Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-245


__ADS_3

Dua hari berlalu dengan cepat. Selama dua hari ini, tak ada yang keluar baik Xika, Huo Bing, maupun Heiliao. Mereka hanya keluar di penghujung hari kedua untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai babak selanjutnya dari kompetisi ini.


Babak selanjutnya akan di selenggarakan di Gunung dimana hanya Murid Inti yang bisa masuk. Entah kenapa, tapi Jing Wei membuka Gunung itu untuk sekte lain. Yang boleh masuk ke gunung hanya para peserta, tapi pada hari ketiga, Jing Wei dan keempat tetua akan membuat layar besar untuk menonton situasi para peserta di dalam Gunung.


Ketika Jing Wei menjelaskan, Xika merasakan firasat buruk. Katanya, para peserta akan diberikan sebuah jimat dan sebuah mutiara kecil. Bagi mereka yang menyerah atau menghadapi bahaya dapat menggunakan jimat itu. Hanya tinggal mengaliri sedikit qi ke dalam jimat, kemudian benda itu akan membawa para peserta kembali ke Akademi.


Sementara untuk mutiara, para peserta diharuskan untuk saling memperebutkan mutiara itu. Di Gunung, ada banyak mutiara yang tersebar dimana-mana. Syarat untuk lolos babak kedua ini adalah memiliki sepuluh mutiara. Namun, Jing Wei tidak menyebutkan bagaimana cara merebut mutiara. Itu artinya, para peserta bebas melakukan apapun untuk mendapatkan mutiara.


Dan lagi, semakin banyak mutiara yang kita bawa, semakin banyak manfaat yang kita dapatkan. Jing Wei tidak mengatakan manfaat apa yang akan diberikan, tapi itu saja cukup untuk membuat para peserta bersemangat.  Juga, untuk babak ini para peserta dipersilahkan menggunakan artefak masing-masing. Mereka bebas menggunakan senjata, pelindung, atau pil apapun. Sebuah aturan yang sangat merugikan sekte kecil.


Dari kabar yang ia dengar, kurang lebih ada beberapa ratus sekte yang ikut dalam kompetisi kali ini. Di babak penyisihan kemarin, setengah peserta telah tereliminasi. Tapi kebanyakan sekte membawa lebih dari satu murid. Meskipun cukup banyak yang terliminasi, tapi masih banyak juga yang tersisa. Mungkin, masih tersisa seratus-sampai dua ratus lagi?


Artinya, babak kedua adalah Battle Royale. Itu adalah hal yang sangat merugikan bagi Xika yang hanya seorang diri sebagai perwakilan dari Akademi. Ia jadi lumayan menyesal Huo Bing dan Heiliao tidak mengikuti kompetisi ini. Tapi ia harus berjuang sendiri. Ia tak bisa bergantung pada mereka berdua selamanya. Agar ia kuat. Agar kejadian dua hari lalu tidak perlu terulang lagi.


Ketika menyadari bahwa ia tak bisa melakukan apapun sementara Xingli dibawa pergi oleh pria itu, Xika merasa bahwa ia ditampar oleh sebuah fakta.


Ia lemah.


Memang, ia lebih kuat dibanding murid baru lainnya. Ia berhasil menjadi Murid Inti dalam waktu yang sangat singkat. Ia berhasil mengalahkan Hua Zhantian dan kurang lebih telah mengalahkan Seratus Terkuat dari Murid Inti. Tapi pada akhirnya ia masih lemah. Jangankan pria itu, menahan serangan Jing Wei saja ia tak bisa.


Ia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa tak akan ada lagi situasi dimana ia tak bisa melakukan apapun dan hanya bisa menyaksikan semuanya terjadi begitu saja. Ia akan menjadi kuat sampai kejadian itu tak perlu terulang lagi. Dan untuk meraih semua itu, pertama-tama ia harus memenangkan kompetisi ini dulu.


Jing Wei selesai memberikan penjelasan mengenai babak ketiga. Ia menuntun para peserta menuju pintu masuk Gunung itu. Gunung di mana ia menyelamatkan Wu Liao, bertarung dengan Hua Zhantian, dan bertemu dengan Xingli. Sialan, fokuslah! Ia harus fokus pada pertandingan.


Setelah menekankan sekali lagi untuk melakukan kompetisi ini dengan jujur dan adil, yang menurut Xika tidaklah mungkin, Jing wei membuka pintu masuk itu. Para murid dari sekte besar dan kecil segera melesat menuju pintu masuk itu. Xika juga tak ketinggalan. Setelah melirik Huo Bing dan Heiliao sekilas, ia memasuki pintu itu.


SWUSH!


