
Xika, yang sedang bertarung dengan ular pohon sembari menghindar dari hujan daun dan rumput tajam, cukup kesulitan saat ini. Sejujurnya, ia bisa bertahan hidup sampai saat ini merupakan suatu keajaiban. Kultivator tahapĀ 2 Forming Qi melawan tiga ular di tahap Red 4 yang setara dengan Forming Qi 9.
Spirit Beast memiliki fisik yang lebih kuat dibanding para kultivator, karena itu biasanya dalam pertarungan di tingkat yang sama, Spirit Beast yang akan menang. Tapi Xika tidak hanya berhasil bertahan hidup, ia bahkan memberikan beberapa serangan balik meskipun tak seberapa.
Pemuda itu kesulitan memecah fokusnya. Selama beberapa saat tadi, ia bingung memilih fokusnya, antara Ular Pohon atau hujan daun dan rumput, alhasil tak ada yang benar-benar ia perhatikan dan beginilah tubuhnya sekarang.
Setelah mendapat pelajaran itu, Xika memutuskan untuk berfokus pada Ular Pohon. Ia tidak perlu menaruh fokus yang terlalu besar pada hujan daun dan rumput, cukup saat mereka hendak mengenai tubuhnya. Dengan begitu ia bisa berpikir dengan lebih baik.
Tapi nyatanya, sekalipun tak ada Ular Daun dan Ular Rumput yang mengganggu, Xika masih sedikit lebih lemah dari si Ular Pohon. Tak perlu ditanyakan bagaimana kondisinya saat menghadapi ketiga ular itu.
Namun, meskipun kalah baik dari segi kekuatan maupun jumlah, Xika tidak kalah semangat. Ia tidak menyerah dan duduk diam. Kalaupun ia tidak bisa menang dari mereka, setidaknya ia bisa mengulur waktu sampai Huo Bing atau Heiliao selesai bertarung dan membantunya.
Dan akhirnya penantiannya berakhir.
Ketika Ular Pohon berhasil menghantam perut Xika, Heiliao serta Huo Bing berhasil membunuh dua ular lainnya. Kini hanya tinggal Ular Pohon yang tersisa. Tapi sayangnya ia kurang gesit. Ia terlambat menyadari keberadaan serigala dan burung dua warna itu.
Ketika ia mengangkat tangannya hendak menganyukannya menuju Xika, sebuah cakar menembus tubuhnya. Cakar itu menggenggam sesuatu yang familiar. Sesuatu yang tampak seperti.....jantungnya. Dan ketika ia sadar apa yang digenggam cakar itu, tubuhnya sudah tak bernyawa.
Xika mengusap dahinya yang penuh dengan keringat sambil melihat Huo Bing memakan tiga tubuh yang menjadi lawannya sebelumnya mentah-mentah.
Selesai makan, Huo Bing menepuk-nepuk kepala Xika dengan cakarnya.
"Heh. Kerja bagus."
Xika memberikan senyum sebagai balasan. Heiliao tak bicara apa-apa, tapi dalam hati serigala itu juga merasa kerja Xika bagus.
Tapi momen bahagia itu tidak berlangsung lama. Tepat ketika Xika bertiga hendak beristirahat sebentar-mereka yakin ular yang tersisa tak berani mengganggu-suara hantaman kembali terdengar. Kali ini bahkan lebih keras dari sebelumnya.
Hantaman itu terdengar mirip dengan sebelumnya. Hantaman yang memecahkan formasi ayah Xika. Suara itu kembali terdengar. Dan ketika suara itu telah berbunyi tiga puluh tujuh kali, baik Xika, Huo Bing, Heiliao, maupun para warga yang menonton terkejut dengan pemandangan yang menyambut mereka.
Sebelumnya, saat Xika tiba di desa yang entah apa namanya ini, sejauh mata memandang hanya ada alam yang indah. Gunung, sungai, hutan, sebut saja pemandangan alam yang indah, semuanya ada disini. Meskipun tak pernah benar-benar berada di tempat-tempat itu, para penduduk meyakini bahwa tempat itu memang benar adanya.
