Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-303


__ADS_3

SYUT!


Sebuah pedang melesat berniat membelah seekor burung menjadi dua. Sayangnya, pedang itu terpental dengan mudah ketika mengenai sayap si burung. Burung tersebut kemudian melesat dan menyerang pemilik pedang tersebut.


Di samping burung tersebut, berdirilah seekor anjing berkepala dua berwarna hijau kuning sedang mengoyak dua tubuh yang sebelumnya merupakan anggota dari Immortal Pearl Pavillion. Tidak jauh dari mereka berdirilah sekelompok monyet dengan ekor api yang menyambar, tampak terkepung oleh gabungan dari beberapa murid Di Clan dan Burning Abyss Sect.


Kurang lebih begitulah situasi ruangan bawah tanah saat ini. Kalau ada kata yang dapat menggambarkannya maka kata tersebut adalah 'kacau'. Meskipun begitu, para Pemimpin Sekte dan Huo Bing serta Heiliao masih belum turun tangan. Kedua belah pihak masih sibuk mengamati pertarungan meskipun situasi sudah kacau dan perang dimulai.


Kembali ke Xika.


WHUK!


Xika mengayunkan Space Shifter yang dihindari oleh Hua Zhantian, kemudian pria itu balas menusuk dengan tombaknya yang sudah ditendang duluan oleh Xika sebelum mendekat. Xika kembali melancarkan beberapa serangan namun Hua Zhantian hanya melompat ke belakang dan muncullah sulur raksasa diantara keduanya yang menghalangi serangan Xika.


Kesal karena dihalangi, Xika menusuk sulur itu dengan empat elemen dan meledakkan tanaman tersebut seketika setelah Space Shifter menyentuhnya. Di belakang mereka, kartu dan duri masih sibuk bertarung layaknya manusia yang hidup dan memiliki pikiran sendiri.


Xika menghitung waktu mulai dari pelindung ini diciptakan sampai sekarang. Kurang lebih lima belas menit sudah berlalu. Ia takjub dengan Hua Zhantian yang mampu mengendalikan duri, sulur, sekaligus dirinya pada saat yang bersamaan. Tapi........sampai disini saja.


Tampaknya sudah waktunya  konsentrasi Hua Zhantian pecah.


SYUT!


SYUNG!


BUK!


DUAK!


Sulur-sulur masih sibuk berdatangan dan membuat Xika tak sempat menyerang Hua Zhantian. Ia mulai memikirkan cara untuk menyerang balik. Ia melirik sekilas dan menemukan, bahwa meskipun perang sudah dimulai, namun Huo Bing dan Heiliao masih belum melakukan apapun, sama seperti para Pemimpin Sekte.


Tadinya ia berniat menggunakan elemen ruang kalau semuanya sudah sibuk bertarung jadi tak ada yang memperhatikan. Lagipula, tak ada yang tahu elemennya yang satu ini, jadi bisa digunakan sebagai serangan kejutan. Tampaknya ia harus mengganti rencana.


Hua Zhantian melirik Xika dan mengerahkan lebih banyak sulur lagi. Meskipun sudah berusaha menyembunyikannya, namun Xika berhasil menyadari bahwa Hua Zhantian kelelahan. Ia sengaja mendatangkan sulur-sulur yang lebih banyak untuk memberi istirahat bagi dirinya sendiri.


Sayangnya, ia melupakan pertarungan di belakang. Kartu dan duri. Selama ini, kartu Xika hanya sibuk menahan serangan yang diberikan duri-duri Hua Zhantian. Namun kali ini Hua Zhantian mulai kehilangan konsentrasi sehingga duri-durinya tidak memberikan serangan se-agresif sebelumnya.


Tentu saja Xika tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia pura-pura meladeni sulur Hua Zhantian sehingga pria itu mengira dirinya masih menguasai keadaan. Diam-diam, Xika mengarahkan kartunya untuk menyerang Hua Zhantian. Lagipula duri Hua Zhantian lebih cocok untuk menyerang, bukan bertahan.


SYUT!


JLEB!


BRUK!


CRAT!


"ARGH!"


