Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-153


__ADS_3

Xika berbalik menatap asal suara yang berada di sebelah kanannya. Ia menemukan seorang pria paruh baya yang kurang lebih seumuran dengan ayahnya. Tapi wajah pria yang sebelumnya ramah itu mendadak berubah drastis ketika melihat Xika dan pendatang lainnya.


SRAK!


Ia mengambil tombak yang terikat di punggungnya dan langsung mengarahkannya pada Xika. Pria itu tidak mengatakan apapun tapi tatapannya penuh kewaspadaan dan sedikit........ketakutan?


"Bao Fang, dimana Taiyang?"


Beberapa pria paruh baya lain datang dari arah yang sama. Mereka menatap pria yang dipanggil Bao Fang sesaat sebelum sadar bahwa bukan Taiyang yang datang dan reaksi mereka kurang lebih sama dengan Bao Fang itu. Dan mereka menyiapkan senjata mereka serta memasang posisi siaga.


Biasanya, Xika akan mendekat dan berusaha bicara baik-baik dengan mereka, tapi saat ini ia tidak dalam keadaan 'biasa'. Ia sedang tidak dalam suasana hati yang cocok untuk melayani gerombolan pria paruh baya yang mengarahkan senjatanya padanya dengan tatapan waspada bercampur kaget.


Huo Bing dan Heiliao juga kebingungan harus bereaksi bagaimana karena biasanya Xika yang menangani situasi seperti ini. Mereka menatap Xika meminta petunjuk tapi yang dilakukan anak itu adalah mengeluarkan kartunya dan melayangkannya di sekitar tubuhnya bersiap bertarung.


Pria yang berdiri paling depan tersentak ketika melihat Xika mengeluarkan kartu tapi yang lainnya tidak terlalu memperhatikannya. Mereka berlari menerjang ketika melihat Xika siap bertarung. Huo Bing dan Heiliao tak tinggal diam melihat serangan yang datang.


Bao Fang yang pertama maju. Ia berniat menghantamkan tombaknya pada perut Xika, tapi sebelum ia berhasil, sebuah cakar telah membawanya terbang tinggi ke angkasa kemudian menghempaskannya seketika. Bao Fang berputar beberapa kali sebelum kakinya mencapai tanah, tapi ia berhasil membuat lubang dalam dengan kakinya.


Sesaat setelah ia mendarat, sebuah benda tumpul sukses menghantam perutnya dan membuatnya terpental. Xika langsung mencari target baru tanpa melihat pria yang sukses ia hantam itu. Beberapa pria lain maju namun Xika berhasil menghindarinya dengan baik.


Jadi begini, saat ini Xika sedang stress dan membutuhkan sesuatu untuk melampiaskannya. Kebetulan, para pria itu datang begitu saja dan menawarkan diri untuk menjadi pelampiasannya. Jadi ia menghantam mereka semua sesuka hati.


Huo Bing dan Heiliao tak jauh berbeda. Mereka masih dilanda kebingungan ketika orang-orang ini datang dan menyerang tanpa memberikan alasan apapun. Tapi mereka tidak membunuh. Tidak sebelum situasi menjadi jelas. Untuk sementara mereka membuat orang-orang itu pingsan. Kalau ternyata mereka harus membunuh, maka tidak masalah untuk melakukannya nanti.


Xika berhasil melawan empat pria paruh baya dengan seimbang. Tak ada pihak yang diatas angin, tapi hal itu malah mengejutkan keempat pria itu. Mungkin karena Xika yang sudah banyak berkembang, atau karena ia sedang stress atau karena keduanya. Tapi yang pasti keempat pria itu tak bisa mengalahkannya.


Tidak sebelum pria kelima datang dan memberikan serangan di celah yang ditunjukkan Xika. Pria itu mengincar bagian dimana dantian orang normal berada dan Xika tidak dalam posisi yang memungkinkan untuk menghindar atau menangkis.


SYUT!


TRANG!


Pedang yang mengincar dantian Xika gagal mengenai sasarannya karena sebuah pisau. Bukan dari Huo Bing atau Heiliao, tapi dari pria yang sebelumnya berdiri paling depan. Pria yang sama yang kaget saat melihat ia mengeluarkan kartu dan menggunakannya sebagai senjata.


"Zheng Wei, apa yang kau lakukan?"


Tindakan pria yang dipanggil Zheng Wei itu sukses menghentikan pertarungan. Kini semua mata memandangnya termasuk Xika dengan mata sembabnya. Bukannya ia berhenti menangis, tapi ia menangis sampai tak bisa lagi mengeluarkan air mata.


Zheng Wei menyarungkan pisaunya kemudian tersenyum sopan pada Xika dan kedua mahkluk di belakangnya.


"Maaf, bisakah kalian mundur sebentar?"


