Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-218


__ADS_3

Di sebuah kediaman murid di Akademi Mu Zhan, terlihat seorang pria besar dengan ekspresi bangga sedang duduk di sebuah kursi mewah, menatap seorang bawahannya yang tengah melaporkan berita sambil berlutut.


"Da Ge, beberapa hari ini ada seorang murid kurang ajar yang menantang Seratus Terkuat. Menurut kabar, ia belum genap satu bulan bergabung dengan akademi. Dan murid itu juga mengatakan bahwa ia akan menghancurkan Seratus Terkuat."


Pria besar itu terdiam beberapa saat sebelum kembali bicara. Kali ini wajahnya dipenuhi ekspresi bejat seorang bajingan sejati.


"Apa ia perempuan? Bagaimana wajahnya?" ucapnya sambil menjilati bibirnya.


"B-bukan. Ia adalah seorang lelaki. Namanya Xing Xika."


"Cuih!"


Pria besar itu meludah tepat ke depan bawahannya, membuat pria malang itu kaget namun tak berani beranjak pergi.


"Kau sudah tahu apa yang harus dilakukan." ucapnya kehilangan minat.


"T-tapi, Da Ge......Kabarnya anak ini luar biasa. Teman-temannya juga tidak kalah luar biasa. Dan yang paling penting.......katanya anak ini berhasil menjinakkan Yin Xingli."


Wajah pria besar itu yang semula kehilangan minat kini kembali tertarik.


"Oh? Yin Xingli yang itu?"


"Benar, Da Ge. Salah satu dari Empat Gadis Tercantik di Ibukota."


"Menarik." ucap pria besar itu dengan sorot tertantang sambil menjilati bibirnya.


------------------------------------


Tiga hari berlalu sejak Penatua Fen meminta Xika melarikan diri. Sesuai dugaan Xika, Jing Wei tak menyerahkannya. Ia sempat melihat beberapa orang yang terlihat menyebalkan keluar dengan kesal dari Gedung Utama saat sedang berjalan-jalan.


Yah, meskipun hidupnya masih tak bisa dikatakan damai. Entah mengapa, sejak ia bertarung bersama Xingli melawan satu penginapan, semakin banyak 'semut-semut' yang menantangnya. Beberapa memiliki kemampuan yang luar biasa, tapi pada akhirnya tetap Xika yang menang.


Terakhir, ia melawan beberapa orang yang menyebut peringkat mereka dalam Seratus Terkuat. Xika tak terlalu ingat peringkat berapa mereka. Sekitar 30-40 an? Yang pasti ia telah mengalahkan mereka. Tapi semakin lama yang datang semakin kuat.


Ia masih belum tahu batas kemampuannya, tapi sepertinya tak akan lama lagi sampai ia mengetahuinya kalau situasi ini terus berlanjut. Xika ingat salah seorang bajingan yang ia kalahkan mengatakan bahwa Sepuluh Besar semuanya berada di tingkat Forming Qi 9.


Saat ini ia masih di tingkat Forming Qi 6. Beberapa saat yang lalu ia baru menerobos. Tampaknya mustahil untuk menerobos lagi dalam waktu dekat sekalipun berlatih seperti orang gila menggunakan lubang hitam. Haruskah ia menggunakan pil?


Sepertinya sudah cukup lama sejak terakhir kali ia menggunakan bantuan pil untuk menerobos, bahkan bisa dibilang belum pernah.

__ADS_1


Jadi setelah mengalahkan beberapa pria yang berada di peringkat akhir 20-an, Xika berjalan pulang. Mereka berada di tingkat Forming Qi 8. Pertarungan yang cukup sulit apalagi mereka berkelompok sementara ia hanya seorang diri. Mereka berhasil merobek sebagian besar bajunya dan memberikan luka, tapi tak ada yang serius.


Ia ingin meminta resep pada Heiliao. Sebenarnya ia bisa menanyakannya sekarang juga karena entah bagaimana masih ada hubungan antara dirinya, Huo Bing, dan Heiliao. Semacam benang yang menghubungkan ketiga jiwa mereka. Hanya saja agak merepotkan bicara dengan telepati, jadi lebih baik bertemu langsung.


