
"Pergilah kau!"
"Dasar iblis! Kami tak mau bermain denganmu!"
"Ibuku bilang kau membawa kutukan kemanapun kau pergi."
Itulah yang selalu kudengar. Mereka menyebutku iblis. Penyihir. Gadis gila. Entah apa lagi. Sudah terlalu banyak sebutan 'ramah' yang diberikan padaku. Aku tak ingat banyak hal. Bagaimana aku lahir. Setiap kali aku menanyakan itu pada orangtuaku, mereka memasang wajah rumit yang pada akhirnya mengalihkanku pada pembicaraan lain.
Aku tak mengerti kenapa fisikku berbeda. Ayahku memiliki mata kehijauan dan ibuku memiliki mata kebiruan. Apakah ibuku menurunkan matanya padaku? Lalu mengapa rambut mereka tak menurun padaku? Keduanya berambut normal, hitam dan coklat.
Lantas mengapa rambutku putih? Rambut ini selalu membawa masalah kemanapun aku pergi. Pernah sekali aku memotong habis rambutku hingga tak bersisa. Kupikir setelah itu aku tak akan mendengar sebutan-sebutan itu lagi. Tapi nyatanya aku salah.
Tak peduli bagaimana rambutku, mereka selalu menyebutku begitu. Tak peduli apapun yang kulakukan, apapun yang kukatakan, tak akan ada yang berubah.
Kalau perkataan dan tindakanmu tidak mengubah apapun, mengapa kau harus memperhatikannya? Jadi aku mulai bertindak sesukaku. Hasilnya? Luar biasa. Sebutan yang kuterima bertambah dua kali lipat. Terserah. Aku tak peduli. Apapun yang kulakukan tak akan membuat mereka berhenti membedakanku.
Samar-samar, entah sejak kapan aku sadar bahwa aku berbeda. Mereka tidaklah sama denganku. Tidak ada yang sama denganku. Dan semuanya menyadari hal itu. Orangtuaku, anak sesusiaku, bahkan orang-orang yang lebih dewasa sampai binatang-binatangpun merasakan betapa berbedanya diriku.
Aku tak mengerti. Bukankah berbeda itu baik? Itulah yang sering dikatakan seorang pemimpin. Kalau begitu bagaimana denganku? Mengapa tidak ada yang menganggapku baik?
Aku selalu mendapat perlakukan tidak baik kemanapun aku pergi. Sekalipun mereka tahu siapa orangtuaku. Katanya, ayah dan ibuku cukup terkenal. Siapapun yang mendengar nama mereka akan ketakutan dan tunduk. Tapi menurutku mereka tidak seterkenal itu.
Kalau tidak, mengapa aku masih diperlakukan seperti ini sekalipun aku adalah anak mereka? Sudah sejak lama aku memperhatikan kedua orangtuaku. Memang, mataku biru seperti ibu. Tapi biru yang kami miliki adalah biru yang berbeda. Aku tidak tahu bagaimana aku hanya.....tahu begitu saja.
Selain dari mata, aku tak menemukan kesamaan lain pada diriku dengan orangtuaku. Aku bahkan curiga bahwa mereka bukanlah orangtuaku. Normalnya, seorang anak akan mirip dengan salah satu orang tuanya, entah itu ayah atau ibu.
Lalu bagaimana dengan diriku? Mengapa aku tak mirip satupun dari mereka? Apa benar aku anak mereka? Aku mulai meragukan hal itu.
Entah sejak kapan, aku mulai mengamati segala sesuatu di sekitarku. Aku mencari sesuatu, apapun, yang sama denganku. Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya tapi aku memang berbeda dari.....semuanya. Semua hal yang kutemui seolah-olah menolakku.
Seolah-olah aku bukanlah dari dunia mereka, seolah-olah kami dari dunia yang berbeda. Bahkan binatang-binatang mulai menjauhiku.
Mungkin karena itu aku mulai menutup diriku. Aku mulai jarang bicara. Memangnya untuk apa kau bicara kalau tak ada yang mempedulikan?
