Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-29


__ADS_3

Xika terbangun di hari kedua.


Benar. Ia tidur selama satu hari penuh. Mungkin sekitar 27-28 jam. Xika tidak tahu secara pasti. Ia hanya menebaknya berdasarkan jumlah kulit ular yang tersisa di tanah bekas dimakan Huo Bing.


Dan Huo Bing menatapnya dengan tatapan yang sama seperti beberapa hari lalu dengan daging ular di mulutnya.


Xika duduk, diam sebentar menatap Huo Bing, kemudian mengambil daging ular yang ada.


Tapi sebelum Xika menggigit daging yang ia pegang Huo Bing sudah bertanya, tidak bisa menahan penasaran seperti sebelumnya.


"Jadi? Apa itu teknik yang sama dengan teknik sebelumnya? Apa itu lanjutan dari Single? Apakah berikutnya akan ada Threes, Bomb, dan Group?"


Xika tidak menjawab Huo Bing. Ia menghabiskan daging di mulutnya sebelum ia bicara.


"Ya, ya, entahlah."


3 jawaban singkat untuk rentetan pertanyaan Huo Bing.


"Tidak bisakah kau jelaskan lebih dalam? Bagaimana kau melakukannya dengan tubuh seperti itu dan kesadaran yang hampir hilang?"


Xika kembali mengunyah daging di mulutnya baru menjawab Huo Bing.


"Tidak."


"....."


Huo Bing melempar kayu yang ia gunakan untuk menusuk daging ular sebelumnya.


"Sialan! Tidak bisakah kau bicara lebih panjang sedikit? Bicara itu gratis sialan!"


Xika menghindar kemudian menjawab Huo Bing.


"Tapi aku sedang makan. Lagipula bukankah aku yang seharusnya bertanya? Kenapa kau tidak membantuku sama sekali atau setidaknya bicara? Kenapa kau seolah menyembunyikan dirimu selama aku menghadapi ular sialan itu? Dan yang dimaksud aura campuran dan familiar itu dirimu bukan? Kenapa ular itu bisa mengetahuimu dan ada hubungan apa dirimu dengannya? Dan kenapa kau tidak menceritakan apapun padaku?"


Xika membalas pertanyaan Huo Bing dengan serentetan pertanyaan yang lebih panjang dan banyak.


".......se-sebaiknya kita selesaikan makan kita dulu baru bicara....."


Kini gantian Xika yang melempari Huo Bing dengan kayu.


"Sialan! Jawab saja sekarang. Kau bisa bercerita sekaligus makan pada saat yang bersamaan!"


Huo Bing menghindar kemudian menjawab,


"Baiklah-baiklah......


Kau sudah bercerita padaku tentang masa lalumu jadi sebaiknya aku juga menceritakan masa laluku."


Huo Bing menghabiskan daging di mulutnya sebelum mulai bercerita.


"Aku hanya tinggal bersama orangtuaku selama 5 tahun, sama sepertimu. Meskipun singkat tapi bagiku itu adalah 5 tahun terindah yang pernah aku miliki.


Ayahku, seperti yang kau tau, seekor angsa es. Ia cukup keras padaku. Ia sudah mengajari diriku bermacam-macam hal sejak aku kecil. Salah satunya adalah terbang.


Aku ingat sekali, ketika ayahku membawaku ke sebuah pohon yang sangat tinggi. Setelah mencapai puncaknya ia melepaskanku dari cakarnya.


Aku sangat takut saat itu. Ayahku berkali-kali berteriak menyuruhku untuk mengepakkan sayapku, namun aku terlalu takut untuk melakukannya.


Akhirnya aku jatuh dan penuh luka-luka.


Di saat itulah ibuku yang penuh dengan kehangatan menghampiriku dan memelukku.


Ia berkali-kali menghiburku dan meminta diriku untuk mencobanya lagi."


Huo Bing berhenti sebentar karena bingung melihat Xika mengangkat tangannya.


"Kenapa kau tidak terbakar ketika ibumu yang merupakan burung api memelukmu?"


Huo Bing menarik nafas dalam-dalam untuk menahan amarahnya karena pertanyaan bodoh yang Xika ajukan.


"Aku setengah Phoenix juga, sialan! Aku masih memiliki apinya."


"Lalu bagaimana dengan bagian tubuhmu yang berupa es?"


Urat-urat mulai bermunculan di kepala Huo Bing.


"Aku ini anaknya. Darahnya mengalir dalam diriku. Apinya takkan bisa melukai diriku."


"Hanya ibumu atau kau kebal terhadap semua api Phoenix?"


"Aku tidak tahu. Aku tidak pernah bertemu ataupun bertarung dengan Phoenix lainnya."