Xika mengikuti permintaan pria itu. Kemudian Zheng Wei berbalik dan menatap teman-temannya. Ia mengajak mereka berkumpul menjauhi Xika meskipun sebagian besar menolak.


"Zheng Wei sialan! Aku hampir mengenainya. Kenapa kau melidunginya?"


"Justru karena itu aku harus melindunginya. Apa kau tidak menyadarinya sama sekali? Satupun dari kalian? Tidakkah kalian melihat wajahnya? Postur tubuhnya? Bagaimana cara ia berdiri? Kartu yang ia gunakan? Tidakkah kalian merasa anak itu mirip seseorang?"

__ADS_1


Dan mereka semuapun baru tersadar setelah mendengar perkataan Zheng Wei. Mereka memperhatikan anak yang hendak mereka bunuh beberapa saat lalu dan menyadari bahwa apa yang dikatakan Zheng Wei masuk akal. Anak itu memang mirip seseorang. Seseorang yang sangat penting dalam hidup mereka.


"Lalu? Tidak ada jaminan anak itu ada hubungan dengannya meskipun mereka sangat mirip. Apa yang akan kita lakukan padanya?"


Zheng Wei kembali menoleh menatap Xika. Ia menimbang-nimbang apa yang harus dilakukan sebelum melangkah mendekati Xika.


"Maaf karena kejadian tadi. Bisa katakan apa tujuanmu disini?"


Raut wajah Xika tak membaik meskipun pria itu telah minta maaf. Ia masih belum puas melampiaskan perasaannya. Dan ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan tujuan. Ia mengalihkan pandangannya.


"Maaf, bisa kau tinggalkan kami untuk sementara? Kami tak akan melakukan apapun. Kami butuh waktu sendiri."


Zheng Wei jelas tidak menduga jawaban yang diberikan Xika. Ia berpikir sebentar menimbang-nimbang permintaan Xika sebelum mengangguk. Ia berjalan menjauh dan berbicara pada yang lainnya. Mereka tak setuju akan permintaan Xika yang tergolong aneh itu. Tapi Zheng Wei meyakinkan mereka dengan susah payah sebelum semuanya setuju.


"Apa? Kau meminta kami membiarkan anak itu diam disini? Apa kau sudah gila?"


"Zheng Wei. Aku yakin kau tak pernah melupakan apa yang terjadi beberapa tahun lalu. Apa kau benar-benar yakin?"


"Aku yakin." ucap Zheng Wei berusaha menampilkan senyum di wajahnya, tapi kedua tangannya bergetar hebat sama seperti pria lainnya.


Sebenarnya mereka masih tak setuju, tapi melihat Zheng Wei yang berusaha keras menyembunyikan ketakutannya, mereka menerimanya. Zheng Wei kembali mendekat pada Xika.


"Ambil waktumu. Aku akan berada tak jauh dari sini. Panggil aku kalau kalian mau bicara."


Setelah mengatakan itu, Zheng Wei pergi bersama dengan pria paruh baya lainnya meninggalkan Xika bersama Huo Bing dan Heiliao. Ketiganya tak berbicara untuk waktu yang lama. Mereka membutuhkan waktu untuk mencerna apa yang baru terjadi. Terutama Xika.


Melihat berbagai warna yang ada pada ladang itu mengingatkan Xika akan penjelasan ibunya. Hydrangea. Tanaman ajaib yang bisa memiliki berbagai warna tergantung tingkat keasaman tanah. Daunnya memiliki racun tapi akarnya sering digunakan dalam pengobatan. Ibunya pernah menggunakan akarnya beberapa kali, tapi bukan itu alasan utama ia menanam bunga itu di halaman rumahnya.


Tiap warna memiliki makna yang berbeda sekalipun sejenis. Ibunya menanam berbagai warna, tapi ia selalu membahas yang warna biru. Ayahnya selalu tersipu malu setiap kali ibunya membahas bunga itu, lalu mengalihkan topik atau pura-pura tidak dengar.


Mengingat hal itu membuat hatinya lebih tenang. Ia berbaring di samping ladang karena takut merusak bunga-bunga indah yang memiliki berbagai arti itu. Matahari semakin tinggi tapi ia tidak berpindah posisi. Di tempat ini, ia merasakan kehangatan yang biasa diberikan ibunya. Dan ia ingin menikmatinya selama mungkin.


Sehari berlalu dan Xika sudah menenangkan dirinya. Ia berdiskusi dengan Huo Bing dan Heiliao memutuskan langkah yang akan mereka ambil. Tapi sejujurnya, mereka tak tahu tujuan mereka disini. Mereka hanya mengikuti Xika. Jadi bisa dibilang keputusan mereka terserah pada Xika.


Xika berpikir beberapa saat kemudian menceritakan pada mereka ia ingin menuju tempat ini. Mulai dari saat ia berada di Simulocus bersama Kong Yan dan merasakan panggilan dari tempat ini sampai ke depan hutan dan sesuatu yang memanggilnyalah yang menuntunnya menuju jalan yang tak tertutupi kabut.