Namun kini, tak ada lagi pemandangan alam yang menakjubkan. Yang ada hanyalah kumpulan ular sejauh mata memandang. Jumlahnya ribuan, kalau tidak puluhan ribu. Dan budidaya mereka lebih kuat daripada gelombang sebelumnya.
Di depan kumpulan ular itu, Xika melihat enam sosok yang memimpin. Diniliai dari auranya, sepertinya mereka sama dengan ular yang Huo Bing dan Heiliao lawan sebelumnya, Low-Jack. Enam sosok. Tingkat Black-1 yang setara dengan Low-Jack. Puluhan ular di tingkat Red 9, ratusan di tingkat Red 3, dan ribuan di tingkat Red 2.
Para penduduk desa, meskipun tak bisa melihat setajam Xika, mereka tahu bahwa ular-ular yang datang kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Meskipun mereka tak mau, tapi perasaan takut kembali merayap di hati mereka. Banyak dari mereka yang kesulitan berdiri. Kaki mereka gemetar hebat, sedangkan tatapan mereka tak bisa beralih.
Xika menggertakkan giginya kesal. Ia berbalik menatap para warga dan berteriak,
__ADS_1
"Lari! Sembunyi di dalam! Jangan keluar sampai tak ada suara!"
Tak ada yang mempertanyakan perintah Xika. Semuanya langsung berlari secara patuh tanpa menoleh kebelakang sedikitpun.
"Heiliao. Kita akan menang kalau berhasil mengalahkan pemimpinnya kan?"
"Teorinya begitu."
"Huo Bing. Sejauh apa jarak kita dengan pemimpin itu?"
"Kurang lebih beberapa ratus meter."
"Apakah kita akan menarik perhatian kalau berlari secara mendadak?"
"Tanpa berlaripun kita sudah menarik perhatian karena hanya kitalah yang berada di sini sekarang."
Xika tak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya menyipitkan matanya dengan kesal. Setelah Tian Yin, ular berada di peringkat kedua dari daftar mahkluk yang paling dibencinya.
Selama beberapa saat, tak ada yang membuat gerakan. Baik para ular maupun Xika dan lainnya. Tapi dalam jeda singkat itu, Heiliao mengirimkan pesan suara pada Xika.
"Xika, kami akan mencoba enam ular itu selama mungkin. Kau pergi dan cari pemimpinnya. Tidak perlu membunuhnya, cukup ganggu konsentrasinya. Selama formasi yang menyegel ruang ini hancur, aku akan langsung merasakannya."
"Tapi, kenapa aku? Bukankah kau lebih mengerti ruang dibanding aku? Atau Huo Bing. Dia bisa menyelinap pergi tanpa ketahuan."
Xika tak sempat memberikan balasan lagi karena setelah suara Heiliao menghilang di telinganya, ribuan desisan terdengar bersamaan ketika para ular itu menerjang maju.
Heiliao memamerkan taringnya siap menyambut siapa saja yang mendekat, sementara Huo Bing mengepakkan sayapnya lebar-lebar siap mencabut nyawa para ular.
Pertarungan kembali dimulai. Dua mahkluk melawan ribuan pasukan beserta enam jendral mereka. Benar, kali ini pasukan mereka juga ikut maju. Sekalipun terlihat seperti mengantar nyawa, tapi ular-ular yang berada di tahap Red tetap menyerbu. Itu mengganggu konsentrasi keduanya walaupuj hanya sedikit.
Untuk ular-ular yang lebih lemah, mereka tak ikut bertarung. Mereka hanya diam kebingungan sampai sebuah suara terdengar,
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa diam saja? Kalian lupa tujuan kalian?! Maju bodoh!"
Yang berbicara adalah ular yang berwarna putih. Ia terdengar kesal dan tidak sabaran dengan pasukannya. Dan setelah itu, tak ada lagi ular yang berdiam diri.
Xika, yang telah berpindah ruang dan hampir mencapai tempat pemimpin para ular itu berada, menangkap sesuatu dari sudut matanya. Ia menoleh dan menemukan ratusan ular sedang menuju kebun Hydrangea, bunga kesukaan ibunya.
Tap!
__ADS_1
Xika berhenti. Ia tidak lagi menuju pemimpin para ular. Sebaliknya, ia melangkah mendekati para ular yang hendak menodai kebun ibunya.