Sebuah kartu melesat menuju paha Hua Zhantian dan sukses bersarang di dalamnya. Hua Zhantian langsung jatuh berlutut dan memuntahkan darah karenanya. Sulur di depan dan duri di belakang mendadak berhenti untuk sesaat. Namun ia segera sadar dan memerintahkan tanaman aneh di belakang untuk kembali menyerang yang sayangnya kembali ditahan oleh kartu-kartu Xika.


Sekarang saatnya untuk menahan Xika dengan sulurnya dan berusaha memulihkan diri secepat mungkin, setelah itu kembali bertarung. Sayangnya, ketika ia menoleh kumpulan sulur yang menahan Xika telah hancur menjadi beberapa bagian dan tak ada Xika disana.


"Cari siapa?"


SET!


SYUT!


DUAK!

__ADS_1


Space Shifter sukses menghantam wajah bajingan Hua Zhantian hingga membuatnya terpental beberapa meter. Xika tak mengejarnya, namun ia segera memotong tanaman-tanaman aneh yang daritadi menembakkan duri. Harusnya akan memakan waktu beberapa saat bagi Hua Zhantian untuk menumbuhkan tanaman-tanaman itu lagi.


Selain itu, dengan luka tusuk di pahanya, Hua Zhantian tak akan bisa berkonsentrasi sebaik sebelumnya. Ini adalah kemenangan Xika.


"Inginnya sih, aku menghabisimu dengan cara yang sama seperti terakhir kali, semacam nostalgia begitu. Tapi tampaknya cara itu tak akan berhasil mengingat kau yang sudah berada di Royal Realm, jadi kupikir aku akan menghabisimu dengan cara yang biasa saja." ucap Xika sambil tersenyum.


Dengan wajah yang berdarah akibat hantaman Xika, Hua Zhantain menatap Xika masih sama tajamnya seperti sebelumnya. Terakhir kali ia berada di posisi yang kalah, ia tak memasang wajah seperti itu. Mungkinkah ia memiliki teknik atau rencana cadangan?


"Brengsek! Jangan senang dulu kau! Menerima pertarungan sampai mati denganku tanpa berpikir dulu........kau memang bodoh. Terakhir kali kita bertarung, aku masih belum mengeluarkan seluruh kemampuanku karena kau menggunakan cara curang. Kali ini biar kuperlihatkan!


Hahahaha! Mungkin leluhurku lupa, namun semua keturunannya telah menguasai teknik terlarang buatannya. Kau tahu kenapa Akademi ini dinamai Mu Zhan? Zhan adalah marga kami, sedangkan Mu berarti kayu. Kenapa kayu? Karena kayu yang merupakan bagian dari pohon selalu menyimpan energi kehidupan. Dari tanamanlah semua energi berasal. Manusia memakan binatang dan binatang memakan pohon.


Pengahalang ini, sekilas memang tampak seperti bantuan untukmu, tapi sebenarnya tempat ini adalah jebakan. Temanmu tak bisa menolongmu sekarang hehehe......."


"Berisik! Banyak omong kosong! Kalau mau tunjukkan ya tunjukkan saja, untuk apa banyak bicara?"


"Hehehe.......rupanya kau tidak sabar untuk mati ya.......lihatlah, tempat ini penuh dengan pohon sedangkan pohon bertahan hidup melalui akarnya yang menancap di tanah. Aku akan menyerap energi kehidupan dari tanah dan menyembuhkan diriku! Sekalipun kau bisa mengalahkanku, tapi aku punya persediaan energi kehidupan yang tak terbatas!"


Set!


Hua Zhantian menyentuhkan tangannya ketanah dan segera mengalirkan qinya untuk menyerap energi kehidupan di tanah yang penuh dengan pohon ini.


.....


"Sialan! Kenapa tidak bisa?" Hua Zhantian melihat sekelilingnya dan menyadari energi familier yang berasal dari penghalang di sekitarnya, "Tua bangka brengsek! Sudah matipun masih saja menyusahkan!"


"Kau gagal, ya?" tanya Xika. Sudah omong kosong panjang lebar, pada akhirnya tidak berhasil. Xika tidak bisa membayangkan betapa malunya Hua Zhantian.


"Bodoh! Aku bisa menyerap energi kehidupan dari semua mahkluk hidup. Dan itu termasuk dirimu!"


SYUT!


