
Jleb!
Sebuah panah menancap di pohon dekat ketiganya berdiri. Jika Heiliao tak menunduk tepat waktu, besar kemungkinan panah itu menancap di kepalanya. Huo Bing memandang panah itu dan Xika secara bergantian.
"Bagaimana......"
"Aku bahkan tak merasakannya........"
"Tak ada waktu. Lihat!" Xika menunjuk panah tadi. Pohon yang menjadi sarang panah itu perlahan-lahan mulai layu dan menjadi tua. Kemudian dari mata panahnya menetes cairan hijau yang langsung membuat rumput layu saat jatuh.
"Panah itu beracun. Kita harus bergegas." Xika melompat naik ke punggung Heiliao dan serigala itu berlari maju. Meskipun masih bingung, tapi ia tahu ada hal yang lebih penting saat ini. Panah tadi itu datang tanpa aba-aba dan serigala hitam itu sama sekali tak merasakannya.
"Lompat!"
"Apa?"
"Lompat saja!"
Heiliao tidak bertanya lebih lanjut dan mengikuti perkataan Xika. Sesaat setelah ia melompat, lubang besar muncul di bawahnya. Heiliao menatap lubang itu dengan kaget, tapi Xika tak memberikannya waktu.
"Cepat! Masih ada lagi!"
Setelah itu, Heiliao terus menerus menemui jebakan yang untungnya berhasil ia hindari berkat peringatan tepat waktu Xika. Panah beracun, lubang jebakan, pohon yang tiba-tiba tumbang, gas beracun yang menyembur tiba-tiba, dan masih banyak lagi jebakan yang tak bisa dirasakan oleh Heiliao.
Hal itu membuatnya sangat pusing sekaligus bingung. Meskipun ia mengulang hidupnya dan kultivasinya lebih rendah dibanding sebelumnya, tapi ia masih lebih kuat dari Xika. Tapi kenapa ia tidak merasakan jebakan-jebakan itu sama sekali, sementara Xika yang lebih lemah darinya bisa merasakan semuanya dengan tepat tanpa ada kesalahan satupun?
"Lompat ke pohon sebelah kanan, setelah itu berputar dua kali!"
Heiliao tidak bertanya lagi. Sejauh ini saran Xika terbukti berhasil meskipun ia tak tahu bagaimana anak itu mengetahuinya. Huo Bing di sisi lain, melihat Xika yang dapat menghadapi berbagai jebakan dengan baik, ia tak lagi setegang sebelumnya.
"Xika, ayo lanjutkan ceritamu. Aku masih penasaran."
"Burung Setengah Matang, kau masih berniat mendengarkan cerita dalam situasi seperti ini?"
"Xika tahu dimana jebakannya datang, dan kau bisa menghindarinya. Kenapa tidak?"
Serigala hitam itu sampai tak bisa berkata apa-apa pada Huo Bing.
"Baiklah, baiklah. Akan kulanjutkan- Menunduk! -Sampai di mana tadi? Ah, ya. Hanya ada satu jalan untuk masuk. Kemudian setelah kau masuk, kau akan menemui bahaya yang lebih banyak dibanding sebelumnya. Ada berbagai jebakan- Lompat ke kanan! -yang akan menunggu untuk menghabisi para pengelana.
Jebakan itu terpasang di semua penjuru hutan. Jadi tidak peduli- Menghindar! -kemanapun kau pergi, pasti kau akan menemui jebakan. Tapi jebakan itu hanya ada di sampai bagian tengah hutan. Lompat!"
"Jadi maksudmu kita bisa tenang setelah melewati bagian tengah hutan?" tanya Huo Bing dengan tertarik. Ia masih berupa roh jadi tidak terlalu mempedulikan jebakan-jebakan yang ada dan berfokus mendengarkan cerita Xika. Beberapa panah bahkan menembus tubuhnya tapi tak ia pedulikan.
Berbeda dengan Heiliao. Serigala hitam itu berkonsentrasi pada perkataan Xika-bukan ceritanya-dan bersiap mengikuti apa yang ia katakan. Ia tak terlalu memperhatikan cerita Xika karena banyaknya jebakan, tapi satu hal yang ia tangkap adalah cerita tidur Xika berhubungan dengan tempat ini.
"Justru sebaliknya. Masalah yang sebenarnya baru dimulai setelah kita melewati bagian tengah hutan."
Heiliao berhenti sebentar untuk beristirahat. Lagipula Xika tak memberikan tanda bahaya lagi, jadi sepertinya tempat ini aman untuk sementara.