Bersikap dingin. Sebagaimana dunia menolakku, demikian juga aku menolak dunia. Aku menolak siapapun untuk menyentuhku, tidak peduli perempuan atau pria, manusia atau hewan, aku menolak semuanya. Kecuali ayah dan ibuku.
Mereka tahu aku berbeda dengan mereka. Tapi setidaknya merekalah satu-satunya tempatku pulang. Tidak peduli berapa banyak yang meragukan, bahkan sekalipun aku sendiri meragukan diriku, mereka selalu berkata, "Kami mencintaimu, Putri Kecil."
Putri Kecil. Demikianlah mereka selalu memanggilku. Mungkin tetanggaku lebih suka 'Iblis Kecil' alih-alih 'Putri Kecil'.
Mereka menyembunyikan sesuatu. Orangtuaku. Sesuatu yang hanya diketahui mereka berdua. Bahkan diriku tak mengetahuinya. Tapi entah bagaimana aku tahu 'sesuatu' itu terkait denganku. Dan sebagaimana aku tahu hal itu terkait denganku, aku juga tahu bahwa mereka menyembunyikan hal itu demi diriku. Aku percaya mereka melakukan itu untuk kebaikanku, sekalipun aku tetap penasaran.
Usia 8 tahun, aku mengikuti semacam kompetisi yang menawarkan kekuatan, ketenaran, dan kejayaan abadi. Aku tak peduli dengan ketenaran, lagipula aku sudah tenar sejak aku hidup. Tapi kekuatan dan kejayaan. Kupikir itu akan membuat orang-orang berubah. Kupikir mereka akan memandangku dengan cahaya yang sama sekali berbeda.
Tapi nyatanya aku salah. Alih-alih berubah, justru mereka mempelakukanku semakin buruk. Tidak cukup hanya diriku, mereka bahkan mengincar orangtuaku juga. Menghina mereka. Menyebutku curang karena menggunakan kekuatan iblis untuk memenangi kompetisi itu, atau menyebutku menang karena pengaruh orangtuaku.
__ADS_1
Setidaknya saat ini aku punya kekuatan bukan? Aku bisa membungkam mereka semua. Tapi orangtuaku pasti tak akan setuju akan hal itu. Malahan, itu akan membuat mereka benar-benar meyakini aku adalah iblis dan orangtuaku telah dikutuk.
Daripada ketenaran dan kejayaan abadi, kekuatan ini malah memberiku sebuah beban. Dia, yang memberiku kekuatan ini, mengatakan bahwa aku telah ditakdirkan untuk kekuatan ini. Ia juga mengatakan bahwa sebagaimana diriku ditakdirkan untuk kekuatan ini, aku juga ditakdirkan untuk menyelesaikan nasib yang tak pernah diselesaikan para pemilik kekuatan ini.
Aku memutuskan untuk mengabaikan hal itu. Masalahku saja belum selesai, untuk apa aku mengurusi masalah orang lain?
Tapi kekuatan itu telah diberikan padaku. Aku tak bisa mengembalikannya. Cepat atau lambat, suatu saat aku akan menyelesaikan masalah yang dibebankan padaku itu. Begitulah yang dikatakan dia, yang memberiku kekuatan ini.
Kekuatan ini sebenarnya cukup berguna dan praktis. Tapi mengingat beban yang kutanggung membuatku enggan menggunakan kekuatan ini. Ayah dan ibuku tak mengatakan apa-apa tentang hal ini. Tapi wajah mereka begitu rumit ketika membahas masalah ini.
Setahun berlalu dengan kekuatan baru ini dan aku menyadari adanya daerah lain di luar rumahku. Sebuah dunia lain yang sama sekali tak kuketahui. Dan kupikir, mungkin saja diluar sana ada yang sama sepertiku.
Jadi aku mulai meminta izin untuk berkelana, dengan perkiraan waktu yang tidak diketahui dan tentu saja mereka mereka menolaknya. Berbagai alasan diberikan, masih terlalu muda, terlalu lemah, tidak mengetahui kejamnya dunia luar, tidak bisa melepasku pergi, dan banyaknya masalah yang bisa kutimbulkan tanpa kuketahui. Aku tak tahu yang mana yang benar, mungkin semuanya.
