
Xika yakin aktingnya tadi tampak meyakinkan ketika melihat wajah kedua gadis itu yang tampak khawatir sekaligus waspada.
Ia berlari dengan cepat tapi berusaha agar langkahnya tidak terdengar. Ia tidak terlalu memikirkan Hua Zhantian, tapi ia harus tampak waspada di depan kedua gadis itu.
Mendadak ia berhenti. Ia baru ingat harusnya ia tidak boleh berlari. Terbang bisa menjadi pilihan yang bagus saat ini. Kebetulan ia juga belum melihat kondisi sayapnya sejak terakhir kali menggunakannya. Jadi ia berdiri di tempat tersembunyi di dahan pohon rindang, kemudian memperbesar sayapnya.
Dan rasa kesakitan langsung menyerbu dirinya. Ia hampir kehilangan keseimbangan karena rasa sakit sekaligus pusing itu. Untunglah ia sempat memegang dahan pohon yang lain untuk mencegahnya jatuh. Bisa gawat kalau Hua Zhantian menemukan dirinya tengah terkapar tak sadarkan diri.
Setelah menahan sakit beberapa saat, ia mulai terbiasa dengan rasa itu, masih sakit tapi tidak langsung menghancurkan konsentrasinya. Perlahan, ia menoleh ke belakang melihat sayapnya. Kali ini ia memperbesar sayapnya tanpa menutupinya dengan Qi apapun.
Sayapnya terlihat menyedihkan. Warna biru hijau yang indah yang selalu menghiasi sayapnya kini hampir tak terlihat, hanya ada sedikit di ujung-ujungnya. Bagian tengahnya lebih buruk. Ia hampir tak bisa melihat bulu-bulu di sayapnya. Bahkan tulang-tulang yang membentuk kerangka sayapnya bisa terlihat dengan mudah.
Sekali lagi, rasa sakit itu menyerang dirinya. Kali ini bukan karena tubuhnya yang kaget dengan rasa sakit yang tiba-tiba muncul, tapi karena ia sedih melihat sayapnya hancur seperti ini. Ia ragu bahkan sayapnya bisa digerakkan seperti ini.
Ia mencoba menyentuh sayapnya sedikit, dan langsung meringis karena rasa sakit yang diterimanya. Huo Bing pasti akan marah besar. Tapi ia tak ada pilihan lain. Hanya burung itu yang bisa ia mintai tolong terkait sayapnya.
"Huo Bing?"
Xika mencoba memanggil Huo Bing. Awalnya burung itu tak menjawab. Sepertinya burung itu masih berkonsentrasi untuk berkultivasi dan berusaha agar tidak kalah dari Heiliao.
"Huo Bing? Ada masalah mendesak!"
Akhirnya Huo Bing menjawabnya. Burung itu terdengar agak kesal.
"Xika, aku akan mematukmu kalau kau menggangguku untuk urusan tak penting. Serigala Gosong memancarkan aura yang berbeda, tampaknya tak akan lama lagi sebelum ia menerobos ke tingkat berikutnya. Aku tak bisa kalah."
"Aku tahu, tapi ini sangat mendesak. Sayapku rusak."
"Itu bukan masal-APA?!"
Xika sampai menutup mata dan mengernyitkan alisnya. Teriakan Huo Bing itu bergaung-gaung di kepalanya. Karena komunikasi ini sejenis telepati, dan jiwa mereka sudah terhubung, tampaknya ia tidak bisa menolak suara Huo Bing. Hal yang sama berlaku juga untuk Heiliao sepertinya.
"Xika, kau bocah cacat! Apa yang kau lakukan?! Bagaimana sayapmu bisa rusak? Kau ini kan burung, manusia sih sebenarnya, serigala juga termasuk, tapi kau punya sayap jadi kau bisa dianggap burung. Sayap itu bagaikan nyawa bagi burung, tahu! Kenapa kau tidak menjaganya dengan baik?!"
Xika tertawa masam mendengar omelan Huo Bing.
"Katakan padaku bagaimana kondisi sayapmu dan bagaimana sayapmu bisa rusak."
Jadi Xika bercerita mulai dari ia yang terpaksa mencari Tanaman Spiritual sendirian, lalu tanpa sengaja melihat Wu Liao yang tampak kesusahan dan menghilang secara aneh dan ia mengikuti gadis itu, lalu melindunginya dari bajingan yang ternyata adalah Hua Zhantian yang mereka cari selama ini.
