Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-186


__ADS_3

"Apa? Aku tidak salah dengar kan?"


"Xingli dan Xika pernah bertarung sebelumnya? Dan lagi mereka tidak berhasil menentukan pemenangnya?"


"Sial, aku iri sekali....."


Perbincangan Xika dan Xingli itu langsung mengundang berbagai reaksi dari para penonton, meskipun kurang tepat disebut perbincangan karena hanya Xika yang berbicara. Beberapa orang merasa senang karena sudah menduga dengan benar bahwa Xika memang memiliki hubungan dengan Xingli sebelumnya. Tapi beberapa lagi merasa sedih karena hal itu berarti bahwa kemungkinan Xika bersama dengan Xingli lebih besar.


"Hm? Tunggu dulu. Haruskah kita menggunakan semua kemampuan kita?"


Xingli membalasnya dengan tatapan yang berkata 'kenapa tidak?'


"Yah, baiklah."


Sring!


Xingli mengeluarkan pedangnya dan bersiap untuk menyerang Xika. Xika sendiri tersenyum sambil mengeluarkan Space Shifternya yang kini berbentuk tongkat. Space Shifter muncul secara tiba-tiba jadi banyak orang mengira Xika mengeluarkannya dari cincin spasial, tapi Penatua Fen melihat bahwa tongkat di tangan Xika itu sebelumnya berwujud gelang.


Keduanya saling tatap selama dua detik sebelum sama-sama menghilang dari tempat keduanya berada. Ketika pedang Xingli dan tongkat Xika bertemu, tak banyak orang yang bisa melihat gerakan keduanya dengan jelas. Yang bisa mereka lihat hanyalah gerak samar.


Tapi Penatua Fen berhasil melihat gerakan mereka dengan jelas. Dan hal itu hanya membuatnya semakin kagum dengan pasangan anak muda ini. Gerakan yang digunakan Xingli tajam namun anggun, sementara gerakan Xika unik dan tak terbaca.


WUSSH!


Xingli menyabetkan pedangnya mengincar leher Xika, gadis itu benar-benar ganas. Xika tersenyum dan menunduk sambil menyapu kaki Xingli menggunakan tongkatnya.


Gadis itu refleks melompat, tapi itulah yang ditunggu Xika. Di udara ia tak bisa menghindar. Namun Xingli tak perlu menghindar. Orang bilang bahwa serangan adalah pertahanan terbaik, jadi ketika Xika hendak menusukkan tongkatnya, Xingli melambaikan tangannya dan lima lubang putih muncul mengeluarkan lima pedang yang berbeda yang sama-sama mengarah menuju Xika.


"Uwahhh.....Ini dia teknik andalan dewi kita, Lubang Putih yang Memuntahkan Segalanya!"


Banyak orang yang bersemangat melihat salah satu teknik terkenal Xingli ini. Reputasi gadis itu tidak dibangun berdasarkan kebohongan. Beberapa kali ketika Xingli menghadapi lawan yang merepotkan, ia membuat lubang-lubang itu dan seluruh musuhnya berhasil ia kalahkan.


"Hmm, ganas seperti biasanya ya. Tapi aku sudah bisa mengatasi gerakanmu yang ini." ucap Xika masih dengan senyum di wajahnya.


Sama seperti gadis itu, Xika juga melambaikan tangannya. Hanya saja kali ini yang muncul adalah lima lubang hitam, bukan putih. Kelima pedang yang muncul dari lubang putih Xingli hanya bisa terbang beberapa meter sebelum masuk ke dalam lubang hitam Xika.


"A-apa...?"


"Di-dia juga......bisa.....?"


"Tidak mungkin! Anak itu berhasil menghadapi teknik andalan dewi kita?"


Banyak orang yang terkejut ketika melihat Xika berhasil menahan lubang putih Xingli. Bahkan gadis itu sendiri terkejut melihat Xika berhasil menahannya dengan cara ini. Di pertarungan mereka sebelumnya, Xika memang bisa menahan lubang-lubang itu meskipun ia jadi terdesak.

__ADS_1


Tapi menahannya dengan cara ini......Xingli sama sekali tak pernah menduganya. Kenapa Xika bisa membuat lubang yang sama dengannya? Darimana ia mendapatkan kekuatan itu? Apa ia juga.....