Lalu aku meminta mereka mengajariku tentang dunia luar, mempersiapkanku agar bisa menjelajah dengan baik. Dengan enggan mereka mengajariku. Wajah enggan mereka ketika mengajar masih kuingat setelah bertahun-tahun aku pergi.
Butuh satu tahun agar mereka melepasku. Itupun setelah aku membujuk mereka berbulan-bulan lamanya. Pada akhirnya mereka mengijinkanku pergi. Membekaliku berbagai nasehat dan memberiku beberapa kata mutiara yang akan selalu kuingat.
Ayah dan ibuku memutuskan untuk pergi juga di waktu yang bersamaan ketika aku pergi. Mereka tidak tahan lagi dengan perlakuan buruk yang mereka terima disana. Dulu mereka memuja ayah dan ibuku, kini mereka menghinanya. Sekali itu aku bersyukur aku berbeda dari mereka.
Ayah dan ibu memutuskan untuk membangun rumah di tengah hutan. Sebenarnya mereka lebih nyaman seperti itu. Hanya saja mereka memaksakan diri tinggal di kota agar memberiku lingkungan yang nyaman, sayangnya hal itu malah memberiku pengalaman buruk.
Yah, aku tak menyalahkan mereka. Mereka merencanakan yang terbaik untukku, tapi mereka tak bisa menebak masa depan. Hati manusia juga hampir sama sulitnya ditebak seperti masa depan.
Aku mulai menjelajah. Awalnya aku tak percaya bahwa dunia luar sekejam yang dikatakan ayah. Tapi ternyata ia benar. Ia memberiku pelajaran pertama dan yang (menurutnya) paling penting. Jangan biarkan wajahku dilihat orang. Kupikir itu karena wajahku dapat memicu kemarahan orang.
Setelahnya mulai banyak pria yang berdatangan dan memperlakukanku dengan baik. Setelah bertahun-tahun kau diperlakukan sebagai iblis yang membawa kutukan, lalu mendadak mendapat perlakuan baik, tentu saja itu hal yang menyenangkan.
Tapi lama-kelamaan aku jadi benci dengan mereka. Seiring bertambahnya usiaku, aku tahu berbagai hal yang tak pernah dijelaskan orangtuaku. Dan kini aku menyadari alasan mengapa mereka memintaku tidak membiarkan wajahku dilihat.
Aku berkelana ke berbagai kota hanya untuk menemui mereka yang menatapku seperti itu. Memikirkan dulu aku pernah menyukai tatapan mereka itu membuatku muak. Sebelum aku mulai berkelana, pikiranku dipenuhi dengan berbagai kemungkinan menyenangkan seperti ternyata aku tidak sendiri dan masih banyak lagi yang sama sepertiku.
Sayangnya, kejamnya dunia telah melemparku kembali ke realita. Aku tak menemukan satupun yang sama denganku. Bagaimana mengatakannya ya? Aku berbeda. Aku masih manusia seperti layaknya manusia lain, tapi diluar itu ada hal yang berbeda dariku. Mengenai apa yang berbeda, aku tak bisa mengatakannya.
Sebelum pergi, ibu memberiku kalung cantik berwarna perak, sama seperti rambutku. Ia mengatakan satu-satunya petunjuk untuk mencapai tujuanku adalah kalung itu. Sepertinya ia juga sadar mengapa aku ingin berkelana. Kalung itu memberiku perasaan familiar yang membuatku yakin bahwa aku tidak sendirian. Masih ada lagi yang sama sepertiku.
Setiap kali aku hendak menyerah, aku menatap kalung itu dan membangkitkan kembali tekadku. Lama kelamaan aku mengingat aura familiar itu diluar kepalaku. Kalau ada yang memiliki aura sama, pasti aku akan mengenalinya. Tapi sayangnya tak ada.
Lima tahun aku berkelana hingga sampai pada sebuah gunung aneh yang memberiku perasaan teramat familiar. Aku berusaha mencari asal dari aura familiar itu. Entah aku berhasil menemukannya atau tidak.