Semenjak Xika mulai bertarung habis-habisan dengan Seratus Besar akhir-akhir ini, Huo Bing dan Heiliao semakin sering berkultivasi di kamar mereka masing-masing. Katanya, mereka sudah terlalu lama bermain-main. Mereka juga harus berkultivasi kalau tidak mau dikejar Xika.


"Mm, Forming Cloud Pill? Harusnya tak terlalu sulit untukmu. Mungkin kau akan berhasil setelah beberapa (ratus) percobaan."


Heiliao mengangguk-ngangguk di kamarnya mendengar permintaan Xika. Serigala itu melempar sebuah cincin spasial yang berisi ribuan Tanaman Spiritual.


"Di sana sudah ada bahan pelengkap untuk ribuan set Forming Cloud Pill. Bahan utamanya kau cari saja sendiri."


"Eh? Hanya bahan pelengkap? Kenapa tak sekalian dengan bahan utamanya?"


"Agar kau bisa berlatih mencari tanaman yang cocok. Lagipula kalau aku tidak salah ingat, kau hampir tidak pernah meracik pil dengan tanaman hasil jerih payahmu sendiri bukan? Cobalah memetiknya sendiri kali ini."


Setelah mengatakan itu, Heiliao menutup mulutnya dan kembali berkultivasi. Ia tak mempedulikan apapun yang Xika katakan hingga akhirnya Xika menyerah dan keluar.


Ia menghampiri kamar Huo Bing. Burung itu menatapnya dengan ekspresi penasaran.


"Apa yang serigala itu katakan padamu?"


"Jadi ia lanjut berkultivasi setelah memberikan bahan pelengkap? Kalau begitu aku tidak boleh kalah."


Dan burung itupun menutup matanya ikut fokus berkultivasi. Sama seperti Heiliao, burung itu juga tak mempedulikannya. Sambil menghela nafas, Xika berjalan keluar.


Kalau Huo Bing dan Heiliao, kadang-kadang kepalanya agak bermasalah. Jadi ia hendak menuju kamar Xingli berharap gadis itu bersedia menemani. Setidaknya Xingli lebih normal dari Huo Bing dan Heiliao kan?


Sayangnya, kamar gadis itu kosong ketika Xika menghampirinya. Sepertinya gadis itu sama bermasalahnya dengan mereka. Apa yang gadis itu lakukan sampai tidak ada di kamarnya? Biasanya ia hanya diam di kamar atau berjalan bersama Xika. Kenapa mendadak ia pergi?


Tentu saja Xika tak mendapatkan jawaban. Akhirnya ia melangkah menuju kamar Shu Mang. Ia pindah ke Jade Village setelah Xika mengatakan itu menjadi penginapan pribadinya. Syukurlah, Shu Mang ada di kamarnya.


"Hei, apa kau sibuk? Bisa temani aku mencari Tanaman Spiritual?"


Shu Mang mengangkat kepalanya dari lantai dan menatap Xika.


"Mencari Tanaman Spiritual? Aku tak keberatan, tapi maaf aku sedang sibuk. Lihat!" Shu Mang berpindah posisi dan menunjuk pola formasi yang sedang ia gambar di lantai kamarnya. "Aku sedang mempelajari formasi baru. Rasanya aku sudah mendekati titik terang, tapi aku masih belum mencapainya."


Sepertinya raut wajah Xika terbaca jelas melihat ekspresi bersalah di wajah Shu Mang.

__ADS_1


"Tapi mungkin aku bisa memberimu informasi berguna. Kalau Tanaman Spiritual yang kau cari masih tergolong tidak terlalu langka, harusnya kau bisa menemukannya di gunung belakang akademi."


"Akademi ini memiliki gunung? Kenapa aku tidak melihatnya? Dan kenapa hal itu tidak diberitahukan di informasi di Gedung Utama?"


"Mengenai pertanyaan kenapa kau tidak melihatnya, karena pihak Akademi sudah memasang formasi ilusi untuk mengecoh sekaligus melindungi hutan itu. Lalu kenapa informasi itu tidak diberitahukan........sebenarnya itu masih merupakan informasi rahasia.


