Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-117


__ADS_3

"........"


"........"


Baik Xika maupun Huo Bing memandang benda yang jatuh itu tanpa suara. 'Benda' bukanlah kata yang cocok untuk menggambarkan hal yang jatuh dari pohon itu. Seorang pemuda, itu lebih cocok.


Ketika pemuda itu jatuh, warna ungu menyebar lebih cepat dan ganas. Rumput-rumput yang posisinya paling dekat dengan pohon itu juga ikut berubah meskipun sebelumnya sudah berubah. Mereka tumbuh lebih besar, baik ukuran rumput maupun durinya.


Dan Xika sadar bahwa racun-racun ungu ini berasal dari pemuda itu. Tapi kelihatannya pemuda itu tidak melakukannya dengan sengaja. Ia juga terlihat kesakitan. Xika memperhatikan lebih dekat dan sadar bahwa pemuda itu memang terluka. Di perutnya, terletak sebuah garis sepanjang dua puluh tujuh senti berwarna ungu. Dan dari situlah semua racun ungu ini berasal. Tapi kenapa pemuda itu bisa terluka? Kenapa ia bisa sampai di tanah para serigala? Kenapa ia menyembunyikan dirinya di balik pohon?


Xika memiliki banyak pertanyaan terkait pemuda itu. Dan pertanyaan itu semakin banyak setelah ia melihat wajah pemuda tersebut. Ia memiliki wajah yang tidak asing. Wajah yang ia temui saat berada di makam.


Han Mang.


Pemuda yang berhasil memecahkan formasi penghalang pintu gua dan yang membunuh pria besar hanya karena pria itu mengejek hebatnya formasi. Dan sekarang, pemuda itu tengah berbaring di depannya dengan luka menganga di perutnya.


Xika bingung harus berbuat apa. Ia menatap Huo Bing dan burung itu juga sama bingungnya. Akhirnya ia memutuskan untuk memanggil para serigala dulu. Bagaimanapun juga, ini adalah tanah mereka, merekalah yang berhak menentukan harus berbuat apa pada pemuda di depannya ini.


"Auuuuuuu!!!!!!"


Xika melolong dan memberikan sinyal agar ada yang datang. Ia mempelajari lolongan itu sebagai ganti telah mengajari para serigala bagaimana cara mengubah suara. Lolongan itu memiliki berbagai macam bentuk dan masing-masing memiliki artinya tersendiri. Sulit dijelaskan tapi setidaknya Xika mengerti. Dan lolongan yang ia berikan tadi adalah sinyal untuk meminta bantuan serigala lain dan menyatakan ada yang tidak beres.


Satu menit berlalu, dan beberapa serigala datang. Lang Shu adalah salah satunya. Ia datang dengan bulu abu dan emasnya yang memantulkan kilau matahari. Tapi kali ini tidak ada ekspresi ramah di wajahnya. Ia mendengar lolongan Xika dan tahu harus bersikap waspada. Sejujurnya, Xika cukup kaget melihat serigala satu itu bisa bersikap serius seperti ini.


"Ada apa?"


Xika tidak menjawab. Ia mengarahkan telunjuknya pada Han Mang.


"Aku menemukannya tanpa sengaja. Hati-hati! Jangan mendekat!" ucap Xika ketika serigala itu mendekati Han Mang. "Ia diracuni. Dan racunnya menyebar. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan jadi aku memanggil kalian." lanjutnya.


Lang Shu mengawasi Han Mang dari jarak aman untuk beberapa saat. Kemudian ia menggelengkan kepalanya.


"Aku juga tidak tahu. Aku harus bertanya pada yang lain. Aku tidak cukup untuk memutuskan."


Xika mengangguk. Ia kembali bertanya.


"Apa yang harus kita lakukan dengan racunnya? Itu semakin menyebar."


Lang Shu berpikir sebentar sebelum menjawab.


"Coba tahan penyebarannya sebisa mungkin menggunakan qi. Atau apapun yang bisa berguna. Aku akan berusaha kembali secepat mungkin."


Penyebaran racun itu harus dihentikkan. Kalau tidak banyak tanaman spiritual yang akan musnah. Ia menatap serigala lain yang datang bersamanya kemudian berlari sambil terus melolong. Lolongannya kali ini berisi panggilan.