Sulur tanaman kembali muncul. Kali ini tidak sebesar sebelumnya, tapi lebih kuat dan tebal. Sulur tersebut segera mengikat kedua kaki dan tangan Xika, dan melilit tubuhnya memastikan ia tak bisa kabur. Xika yang terlambat sadar tidak bisa menghindar dari sulur Hua Zhantian kali ini.


Grep!


Ketika tangan Hua Zhantian menyentuh kulitnya, Xika dapat merasakan qi asing masuk ke tubuhnya berniat mencuri kehidupannya. Ia berusaha menghentikannya namun qinya masih terlalu lemah untuk menghadang qi Hua Zhantian.


Qi asing itu mulai masuk semakin dalam berniat mencari sumber kehidupannya dan tak ada yang bisa Xika lakukan selain menonton kehidupannya dicuri begitu saja.


"Brengsek! Apa-apaan ini?!"


Mendadak Hua Zhantian berteriak kaget sambil menatap Xika. Namun kali ini tatapan yang digunakannya bukanlah tatapan tajam seperti sebelumnya melainkan tatapan ketakutan seperti menatap mahkluk mengerikan yang sama sekali bukan manusia.


"Kau..........kau bukan manusia! Dimana dantianmu?!" teriaknya histeris. Kemudian mendadak mukanya berubah. "Oh, tunggu. Ini dia! Bahahahahha! Dantianmu mungkin terletak di tempat yang tak biasa, namun itu tak ada bedanya. Aku akan menghisap energi kehidupan yang ada di dalam dantianmu sampai kering dan membuatmu bagaikan mayat hidup!


Hm, tunggu. Apa ini? Kenapa kau memiliki dua dantian? Tidak, tiga? Bukan, empat! Apa-apaan ini! Brengsek, aku tinggal menyerap semuanya saja!"


Setelah menemukan empat dantian Xika, Hua Zhantian segera berusaha menghisapnya. Namun mendadak, ia berteriak kesakitan.


"AKHHHHH!!!!"


"Sialan, rupanya kau mengincar dantianku. Bilang daritadi dong!" ucap Xika tersenyum sembari memejamkan mata. Awalnya ia bingung bagaimana menghalangi qi Hua Zhantian dan hanya menggunakan qi asal dari salah satu dantiannya.


Namun ketika ia sadar bahwa yang diincar adalah dantiannya, ia mengambil qi dari keempat dantian ditambah seluruh dantian yang ada di tubuhnya, kemudian mencampuradukannya menjadi satu lalu kembali menyerang Hua Zhantian. Hasilnya? Pria itu berteriak-teriak histeris.


Xika melirik sekelilingnya dan melihat suasana semakin memanas. Berbagai tubuh tergeletak baik milik manusia maupun Spirit Beast. Ia harus mengakhiri pertarungan ini dengan segera.


SYUT!

__ADS_1


SWUSH!


SLASH!


JLEB!


Ketika sudah berhasil mengusir qi Hua Zhantian dari tubuhnya, Xika langsung memerintahkan kartunya untuk melesat menuju Hua Zhantian. Darah muncrat ke mana-mana, namun ia masih belum mati. Hampir.


"Aku sudah mengotori kartuku dengan menggunakannya untuk menusukmu. Aku tak akan mengotori lebih dari itu."


Kemudian Xika berjalan mengambil tombak kayu yang dijatuhkan Hua Zhantian ketika pahanya sebelumnya ditusuk oleh kartu Xika. Lalu ia menatap Hua Zhantian dengan hina. Bisa dibilang, awal mula permasalahannya dengan Xingli dan Wu Liao dikarenakan pria ini.


Hua Zhantian, terbaring tak berdaya dengan keempat anggota tubuhnya ditusuk oleh kartu, menatap Xika dengan pandangan ngeri bercampur takut sekaligus menyesal. Mungkin, kalau ia tahu dari awal betapa menyeramkannya Xika, ia tak akan mengusiknya. Tapi semua itu sudah terlambat sekarang.


"Semoga jiwamu tidak tenang dan mendapat penyiksaan selamanya." ucap Xika mengantar kepergian Hua Zhantian.


SYUT!


JLEB!


