga tersenyum.


Ular itu membelalakkan matanya melihat Xika menggunakan elemen air. Kemudian dari bawah, muncul pilar tanah dan menghantam dagunya.


Ia terpental ke belakang. Ketika ia membuka matanya, Xika sudah berada di depan dan mengarahkan Space Shifter menuju matanya.


JLEB!


Ular itu mengerang kesakitan karena Xika menusuk salah satu matanya.


"Bagaimana.......kau bisa bergerak secepat itu?"


"Aku bisa menggunakan elemen ruang." jawab Xika dengan senyum di wajahnya.


Kemudian ia menghilang dan muncul lagi di depan perut ular itu.


Ia mengambil beberapa kartu yang sebelumnya melapisi tubuhnya, kemudian menempelkannya di ujung Space Shifter sehingga tongkat itu berbentuk tombak dengan mata pisaunya berupa kartu.


Xika menyerang perut ular itu dengan tombak di tangannya. Ia berhasil memberikan beberapa tebasan di perut ular itu.


Sementara Xika terpaksa menggunakan elemennya untuk melawan ular-ular kecil itu, Heiliao nampaknya masih mampu bertarung tanpa kemampuan ruangnya.


Berkali-kali Viper berusaha melilit dirinya, tapi Heiliao berhasil melepaskan diri. Namun ular-ular kecil mulai merayapi tubuhnya dan memberinya gigitan-gigitan beracun.


Heiliao berlari mengelilingi Viper dengan cepat sehingga ular-ular kecil di tubuhnya terlempar. Kemudian ia menerjang Viper.


Ia berhasil menggigit leher ular itu.


Namun Viper tersenyum. Ia melilit tubuh Heiliao.


Heiliao berusaha melepaskan diri, namun tidak bisa. Viper melilitnya dengan erat sehingga ia kehabisan nafas.


Ia masih menggerakkan badannya beberapa kali kemudian akhirnya berhenti bergerak. Namun Viper tidak berhenti. Ia melilit tubuh Heiliao semakin keras.


Dan akhirnya, tubuh Heiliao mengecil kembali.


Viper langsung menghempaskan Heiliao menggunakan ekornya.


Heiliao menabrak dinding kemudian terjatuh ke bawah dengan nafas terengah-engah.


Sementara itu Huo Bing mulai kehabisan energi. Jadi ia mulai turun dan bertarung dekat dengan tanah.


Tapi itulah yang ditunggu Cobra dari tadi. Ia langsung mengarahkan rahangya menuju bahu Huo Bing.


Huo Bing berhasil menghindar. Ia menebaskan sayapnya dan melemparkan bulu-bulu.


Tapi sesuai dengan namanya, Phantom King Cobra mampu bergerak dengan cepat. Ia menghindari tebasan Huo Bing dan bulu-bulu yang dilemparnya kemudian memberikan serangan balik.


Ekornya cukup tajam, mungkin karena ia bermutasi, jadi ia menusukkan ekornya ke Huo Bing.


Huo Bing yang saat itu sibuk menghindar dan menyerang ular kecil, tidak siap hingga terkena serangan itu dengan telak.


Huo Bing tidak bergerak selama beberapa saat.


Kemudian Cobra menarik ekornya dan menancapkan rahangnya di bahu Huo Bing, kemudian menghempaskannya.


Huo Bing terhempas ke dinding yang sama dengan Heiliao.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Xika juga terhempas ke dinding itu.


Ia cukup banyak menghabiskan qi nya dengan menggunakan lima elemen, jadi Coral berhasil menemukan celah dan menghempaskannya ke sini.


Ketiga ular itu mendekat dengan perlahan, dengan tatapan membunuh di mata mereka.


"Hehehe......."


"Ada kata-kata terakhir?"


Ketiga mahkluk itu-burung, manusia, dan serigala-hanya diam dengan nafas terengah-engah.


Ular-ular itu mendekat dengan senyum lebar di wajah mereka karena lawan mereka sudah tidak mampu menjawab lagi.


Namun Xika masih mampu menjawab.


"Hanya dengan kemampuan seperti ini kau ingin membunuh kami? Hah! Mimpi sana!"


Perkataan Xika berhasil membuat amarah Coral memuncak, jadi ia langsung melesat dan membuka rahangnya lebar-lebar. Ia bermaksud menelan Xika bulat-bulat.


Tapi Xika tidak menyerah. Di matanya, masih terpancar pandangan pantang menyerah. Ia masih yakin dapat membalikkan situasi.


Ia menatap rahang Coral yang semakin mendekat dengan tatapan pantang menyerah bercampur kegilaan.


Kemudian keempat simbol di mata kanannya menyala dan semakin membesar. Kemudian simbol itu keluar dari matanya dan menahan serangan Coral.


Tanpa Xika sadari, mata kirinya yang selama ini biasa-biasa saja juga berubah. Mata kirinya kini menjadi warna hitam dengan cahaya-cahaya kecil di dalamnya. Terlihat seperti galaksi.


Xika tidak tahu bagaimana simbol di mata kanannya ini keluar. Ia memang sudah menyadari bahwa setiap kali ia menggunakan elemen, maka simbol elemen yang ia gunakan akan menyala di mata kanannya. Tapi ia tidak tahu kenapa mata kirinya tidak berubah sama sekali.


Namun hari ini, mata kirinya juga berubah, meskipun tidak ia sadari.


Coral tidak mau menyerah dan mencoba menghancurkan simbol di depannya. Tapi simbol itu berputar kemudian melempar Coral.


