
Shu Mang terdiam cukup lama. Akhirnya ia memutuskan untuk menjawab.
"Itu racun Purple Blood Devilish Scorpion."
Semuanya langsung terdiam mendengar ucapan Shu Mang. Sebenarnya yang benar-benar terkejut hanyalah Xika dan Lang Yao, sisanya tidak mengerti tapi mereka juga ikut diam sehingga membuat suasana benar-benar hening.
"Blood Devilish Scorpion ya......dan lagi yang berwarna ungu.........setahuku jenis yang itu sudah tidak banyak......"
"Memang tidak." Lang Yao disampingnya melanjutkan. "Apalagi di Dinasti Lin. Hanya ada satu orang yang bisa memiliki racun itu. Sang Tangan Ungu."
Xika memegang dagunya sambil mengangguk-ngangguk berpura-pura mengerti. Tapi dalam hati ia bertanya pada Huo Bing.
"Huo Bing! Huo Bing! Siapa itu Tangan Ungu?"
"Mana kutahu. Kenapa kau tanya padaku?"
"Hanya kau yang bisa aku tanyai."
Kemudian terdengar suara Heiliao.
"Kenapa aku tidak dihitung?"
"Heiliao? Kenapa kau bisa bicara di kepalaku?"
Xika diam selama sedetik kemudian kembali bicara.
"Ah, ya. Benar juga. Kita telah mengikat sumpah."
"Apa yang mau kau tanyakan?"
"Heh, apa yang aku tidak tahu memangnya kau tahu?"
"Kita lihat saja dulu."
"Siapa itu Tangan Ungu?"
"Salah satu dari lima ahli racun tertinggi yang berdiri di puncak Dinasti Lin."
"Apa? Lalu bagaimana bisa Shu Mang bermusuhan dengan Tangan-apalah itu?"
"Entahlah. Kurasa ia juga sama penasarannya kenapa kau bisa bermusuhan dengan bocah sialan itu."
Xika memang terkejut, tapi ia tidak memperlihatkannya. Jadi Lang Yao mengira ia juga tahu siapa itu Tangan Ungu. Xika menoleh dengan tatapan tenang.
"Bagaimana bisa kau bermusuhan dengan Tangan Ungu?"
Shu Mang tidak menjawab. Ia mengalihkan pandangannya. Wajahnya memberikan ekspresi yang sulit.
Lang Yao mundur beberapa langkah. Ia menoleh pada Lang Jin dan memberikan geraman. Kali ini ia benar-benar menggunakan bahasa geraman dan berkomunikasi dengan serigala hitam itu. Lang Jin mengangguk sesekali dan memberikan pandangan serius. Yah, ia hampir tidak pernah memberikan ekspresi tidak serius sih.
Serigala hitam besar itu mendekat pada Xika dan memberikan geraman. Xika tidak perlu mengerti bahasa geraman untuk tahu apa yang dipikirkan Lang Jin. Ia menoleh dan ikut mendekat juga.
"Hm? Ada apa?"
Lang Jin diam. Ia memberikan ekspresi bingung. Bagaimana ia bisa bicara pada Xika tanpa didengar oleh manusia lainnya? Kemudian Xika memberikan tanda dan kali ini Lang Jin mengerti. Xika meminta ia terus bicara dan ia memberikan geraman pada Xika. Anak itu melakukan hal yang sama dengan Lang Jin sebelumnya. Mengangguk dan membuat ekspresi serius.
"Hm, hm...Ya, ya.....begitu.......oke, aku mengerti."
Xika berbalik pada Shu Mang. Wajahnya tidak lagi santai seperti sebelumnya.
"Yah, kau sebaiknya mengatakan alasan kenapa Tangan Ungu berniat membunuhmu. Atau semua kesepakatan kita sebelumnya dibatalkan. Ah, itu kata mereka. Jangan khawatir, hubungan kita sebagai orang asing akan tetap bertahan, kok. Tidak akan berubah menjadi musuh."
Sejujurnya, bagian belakang kalimat Xika tidak benar-benar membantu. Dan ekspresi Shu Mang juga tidak membaik. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi kalau mengatakan darimana racunnya berasal. Tapi bila ia berbohong mengenai racunnya bisa-bisa ia tidak akan pernah sembuh.
"........"
"A-aku hanya kebetulan bertemu dengannya di tambang secara tidak sengaja. Siapa yang tidak akan menjadi gila melihat harta yang begitu banyak?"
"Aku yakin kau sudah mengatakan bahwa orang itu memang berniat membunuhmu sejak lama. Apa kau mendadak amnesia?"
Shu Mang mengumpat dalam hati.
__ADS_1
"Dengar, aku tidak ada maksud untuk mengkhianatimu sama sekali atau semacamnya, tapi ini masalah yang penting, oke? Aku memang tidak akan menjadi musuhmu, tapi aku juga tidak mau menemanimu kembali ke tambang itu, tanpa tahu alasanmu bermusuhan dengannya. Itu terlalu beresiko."
"................"