Xika juga menatap serigala yang lain. Mereka mengangguk dan mulai mengalirkan qi mereka berusaha menahan racun dari terus menyebar. Ada yang mengalirkan qinya lewat suara sebelum mengirimkannya pada racun itu, ada juga yang mengalirkan qinya secara langsung dan membentuk kubah agar racun itu tidak lagi menyebar. Tapi cara-cara itu tidak terlalu efektif.

__ADS_1


"Apakah aku boleh membakarnya?"


"Mm...sebaiknya jangan. Rumput itu cukup berguna. Sebisa mungkin, gunakan cara yang lain."


Xika mengangguk. Ia berpikir selama beberapa saat namun tidak menemukan cara lain yang lebih ampuh selain membakar umput-rumput beracun itu. Dan sebuah idepun melintas. Bukankah ia kebal terhadap racun? Ia bisa mencabut rumput-rumput itu langsung hingga akarnya dan mencegah mereka menyebar lebih banyak lagi.


Ia tahu bahwa racun-racun itu menyebar melalui akar. Rumput-rumput itu kebetulan memiliki akar yang saling terhubung dan membuat penyebaran racun itu begitu mudah. Ia berjalan menuju rumput-rumput itu. Tapi kubah buatan salah satu serigala menahannya.


"Kawan, bisa kau buka sedikit kubahmu, agar aku bisa masuk?"


Serigala itu terlihat ragu sekaligus bingung. Besar kemungkinan racun itu akan keluar dari kubahnya dan menyebar lebih luas lagi. Saat ini pun, racun itu masih terus menyebar dan ia harus melebarkan kubahnya untuk menahan racun itu. Setidaknya tindakannya itu bisa memperlambat penyebaran racun. Lagipula mana ada mahkluk yang mau masuk ke dalam tempat beracun seperti itu?


Kemudian ia mengangguk. Sebuah lubang terbuka di kubahnya, namun yang dilakukan Xika bukanlah  melangkahkan kakinya, melainkan mendekatkan tangannya ke tanah. Ia terlihat seperti menunggu sesuatu. Dan sedetik kemudian apa yang ia tunggu akhirnya muncul juga.


Tepat seperti yang dipikirkan serigala itu, racunnya keluar dari lubang yang ia buat. Untunglah Xika langsung mencabut rumput berwarna ungu itu hingga akarnya dan menghentikkan racun itu keluar dari kubah. Ia tidak merespon tatapan bingung para serigala dan langsung masuk ke dalam kubah. Serigala itu langsung menutup lubang di kubahnya.


Xika membungkuk. Tangannya bergerak sangat cepat. Dari rumput yang satu ke tempat yang lain. Ia mencabutnya hingga ke akar-akarnya. Beberapa menit kemudian Xika berhasil menghentikan racun itu menyebar lagi. Lingkaran terluar rumput beracun itu telah ia cabut jadi racunnya tidak akan menyebar dulu untuk sementara. Tapi pasti racun itu akan menemukan jalan untuk menyebar melalui tanah. Setidaknya mereka aman saat ini.


Dan apa yang ia lakukan tepat waktu karena serigala lainnya hampir kehabisan qi dan tidak bisa menahan racun itu lebih lama lagi.


"Ah, kau bisa membuka kubahnya sekarang. Racun itu tidak akan menyebar untuk sementara."


Serigala itu kembali menampilkan ekspresi yang sama ketika ia ragu. Tapi ia mencoba mengikuti ucapan Xika. Sebelumnya berhasil, jadi mungkin saja kali ini juga berhasil. Ia membuka kubahnya sedikit demi sedikit, kalau-kalau Xika salah, tapi untungnya tidak. Racun itu tidak menyebar sama seperti yang Xika katakan.


Ia menarik nafas lega sebelum beristirahat. Kubah tadi itu cukup menguras qinya. Sementara serigala lainnya menatap Xika dengan bingung. Anak itu memang berhasil menghentikan racunnya menyebar dan ia berterima kasih karena itu, tapi caranya menghentikan racun itu sangat aneh.


Pertanyaan yang diajukan serigala itu adalah hal wajar mengingat Xika baru saja mencabut tanaman beracun dengan tangan kosong.


"Terima kasih atas perhatiannya. Aku baik-baik saja."


Kemudian ia memberikan cengiran lebar untuk menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.


Lang Shu akhirnya kembali. Ia bersama dengan dua serigala lain dan salah satunya merupakan sosok yang familiar. Serigala besar yang memiliki pertahanan kuat bagai baja, Lang Jin.