Dan begitulah akhir hidup dari keturunan pemilik ruangan ini, murid yang sebelumnya dinyatakan sebagai Murid Dalam Nomor Satu, Hua Zhantian.


Kalau situasi lebih tenang, Xika ingin membuat pemakaman untuk Hua Zhantian dengan tulisan 'Dibunuh oleh Xing Xika' seperti sebelumnya, tapi tampaknya saat ini ia tak punya waktu.


Penghalang ruangan menghilang ketika Xika menusukkan tombak Hua Zhantian ke leher pemiliknya sendiri. Ia segera bergabung dengan Huo Bing dan Heiliao. Di hadapan mereka berdirilah para Pemimpin Sekte yang ekspresi wajahnya kurang baik.


Xian Cheng, Kepala dari Immortal Pearl Pavillion, kembali berbicara.


"Sejujurnya, aku tak terlalu mempedulikan anak itu. Ia adalah pembuka jalan yang bagus, tak lebih dari itu. Sekarang bagaimana kalau kita membuat kesepakatan? Biarkan kami mengambil buah itu dan kami tak akan membunuh binatang-binatang menjijikan ini lagi."


Dari segi pasukan, jelas Spirit Beast kalah dengan para murid dari Sekte Besar. Hal itu dapat terlihat dari banyaknya jasad yang ada, sekalipun ada beberapa murid yang meninggal, tapi jumlah Spirit Beast yang meninggal lebih banyak.


"Maaf, kami tak menerima kesepakatan dalam bentuk apapun." ucap Xika langsung tanpa berpikir.


"Kukira kau menyayangi binatang-binatang itu, rupanya aku salah. Bagaimana kalau kita bagi saja buah-buah itu? Dengan begitu, kita dapat menghindari pertumpahan darah yang tak diingankan, bukan?"


"Hei sialan, kau tuli ya? Kami sudah bilang bahwa kami tak menerima kesepakatan apapun." teriak Huo Bing.


Xian Cheng mengepalkan tangannya. Terlihat jelas ia marah namun berusaha menahannya.


"Saudara Xian, untuk apa repot-repot bernegosiasi dengan mereka?" Tian Yue, ayah dari Tian Yin sekaligus pemimpin Sky Devouring Castle saat ini, maju berbicara menggantikan Xian Cheng.


"Maaf, kebiasaan pedagang." ucap Xian Cheng mengusap kepalanya.


Tian Yue menatap Xika dan lainnya dengan tajam. "Nak, meskipun kau berbakat, tapi kau masih belum cukup kuat. Kuakui, kau memang lebih berbakat daripada putraku, namun putraku saja saat ini berhasil mengalahkanmu. Apa kau pikir hanya bertiga mampu mengalahkan kami semua?"


"Tua bangka brengsek, tutup mulut baumu!"


Sayangnya yang menjawab Tian Yue barusan bukanlah Xika. Dari balik ruang yang menghubungkan tempat ini dengan Akademi, berjalanlah seorang pria yang membenci Xika sama seperti Xika membencinya. Pria yang membuatnya babak belur belum lama ini, Tian Yin.


Ia berjalan melewati para pemimpin sekte tanpa menunjukkan rasa hormat sedikitpun pada mereka. Ketika jaraknya tidak terlalu jauh dari Xika, ia berkata,


"Aku tak akan berbasa-basi. Serahkan seluruh buah itu padaku dan enyahlah."


"Atau apa?" tanya Xika masih tidak takut meskipun di pertarungan sebelumnya ia sudah kalah.


Tian Yin, tidak menjawab pertanyaan Xika. Ia hanya tersenyum percaya diri nan keji, kemudian melemparkan sesuatu ke arah Xika.


BRUK!

__ADS_1


Xika menatap baik-baik benda apa yang dilemparkan Tian Yin. Awalnya bersikap waspada karena takut itu merupakan jebakan, namun sedetik kemudian pandangannya berubah.


Di hadapannya Xika, tergeletaklah seorang pria paruh baya yang penuh dengan luka-luka. Bajunya robek di sana-sini dan seluruh tubuhnya penuh dengan memar. Terlihat jelas bahwa pria itu sudah disiksa sebelum di bawa kesini. Pria itu adalah orang yang telah dicari-carinya sejak lama, pamannya Fa Diala.


__ADS_2