Viper dan Cobra cukup terkejut melihat hal itu. Sama halnya dengan Huo Bing dan Heiliao, hanya saja mereka tersenyum.


Benar, Heiliao tersenyum.


Huo Bing berdiri dan melebarkan kedua sayapnya yang berbeda warna itu.


Perlahan, api di sebelah kanan dan es di sebelah kirinya semakin membesar. Kemudian api dan es itu berpisah dari tubuhnya dan membentuk dua burung lain.


Yang satu terbuat dari api sepenuhnya sementara yang lain terbuat dari es sepenuhnya.


Wujud mereka sama persis dengan Huo Bing, hanya berbeda warna saja.


Huo Bing dengan dua dirinya maju dan menuju Cobra. Ia menangkap Cobra ketika ia lengah dan membawanya terbang.


Viper cukup terkejut melihat kedua rekannya yang diserang balik itu. Kemudian ia berbalik dan menatap Heiliao.


Kemudian ia bernafas lega karena sepertinya mahkluk di depannya ini tidak lagi bisa memberikan kejutan.


Tapi ia salah.


Sesaat setelah ia berpikir seperti itu, Heiliao menghilang dari pandangannya.


Ia muncul lagi di sekitar perut bawah Viper dan memberikan luka dengan cakarnya. Kali ini lukanya lebih dalam dibanding yang sebelumnya diberikan. Setelah itu, Heiliao menghilang lagi.


Heiliao sudah selesai mengukur kekuatan lawan, dan akhirnya ia mengerahkan kemampuan ruangnya.


Ia berpindah tempat berkali-kali dan memberikan banyak luka di tubuh Viper.


Viper cukup terkejut dengan Heiliao yang berpindah tempat, tapi ia langsung beradaptasi. Ia bergerak menghindari serangan Heiliao.


Tapi itu percuma saja. Serangan pertama gagal, serangan kedua pasti berhasil, karena Heiliao langsung berpindah ruang baik ketika serangannya berhasil maupun gagal.


Jadi Viper tidak bisa menebak ke mana Heiliao akan menyerang berikutnya.


Ia mengibas-ngibaskan ekornya beberapa kali berharap mengenai Heiliao dan membuat serigala itu terpental. Tapi harapannya tak pernah menjadi kenyataan.


Tubuh Heiliao yang kecil memudahkannya untuk memberikan serangan sekaligus menghindar.


Akhirnya setelah ribuan serangan di tubuh Viper, Heiliao mengubah lintasannya dan mengumpulkan qi di cakarnya.


Kemudian Heiliao muncul di dinding dan menendangnya. Ia melesat dengan cukup cepat dan akhirnya menembus tubuh Viper.


Viper berdiri dengan perutnya yang bolong.


Ia diam sebentar, kemudian ia jatuh.


Satu telah tumbang.


Setelah mengalahkan lawannya, Heiliao hanya berdiri diam di tempat, beristirahat. Ia telah terlahir kembali jadi ia harus mengulang kultivasinya. Tapi ia tetap menguasai ruang. Jadi Viper tidak dapat mengalahkannya.


Ia tidak membantu Huo Bing ataupun Xika. Bukan karena ia tidak peduli, tapi justru ia yakin pada mereka berdua. Ia yakin bahwa mereka bisa menyelesaikan ular-ular itu tanpa bantuannya. Ia sendiri tidak tahu sejak kapan memiliki keyakinan kepada kedua mahkluk itu, tapi ia cukup menikmati perasaan yang ia rasakan.


Persahabatan.


Huo Bing di sisi lain, ia berhasil membawa Cobra terbang. Ia membawanya cukup tinggi kemudian menjatuhkannya.


Ketika menyentuh tanah, ia kembali memberikan perlawanan.


Tapi ia tidak berdaya di hadapan tiga Huo Bing.


Setelah beberapa pertukaran singkat, Huo Bing mencengkram leher mahkluk itu menggunakan kakinya, kemudian mencabut kepalanya dari tempatnya.


Setelah itu, dua burung lainnya, burung api dan burung es kembali ke dirinya.


Ia tidak langsung kembali ke dantian Xika begitu selesai. Ia memperhatikan Xika.


Anak itu bertarung dengan cara yang berbeda.


Coral digempur dari tiga sisi.


Sisi depan, Xika menyerangnya menggunakan tombak, sisi kiri, puluhan kartu menyayatnya, sementara sisi kanan, simbol dari keempat elemen dasar memberinya berbagai serangan.


Salah satu dari simbol itu menyala kemudian memberikan serangan, setelah itu simbol itu berputar dan melakukan hal yang sama dengan sebelumnya.


Coral tidak berdaya menghadapi gempuran dari tiga sisi.


Tusukan Xika berhasil membuatnya mundur.


Kemudian Xika menarik nafas sebentar, kemudian simbol elemen yang tadinya ada di kanan Coral, berpindah ke depan ular itu. Keempat simbol itu menyala secara bersamaan dan memberikan serangan pamungkas.


Serangan dari empat elemen itu mengenai Coral dan memusnahkan kepalanya.


Setelah selesai, Xika berlutut terengah-engah.


Kemudian ia berbalik dan menemukan dua mahkluk lainnya menatapnya.

__ADS_1


Mereka bertiga saling tersenyum satu sama lain.


Hari itu, pertempuran yang telah mereka lalui bersama telah membuat ikatan di antara mereka bertiga.


__ADS_2