"Bukankah kau bilang klan ibumu yang merupakan Phoneix mengincar dirimu? Bagaimana bisa kau tidak pernah bertemu Phoenix lain selama hidupmu?"


"Mereka tidak ingin mengotori tangan dan reputasi mereka, jadi mereka menyewa pembunuh bayaran. Karena itu aku tidak pernah bertemu dengan mereka."


Xika mengangguk-angguk paham.


"Sekarang, aku akan melanjutkan ceritaku kalau kau tidak keberatan." kata Huo Bing dengan tatapan yang menusuk karena dari tadi Xika terus mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sangat menyebalkan baginya.


Xika tertawa sambil mengangguk.


"Sebenarnya kadang aku takut dengan ayahku. Tapi ketika aku berdiri di depannya dan menunggu hukuman darinya karena masih belum berhasil terbang, bukannya memarahiku seperti biasa atau memukulku, ia memelukku.


Ia memelukku kemudian berkata,


"Maafkan ayahmu nak. Aku tau tak seharusnya bersikap keras padamu ketika kau baru berusia 2 tahun. Tapi aku ingin memberikan yang terbaik untukmu selagi masih bisa. Mungkin kau tidak tahu, tapi waktu kita bersama tidak banyak lagi.


Jadi aku ingin melatihmu sebaik yang kubisa. Jadi ketika aku harus pergi, aku dapat meninggalkanmu dengan tenang tanpa rasa khawatir.


Tapi aku salah karena terlalu fokus dalam melatihmu sehingga terlalu keras padamu. Aku terlambat menyadari bahwa dirimu juga butuh istirahat."


Kemudian aku melihat air mata mengalir dari mata mengalir dari ayahku ketika ia melihat tubuhku yang penuh luka ditambah mukaku yang cukup kelelahan.


Aku memeluk ayahku.


"Tidak apa-apa ayah. Aku akan berlatih lagi dan tidak akan mengeluh ataupun menangis. Jadi nanti ayah dapat pergi dengan tenang, oke?"


Ayahku semakin menangis mendengar anaknya malah menghibur dirinya bukannya marah padanya atau mengungkapkan keluh kesahnya.


Sisa hari itu aku tidak berlatih. Aku menghabiskan waktu dengan ayah dan ibuku. Mendengarkan mereka bercerita tentang kisah mereka di masa lalu.


Malam itu aku tidur dengan nyenyak.

__ADS_1


Esok harinya ayah kembali melatihku, namun tidak sekeras sebelumnya."


Huo Bing berhenti sebentar untuk mengunyah daging, kemudian ia melanjutkan.


"Setelah itu ayahku semakin giat dalam melatihku, tapi masih memberikanku istirahat dan sesekali bercerita tentang masa lalunya di sela-sela latihan.


3 tahun berlalu dan aku sudah lebih dewasa dibanding burung-burung lain yang seusiaku.


Kadang mereka mengejekku karena aku mampu berpikir lebih dari yang mereka bisa dan mereka tidak mengerti perkataanku.


Lagipula, memang tidak ada yang memahamiku saat itu. Aku tidak terlalu memikirkan mereka dan tetap fokus berlatih dengan ayahku.


Dan akhirnya hari itu tiba."


Badan Huo Bing sedikit bergetar.


"Aku ingat sekali kejadian itu.


Kami tinggal di hutan sejak aku lahir, dan aku tidak pernah melihat satupun manusia.


Ketika kami hendak makan pagi sebelum memulai latihan, sebuah cahaya dengan warna yang bercampur antara merah dan biru muncul di balik gunung dekat hutan kami tinggal.


Raut muka ayah dan ibuku terkejut bercampur takut.


Mereka saling menatap kemudian sepakat untuk mengecek sinar tersebut.


Mereka meninggalkanku di sarang.


Sebelum pergi mereka membentuk sebuah penghalang disekitar sarang kami sehingga tidak ada yang bisa mendekat.


Aku menunggu dengan perasaan cemas dan khawatir.


Tidak lama kemudian aku mendengar sebuah teriakan.


Aku tidak mungkin salah. Itu suara teriakan ayahku. Setidaknya begitu pikiranku saat itu.


Aku berusaha keras untuk melewati penghalang yang dibuat oleh ayah dan ibuku.


Akhirnya aku keluar.


Dan aku langsung disambut dengan benda yang belakangan kutahu bernama jaring.


Benar. Aku ditangkap. Langsung setelah aku keluar dari sarangku.


Itu adalah pertama kali aku melihat manusia.


Mereka membawaku menuju gunung tempat cahaya itu berasal.


