
"Apa yang terjadi? Mengapa mereka terjatuh tiba-tiba? Apa mereka diserang?"
"Benar. Sekilas aku melihat sesuatu berwarna hitam yang menusuk keenam orang itu. Walau tak jelas, tapi aku yakin benda hitam itulah yang membuat kawan kita jatuh."
"Lalu bagaimana kedua orang bodoh itu bisa menghilang? Aku yakin mereka bahkan kesulitan untuk berdiri, apalagi berlari."
"Angin. Tidakkah kau merasakan angin kencang yang berhembus sebelumnya? Timingnya sangat tepat. Pertama, musuh melancarkan benda berwarna hitam itu. Setelah itu menghembuskan angin yang kencang, dan berikutnya? Dua orang bodoh itu hilang."
"Apa? Tunggu. Kalau begitu maksudmu.....mereka tidak sendiri?"
"Sepertinya begitu." ucap pria pertama yang membuat analisis menjawab kawannya.
"Heh, tak ada gunanya. Mau datang satu atau dua lagipun sama saja. Bahkan mereka berdelapan datang bersamaan saja tetap tidak akan bisa mengalahkan kita. Paling-paling kita hanya perlu memanggil bala bantuan."
"Chong Shi, jangan meremehkan musuh. Apa kau tidak ingat kenapa kelompok kita ini terbentuk? Untuk mengimbangi kelompok lawan yang terlalu kuat, itulah alasan kelompok kita dibentuk. Sekalipun sombong dan bodoh, tapi kedua orang yang tadi juga bukan orang biasa. Bahkan dalam keadaan babak belur seperti itu mereka masih bisa menjatuhkan lima sampai enam orang kita. Bisakah kau melakukan itu ketika kau sekarat, Chong Shi?"
Pria yang dipanggil Chong Shi hanya diam tak menjawab pria analisis. Mereka baru masuk beberapa meter ke hutan ketika seseorang berteriak.
"Awas!"
Dari atas, terlihat ratusan panah hitam yang mengarah pada kelompok pengejar. Langit malam itu memang cukup gelap, tapi bulan tetap bersinar. Namun ratusan panah hitam itu kini menutupi sinar bulan sehingga penerangan semakin minim.
"Menghindar!"
Entah siapa yang mengucapkan itu, tapi yang pasti hanya satu kata berhasil membuat tim pengejar kebingungan dan panik. Tak adanya bulan merupakan hal yang tak mereka duga. Sementara sang pria analisis mengerutkan keningnya. Ia merasakan hal lain yang datang.
"Ada yang tidak beres. Abaikan panah itu! Panah itu hanya jebakan!"
Tapi ia terlambat. Sesaat setelah ia berteriak, sisa kelompoknya yang berhasil menghindari panah hitam ditusuk oleh duri-duri hitam dari bawah. Nan Hai, pria yang membuat analisis sebelumnya, berhasil menghindar baik dari panah maupun dari duri-duri, tapi anggota kelompoknya yang lain tak seberuntung itu.
"Ck." Nan Hai berdecak kesal melihat anggota kelompoknya yang lain. Panah dan duri itu memberikan luka yang lumayan untuk kelompoknya. Bagi yang beruntung, panah dan duri itu tidak melukai titik vital. Bagi yang tidak beruntung, titik vital mereka terluka, dan mereka hanya akan menjadi beban bila terus mengejar.
Selain itu, sekalipun tidak mengenai titik vital, tapi panah dan duri itu cukup mengurangi kekuatan tempur mereka. Sambil menggertakkan giginya dengan kesal, Nan Hai berteriak,
"Mundur! Biarkan kelompok lain yang mengejar mereka! Pulihkan diri dulu!"
Tak ada yang menolak, tentu saja. Sebagian besar anggota kelompoknya hanya memiliki kekuatan tempur rata-rata. Kalau tidak bergabung dengan kelompok lain, mengejar Xika sama saja dengan bunuh diri. Jadi sisa kelompok Nan Hai mundur dengan patuh.
Dari balik semak-semak, sepasang mata mengamati mundurnya kelompok pertama. Helaan nafas lega keluar dari mulutnya begitu ia melihat kelompok lawan mundur. Li Tang memberikan tanda pada Xika sebelum mengambil sebutir pil untuk memulihkan qinya. Selanjutnya, ia harus bersiap untuk serangan berikutnya.
Srak!