"Mengingat tidak ada jebakan lagi, kurasa kita sudah melewati bagian tengah hutan?"
"Ya, sepertinya begitu."
"Lalu dimana masalah yang kau bicarakan itu?"
"Jebakannya memang hanya ada sampai tengah hutan. Tapi ada hal lain yang menunggu di balik itu. Para pengelana akan diberikan waktu satu menit untuk beristirahat. Jadi sebaiknya kita gunakan baik-baik."
"Satu menit? Aku tidak merasa lelah sama sekali. Ayo maju saja. Aku penasaran apa yang menunggu kita."
Heiliao ingin membalas perkataan Huo Bing, tapi perhatiannya teralihkan pada tulisan yang ada di sebuah papan.
__ADS_1
"Xika, papan apa itu?"
Xika menoleh dan membaca tulisan yang ada di papan itu. Ekspresi wajahnya berubah-rubah. Kadang senang, kadang sedih, kadang tak yakin. Tapi yang paling kelihatan adalah dua ekspresi terakhir. Wajahnya dipenuhi keraguan yang bercampur kesedihan.
"Xika?"
"Siapa yang takut, akan menutup jalannya. Siapa yang berani akan membuka jalannya."
Bukannya menjawab, Xika malah membawa tulisan di papan itu dengan cukup lantang. Huo Bing dan Heiliao saling bertukar tatapan dan kembali menemukan kebingungan di mata masing-masing. Tapi belum sempat mereka bicara, sebuah suara terdengar.
"Ini bukan tempat kalian. Pergilah."
"Apa? Siapa kau?! Kemarilah kalau berani! Aku ingin lihat siapa yang berani mengusirku!" ucap Huo Bing tidak kalah lantang dengan Xika, namun kali ini terdengar nada kesal. Sementara Heiliiao menoleh ke sana kemari mencari asal suara itu tapi tidak menemukannya.
Di saat mereka menatap Xika hendak meminta penjelasan, karena ia terlihat seolah familiar dengan tempat ini, mereka menemukan anak itu lagi-lagi melamun. Tapi kali ini dengan air mata.
"Hiks......."
"Xika? Apa yang terjadi? Apa aku salah bicara?"
"A...yah....."
"Apa?"
Xika menoleh masih dengan air mata membuat Huo Bing dan Heiliao semakin bingung. Suaranya terdengar serak dan matanya menumpahkan air mata. Tapi ia tidak mengalihkan pandangan dari sosok yang muncul entah sejak kapan di samping mereka.
Sesosok pria dengan topi bambu seperti dalam cerita bela diri. Sosok itu memiliki pedang panjang di pinggangnya. Kepalanya ia tundukkan sehingga tidak ada yang bisa melihat wajahnya, tapi tanpa melihatpun Xika sudah tahu wajah seperti apa yang ada di balik topi bambu itu.
"Ayah........."
Xika menatap sosok itu dengan senyum yang dialiri air mata. Tapi sosok itu seolah tak mempedulikannya sama sekali. Ia bicara lagi,
"Ini bukan tempat kalian. Pergilah."
"Huo Bing, diam dulu."
Belum sempat Huo Bing memberikan protes pada Heiliao, Xika sudah kembali bicara.
"Tidak. Ini adalah tempatku. Kau sendiri yang mengatakannya..............ayah."
".............."
Sosok itu tidak bicara lagi. Tapi ia mulai bersiap bertarung. Huo Bing menatap sosok itu dengan kesal. Ia juga siap untuk bertarung.
SRING!
"Jangan pedulikan pedangnya."
"Apa?"
Pria bertopi bambu itu mengayunkan pedangnya membuat Heiliao dan Xika menghindar ke arah yang berlawanan. Tapi pria itu tidak mengejar Heiliao. Ia hanya mengincar Xika. Entah karena apa.
Whush!
Pria itu memberikan berbagai tebasan tapi tak ada satupun yang berhasil mengenai Xika. Kemudian anak itu berhasil mendapatkan momen yang tepat dan menendang tangan pria itu hingga melepaskan pedangnya.
DUAK!
Tapi seolah tak peduli dengan pedangnya, sosok itu menendang Xika sesaat setelah Xika berhasil menjatuhkan pedangnya.
Xika mundur beberapa langkah. Sosok itu diam sebentar. Kemudian kembali memberikan berbagai serangan dengan anggota tubuhnya. Tapi kali ini Xika tak berhasil menghindari semuanya. Banyak serangan yang mendarat di tubuhnya.