Slash!
Sebuah kartu melayang berhasil memotong beberapa kepala ular yang hendak merusak kebun Hydrangea. Tak lama setelah itu, Xika tiba di hadapan para ular menghadang mereka melangkah lebih jauh lagi.
"Maju selangkah lagi dan kalian akan mati." ucap Xika. Saat itu, tatapan yang diberkan pemuda itu cukup menakutkan. Bahkan para wargapun akan ketakutan kalau mereka ada disini. Tapi itu masih belum cukup. Para ular masih lebih takut pada hukuman yang menanti mereka kalau gagal melaksanakan tujuan mereka.
Jadi mereka mengabaikan ucapan Xika dan bergegas maju. Melihat itu, Xika juga tak tinggal diam. Ia melambaikan lengannya dan sepuluh kartu terbang membentuk sebuah roda. Ia terus melakukannya sampai lima roda terbentuk. Setelah itu, masing-masing roda dilapisi dengan elemen yang berbeda. Api, air, angin, tanah, dan ruang.
Kemudian kelima roda itu berputar mengelilingi kebun Hydrangea biru, siap membantai siapa saja yang mendekat. Xika belum selesai. Dengan kartu di tangan kiri dan tongkat di tangan kanan, ia melompat ke tengah-tengah para ular.
Whush!
Xika melambaikan tongkatnya dan menghempaskan beberapa ular yang menargetkan wajahnya. Kemudian dengan bagian bawah tongkatnya ia menusuk beberapa ular dan membuat mereka menjadi satu dengan Space Shifter sebagai tusukan.
Blar!
Ular-ular yang menempel di tongkatnya langsung habis terbakar. Tapi apinya tidak padam. Xika sadar bahwa jika ia hanya menggunakan Space Shifter belaka maka akan butuh waktu untuk menghabisi mereka. Jadi ia melapisi senjatanya dengan api.
Sesekali ia memerangkap tubuh mereka dengan tanah, kemudian memperkuat tekanan dengan elemen angin hingga tubuh mereka meledak.
Tapi itu semua masih belum cukup. Semakin banyak yang ia bunuh, semakin banyak yang datang. Andai saja ia cukup kuat, maka ia bisa menekan tubuh mereka semua dengan elemen angin dan meledakkan tubuh mereka. Tapi sayangnya kultivasinya masih terlampau jauh untuk melakukan hal itu.
Ia sempat menoleh, Huo Bing dan Heiliao tengah bertarung dengan enam sosok yang memimpin para ular sebelumnya. Keduanya sangat sibuk dan ia tahu ia tak bisa mengandalkan bantuan mereka. Jadi ia tak lagi memalingkan pandangan dan berfokus pada ular-ular yang berada di hadapannya.
Saat ini, ia masih berdiri di depan kebun Hydrangea dan belum ada yang melewatinya. Jadi Xika bebas memberikan serangan tanpa takut merusak kebun itu.
"First Way: Single!"
Slash!
Puluhan ular langsung terbelah seketika membuat darah muncrat ke mana-mana.
Clep!
Seekor ular berhasil menggigit kaki Xika, dan Xika langsung membakar ular itu. Mendapat serangan bukan hal yang aneh mengingat Xika seorang diri bertarung melawan ular-ular yang berjumlah ratusan, apalagi ia harus mengendalikan lima rodanya untuk terus membantai ular-ular yang datang dari arah lain.
Sejauh ini ia cukup berhasil. Masih belum ada bunga yang rusak, meskipun sebagian telah terkena cipratan darah. Tapi entah berapa lama Xika dapat mempertahankan kondisi itu.
__ADS_1
Tindakan Xika yang berhasil membunuh puluhan ular dalam sekejap itu cukup untuk menciutkan nyali mereka. Dan berkat ketakutan mereka, Xika berhasil memiliki waktu untuk beristirahat sebentar. Tapi ia tak punya banyak waktu.
Tepat setelah Xika selesai menghembuskan nafasnya, sebuah ekor putih datang dengan kecepatan yang tak bisa dihindari dan menghantamnya hingga jatuh menimpa kebun Hydrangea.