Di tengah pencarianku akan asal dari aura itu, aku menemukan seorang pria. Ia tidak mengenakan pakaian, entah apa yang dilakukannya di tengah sungai. Selama aku berkelana, aku tak pernah menemui satupun pria yang baik. Jadi pastilah pria ini juga sama dengan mereka yang menatapku dengan pandangan menjijikan.
Kalau tidak, apa yang ia lakukan di tengah sungai tanpa mengenakan pakaian? Lantas aku menyerangnya. Hebatnya ia cukup pandai menyembunyikan diri. Mungkin itulah yang selalu dilakukan pria. Bersembunyi saat ada sesuatu yang lebihb kuat dari mereka.
Lalu tidak lama setelahnya lubang hitam muncul dan menyerapku. Lubang hitam itu terlihat mirip, mirip sekali dengan kekuatanku, yang kudapatkan bertahun-tahun lalu tapi memberikan perasaan berbeda. Dan aku tahu bahwa mahkluk apapun yang terikat dengan nasib pemilik kekuatanku, pastlah ada di dalam lubang itu.
__ADS_1
Bertahun-tahun berkelana bukan tidak membuahkan hasil. Sedikit banyak aku tahu tentang nasib yang kuemban setelah menerima kekuatan itu.
Di dalam lubang itu, terletak dunia lain yang dipenuhi dengan mahkluk aneh. Semuanya memancarkan aura serupa dengan kekuatanku, tapi juga memancarkan aura permusuhan.
Di sana, aku bertemu lagi dengan pria itu. Sekali lagi, aku menyerangnya. Ia menyembunyikan kekuatannya dan begitu juga diriku. Aku cukup terkejut ketika sadar bahwa ia cukup hebat. Senjatanya yang dapat berubah-ubah itu aneh, dan senjata lainnya-kartu-tidak kalah aneh.
Aku sudah melihat berbagai macam senjata. Aku bahkan pernah melihat seseorang bertarung menggunakan sendok dan garpu, tapi kartu? Aku tak pernah melihat itu sebelumnya.
Setelah bertarung dengan pria itu, aku menyadari hal yang aneh. Ia tak menatapku sebagaimana pria lain menatapku. Lalu di tengah pertarungan kami, mahkluk-mahkluk aneh penghuni dunia itu muncul dan mengganggu kami.
Aku kalah jumlah. Sehebat apapun diriku, tetap tak bisa melawan sepasukan mahkluk aneh bin ajaib. Lalu pria itu mendekatiku. Kupikir ia hendak mencari kesempatan dalam kesempitan jadi kuarahkan pedangku padanya. Anehnya, ia bersikeras mendekatiku, dan akhirnya aku tak bisa menghindari kartunya hingga menempal di kedua lengan dan kakiku.
Lalu ia membawaku pergi melayang ditopang oleh kartunya dan entah bagaimana ia mengalihkan perhatian mahkluk-mahkluk aneh itu. Sebelumnya, pria itu juga telah membantuku menghalau serangan. Biasanya, setelah melakukan itu, pria akan minta hal-hal yang kurang ajar sebagai gantinya.
Tapi di matanya aku tak melihat adanya tuntutan atas jasa menyelamatkan nyawaku. Bahkan, aku curiga ia tidak sadar telah menyelamatkanku. Ngomong-ngomong, penerbangan yang dilakukannya cukup nyaman. Ia tidak menyentuhku sama sekali. Itu hal yang patut diapresiasi.
Setelah kejadian itu kami memutuskan untuk gencatan senjata dan menghadapi mahkluk aneh itu bersama. Setelah bersamanya beberapa saat, aku menyadari bahwa ia berbeda dari pria manapun yang telah kutemui. Ia mengajariku memasak yang bukan keahlianku sama sekali.
Waktu berlalu dan aku memutuskan bahwa aku tak perlu mengacungkan pedangku, kecuali pada saat-saat tertentu ketika ia berbicara macam-macam. Kemudian seekor serigala aneh nan menyebalkan muncul dan membawa pria itu pergi.
Aku berusaha keras mencarinya, entah mengapa, dan ketika aku menemuinya, ia sedang dalam kondisi yang tidak baik. Auranya berantakan. Aku bisa merasakan itu. Di depannya, berdiri seekor serigala.