Hanya Murid Inti yang mengetahui dan diperbolehkan menggunakan gunung itu. Yah, dan beberapa orang Murid Dalam yang memang memiliki reputasi. Aku mengetahuinya secara tak sengaja dari klanku. Tapi selama kau tak ketahuan, kau bisa menggunakan gunung itu."


"Lalu bagaimana aku bisa menemukan gunung itu kalau, seperti yang kau katakan, telah dipasangi formasi ilusi?"


"Kau sudah memahami pola dasar dari formasi. Pasti kau akan menemukannya."


Setelah memberikan saran yang sangat 'berguna' itu, Shu Mang tak menutup pintu dan kembali asik menggambar di lantai kamarnya.


Xika hanya bisa mendesah kesal. Ia keluar dari Jade Village dan berjalan tanpa arah. Melihat jalanan akademi yang dipenuhi berbagai murid membuatnya tersenyum.


Hidupnya bisa dibilang cukup damai belakangan ini, kalau mengabaikan para semut penantang sialan itu. Beberapa kali ia berpapasan dengan murid lain, mereka menunduk padanya. Entah karena takut atau kagum. Atau mungkin keduanya.


Tak ada yang mengganggunya. Tak ada yang melemparinya sampah. Tak ada yang berteriak menghinanya. Tak ada pukulan yang tiba-tiba datang dan menghantamnya sampai tersungkur. Semua memperlakukannya seperti murid biasa. Bahkan mungkin murid yang lebih hebat dibanding yang lainnya.


Ia tersenyum. Bukan karena sombong setelah melihat beberapa murid yang menunduk, tapi karena merasakan apa yang dirasakan mereka yang mengganggunya dahulu.


Ketika ia masih di Shaking Card, ia tak pernah bisa keluar rumah dengan aman dan tenang, sekalipun pamannya menemani. Selalu ada pukulan, atau lemparan sampah, atau setidaknya hinaan penuh makian. Meskipun selalu berusaha membalas, adakalanya ia tak berhasil membalas mereka yang mengganggunya.


Saat itu terjadi, ia bertanya pada dirinya sendiri. Bagaimana rasanya menjadi orang biasa? Ia tak perlu menjadi orang spesial. Ia hanya ingin menjadi orang biasa, seperti anak-anak lain pada umumnya.


Kini ia telah merasakannya. Kalau diingat, itu karena Huo Bing. Benar juga. Semenjak bertemu Huo Bing, Xika tak pernah merasa benar-benar sendirian. Setidaknya selalu ada suara burung itu di kepalanya. Ini pertama kalinya ia berjalan sendiri. Itu membuat hatinya campur aduk karena berbagai perasaan yag muncul pada saat bersamaan.


Mendadak Xika melihat siluet seorang wanita yang ia kenal. Wu Liao? Gadis itu kelihatannya ketakutan dan berusaha mencari pertolongan. Kepalanya ditolehkan ke kanan dan kiri berharap ada yang membantunya. Untunglah pilar di depan Xika berhasil menyembunyikannya dengan baik.


Sebuah bayangan besar bergerak mendekati Wu Liao. Gadis itu semakin panik. Ia melangkah mundur tanpa sadar yang ada di belakangnya adalah tembok kokoh yang sulit ditembus. Ia pasti akan menabrak tembok itu dan terjatuh.


Tapi.......kenapa ia tidak terjatuh? Tunggu. Kemana Wu Liao pergi? Bagaimana ia bisa menghilang begitu saja? Xika memperhatikan tempat Wu Liao berada sebelumnya. Seorang pria besar dengan tampang menjijikan menoleh ke kiri dan kanannya memastikan tak ada yang melihat. Kemudian pria itu berlari menabrakkan dirinya ke tembok.


Dan menghilang begitu saja.........


--------------------


Da Ge (大哥) berarti kakak besar. Diucapkan dengan mengganti huruf d menjadi t dan g menjadi k, sehingga dibaca 'Ta Ke'.

__ADS_1


__ADS_2