Li Tang kembali memunculkan berbagai bayangan dan membentuk sebuah perangkap. Tepat setelah ia selesai, kelompok berikutnya muncul. Kali ini tiga kelompok sekaligus. Li Tang menelan ludahnya. Tampaknya kali ini akan ada banyak yang lolos dari perangkapnya.
Syut!
Ia mundur untuk mencari tempat yang lebih nyaman untuk bertarung. Untungnya, pakaian hitamnya memudahkannya untuk bergerak tanpa terlihat oleh lawan.
__ADS_1
"Cari mereka! Mereka pasti belum jauh! Jangan tertipu dengan banyaknya serangan yang datang! Ingat jumlah mereka hanya delapan orang! Minus dua orang yang sebelumnya bertarung, mereka tak bisa memberikan serangan berarti. Serangan berdampak luas itu hanya tipuan untuk membuat kita gentar!"
Li Tang menggertakkan giginya karena lawan dengan cepat menyadari siasatnya. Tapi di dalam hati ia tersenyum. Jumlah mereka saat ini memang tidak maksimal, tapi biar ia tunjukkan bahwa tak perlu kekuatan penuh hanya untuk menyapu ikan teri.
SYUT!
Berbagai sosok melesat ke sana kemari mencari keberadaan Xika dan lainnya. Tapi bukan Xika yang mereka temui beberapa saat kemudian. Hal itu bisa dipastikan dengan terdengarnya teriakan pilu dan kesakitan di sana-sini.
JLEB!
SLASH!
BRET!
"Sial........sebenarnya benda apa......yang menusukku......?"
"Ada.....perangkap......hati...hati........."
"Ada perangkap! Hati-hati ada perangkap! Gelapnya malam membuat bentuknya tersamarkan. Cari dengan hati-hati, jangan sampai terjebak!"
Li Tang tersenyum tipis. Karena jebakannya sudah ketahuan, maka sebaiknya ia menarik jebakannya. Di saat musuh sedang berhati-hati karena tidak ingin terkena jebakannya, di saat itulah ia memberikan serangan dari arah yang tak terduga. Lagipula perangkap memang bukan tujuan utamanya sejak awal. Ralat, tujuan Xika.
Syut!
JLEB!
"Hati-hati! Perangkapnya bisa bergerak! Waspada dengan sekitar!"
"Di sana! Aku melihatnya! Pria berbaju hitam! Mungkin ia yang menaruh perangkap ini dari tad-"
JLEB!
Sebelum pria itu menyelesaikan ucapannya, Li Tang telah menusuknya lebih dulu. Kemudian, ia melompat keluar dari tempat persembunyiannya. Karena sudah ketahuan, maka tak ada gunanya lagi bersembunyi.
"Di sana! Kepung dia!"
Syut!
Sebuah pukulan melayang menuju kepala Li Tang. Ia memiringkan kepalanya kemudian balas menendang. Sayangnya, lawannya kali ini lebih hebat daripada anggota kelompok Nan Hai sebelumnya. Semua serangannya berhasil dihindari atau setidaknya dihindari oleh lawan.
Tapi keadaan semakin lama semakin tidak menguntungkan bagi Li Tang karena semakin banyak musuh yang berkumpul. Untunglah, ia bertarung di malam hari yang menyamarkan tekniknya. Sambil menghindari serangan musuh dan memberikan serangan balasan sesekali, Li Tang meluncurkan duri bayangan dari belakang lawannya.
Gelapnya malam membuat duri-duri dan teknik bayangan lainnya hampir tidak kelihatan.
Syung!
DUAK!
__ADS_1
Tapi tentu saja, bagaimanapun juga Li Tang kalah jumlah. Saat ini kira-kira ia sedang bertarung melawan dua puluh orang. Wajah dan tubuhnya penuh dengan memar. Sekarang ia mengerti mengapa Xika meminta mereka mundur. Apa Xika juga sudah menghadapi mereka sebelumnya? Ia tak bisa membayangkan musuh macam apa yang dilawan Xika dan bagaimana ia melarikan diri.
'Xika, dimana kau? Cepatlah karena aku tidak yakin bisa bertahan lebih lama lagi!' batin Li Tang dalam hatinya.
Whush!
Sebuah pukulan menargetkan belakang kepala Li tang. Ia menyadarinya, tapi tak mampu menyadarinya. Ia sibuk menangkis serangan lain.
Set!
Li Tang menutup matanya. Beberapa saat kemudian suara pukulan terdengar, tapi ia tidak merasakan sakit. Ketika ia membuka matanya, seorang pria telah terjatuh. Li Tang spontan menyeringai.
