
"Anak itu......." Penatua Fen tak bisa melanjutkan kata-katanya karena terkejut dengan apa yang baru saja ia saksikan.
".......menyadari keberadaan kita." Lan Shui menyelesaikan kalimat Penatua Fen.
Sisa Penatua yang lain mengangguk setuju. Sama seperti Penatua Fen, mereka juga tak bisa percaya seorang murid berhasil menyadari keberadaan mereka.
Seorang Kepala Akademi dan Empat Pelindung Akademi. Tak ada posisi lain yang lebih tinggi dari mereka. Bagi kebanyakan murid, mereka hampir setara dengan dewa. Sekalipun bukan dewa, pasti suatu hal yang tak bisa mereka gapai.
Dan melihat penampilan salah satu dari mereka saja sudah dapat dianggap sangat beruntung. Meskipun mereka menduduki posisi paling tinggi di akademi, tapi kebanyakan urusan dilakukan oleh para elder dibawah mereka. Jadi bisa dibilang penampilan kelimanya di satu tempat secara bersamaan bukanlah pemandangan yang bisa dilihat setiap hari.
Tapi baru saja seorang murid menyadari keberadaan mereka? Mereka yang hampir sama dengan dewa di mata para murid tidak berhasil menyembunyikan diri dari seorang bocah yang baru masuk akademi beberapa hari lalu? Tentu saja mereka tidak tahu bahwa 'bocah' yang mereka panggil sebenarnya adalah roh burung Cygnus yang berumur ratusan tahun.
"Tidak. Bukan cuma bocah itu. Bocah satunya lagi juga menyadari keberadaan kita. Hanya saja ia mengabaikan kita."
"Apa? Tuan Bai, kau tidak bercanda kan?" Pria berjubah kuning menatap pria berkepala botak itu seolah mencari tanda-tanda ia sedang berbohong.
"Memang hanya sekilas, tapi aku yakin anak yang satu lagi melihat tepat ke mataku." Tuan Bai yang berkepala botak menegaskan.
"Pertama seorang bocah yang menguasai empat elemen dan menantang Seratus Besar, kemudian ada bocah lain yang menyadari keberadaan kita dan memberikan senyum, sekarang ada satu lagi bocah yang menyadari keberadaan kita namun berani mengabaikan kita?"
"Siapa sebenarnya mereka?"
"Tuan Bai, firasatku semakin tidak enak. Kita harus menindak mereka secepatnya." ucap Yan Xiaolu.
"Mmm.....ya," Tuan Bai mengangguk, "Kita harus memberikan jubah murid dan pin Murid Dalam kepada mereka secepatnya."
"Apa?! Tuan Bai, kau tidak bercanda kan?" ulang pria berjubah kuning untuk yang kedua kalinya, hanya saja kali ini ia terlihat lebih terkejut.
"Kenapa memangnya?"
"Tuan Bai, memang saat ini kita telah mengetahui elemen anak itu, tapi hal tersebut tidak membawa kita pada titik terang. Daripada titik terang, lebih tepat kalau disebut kita semakin buta. Saat ini kita sadar bahwa mungkin bukan anak dengan empat elemen itu yang paling berbahaya.
Dan kita tidak mengetahui apa tujuan mereka. Kita tidak tahu mereka berasal dari mana, siapa identitas mereka sebenarnya. Bisa dibilang kita sama sekali tidak tahu apapun mengenai mereka. Tidakkah menurut anda terlalu beresiko untuk membiarkan beberapa orang dengan asal usul dan tujuan yang tidak jelas menetap di akademi?" Lan Shui bicara dengan hati-hati.
Sebelumnya ia menyarankan untuk menunggu dan melihat perkembangan lebih lanjut. Tapi saat ini ia sendiripun tidak bisa tenang setelah melihat Xika, Huo Bing, dan Heiliao.