"Apa kalian baik-baik saja? Aku berusaha secepat yang kubisa."


Serigala lain yang sebelumnya bersama Xika saling menoleh kemudian mengangguk. Lang Jin mendekati Xika. Mukanya sama seperti sebelumnya, serius dan kaku.


"Apa kabar?"


"Baik." jawab Xika sambil memberikan senyum.


Lang Jin mengangguk kemudian berjalan mendekati Han Mang. Sementara Lang Shu kembali berlari pergi setelah bicara dengan Lang Jin sebentar. Xika memberikan peringatan untuk tidak terlalu dekat dengannya. Serigala besar itu mengangguk dan kembali berjalan ditemani satu serigala lain yang belum pernah Xika lihat.


Lang Jin berhenti dua meter dari Han Mang, sementara serigala satunya berhenti satu setengah meter dari pemuda itu. Alih-alih takut, serigala itu lebih terlihat bersemangat ketika melihat Han Mang.

__ADS_1


Serigala itu berwarna coklat dan bernama Lang Yao. Ia cukup ahli di bidang herbal dibanding serigala lain yang seusianya. Lang Jin dan Lang Yao berbincang selama beberapa saat sebelum berjalan kembali menuju Xika.


"Dimana kau menemukannya?" tanya Lang Jin.


"Didalam pohon itu." tunjuk Xika pada pohon yang dimaksud. "Apa yang akan kau lakukan dengannya?"


"Apa ia temanmu?"


"Sebut saja aku pernah bertemu dengannya. Mengenai kawan atau lawan, aku masih belum yakin."


Kemudian Lang Yao berjalan maju.


"Apa kau tahu apa yang meracuninya?"


"Tidak. Ia sudah begitu saat aku menemukannya."


"Kapan kau menemukannya?"


"Beberapa saat yang lalu sebelum Lang Shu memanggil kalian."


Lang Yao mengangguk-ngangguk. Kemudian serigala yang sebelumnya membuat kubah maju dan membisikkan sesuatu pada kedua serigala itu. Ia sempat melirik Xika ketika berbicara. Sepertinya ia membicarakan tindakan Xika sebelumnya ketika ia memegang rumput beracun itu dengan tangan kosong.


Lang Jin mengerutkan alisnya sementara Lang Yao terlihat tertarik ketika mendengar apa yang Xika lakukan sebelumnya. Kemudian ia berjalan mendekati Xika.


"Kudengar kau memegang rumput beracun itu dengan tangan kosong."


"Ya. Ada apa?"


"Kau keberatan bila aku meminta bantuanmu?"


"Bantuan apa?"


"Begini, kami masih tidak yakin harus melakukan apa. Lang Shu sedang menghubungi para pemimpin saat ini. Kami sepakat setidaknya kami harus menghentikan lukanya agar racunnya tidak menyebar lebih banyak lagi. Tapi aku kesulitan memberikan pengobatan karena ia dikelilingi rumput beracun itu."


"Kau mau aku yang mengobatinya?"


"Kalau kau tidak keberatan. Lalu apa tanganmu baik-baik saja?"


"Ya, hanya tergores sedikit. Rumput itu memiliki duri. Aku tidak keberatan. Apa yang harus kulakukan?"


Lang Yao meminta salah satu serigala untuk mengambil tanaman yang ia butuhkan. Sambil menunggu serigala itu kembali, ia menjelaskan pada Xika kegunaan masing-masing tanaman dan bagaimana cara menggunakannya. Sebagian tanaman Xika sudah tahu sementara sebagian lagi tidak.


Sepuluh menit berlalu dan serigala itu kembali dengan beberapa tanaman di mulutnya. Xika langung mengambil tanaman itu dan berjalan menuju Han Mang. Ia mengobati pemuda itu dengan hati-hati, takut membuat lukanya lebih parah. Lang Yao berdiri dari jarak terdekat yang ia bisa sambil memberikan arah pada Xika.


Waktu kembali berlalu dan Xika akhirnya selesai mengobati luka Han Mang. Ia berjalan menjauh dan kembali pada para serigala. Yang lain menatap Xika dengan kagum karena ia benar-benar terlihat baik-baik saja meskipun telah menyentuh banyak rumput beracun. Bahkan Lang Jinpun terkejut.

__ADS_1


Kemudian pemuda itu mengerang dan membuka matanya.


"Uhhh....."


__ADS_2