".....................Xika, aku tak tahu harus berkata apa. Bukankah kau sudah punya gadis es itu? Kenapa kau harus membantu gadis lain sampai seperti itu? Dan bagiku alasan sayapmu rusak bukanlah hal yang konyol. Kau mengorbankan sayapmu untuk melindungi. Aku memujimu. Tapi hal yang kau lindungi itu bagiku terasa konyol. Jadi intinya sayapmu rusak karena hal yang konyol."
"Maaf.........itu terlalu cepat, aku tak sempat memikirkan hal lain untuk melindungi diri. Lagipula tidakkah kau akan melakukan hal yang sama bila berada di tempat yang sama denganku?"
"Tidak. Hatiku sudah mati bertahun yang lalu. Memangnya kenapa kalau ada gadis yang kesulitan? Hidup ini keras. Kau tak bisa menolong semua orang."
"Tapi aku ingin menolong semua yang bisa kutolong. Lagipula dia pantas ditolong."
"Semua yang bisa kau tolong? Ada banyak pengemis di Ibukota sekalipun. Kenapa kau tidak menolongnya?"
"...................."
"Pantas ditolong? Siapa yang menentukan seseorang pantas atau tidak ditolong? Di dunia ini banyak yang mati pantas hidup dan banyak yang hidup pantas mati. Apa kau bisa memperbaiki kesalahan itu?"
"...................."
Huo Bing terdiam sama seperti Xika. Ada jeda cukup lama sampai akhirnya burung itu bicara lagi.
*"Kau bilang kau ke gunung untuk mengumpulkan Tanaman Spiritual bukan? Kumpulkan tanaman ini. Sky Cleaver Grass, Robust Corn, Typhoon Flower, Forceflee Nut. *Minta Serigala Gosong membuatkanmu Hyper Swift Pill."
__ADS_1
"Baiklah."
Setelah itu, pembicaraan berakhir. Xika mulai mengelilingi gunung. Ia ragu kedua gadis itu akan membiarkannya pergi lagi kalau ia kembali sekarang tidak peduli apapun alasan yang ia berikan. Atau pada akhirnya mereka akan memaksa ikut. Jadi sebaiknya ia cari tanaman-tanaman itu sekarang saja.
Ia melirik sayapnya sekali lagi, berjanji akan memperbaikinya, kemudian mengecilkan benda itu perlahan. Setelahnya, ia mengelilingi gunung dengan melompat dari dahan yang satu ke dahan yang lain.
Xika mulai mencari Tanaman Spiritual yang ia butuhkan. Mula-mula bahan utama dari Forming Cloud Pill. Ia menemukan seladang penuh jadi ia menyisakan satu tangkai saja agar tanaman itu dapat kembali tumbuh. Huo Bing pasti akan memarahinya kalau tidak menyisakan satupun dari semua tanaman yang ia ambil.
Kemudian selanjutnya Sky Cleaver Grass. Itu rumput yang berbentuk seperti golok atau senjata sejenisnya. Harusnya tanaman jenis rumput tumbuh di tanah bawah, tapi Xika ragu tanaman yang satu ini sama mengingat namanya mengandung Sky, yang artinya langit.
Kali ini ia tidak seberuntung sebelumnya. Rumput-rumput itu hanya muncul dua atau tiga buah tiap kali ia menemukannya. Ia selalu menyisakan satu setiap kali mengambilnya. Total ia mengumpulkan sepuluh buah.
Robust Corn yang berikutnya, Jagung yang Kokoh, kalau diartikan. Harusnya tumbuh di dataran rendah yang tanahnya kokoh bukan? Xika berhasil menemukannya dengan cukup mudah dan jumlah yang banyak. Sayangnya jagung itu sangat kokoh sampai Xika kesulitan untuk mencabutnya. Ia menghabiskan lebih dari separuh qi-nya hanya untuk mencabut sepuluh batang jagung itu.
Typhoon Flower dan Forceflee Nut. Masing-masing hidup sesuai namanya. Typhoon Flower tumbuh di langit. Aneh memang, begitulah dunia kultivasi. Sebenarnya tidak secara teknis di langit, akarnya masih menancap di pohon inangnya tapi bagian tangkai dan kelopaknya terletak agak jauh dari pohon inangnya dan hanya dihubungkan oleh akar sehingga terlihat seperti mengambang di udara.