Xika tiba di lokasi yang berbeda dengan terakhir kali ia ke tempat ini. Kemudian ia melihat sekelilingnya dan tak menemukan siapapun. Padahal ia memasuki pintu itu bersamaan dengan sekian banyak orang. Tampaknya pintu itu memindahkan setiap orang secara acak. Kalau begini ceritanya, maka mereka yang memutuskan untuk berkelompok dari awalpun pasti akan terpecah belah.


Ini kesempatannya. Mungkin ia bisa menghajar mereka yang masih terpecah belah dengan kelompoknya. Atau, ia juga membuat kelompok saja ya? Dalam situasi seperti ini, pasti ada banyak yang membentuk kelompok, tidak peduli berasal dari sekte kecil ataupun besar.


Tapi setelah dipikir-pikir lagi, kelompok itu terbentuk atas dasar keuntungan masing-masing. Jadi itu tidak memiliki dasar yang kuat. Lagipula, bisa dikatakan ia tak boleh mempercayai siapapun dalam situasi seperti ini. Jadi lebih baik ia tidak membentuk kelompok saja.


Kalau ada Huo Bing dan Heiliao sih, ia tak perlu repot-repot memikirkan kelompok lagi. Mereka adalah saudaranya. Kelompok terbaik. Kemudian Xika menggelengkan kepalanya. Ia mencoba berfokus untuk pertandingan ini.


"Hm?"

__ADS_1


Tidak jauh darinya, Xika melihat beberapa tanaman yang cukup langka. Di atas bunga itu, terdapat mutiara. Senyum Xika langsung merekah. Jadi ini yang dimaksud Jing Wei dengan 'ada banyak mutiara yang tersebar dimana-mana'.


Cepat-cepat ia menghampiri tanaman itu dan mengambil mutiara di atasnya. Tadinya ia ingin mengambil tanaman itu juga karena tanaman itu cukup berharga. Sayangnya, beberapa saat setelah mutiara itu diambil, tanaman itu langsung menghilang.


Pantas saja Jing Wei mengizinkan banyak murid masuk ke dalam gudang harta karunnya seperti ini. Gunung ini dapat dianggap gudang harta karun karena banyaknya tanaman berharga yang terkandung di dalamnya. Awalnya Xika curiga kenapa Jing Wei membiarkan murid dari sekte lain masuk ke tempat yang penuh dengan benda berharga seperti ini. Rupanya karena ia telah menempatkan pelindung di tiap tanaman. Mutiara itu memiliki fungsi sebagai pelindung juga. Jadi, murid dari sekte lain tak bisa mengambil tanaman dari tempat ini.


Wush!


Set!


Sebuah pisau melesat mengincar punggungnya. Tanpa berbalik, Xika menendang pisau itu hingga kembali ke pemiliknya.


"Kawan, kami menemukan mutiara itu terlebih dahulu, namun kami ingin membaginya bersama-sama. Di saat kami mendiskusikan pembagian mutiara itu, kau datang dan mengambil semua mutiara. Tidakkah menurutmu itu kurang pantas?"


Xika berbalik dan melihat bahwa ada lima orang yang mengincar mutiara barusan. Beberapa mengenakan seragam yang berbeda, jadi tampaknya mereka berkumpul hanya karena keuntungan masing-masing.


"Heh, sampah! Kalau mau merebut, ya rebut saja. Untuk apa banyak omong kosong? Lelaki kok banyak omong." ucap Xika tak peduli sekalipun lawannya menang jumlah.


"Ho! Tadinya aku ingin meminta baik-baik, tapi kau menolak. Jangan salahkan aku karena tidak sopan!" Pria itu segera menerjang Xika disertai empat orang lainnya.


Kelimanya langsung berhenti.


"Aku tidak keberatan berbagi mutiara tadi......"


"Pilihan bijak. Rupanya kau tahu mana yang baik dan mana yang buruk." ucap pria pertama mengejek.


".....tapi hanya mereka yang layak yang dapat memilikinya. Menurutku, hanya kaulah yang layak memiliki mutiara ini. Setelah kulihat-lihat, sisanya lebih lemah darimu. Kenapa kau membentuk aliansi dengan mereka yang lemah? Kenapa tidak kita bagi dua saja mutiara ini? Lalu kita hajar mereka dan rebut mutiara mereka."


Pria pertama tampaknya senang karena pujian Xika. Dan setelah melihat penampilan Xika yang tampaknya cukup kuat, ia mulai memikirkan usul Xika untuk beraliansi dengannya. Cepat-cepat temannya di samping menjawab.


"Heh, Zhang Fu tidak akan tergoda dengan tipuan seperti itu. Kau pasti berniat menusuk Zhang Fu dari belakang, bukan?" tanya temannya itu lebih kepada Zhang Fu.