Tanpa pikir panjang, kuacungkan pedangku padanya. Entah karena insting bawaan akibat kekuatanku atau karena pria itu. Yah, ia teman yang baik dan layak dilindungi.
Setelahnya terjadi beberapa kejadian aneh yang masih tak bisa kumengerti. Tapi kami berpisah tidak lama setelah itu. Tampaknya pria itu masih belum sadar bahwa ia telah menyelamatkanku.
Beberapa saat berlalu dan perjalananku menuntunku pada sebuah akademi. Kupikir aku bisa mempelajari beberapa hal jadi aku menetap di sana. Dan pria itu datang. Ia menyebabkan rumor yang tak bisa tidak didengar sekalipun kau menolak untuk mendengarnya pada hari pertama ia datang.
Aku masih ragu akan pria itu. Tapi aku bergerak tanpa pikir panjang ketika ia sedang bertarung. Setelahnya banyak rumor beredar mengenai kami. Terserah. Aku sudah biasa dengan rumor.
Kami melewati beberapa hal di akademi. Bukan pengalaman yang buruk. Lalu pria itu mulai memancarkan aura yang sama yang dipancarkan kalungku. Aku tak mungkin salah mengenalinya. Aku sudah memeriksa kalungku dan aura yang dipancarkan pria itu sama.
Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku sudah mencari mereka yang memiliki aura itu, mereka yang sama denganku tapi tak pernah menemukannya. Kini di depanku berdiri seorang yang telah kucari selama ini dan aku tak tahu apa yang harus kulakukan.
Jadi dengan bodohnya aku memintanya berjanji untuk tidak meninggalkanku. Ia memintaku menjanjikan hal yang sama sebagai gantinya, cukup adil. Dan kami berjanji satu sama lain tepat setelah temannya yang ternyata adalah musuh bebuyutan dari kekuatanku hendak membunuhku.
Awalnya perasaan itu hanya samar. Kemudian ketika pria itu melatih teknik barunya yang ada kaitannya dengan namaku dan namanya (aneh sekali bahwa nama kami mengandung huruf yang sama) auranya makin kuat. Aku memutuskan untuk pindah agar bisa bersama pria itu, mungkin bisa dibilang aku takut ia pergi?
Temannya, yang adalah musuh bebuyutanku, tampaknya curiga dengan diriku. Bisa kupahami, bagaimanapun kami adalah rival satu sama lain. Bodoh kalau kami tidak mencurigai satu sama lain.
Lalu setelah kembali ke kamar, pria itu melakukan hal bodoh entah apa yang sepertinya tak terlalu penting lagi sekarang. Di depan kamarku, tepat di hadapanku tubuhnya bersinar dan memancarkan aura yang sama persis dengan kalungku bahkan lebih kuat.
Tanpa bisa menahan diri, aku memeluknya. Air mataku tumpah tanpa bisa kubendung. Di pelukannya, aku menangis dan meluapkan semua emosi yang kutahan selama ini. Kejamnya dunia ini dimana aku tidak bisa mengeluh pada siapapun, masa kecilku yang buruk, berbagai perlakuan dan hinaan buruk yang kuterima, semua tatapan buruk yang kuterima baik dari pria maupun wanita kemanapun aku pergi, semuanya kutumpahkan di bahunya, bagaikan anak kecil yang mengadu pada orangtuanya.
Entah itu adalah tindakan yang bijak atau bodoh tapi aku sudah tak peduli lagi. Setelah sekian lama aku mencari, sekian lama aku berkelana, sekian lama aku menderita kesepian, kesendirian yang tak akan dimengerti seorangpun, akhirnya aku menemukan seseorang yang bisa mengerti apa yang kurasakan selama ini.
__ADS_1
Tanpa bicara sekalipun, aku tahu ia pasti mengalami hal yang sama denganku. Itulah yang membuat kami sama. Lalu kelopak mataku terasa berat dan duniakupun menggelap.
Hal terakhir yang kuingat sebelum jatuh tertidur adalah pria itu, Xing Xika.