Xika dapat melihat jelas pupil mata Xingli yang membesar ketika ia menciptakan lubang hitam. Bahkan mulutnya sedikit terbuka. Dan harus Xika akui, gadis itu cantik bagaimanapun ekspresinya. Tapi melihat ekspresinya yang terkejut seperti ini tidak buruk juga. Lagipula hampir sepanjang waktu gadis itu tidak memiliki emosi dan ekspresi.


"Lihat kemana kau?"


Suara Xika di telinganya menyadarkan Xingli. Tapi ia terlambat, kini tongkat Xika kurang dari satu meter dengan dirinya. Gadis itu hanya bisa menahan tongkat Xika dengan bagian datar pedangnya.


Meskipun berhasil ditahan, tapi Xingli tetap terlempar karena serangan Xika itu. Pada saat ini, hampir semua pasang mata memandang Xika dengan amarah yang membara. Bukannya mereka tidak pernah melihat Xingli bertarung atau terluka sebelumnya, hanya saja Xika benar-benar menyerang Xingli tanpa belas kasihan.


Bagaimanapun juga lawannya adalah seorang gadis. Apalagi gadis yang memiliki penampilan bagaikan dewi. Bagaimana bisa Xika tega menyerangnya tanpa sedikitpun belas kasihan? Sebelum-sebelumnya, semua pria yang menantang Xingli, meskipun ada beberapa yang berhasil melukainya, tapi tak ada yang setega Xika.


Xika hendak maju tak memberikan Xingli istirahat, tapi mendadak punggungnya terasa dingin. Ketika ia berbalik, ia mendapati hampir semua orang yang hadir menatapnya dengan tajam. Kalau tatapan bisa membunuh seseorang, mungkin Xika sudah mati berkali-kali.


Tapi Xika yang telah tinggal selama sepuluh tahun dengan hinaan sebagai makan siang dan ejekan sebagai makan malam tak terlalu mempedulikan pandangan orang banyak. Ia melesat maju tak menghiraukan beberapa pria yang kini meneriakinya.


"Sialan! Laki-laki macam apa kau? Apa kau tega melukai gadis secantik itu?"


Karena Xika sempat teralihkan sebentar, Xingli berhasil menstabilkan tubuhnya. Ketika Xika datang, gadis itu sudah siap. Mereka saling bertukar serangan. Xika memukul kepala Xingli, dan gadis itu menahannya. Xingli menusuk dantian Xika, pemuda itu membelokkan arah pedang Xingli sehingga hanya menyerempet baju Xika.


Kini situasi yang sama dengan pertarungan dua tahun yang lalu kembali terulang. Xingli dan Xika bertarung dengan seimbang. Namun, Xika yang menggunakan tongkat lebih unggul. Sementara Xingli tak bisa melukainya karena diluar jangkauan pedang, Xika bisa melukai gadis itu karena masih dalam jangkauan tongkat. Yah, meskipun luka yang ia berikan hanya luka memar.


Tapi pertarungan mereka kali ini lebih ganas dibanding sebelumnya. Meskipun kali ini bukan pertempuran hidup dan mati, tetap saja mereka bertarung seolah sedang mempertaruhkan nyawa. Xika semakin pandai dengan tongkatnya, begitu juga Xingli dengan pedangnya.


TAK!


Xingli menendang Space Shifter Xika kemudian melakukan gerakan mengecoh dan mengganti pedangnya dengan yang lebih panjang. Kini perbedaan jangkauan mereka tidak sejauh sebelumnya. Namun tetap saja, pedangnya lebih pendek dari tongkat Xika.


"Hoi, Xika! Ini kan sudah pernah. Bosan, ah! Ganti yang lain dong."


Yang dimaksud Huo Bing 'sudah pernah' adalah adu tongkat dengan pedang.


"Hmm....Benar juga. Kita coba yang lain, kali ini." Xika juga melakukan gerakan mengecoh. Ia membuat Space Shfter mengecil sampai para penonton mengira tongkatnya masuk ke dalam cincin spasial, kemudian di saat ukurannya masih kecil, Xika mengubah bentuknya menjadi pedang baru membesarkannya lagi.


"Baiklah. Mari kita coba." ucap Xika sambil memutar-mutar pedang di tangannya.


Sekali lagi, Xika dan Xingli kembali beradu serangan. Namun kali ini bukan tongkat melawan pedang, melainkan pedang melawan pedang.