Sambil berjalan mereka bercakap-cakap. Dan dari pembicaraan itu aku tahu bahwa aku ditipu oleh mereka.


Mereka tahu bahwa mereka tidak bisa menembus penghalang yang dibuat ayah ibuku sehingga mereka membuatku keluar.


Suara teriakan itupun berasal dari mereka.


Aku sangat takut saat itu. Tapi aku tidak melupakan latihan yang diberikan ayahku.


Ayahku memberikanku berbagai latihan untuk menghadapi berbagai situasi. Dan salah satunya adalah situasi yang sama dengan saat itu.


Mereka tahu ketika aku terbang menjauh dari mereka, jadi aku mengeluarkan teriakan untuk mengacaukan indra mereka sekaligus memberitahu ayah ibuku.


Mereka berusaha menangkapku dengan melemparkan beberapa serangan, namun aku menghindarinya.


Aku berusaha terbang setinggi mungkin agar tidak bisa ditangkap.


Kemudian seekor burung besar berwarna biru muncul dan mencengkram tubuhku lalu membawaku pergi.


Beberapa saat kemudian aku baru menydari bahwa burung itu adalah ayahku."


"Memang memiliki otak yang kecil dan lambat." kata Xika sambil mengangguk-angguk.


"Diamlah!"


Huo Bing diam sebentar.


"Ayahku membawaku masuk ke dalam ruang yang ternyata berada di bawah gunung itu.


Aku menyaksikannya bertarung dengan berbagai mahkluk. Manusia, Spirit Beast, dan mahkluk lain yang tidak kuketahui.


Akhirnya ia membawaku bertemu ibuku yang saat itu tengah membakar musuh-musuhnya."


Huo Bing mendengar Xika mengatakan 'Wow', namun ia memilih mengabaikannya dan melanjutkan ceritanya.


"Ayahku melempar diriku yang ditangkap dengan cakar ibuku.


Ia langsung memelukku dan menggosokkan kepalanya ke tubuhku. Aku agak takut bila ia tahu bahwa aku keluar sarang dan tertangkap tapi ia tidak menanyaiku sama sekali kenapa aku bisa keluar.


Setelah melemparku pada ibuku, ayahku menyerang musuh-musung yang tersisa.


Kemudian kami terbang dan maju lebih dalam ke perut gunung itu.


Sepanjang jalan kami bertemu dengan banyak musuh, namun dengan mudah dihabisi oleh gabungan antara ayah dan ibuku.


Aku masih ingat diriku sangat senang dan bersemangat ketika melihat ayah dan ibuku melakukan serangan gabungan.


Akhirnya kami sampai di bagian perut gunung itu.


Disana aku melihat sebuah palu yang cukup besar, mungkin sebesar dirimu, dengan sisi kirinya berwarna biru sementara sisi kanannya berwarna merah." kata Huo Bing sambil menunjuk Xika.


Sementara Xika hanya mengeluarkan suara 'waw'.


"Ibuku menurunkanku kemudian agak menjauh dan bicara dengan ayahku. Posisi ayahku saat itu membelakangi diriku namun aku masih bisa mendengar suaranya, tapi tidak dengan suara ibuku.


Aku mendengar ayahku berkata,


"Ayolah, mungkin hanya ini satu-satunya yang bisa kita berikan padanya setelah latihan yang begitu berat."


"....."


"Memang aku yang melatihnya tapi kau juga setuju dengan hal itu bukan? Kalau tidak bagaimana bisa ia melarikan diri dari para pengejar itu?"


"......"


"Ehehe.... aku belum bilang ya tadi?"

__ADS_1


"....."


"Ini memang berbahaya tapi karena baru lahir senjata ini lebih mudah dibentuk."


"....."


"Kita bisa melakukannya bila kita bersama."


"......."


"Benar, kita tidak punya waktu. Tapi lebih baik memberikannya pada anak kita daripada mereka. Lagipula aku sudah lelah seperti ini. Aku sudah lelah hidup bersembunyi. Ayo kita hadapi mereka."


"..........."


Akhirnya ibuku setuju melakukan ide ayahku yang aku juga tidak tahu.


Mereka berdua terbang dan berputar, kemudian menuju palu itu dan menghancurkannya."


Huo Bing diam sebentar melihat espresi Xika yang terkejut.


"Palu itu hancur dan membentuk energi spiritual yang cukup kuat dan terdiri dari berbagai warna.


Kemudian ayahku berteriak memanggilku, lalu energi palu itu terbang menuju diriku.


Entah kenapa kali itu aku tahu bahwa aku harus menerimanya dan aku melakukannya.


Aku membuka mulutku"


"Paruh maksudmu"


"Diamlah!