__ADS_1
"Serigala Gosong, apa yang kau lakukan? Ayo bantu dia!"
"Tidak."
"Apa?"
"Tidakkah kau mengerti? Xika memanggil orang itu dengan sebutan ayah. Ini adalah pertarungannya."
"Bukankah ia hanya melantur dan mengucapkan apa yang ada di pikirannya?"
"Sepertinya tidak. Apa kau tidak merasakan ada yang berbeda? Meskipun terpojok, tapi Xika benar-benar menikmati pertarungan ini."
"Apa? Lalu kenapa sosok itu tak bergeming meskipun Xika memanggilnya ayah? Dan kalau memang benar pria itu adalah ayahnya, kenapa ia menyerang anaknya sendiri?"
".........aku tak tahu. Tapi yang pasti kita tak bisa mengganggunya. Ini pertarungannya. Biarkan dia menikmatinya."
Huo Bing mendengus sebagai tanggapan atas ucapan Heiliao. Kemudian ia berbalik dan berteriak.
"XIKA! BUTUH BANTUAN?"
"MUNGKIN NANTI!"
Selesai menjawab, Xika langsung menundukkan kepalanya menghindari tendangan di atasnya. Ia memberikan tendangan balasan, namun dengan mudah ditahan oleh pria bertopi bambu itu. Meskipun begitu, senyum lebar diiringi air mata terpampang di wajah Xika.
"Apa kau tidak merasa aneh? Sebelumnya, saat menggunakan pedang, Xika dapat menghindari semua serangan dengan mudah. Tapi kali ini setelah kehilangan pedangnya, Xika justru tidak bisa menghindari serangan pria itu sebaik sebelumya."
"Bukan Xika yang tidak bisa menghindarinya. Tapi sosok itu yang mengubah gaya bertarungnya. Apa kau ingat perkataan Xika sebelumnya? 'Jangan pedulikan pedangnya'. Kurasa pedang hanyalah pengalih perhatian. Jadi siapapun yang melawannya akan besar kepala karena bisa mengatasinya.
Kemudian ketika ia melepas pedangnya, dimulailah pertarungan yang sebenarnya. Dan lawannya yang sebelumnya berada di atas angin akan kebingungan menghadapi pola serangan yang berubah secara drastis."
Huo Bing mengangguk-nganggukkan kepalanya. Ia sedang duduk di samping bersama Heiliao. Karena serigala hitam itu melarangnya membantu Xika, dan Xika sendiri juga tidak membutuhkan bantuannya, maka ia memilih duduk untuk menonton pertarungan.
"Namun karena lawannya adalah Xika, maka taktik itu tak terlalu berhasil?"
"Ya. Justru karena hal itu aku jadi semakin yakin bahwa pria itu memang ayah Xika."
"Tapi bagaimanapun juga aku masih merasa aneh. Kenapa seorang ayah memperlakukan anaknya seperti itu?"
"Kau tidak ingat? Bukankah sebelum-sebelumnya Xika memang sering menceritakan ayahnya yang aneh? Mungkin saja ini salah satu bagian dari keanehan ayahnya."
"Betul juga."
Huo Bing teringat saat di taman serigala, Xika pernah bercerita bahwa ayahya sering memberinya racun. Mungkin saja pertarungan kali ini seperti yang diucapkan Heiliao. Semacam pertarungan selamat datang mungkin?
Kemudian mereka tak bicara lagi dan memperhatikan pertarungan keduanya. Tapi beberapa saat berlalu dan keduanya memicingkan mata mereka.
"Hei, apa hanya perasaanku saja atau....."
"Ya, sosok itu kelihatannya bukan sosok yang bisa dikalahkan Xika."
"Tapi anak itu pasti tahu cara mengalahkannya. Ia tahu seluruh jebakan di hutan ini, ia pasti tahu bagaimana cara mengalahkan sosok itu meskipun ia lebih lemah."
"Sepertinya........ia sedang menahan diri."
"Apa?"
"................"
Huo Bing menatap sosok pria bertopi bambu itu dengan seksama. Ia memperhatikannya dari atas sampai bawah dengan mata lebar dan tak melewatkan satupun bagian.
"Maksudmu Xika sengaja menahan diri agar bisa berlama-lama dengan sosok yang ia panggil ayah itu? Dan sosok itu sebenarnya tidaklah nyata, benar kan?"
__ADS_1
Heiliao mengangguk.