"Aku.........bisa menggunakan Divine Array."
Hanya Xika yang menatap dengan aneh. Sisanya menatap dengan terkejut, bingung, dan tidak percaya. Anak itu benar-benar tidak mengerti apa yang dibicarakan Shu Mang. Shu Mang berasal dari Divine Array Clan. Bukankah wajar ia bisa menggunakan Divine Array? Justru akan aneh kalau tidak bisa bukan?
Xika terdiam beberapa saat. Begitu juga dengan yang lainnya. Meskipun tidak terlalu mengerti, tapi pertanyaan yang ia ajukan berikutnya cukup masuk akal.
"Apa hubungannya Divine Array dengan Tangan Ungu yang berniat membunuhmu?"
Shu Mang kembali terdiam. Ia berpikir keras untuk menjawab pertanyaan itu. Ia memilah informasi yang akan dikeluarkannya dengan hati-hati.
"Tangan Ungu.......memiliki permusuhan dengan klanku."
Xika menatap serigala lainnya.
"Memangnya kenapa? Bukannya hampir seluruh klan yang ada bermusuhan dengannya? Bukankah Ahli Racun biasanya dibenci?"
"Ini berbeda. Ia mempunyai dendam yang dalam dengan klanku. Cukup dalam sampai ingin memusnahkan klanku."
Xika tadinya ingin menanyakan hal yang terlintas di kepalanya, namun ia melihat wajah Lang Jin dan tahu pikiran serigala itu. Jadi ia menanyakan apa yang ada di kepala serigala hitam besar itu.
"Apa kau meminta kami membunuhnya dengan imbalan tambang itu?"
"Tidak. Aku tidak pernah berpikir begitu. Tapi karena kalian menginginkannya, kenapa tidak membunuhnya? Dengan begitu kalian bisa menguasai tambang itu bukan?"
Lang Jin menggeram dan Xika kembali 'menerjemahkan'.
"Menurutnya, lebih mudah untuk bekerja sama dengan Tangan Ungu daripada denganmu. Kesulitan dan resikonya jauh lebih kecil daripada bekerjama sama denganmu."
Shu Mang mulai panik.
"Ta-tapi...dengan begitu kalian akan mendapatkan bagian yang lebih sedikit bukan?"
"Nyawa lebih penting dari harta. Tak peduli harta apa yang ada di tanganmu, kau tidak akan bisa menggunakannya bila kau sudah tidak bernyawa."
"Jadi apa kalian akan mengkhianatiku?"
Xika tidak menjawab. Begitu juga serigala yang lain. Mereka tidak memberikan reaksi apapun selain ekspresi yang sulit dibaca, bahkan oleh Xika sekalipun.
Lang Jin menggeram pada Xika. Ia mengangguk sebagai jawaban. Pada saat ini, Xika benar-benar terlihat seperti mengerti bahasa geraman.
"Kami akan mendiskusikan masalah ini lebih lanjut dengan pemimpin serigala. Aku akan memerintahkan beberapa serigala untuk menjagamu. Setidaknya, lukamu tidak akan memburuk."
Shu Mang tidak menjawab. Ia hanya memberikan ekspresi sulit. Lang Jin berbalik dan pergi diikuti oleh para serigala lainnya. Xika menatap Shu Mang sekali lagi sebelum ia pergi. Dan keduanya sama-sama kesulitan membaca ekspresi satu sama lain.
----------------
"Bagaimana menurutmu? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Xika setelah mereka menghilang dari pandangan Shu Mang.
"Grrr....."
Xika mengerutkan keningnya. Lang Jin kembali bicara. Mungkin lebih tepat disebut menggeram.
"Grr..."
"Hei, aku tidak mengerti. Bisakah kau bicara menggunakan bahasa manusia? Aku benar-benar tidak mengerti bahasa kalian."
Dan seketika itu juga semua serigala berbalik. Lang Jin, Lang Shu dan serigala lainnya menatapnya dengan mata lebar penuh dengan ketidakpercayaan.
"Apa? Kenapa kalian menatapku begitu? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?"
Mereka saling berpandangan. Dan untuk beberapa saat, tidak ada yang menjawab. Akhirnya Lang Jinlah yang pertama bicara.
"Apa kau benar-benar tidak mengerti apa yang kukatakan barusan?"
"Tentu saja. Yang keluar dari mulutmu hanya 'grr...' dan 'auu....' bagaimana aku bisa mengerti itu? Aku belum cukup lama berada disini."
Kini tatapan Lang Jin berubah menjadi bingung sekaligus aneh.
__ADS_1
"Lalu kenapa kau bisa mengerti apa yang kukatakan didepan manusia itu?"
"Apa yang kau bicarakan?"
"Ketika aku menggeram-dalam bahasamu-di depan manusia itu, kau benar-benar menerjemahkan ucapanku. Semuanya tepat tanpa ada kesalahan satupun."
Kali ini giliran Xika yang terdiam. Ia tidak tahu harus bicara apa.