Kelopak bunga itu berwarna transparan dan dikelilingi angin kecil yang bergulung-gulung sehingga terlihat seperti badai. Katanya, badai membawa benih ini tersebar ke pohon-pohon inangnya. Akarnya akan menancap kuat dalam sang inang sementara bunganya akan bersinar indah. Ketika tiba waktunya dewasa, maka bunga ini akan menghancurkan inangnya sebagaimana badai menghancurkan semua yang dilewatinya.
Cukup sulit menemukan bunga itu. Dan bunga itu tak berkumpul satu ladang seperti tanaman sebelumnya. Ia harus mencari mereka satu-persatu, dan banyak dari bunga-bunga itu yang masih belum matang. Butuh waktu lama sebelum akhirnya ia mengumpulkan sepuluh Typhoon Flower yang sudah matang. Ia tak menyisakan apapun karena di jalan tadi ia menemukan banyak Typhoon Flower yang belum matang.
Terakhir, Kacang yang Melarikan Diri. Yap, nama itu sangat cocok. Tanaman itu tumbuh dari bawah tanah. Sebelum ia dewasa, ia hanya bisa melarikan diri sejauh panjang akarnya. Tapi ketika dewasa, kacang itu telah lepas sepenuhnya dari akarnya jadi ia bisa melarikan diri sejauh yang ia mau. Itulah bagian terbaiknya. Hari sudah gelap ketika Xika selesai mengumpulkan tanaman-tanaman itu.
Untungnya, ia bisa menemukan semua tanaman itu dalam sehari. Tak banyak yang beruntung sepertinya. Banyak orang menghabiskan bertahun-tahun hanya untuk mencari sebatang Tanaman Spiritual. Mungkin kepekaannya terhadap alam sekitar membantunya. Berkomunkasi dengan lima elemen sekaligus membuat kedekatannya dengan alam bertambah erat.
Melihat langit yang gelap dan bulan yang tengah memancarkan sinarnya, Xika bertanya-tanya bagaimana kedua gadis itu. Apakah mereka masih bertatapan sampai sekarang?
Tapi pikiran Xika terusik ketika melihat sesuatu bergerak tak jauh darinya. Sepanjang hari ini, ia terlalu berfokus mencari Tanaman Spiritual hingga melupakan Hua Zhantian. Bahkan ia tidak lagi berpindah dengan melompat di pohon. Karena ada beberapa tanaman yang tumbuh di tanah, jadi ia mencarinya dengan berjalan atau berlari.
Jadi tidak aneh melihat pria itu ada di sampingnya saat ini. Apa pria itu menyadari kehadirannya? Tampaknya belum. Pria itu memegang tanah sesekali dan memejamkan matanya. Kemudian akhirnya tersenyum.
"Xing Xika. Aku tahu kau ada disini. Ayo keluarlah. Kau tahu urusan kita belum selesai bukan? Keluarlah seperti pria sejati dan bertarung denganku!"
Xika keluar dari balik pohon yang menyembunyikannya. Ia bukan tipe pengecut, sekalipuh berhadapan dengan lawan yang lebih kuat darinya. Itulah tekadnya setelah kalah dari Tian Yin.
"Heh. Kondisimu sudah membaik? Apa yang sebelumnya kurang? Aku masih punya beberapa serangan lagi untukmu." Xika berusaha memprovokasi Hua Zhantian.
Tapi ia tak menyangka kali ini Hua Zhantian tidak berniat basa-basi. Pria itu menghilang saat Xika menoleh ke arahnya. Ketika indranya memberitahu bahaya, itu sudah terlambat.
BUK!
Hua Zhantian muncul di belakangnya dan menghantam telak punggungnya. Sekali lagi, ia melupakan fakta bahwa Hua Zhantian adalah Kultivator Tanah, dan bahwa pria itu lebih berpengalaman dibanding dirinya.
Tapi pria itu berpindah dengan kecepatan yang menakjubkan. Apa sebelumnya pria itu masih belum menggunakan seluruh kemampuannya? Apalagi pukulannya itu, tepat mengenai sayap Xika. Ia mengecilkannya sampai tak akan ada yang menyadarinya sekalipun orang menepuk punggungnya.
Tapi tinju pria itu berhasil mengenai sayapnya. Dan rasa sakit sekaligus pusing menjalari seluruh tubuhnya termasuk ke kepala hingga menghambatnya berkonsentrasi ataupun berpikir.
DUAK!