"Justru karena kita tidak tahu-menahu tentang mereka sama sekali, kita harus membiarkan mereka tetap di akademi. Kalau mereka memang berniat buruk, akan lebih mudah bagi kita untuk memantau anak-anak itu di akademi. Mengeluarkan mereka dari akademi jauh lebih buruk. Tak ada yang tahu apa yang akan mereka perbuat di luar akademi dan kita tak bisa mencegah mereka."
"Kalau begitu kita usir mereka dari akademi sekaligus ibukota." usul Yan Xiaolu.
"Dan membuat berbagai kekuatan lain mempertanyakan apa yang kita lakukan? Tidak, itu saran yang buruk Penatua Yan." ucap pria berkepala botak itu.
"Jadi untuk sementara sebaiknya kita biarkan mereka saja, Tuan Bai?"
"Ya, itu yang paling baik untuk saat ini. Juga, utus seseorang untuk mengawasinya tapi jangan membuatnya waspada. Kita perlu tahu tujuannya."
Setelah mengatakan itu Tuan Bai langsung pergi dan tidak membiarkan sisa Empat Pelindung lainnya untuk berbicara. Jadi keempatnya hanya saling pandang sebentar sebelum masing-masing melesat menuju arah yang berbeda.
__ADS_1
Sementara itu, Xika dan lainnya saat ini sedang berjalan kembali menuju kamar pinjaman (rampasan) miliknya.
"Mereka akhirnya pergi." ucap Huo Bing setelah memandang kebelakang dengan hati-hati.
Heiliao mengangguk setuju.
"Mereka? Siapa yang kau maksud mereka?"
Dan Huo Bingpun mulai menceritakan bahwa ada beberapa orang yang mengawasi mereka sejak Xika mengeluarkan elemennya. Memang sebelumnya ada beberapa elder yang mengawasi mereka dari bayang-bayang, tapi para elder itu terlalu lemah jadi baik Huo Bing maupun Heiliao sama-sama mengabaikannya.
Tapi yang ini berbeda. Aura mereka jauh berbeda dibandingkan elder-elder lemah itu. Huo Bing yakin kalau mereka berasal dari akademi, pasti salah satunya adalah pemimpin akademi ini. Ia sengaja menoleh sebelumnya untuk memberikan kesan misterius, juga senyuman yang berisi pesan 'jangan macam-macam'.
Jadi setidaknya siapapun yang mengawasi mereka akan lebih berhati-hati dalam bertindak.
"Wah, kalau begitu kita benar-benar sukses memancing 'semut besar' kali ini."
Huo Bing dan Heiliao langsung tertawa mendengar perkataan Xika.
"Kau benar. Hanya saja mungkin kali ini semutnya terlalu besar? Hahahaha........"
Xingli menoleh melihat ketiganya tertawa. Tentu saja ia tak mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi ia diam saja. Karena memang seperti itulah dirinya. Terbiasa diam pada sesuatu yang bukan 'dirinya'.
Tapi tingkat perhatian Xika rupanya lebih tinggi daripada yang Xingli harapkan. Pemuda itu sadar bahwa dirinya tak mengerti apa yang tengah dibicarakan. Jadi dengan sabar ia menceritakan garis besar persoalan saat ini padanya. Ia memberikan anggukan terima kasih yang tentu saja tak ada bedanya bagi Xika dengan anggukan lainnya.
"A-anu....."
"A-apa anda.......Xing Xika....?" tanya anak itu terbata-bata.
"Ya, aku Xing Xika. Kenapa?"
"A-apa saya boleh meminta pisau kayu anda.....?" Anak itu menatap Xika dengan harap-harap cemas.
Xika mengerutkan kening mendengar permintaan aneh anak itu. "Kenapa aku harus memberikanmu pisau kayu?"
"A-ah!"
Mendadak anak itu terlihat salah tingkah. Ia melihat sekelilingnya seolah sedang mencari bantuan tapi pada akhirnya tak menemukan satupun bantuan.