"Ehh, anu.......kalian tahu kan kemarin aku hanya bicara asal dan tidak benar-benar menerjemahkan apa yang Lang Jin katakan?"
Mereka semua mengangguk. Dan Lang Shu bicara.
"Jangan katakan kau melakukan hal yang sama kali ini?"
"Eh...kenapa kau berpikir aku melalukan hal yang berbeda?"
"Mustahil! Kalau begitu kenapa kau bisa menerjemahkan semua perkataan Jin Gege* dengan benar tanpa ada satupun kesalahan?"
Xika menggaruk kepalanya sebelum menjawab.
"Yah, mungkin karena aku bisa membaca ekspresinya?"
"Tapi mustahil untuk tidak ada kesalahan sama sekali." ucap Lang Shu masih tidak percaya yang diikuti gumaman persetujuan dari serigala lain.
"Entahlah. Tapi kalau soal membaca ekspresi, aku sudah pernah bertemu mahkluk yang lebih sulit lagi dibaca ekspresinya. Jadi membaca ekspresi Lang Jin tidak sulit bagiku. Setidaknya saat di depan Shu Mang. Kali ini ekspresinya cukup rumit dan sulit dibaca."
Beberapa serigala masih ragu-ragu dengan jawaban Xika, tapi Lang Jin kembali berjalan. Ia tidak terlalu memikirkan hal itu. Ada hal lain yang lebih penting untuk dipikirkannya. Dan merekapun kembali berjalan ketika melihat serigala hitam besar itu berjalan. Dan kemudian, mereka mengobrol dengan bahasa manusia.
Xika mengulangi pertanyaannya. Lang Jin kembali menjawab, dengan bahasa manusia.
"Entahlah. Aku masih tidak yakin. Sejujurnya pihak manapun yang kita pilih cukup beresiko. Tapi kita harus bertanya pada para pemimpin terlebih dahulu."
"Menurutmu, mana yang resikonya lebih besar?"
"Keduanya sama besar. Kalau kita memilih pemuda itu, maka kita akan berhadapan dengan Tangan Ungu dan itu pasti akan menyebabkan konsekuensi yang tak sedikit Tapi kalaupun kita menyerahkan manusia itu, tidak ada jaminan Tangan Ungu akan bekerja sama dengan kita dan membagi tambangnya. Besar kemungkinan ia akan melawan kita juga."
Dan suasana kembali hening. Xika mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Lang Yao, bagaimana menurutmu? Kalau kita memilih pihaknya, berapa lama sampai ia sembuh total? Dan berapa lama sampai ia bisa menuntun kita?"
Serigala itu mengerutkan keningnya.
"Sulit dikatakan. Seperti yang dikatakannya sebelumnya, ini semua tergantung bagaimana kita merawatnya."
"Aku masih tidak mengerti maksudnya."
"Kalau kita ingin, kita bisa menyembuhkan dirinya sampai pulih seluruhnya. Tapi itu semua tergantung pada keputusan yang diambil para pemimpin. Kita juga bisa menyembuhkannya sebagian, atau sebatas menahan racunnya selama beberapa waktu saja. Atau bisa juga kita memberikan pengobatan ala kadarnya. Semuanya tergantung bagaimana keputusan para pemimpin."
"Kenapa harus menunggu keputusan para pemimpin?"
"Karena tanaman yang digunakan untuk menyembuhkannya tidak banyak. Dan cukup langka."
"Lalu bagaimana kau bisa menyembuhkannya hanya sebagian? Atau menahan racunnya?"
"Kita akan menggunakan tanaman yang berbeda, tentu saja. Dosisnya masing-masing berbeda. Begitu juga dengan kelangkaannya."
Xika mengangguk. Untuk sesaat, ia benar-benar melupakan informasi yang ia peroleh di perpustakaan lantai satu. Bersamaan dengan selesainya percakapan, mereka sampai di lapangan tempat Xika bertarung denan Lang Jin sebelumnya.
-----------------------------------------------
*Jin Gege.
Gege disini artinya kakak laki-laki. Bisa diucapkan dari laki-laki ke laki-laki bisa juga diucapkan dari perempuan ke laki-laki. Dibaca : keke, pake huruf k, bukan g. Dalam bahasa mandarin, g dibaca k. Sementara k dibaca kh.
Misal:
Gege, dibaca keke.
Kuai, dibaca Khuai.
Dalam bahasa Indonesia mungkin terdengar seperti Kak Jin. Seperti Xika memanggil Lian Minjie dan lainnya. Kenapa harus menggunakan bahasa Mandarin padahal kita di Indonesia? Karena yang pertama kali mengeluarkan novel dengan tipe kultivasi adalah mereka. Tentu saja kita juga harus menghormati mereka, salah satunya dengan menambahkan sedikit kebudayaan mereka. Memang, kita adalah orang Indonesia, tapi bukan berarti kita tidak boleh mempelajari budaya negara lain. Lagipula menggunakan istilah Mandarin membuat kita lebih mudah mendapatkan suasananya.
__ADS_1