Satu lagi serangan telak. Kali ini kaki Hua Zhantian mendarat di perut Xika. Ia terlempar beberapa meter jauhnya sebelum akhirnya menabrak pohon.
Bruk!
Darah menetes dari sudut bibir Xika. Tapi ia berusaha mengabaikannya beserta seluruh rasa sakit yang menjalari tubuhnya. Ia bisa mengurus sakitnya nanti. Sekarang yang paling penting adalah kabur dari Hua Zhantian dulu.
Pria ini mendadak jadi berubah. Sebelumnya ia begitu sombong dan banyak bicara. Kenapa mendadak menjadi pendiam dan terus-menerus memberikan serangan? Xika tidak bisa menang darinya. Tidak dalam kondisi seperti ini.
Xika mengangkat salah satu lengannya. Qi-nya membentuk bola air yang cukup besar sebelum akhirya pecah menjadi ribuan tetesan air. Selanjutnya ia menebarkan angin agar tercipta hujan, hanya saja arahnya kali ini horizontal, bukan vertikal, dan mengarah pada Hua Zhantian.
Karena pria itu sangat fokus pada Tanah, harusnya elemen lain bisa mengganggu konsentrasinya. Apalagi hujan bisa menyamarkan jejaknya, sekalipun hujan buatan.
__ADS_1
Ia tak menunggu untuk melihat apakah hujannya berhasil mengganggu Hua Zhantian atau tidak. Ia langsung berlari pergi. Tapi hujan saja tak cukup sekalipun ia memasukkan cukup banyak qi untuk melukai Hua Zhantian. Ia butuh pengalih perhatian yang lain.
BLAR!
Sebuah bola api menabrak dinding tanah yang diciptakan Hua Zhantian pada detik terakhir. Pria itu memang pantas menjadi Murid Dalam Terkuat.
SYUT!
BLAR
Satu lagi bola api kembali menyerang Hua Zhantian. Pria itu tersenyum mengejek Xika. Ia tahu Xika berusaha melarikan diri. Sepertinya bocah itu memberikan bola api karena tidak yakin bisa melarikan diri dengan lancar. Tapi sayangnya, bola api itu malah menunjukkan keberadaan bocah itu dan ke arah mana di melarikan diri. Hua Zhantian hanya tinggal mengikuti arah datangnya bola api itu.
BLAR!
Hua Zhantian tersenyum dalam hati. Perasaan takut yang ia rasakan sebelumnya mulai surut. Baginya, Xika hanyalah bocah kemarin sore yang tak tahu apa-apa. Berusaha menantang dirinya? Mimpi saja!
Sang Murid Dalam Terkuat terus mengikuti arah bola api itu berasal. Beberapa kali bola itu menyerangnya dari arah yang berbeda tapi itu hanyalah pengalih perhatian. Setelah beberapa saat, akhirnya serangan itu berhenti. Hua Zhantian mengasumsikan Xika terlalu lelah untuk bisa memberikan serangan lagi ataupun melarikan diri. Sekarang hanya tinggal mencarinya.
Tapi ia tidak tahu bahwa sebenarnya Xika sudah berada jauh darinya dan sedang menuju danau es Xingli.
Dugaan Xika benar. Hua Zhantian adalah tipe yang menggunakan otot, bukan otak. Pria itu tidak sadar bahwa dirinya sedang ditipu. Xika melayangkan bola apinya dari arah yang berbeda dengan arahnya pergi. Hal itu mudah saja dilakukan kalau menguasai elemen api dan angin sekaligus. Dan sedikit tanah untuk menutupi cahaya bola api itu.
Xika sampai di danau Xingli satu jam kemudian. Ia ingat lingkungan di sekitar danau itu, tapi ia tidak ingat jalan kembali. Lagipula pohon-pohon di sekitar danau itu sangat mirip dengan pohon-pohon lainnya.
BYUR!
Ia melompat masuk tanpa berpikir panjang. Apa yang harus ia katakan pada kedua gadis itu nanti? Ia akan mengatakan ia melarikan diri dari Hua Zhantian, itulah mengapa ia kembali cukup lama. Itu memang benar, ia tidak bohong. Tapi juga tidak menceritakan seluruh kebenaran.
Tapi sesampainya di dasar danau, Xika bingung melihat sekeliling danau yang kosong. Kemana dua gadis itu pergi? Apa mereka keluar mencari dirinya? Harusnya itu tidak mungkin. Xingli biasanya tidak akan berinisiatif seperti itu, dan Wu Liao juga tampaknya tidak mungkin. Harusnya gadis itu masih waspada dengan adanya Hua Zhantian di luar sana.