"T-tentu saja......Mana mungkin aku mengkhianati kalian? Ayo kita serang dia!"


Mendengar ucapan Zhang Fu itu teman-temannya langsung menghembuskan nafas lega. Kemudian mereka langsung menerjang Xika. Namun tanpa mereka sadari, Zhang Fu tidak bergerak dari tempatnya.


Xika menyambut dua serangan yang datang dengan baik. Ia menghindari pukulan pertama dan memberikan tendangan sebelum pukulan kedua datang. Satu orang telah tumbang. Kemudian orang kedua datang dan menyabetkan pedangnya. Karena Xika tampaknya unggul dalam pertarungan jarak dekat, ia ingin bertarung sambil menjaga jarak.

__ADS_1


Meskipun, sebenarnya tindakannya itu tidak berguna menghadapi Xika. Sambil menghindari sabetan pedang itu, Xika kembali melayangkan kakinya. Pria itu berhasil menghindar, namun sebelum ia sempat memberikan serangan lagi, pukulan Xika telah menghantam perutnya dan sukses membuatnya pingsan.


Dua serangan sisanya tidak pernah datang. Zhang Fu berubah pikiran dengan cepat ketika melihat Xika menghabisi teman-temannya dengan cepat. Ia bisa mendapatkan lebih banyak keuntungan ketika bersama Xika dibanding ketika ia bersama mereka.


Jadi cepat-cepat ia menyerang dua mantan rekannya yang tersisa. Karena keduanya tak menyangka akan diserang dari belakang, jadi serangan Zhang Fu berhasil menumbangkan keduanya dengan cepat.


Zhang Fu melirik Xika. "Penawaran tadi, apa masih berlaku?"


Xika menjawab dengan senyum. "Tentu saja masih. Aku tahu kau orang yang bijak."


Lagi-lagi Zhang Fu tersenyum mendengar pujian Xika. "Baiklah kalau begitu, mari kita ambil mutiara mereka dan membaginya sama rata."


"Tentu." Xika tak menolak.


Cepat-cepat Zhang Fu menggeledah tubuh mantan rekannya mencari dimana mutiara itu disembunyikan. Ia takut Xika mendadak berubah pikiran dan menolak bekerja sama dengannya. Padahal ia salah. Dari awal, Xika tak pernah berniat untuk beraliansi atau bekerja sama dengannya.


BWOSH!


WREK!


Xika melambaikan tangannya dan angin tajam menerjang Zhang Fu. Reaksi Zhang Fu sama seperti rekannya ketika diserang dari belakang. Serangan berlangsung sukses. Zhang Fu berusaha keras membalikkan badannya dan menatap Xika dengan bingung sekaligus terkejut.


"Aku tak berniat untuk bekerja sama dengan orang yang mampu membuang rekannya dengan mudah sepertimu. Oh, dan dari awal aku memang tak berniat untuk bekerja sama dengan siapapun. Aku hanya menipumu karena bosan. Dan menghemat waktu."


Seketika itu juga, Zhang Fu menyesal telah membuang rekannya begitu saja. Kalau mereka bersama tadi, mungkin masih ada kesempatan untuk menjatuhkan Xika. Kini, kesempatan itu telah menghilang sama sekali.


"Nah, sekarang.....selamat tinggal!"


Sekali lagi Xika melambaikan tangannya dan jimat di jubah Zhang Fu menyala kemudian membawanya pergi sebelum sempat memohon-mohon atau melakukan hal semacamnya. Xika melakukan hal yang sama pada rekan-rekan Zhang Fu yang malang.


Setelah mereka menghilang, hanya mutiara dari tubuh mereka yang tersisa. Xika mengambilnya dan menyimpannya di balik jubahnya. Kemudian ia memandangi tangannya. Ia berusaha meniru teknik yang dilakukan pria pelayan Xingli sebelumnya.


Ia tak yakin apakah sudah benar atau belum. Tapi kalau sudah benar, maka artinya tak ada yang spesial dari teknik pria itu. Ia menang hanya karena tingkat kultivasinya lebih kuat dari mereka bertiga. Ia menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.


"Kau yang disana, tak perlu bersembunyi lagi. Aku sudah selesai membereskan mereka, apa lagi yang kau tunggu? Kalau kau mau menyerang, harusnya daritadi." ucap Xika sambil tersenyum.


Ia merasakan keberadaan lain tidak jauh dari tempatnya berada sejak Zhang Fu dan lainnya mengepung dia. Dan sesuai dugaannya, pria itu keluar dari tempat persembunyiannya.

__ADS_1


__ADS_2