"HEAH!"
Ia kembali melayangkan serangan. Kali ini, pertahanannya terjaga dengan baik, juga ia bisa memberikan serangan dengan lebih efektif. Hal itu membuat musuh-musuhnya kebingungan. Yang bertarung hanya satu orang, tapi mengapa suara pukulan yang terdengar banyak sekali? Kenapa rasanya mereka seolah sedang bertarung denganĀ orang banyak?
Syut!
Satu lagi pukulan mengenai lawannya dengan telak. Kini hanya tinggal lima atau enam orang dari total tiga kelompok yang mengejar. Strategi Xika berhasil. Tapi ada juga faktor lain yang membuat rencana Xika berjalan lancar. Tapi itu akan kita bahas nanti.
"M-mundur! Panggil bala bantuan!"
Li Tang menjatuhkan satu orang lagi sebelum Xika menghentikannya. Di depan matanya, Li Tang melihat Xika mendadak muncul padahal sebelumnya ia tidak ada di sana. Hampir saja ia berteriak karena kaget.
"Itu sudah cukup. Kita harus mundur sekarang dan membuat jarak dengan mereka. Semakin jauh jarak kita dengan mereka semakin sulit mereka menemukan kita."
Li Tang mengangguk kemudian mengikuti langkah Xika dan pergi ke dalam hutan. Ia mengobrol dengan Xika menggunakan suara kecil di perjalanan.
"Tadi itu cukup menegangkan. Tapi tidakkah menurutmu itu terlalu mudah? Atau kekuatan mereka memang hanya segini?"
Xika mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Li Tang. Jujur, ia juga tak menyangka rencananya akan berjalan selancar ini. Ia bahkan sudah bersiap dengan satu dua kemungkinan yang tak diinginkan. Rencana kali ini berjalan lancar karena lawan mereka terlalu mudah. Berbeda dengan pria-pria berjubah putih yang Xika lawan sebelumnya.
"Ada dua kemungkinan." jawab Xika setelah diam beberapa saat. "Aku pernah melawan mereka sebelumnya. Mereka lebih tangguh dari kelompok yang barusan kita lawan. Aku dan Liang Jihua bahkan nyaris tidak berhasil kabur."
Li Tang membelalakkan matanya tidak percaya. Rasanya sulit membayangkan Xika yang penuh dengan rencana ini hampir tidak bisa kabur, apalagi ia ditemani Liang Jihua waktu itu.
"Aku tidak berbohong." Ucap Xika yang menyadari makna di balik tatapan Li Tang. "Tapi tentu saja aku juga melakukan kesalahan." Setelah mendengar kalimat itu Li Tang langsung menghembuskan nafasnya. "Aku baru menghabiskan tenagaku dan sedang mengejar seorang yang kabur.
Siapa yang tahu bahwa orang tersebut ternyata menuntunku ke markas musuhnya? Aku dan Liang Jihua saat itu sudah menggunakan sebagian besar Qi kami jadi kami cukup kesulitan untuk kabur. Tapi fakta bahwa kemampuan lawan yang kulawan sebelumnya dengan yang sekarang berbeda jauh tidak berubah."
"Lalu? Kau mengatakan ada dua kemungkinan bukan? Jelaskan padaku."
"Yang pertama, mereka sengaja membuat anggota mereka yang cukup kuat untuk bertarung padaku, yang mungkin adalah lawan pertama mereka. Sepertinya mereka tahu aku dapat menyebarkan kabar pada kalian, jadi mereka membuatku melawan anggota yang cukup kuat agar aku berpikir bahwa masih banyak anggota lainnya yang sekuat mereka dan membawa kalian mundur."
Li Tang mengangguk-ngangguk. "Cukup masuk akal. Yang kedua?"
"Yang kedua adalah, mereka sengaja membuat kita bertarung dengan anggota mereka yang lemah. Tujuannya antara membuat kita merasa bangga dan berpikir 'Oh? Hanya segini saja kemampuan mereka?' kemudian menusuk kita disaat lengah dengan anggota kuat mereka atau membuat kita pusing sehingga tidak dapat mengambil kesimpulan."
__ADS_1
Kali ini Li Tang mengerutkan keningnya. "Yang ini juga masuk akal. Menurutmu yang mana yang benar?"
"Aku punya tebakan. Tapi mari kita pastikan dengan kelompok berikutnya." Ucap Xika berhenti menatap kerumunan orang yang lumayan jauh darinya.