Lalu kemana mereka pergi? Tak ada jawaban. Tak ada penjelasan. Tak ada petunjuk. Setidaknya mereka kan bisa meninggalkan pesan kalau hendak pergi. Xingli mungkin tidak akan melakukannya, tapi Wu Liao harusya bisa. Kecuali kalau ia terbawa Xingli. Melihat Xingli tidak menulis pesan jadi ia juga tidak menulis pesan? Kemungkinannya cukup besar.
Xika menjelajahi danau tempatnya berada. Cukup luas sebenarnya danau itu. Mungkin saja ada beberapa cekungan untuk mereka bersembunyi. Bisa saja mereka bersembunyi karena kesal ditinggalkan. Ya, itu mungkin saja.
Mendadak ia merasakan gelombang aneh. Tampaknya gelombang itu berasal dari tanah. Sepertinya Hua Zhantian sudah sadar dan berusaha mencari dirinya. Jadi Xika berusaha tidak menyentuh tanah sama sekali sekalipun ia berada di dalam air. Ia tidak yakin bisa menang melawan Hua Zhantian sekalipun di dalam air dengan kondisinya saat ini.
Tapi selain gelombang itu, Xika merasakan hal lain. Tampaknya gelombang itu membentuk semacam resonansi. Xika merasakan aura dari elemen yang akrab.........elemen ruang. Dan dinding tanah di sampingnya berdesir.
Kini ia tahu darimana Xingli datang, meskipun tidak tahu apa yang dilakukan gadis itu disini. Kalau begitu, apa mungkin kedua gadis itu meninggalkan gunung ini? Ia yakin dinding yang berdesir itu adalah pintu keluar dari tempat ini, sama seperti dinding tempat Wu Liao menghilang. Rupanya tidak hanya ada satu pintu masuk saja.
Ia bimbang. Haruskah ia pergi dari hutan ini? Melarikan diri dari Hua Zhantian dan memulihkan dirinya. Ada kemungkinan gadis-gadis itu sudah pergi dari hutan ini dan kembali ke Akademi. Tapi bisa saja kedua gadis itu keluar untuk mencari dirinya. Ada juga kemungkinan itu. Apa yang harus ia lakukan?
Xika menyentuh dinding yang berdesir itu dan yakin dinding itu akan mengantarnya kembali ke Akademi. Ia menutup matanya. Dalam hati, ia berjanji akan mencari kedua gadis itu sesampainya di Akademi. Kalau ia tidak menemukan mereka, ia akan kembali ke hutan ini mencari mereka berdua.
SWUSH!!
Dan Xikapun kembali ke Akademi. Ia berada di lorong-lorong sempit tidak jauh dari tempatnya melihat Wu Liao sebelumnya, tapi lorong yang berbeda. Diingatnya baik-baik lorong itu dan dinding yang menjadi pintu masuk ke hutan. Lalu berlari secepat mungkin mencari keberadaan kedua gadis itu.
Ia keluar dari lorong-lorong sepi itu dan berada di jalan utama. Ia menyusuri jalan utama sambil memperhatikan sekelilingnya. Tak banyak siswa yang keluar dari kamar mereka pada waktu malam begini. Jadi seharusnya mudah untuknya mencari Xingli dan Wu Liao. Dengan asumsi keduanya memang keluar dari hutan itu dan tidak langsung kembali ke kamar mereka.
Untungnya tak butuh waktu lama baginya menemukan mereka. Ia bertemu Wu Liao yang wajahnya terlihat gelisah, tapi langsung berubah begitu sadar Xika datang.
Xika juga menghela nafas lega melihat gadis itu. Kalau Wu Liao sudah disini, berarti Xingli juga ada di sini. Wu Liao tidak mungkin berani di tinggal sendiri di hutan itu.
Xika berkata, "Syukurlah." dengan wajah lega.
Wu Liao berlari dengan air mata di wajahnya, entah mengandung kelegaan, kesedihan, kemarahan, atau kebahagiaan dan memeluk dirinya.
Sementara Xingli hanya diam melihat punggung Xika yang tengah dipeluk Wu Liao. Di bawah rembulan seperti ini, Xika tampak cocok dengan Wu Liao, pikir gadis es itu sebelum berbalik dan berjalan pergi.
__ADS_1