"A-anu......pisau kayu dapat bermakna penghargaan........" Anak itu tidak berani memandang Xika lebih dari setengah detik.
"Ha? Aku masih tak mengerti....."
"Eh, uh......H-huruf Mu dalam Mu Zhan Academy berarti kayu.....apa anda tau mengenai hal itu?" tanya anak itu hati-hati.
"Ya, kurasa aku tahu." Xika mengingat-ngingat bentuk pin Xingli yang bertuliskan Mu sama dengan papan nama MU ZHAN ACADEMY di depan. Dan huruf Mu itu memang berarti kayu. "Tapi apa hubungannya dengan pisau kayu dan penghargaan?"
"A-anu......begini.....Mu yang berarti kayu itu......mengajarkan kita untuk mencintai alam.....dan belajar dari alam...... ja-jadi kita harus seperti alam.........tapi bahkan alam juga bisa menjadi keras saat manusia sudah seenaknya..... contohnya mereka memberikan berbagai bencana..........si-sifat alam yang keras itu dilambangkan dengan pisau..... j-jadi pisau yang keras dipadukan dengan kayu alam yang lembut dijadikan simbol penghargaan........" ucap anak itu menjelaskan dengan terbata-bata.
__ADS_1
"Ya, aku mengerti filosofi dibalik pisau kayu dan maknanya. Tapi aku masih tak mengerti kenapa kau memintaku memberikan pisau kayu yang bermakna penghargaan padamu."
Xingli maju selangkah hendak menjelaskan, tapi sebelum ia membuka mulutnya Xika sudah membuka mulutnya dan berkata,
"Xingli, kalau kau tidak berniat menjelaskan dengan kata-kata kau bisa mundur dulu."
Dan Xingli pun mundur selangkah.
"Eh, uh, a-anu.....itu......p-pisau kayu biasanya.....diberikan oleh murid populer.......pada p-penggemarnya......"jawab anak itu semakin malu di akhir kalimat.
"Murid populer? Aku? Penggemar? Kau pasti bercanda."
Anak itu langsung kehilangan semangat begitu mendengar jawaban Xika. Xika jadi merasa agak tak enak karenanya.
"Hei, dengar. Aku tak punya pisau apapun yang terbuat dari kayu. Tapi kalau aku punya akan kuberikan padamu kapan-kapan, oke?"
"A-anda serius?"
Xika memberinya anggukan meyakinkan dan seketika itu juga semangat anak itu kembali.
"Yah, kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa." Xika melambaikan tangannya sambil berjalan lebih lanjut.
"Ah! A-Anu!"
"Hm? Apalagi?" Huo Bing agak kesal dengan anak itu karena cara bicaranya yang terbata-bata dan memakan waktu.
"K-kalau boleh tahu......anda sekalian hendak ke mana.....?"
"Kamar. Main kartu." jawab Huo Bing seadanya mewakili Xika yang masih agak bingung.
"A-apa.....saya boleh ikut......?"
Huo Bing memberinya pandangan seolah menatap kotoran yang mendadak hidup dan hendak bergabung mereka. Tapi ia tak tega melihat wajah anak itu yang kini hendak menangis jadi ia memberikan dengusan kesal sambil mengangguk.
"Te-terima kasih!"
"Omong-omong, siapa namamu?
"A-ah! S-saya Di He."
Beberapa saat sebelumnya, di Gedung Utama, setelah keempat pelindung berembuk untuk menentukan siapa yang cocok mengawasi Xika dan lainnya.
"Di He, apa kau yakin kau bisa menyelesaikan misi ini? Besar kemungkinan mereka berasal dari kekuatan hebat lainnya dan memata-matai mereka berarti mati." ucap Yan Xiaolu.
"Saya yakin, Penatua Yan."
"Kalau begitu pergilah. Gali informasi sebanyak mungkin dan jangan sampai ketahuan."
__ADS_1
"Baik, Penatua!"