Ketika Xika mengganti senjatanya, banyak orang merasa pesimis. Normalnya, seseorang hanya akan berbakat di satu bidang. Kalau kau ahli pedang, tidak mungkin kau ahli tongkat. Kalau kau ahli tongkat, tidak mungkin kau ahli pedang.


Jadi meskipun permainan tongkat Xika bagus, banyak yang meragukan bahwa ia bisa sebaik itu dalam memainkan pedangnya. Tapi sekali lagi, mereka dikejutkan dengan betapa mahirnya Xika menggunakan pedang. Setidaknya ia bisa menyamai Xingli dalam hal berpedang.


Xingli tidak memiliki perubahan emosi. Tapi samar-samar Xika merasa gadis itu terkejut juga dengan permainan pedangnya.

__ADS_1


Keduanya memang beradu pedang, tapi bukan berarti anggota tubuh mereka yang lain diam saja. Baik tangan maupun kaki keduanya tak pernah berhenti. Ketika Xingli berhasil mematahkan serangan pedangnya, Xika memberinya tendangan telak di perut.


Tentu saja, ia berhasil mendapat tatapan tajam yang penuh dengan nafsu membunuh. Tapi baik Xika maupun Xingli sama-sama mengabaikan penonton dan berfokus pada pertarungan mereka.


Sementara para penonton kesal karena Xika tidak memberikan belas kasih, Xingli justru senang dengan perlakukan Xika itu. Tindakan Xika berarti ia memperlakukan Xingli dengan hormat. Ia tidak memandang rendah Xingli hanya karena ia wanita, tapi menganggapnya sebagai lawan yang sepadan yang harus dikalahkan dengan seluruh kemampuan.


Tring! Tring! Trang!


Suara pedang yang beradu memenuhi Halaman Utama. Meskipun para penonton kesal dengan Xika, mereka harus mengakui bahwa pemuda itu memang hebat. Selama ini tak pernah ada yang bisa mengalahkan gadis itu dari generasi yang sama.


Tapi saat ini di depan mereka berdiri seorang pemuda yang sedang bertarung melawan Xingli, gadis yang tak terkalahkan. Dan keduanya seimbang.


Whush!


Sret!


Xika berhasil memberikan luka gores pada Xingli yang ditanggapi dengan sorakan 'HUUUUU!!!!'. Gadis itu memberikan tendangan sebagai balasan. Xika refleks melompat mundur.


Tapi belum sampai kakinya di tanah, sesuatu yang berkilau melesat maju. Xika mengambil selembar kartu dan menepis benda berkilau yang ternyata adalah jarum.


Ketika Xika mendarat, ia melihat bahwa kini di tangan kanan gadis itu terdapat pedang, sementara tangan kirinya menjepit beberapa jarum.


"Pedang dengan jarum? Kau benar-benar semakin hebat."


Xingli menanggapi pujian Xika itu dengan lemparan jarum, kemudian melesat maju.


"Hehehe.....kalau begini aku juga tak bisa kalah!"


Xika menepis jarum-jarum Xingli sebelum menyambut serangan ganas Xingli. Sambil menebaskan pedangnya, sesekali gadis itu melemparkan jarum dari jarak yang amat dekat.


Sementara para penonton tidak dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi, Penatua Fen bisa. Dan ia tahu betapa berbahayanya melempar jarum dari jarak sedekat itu.


Ting!


Ketika jarum Xingli hendak menembus kulit Xika, terdengar suara logam beradu. Ternyata Xika berhasil mengendalikan kartunya untuk menahan jarum Xingli.


"Nah, begini baru seru. Ayo!"


Kini Xika bertarung bukan hanya dengan pedang dan anggota tubuhnya yang lain, tapi juga dengan kartu-kartunya. Xingli juga begitu. Pedang dengan ratusan jarumnya yang melayang terbang. Sementara Xika mengendalikan kartunya hanya menggunakan pikirannya, Xingli mengendalikan jarumnya dengan qinya.


"Ini....apa ini?"


"Apa yag terjadi? Kenapa keduanya mendadak diselimuti badai?"

__ADS_1


Di mata para penonton, pertarungan Xika dan Xingli kini tengah diselimuti badai. Saking cepatnya jarum dan kartu mereka, orang banyak mengira itu adalah badai.


__ADS_2