Aku membuka mulut-paruhku kemudian energi itu masuk ke dalam tubuhku. Aku merasakan tubuhku sangat penuh dengan energi, namun mendadak suasananya berubah.


Ayah ibuku saling berpelukan kemudian menatap diriku.


Tatapan yang sangat memilukan.


Kemudian ayahku berkata,


"Huo Bing. Inilah hadiah serta permintaan maaf dari kami untukmu."


Aku diam tak mengerti. Aku bingung apa yang dikatakan ayahku.


Air mata mengalir di mata ayah dan ibuku.


Kemudian ibuku memelukku dan berkata,


"Sekarang kau harus pergi. Kami sudah membuat rute lari untukmu. Pergilah. Pergi dan jangan kembali."


Air mata mulai mengalir dari mataku. Aku masih tidak mengerti apa yang terjadi tapi aku tahu bahwa kami akan berpisah.


"Ta-tapi...kenapa ayah dan ibu tidak ikut bersamaku?"


"Huo Bing."


Kali itu aku melihat ayahku memanggilku dengan berbagai macam ekspresi yang bercampur mulai dari tegas, sedih, sekaligus marah.


"Kita harus berpisah. Aku sangat menyesal harus meninggalkanmu seperti ini."


Air mata mengalir semakin deras.


"Tahukah kau? Saat aku bilang bahwa aku melatihmu agar aku bisa melepasmu dengan tenang dan tidak khawatir? Itu sebenarnya bohong. Nyatanya sekeras apapun latihan yang kuberikan padamu aku akan tetap cemas meninggalkanmu sendiri.


Tapi aku harus melakukannya. Aku minta maaf.


Kalau langit mengijinkan, kita akan bertemu lagi. Tapi bila langit berkata lain, jangan mencari kami oke?"


Aku hanya diam tak menjawab maupun mengangguk. Namun air mata terus mengalir.


"Sekarang pergilah, anakku sayang. Kau sudah bebas sekarang. Tak akan ada yang menyuruhmu melakukan latihan keras yang tidak mau kau lakukan. Tidak akan ada lagi yang akan memarahimu bila kau melakukan kesalahan. Dan tak akan ada lagi yang akan datang dan melindungimu. Jadi berjanjilah bahwa kau harus kuat oke?


Pergilah dan jalani hidupmu sesuka hatimu, anakku."


Setelah mengatakan itu, ayah dan ibuku maju dan memelukku.


Aku baru menyadari bahwa air mata yang mengalir dari mata mereka sama derasnya dengan diriku.


Akhirnya dengan berat hati aku pergi meninggalkan mereka, kedua orangtua yang sangat kusayangi, melalui sebuah lorong yang telah dibuat ibuku sebelumnya.


Hal terakhir yang aku lihat adalah mereka berdua saling berpelukkan setelah itu terbang dan maju menyerang seekor ular raksasa.


Setelah hari itu aku menjalani hidupku sesuka hatiku. Aku menjalani hidupku dengan kosong tanpa ada satupun teman."


Huo Bing menyelesaikan kisahnya.


Memang saat ini dia dalam bentuk roh sehingga tidak dapat mengeluarkan air mata, tapi tubuhnya sangat samar saat ini. Bahkan berkedip beberapa kali seolah akan hilang.


Terjadi keheningan yang lama antara Xika dan Huo Bing.


Akhirnya Xika bicara.


"Huo Bing."


Huo ing menoleh.


"Ayo buat perjanjian darah denganku."


"Aku tidak punya darah sekarang."


"Kita akan menggunakan qi. Kau akan menyerap qi ku dan aku akan menyerap qi mu dan kita akan menjadi saudara."


Xika mengeluarkan semua qi nya.


"Maukah kau menjadi saudaraku?"


Huo Bing tidak menjawab karena masih terlalu sedih, tapi ia mengeluarkan qinya juga.


Kemudian mereka saling menyerap qi masing-masing sebagai ganti darah. Sebenarnya masih ada beberapa ucapan lagi yang harus dilakukan menurut perjanjian darah yang mengikat saudara. Tapi Xika merasa tidak membutuhkan ucapan-ucapan itu.


Setelah mengetahui masa lalu masing-masing yang cukup mirip, Huo Bing dan Xika merasa semakin dekat, dan kini mereka mengikat perjanjian darah. Dan fakta bahwa mereka adalah saudara sekarang membuat luka di hatiĀ  mereka masing-masing terobati.


Setelah hidup begitu lama seorang diri, akhirnya mereka memiliki teman. Teman yang akan selalu bersama dalam suka dan duka sampai akhir hayat.

__ADS_1


__ADS_2