Heiliao sama bingungnya dengan Huo Bing mendengar cerita Xika. Mereka sama sekali tak bisa menebak hal apa yang memanggil Xika dan mereka kembali menyerahkan keputusan pada Xika. Akhirnya, Xika memilih untuk berbincang dengan Zheng Wei lebih dahulu.


Ia berjalan mendekat pada pria itu. Beberapa pria lain mengajukan diri untuk menemani tapi ditolak olehnya. Mungkin karena Xika tak membawa Heiliao serta Huo Bing jadi ia juga tak membawa teman. Ngomong-ngomong, Huo Bing sudah memperlihatkan dirinya di pertarungan kemarin jadi tak ada gunanya lagi menyembunyikan diri.


"Maaf membuatmu menunggu."


"Tak apa. Bisa kau katakan tujuanmu sekarang?"


"Ya. Aku merasakan ada sesuatu yang memanggilku dan itu berasal dari tempat ini."


Zheng Wei mengerutkan keningnya. Jawaban yang tak terduga kembali keluar dari mulut Xika dan ia tak tahu bagaimana harus menanggapi.

__ADS_1


"Eh, apa kau yakin sesuatu itu berasal dari tempat ini?"


"Sangat yakin. Hal itu yang menuntunku memasuki hutan berbambu dan melewati semua kabut itu. Dua hal tadi adalah jebakan untuk menghalangi orang masuk ke desamu bukan?"


Sudut mata Zheng Wei berkedut namun ia tetap menjawab.


"Ya........Lalu bagaimana kau berhasil sampai ke sini?"


Xika terdiam beberapa saat sebelum menjawab.


"Anggap saja.........aku tahu metode rahasia." sambil memberikan senyum misterius.


Senyum yang membuat Zheng Wei menjelajah ke tahun-tahun saat Xing Taiyang datang. Saat itu Xing Taiyang berkunjung ke desa mereka, tapi seperti biasa, ia tidak tinggal untuk waktu yang lama.


"Taiyang? Apa yang kau lakukan?" tanya Zheng Wei pada Xing Taiyang yang sedang berjalan-jalan mengelilingi hutan bambu jebakan buatan dirinya sendiri.


"Zheng Wei? Kau datang tepat waktu. Kemarilah. Aku membutuhkan bantuanmu untuk memastikan beberapa hal."


Zheng Wei mendekat meskipun tak mengerti apa yang Taiyang lakukan. Ketika ia berjarak tiga langkah lagi dari Taiyang, pria itu langsung menebaskan pedangnya dan membuat Zheng Wei terkejut setengah mati. Tapi ia berhsail menghindari serangan itu. 


"Taiyang? Apa yang kau lakukan?"


Setelah itu, Taiyang terus menerus menyerang Zheng Wei tak mempedulikan protes yang dilayangkannya. Taiyang berhenti setelah memberikan beberapa ratus luka gores di tubuh Zheng Wei. Zheng Wei menghirup nafas sebanyak mungkin sebelum menceramahi Taiyang. 


Tapi belum sempat ia membuka mulutnya, Taiyang kembali menyerangnya. Kali ini tanpa pedangnya, hanya menggunakan tangan dan kakinya. Tapi hal itu justru membuat Zheng Wei semakin kewalahan karena gaya bertarung Taiyang yang mendadak berubah. 


Akhirnya setelah Zheng Wei babak belur oleh Taiyang, barulah ia berhenti. Kemudian Taiyang lain turun dari pohon dan berdiri di depan Zheng Wei sehingga kini ada dua Taiyang. Zheng Wei menatap keduanya secara bergantian sebelum berdecak kesal.


"Jadi dari tadi yang kulawan adalah........." Zheng Wei tak tahu harus menyebut apa Taiyang yang satu lagi.


"Yap. Bagaimana? Hebat bukan? Sosok penjaga hutan yang memiliki berbagai gaya bertarung?"


"Ya, ya. Akan lebih baik lagi kalau ia memilik stamina tak terbatas." ucap Zheng Wei asal.


Tapi Taiyang justru mendapat ide karena Zheng Wei. 


"Benar juga. Sosok penjaga hutan yang memilik berbagai gaya bertarung ditambah stamina tak terbatas? Itu pasti akan menjadi kombinasi sempurna."


"Tapi tunggu. Bukankah tak akan ada yang bisa masuk kalau begitu?"


Taiyang berhenti sebentar untuk berpikir membuat Zheng Wei kebingungan. 


"Ah, ya! Aku akan menambahkan metode rahasia!"


"Metode rahasia? Metode apa?"


"Rahasia, tentu saja," ucap Taiyang dengan senyum misteriusnya.

__ADS_1


Dan senyum mereka sangat mirip.


__ADS_2