Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-91


__ADS_3

Mata Xika langsung terpaku pada sosok berjubah merah dengan simbol burung dan ular yang sedang bertarung tersulam di atasnya. Tapi Huo Bing dan Heiliao tidak menyadarinya. Mereka sedang sibuk berdebat mana yang lebih enak antara cireng atau bala-bala.


"Huo Bing." panggil Xika tanpa menoleh.


"Nah, Xika! Menurutmu mana yang lebih enak? Cireng atau bala-bala?"


"Huo Bing!" panggil Xika lebih keras.


Huo Bing menoleh dengan tatapan yang setengah bingung setengah kesal. Heiliao saat ini sedang mendeskripsikan tekstur dan rasa dari cireng.


"Dengarkan pembicaraan mereka."


Huo Bing menaikkan sebelah alisnya. Kemudian ia mengikuti arah tatapan Xika dan alisnya langsung mengkerut. Ekspresinya berubah menjadi serius. Ia mengabaikan Heiliao yang saat ini sedang menjelaskan bagaimana cara pembuatan cireng.


Ia mengepakkan sayapnya kemudian terbang ke bawah menuju pemuda berjubah merah yang memiliki simbol tersebut. Ia tidak menggunakan terlalu banyak energi untuk membentuk tubuhnya jadi hawa keberadaanya tipis dan tidak mudah dirasakan.


Sebelum ia sempat mendengarkan pembicaraan mereka, matanya menangkap sesuatu yang membuatnya mengerutkan kening, lagi.


Ia melihat Hei Bao.


Pria berpakaian hitam itu tersenyum ramah dan sopan pada pemuda berjubah merah itu. Ia menarik sebuah kursi kemudian membersihkannya terlebih dahulu sebelum mempersilahkan pemuda itu duduk. Namun ekspresi pemuda itu biasa saja seolah itu hal yang biasa. Bahkan ia tidak terlalu peduli.


"Tuan Muda, bagaimana perjalanannya? Kenapa Tuan Muda tidak mengabari saya terlebih dahulu? Saya pasti akan menyediakan tempat yang lebih baik untuk Tuan Muda."


Sebuah suara muncul di kepala Xika. Itu adalah suara Hei Bao yang didengar Huo Bing. Karena saat ini jiwa Huo Bing dan Xika masih berada dalam tubuh yang sama, mereka bisa melakukan itu.


Reaksi yang Xika berikan juga sama. Seperti Huo Bing, ia bingung kenapa Hei Bao bersikap sangat sopan pada pemuda itu. Ia melihat keduanya dari atas. Meskipun tidak terlalu jelas tapi lebih baik daripada hanya mendengar suara.


Xika menepuk-nepuk kepala Heiliao membuat serigala itu menyadari apa yang terjadi. Ia langsung mengakhiri pidato panjangnya tentang sejarah cireng dan ikut memperhatikan Hei Bao beserta pemuda itu. Meskipun ia tidak bisa mendengar suara Huo Bing di kepalanya, tapi kupingnya cukup tajam untuk mendengar dari jarak 5 lantai lebih.


Awalnya Xika mengunci pandangannya pada Hei Bao. Berharap dapat membunuhnya melalui tatapan. Namun pemuda itu menarik matanya. Entah kenapa ia merasa seolah pernah melihat pemuda itu sebelumnya, bahkan pernah bertemu.


Selama beberapa saat, Xika tidak terlalu memperhatikan Hei Bao dan apa yang ia bicarakan, tapi hal itu memang tidak penting. Hei Bao hanya berbasa-basi dengan pemuda itu. Dari gerak-gerik tubuhnya, pemuda itu juga bosan dengan basa-basi Hei Bao. Dan ia sama sekali tidak menyembunyikannya dari Hei Bao.


Akhirnya ia tidak tahan lagi. Pemuda itu menguap ketika Hei Bao sedang berbicara fasilitas apa yang akan ia siapkan bila sang pemuda menghubunginya lebih dulu.


Dan seketika itu juga Xika mengenali pemuda itu. Sebelumnya ia tidak melihat wajahnya karena duduknya membelakangi Xika. Namun kini ketika ia menguap dan mengarahkan mulutnya ke atas, Xika dapat melihat wajahnya dengan jelas.


Pemuda itu adalah anak yang sama ketika Desa Crucosyta tengah dibantai. Anak kecil berpakaian merah mahal yang berada di tengah pembunuh-pembunuh. Xika pernah berharap pemuda itu akan menyelamatkannya. Namun tidak butuh waktu lama bagi harapannya untuk hancur.


Pemuda itu tidak mempedulikannya. Bahkan memberinya tatapan menjijikan seolah ia tak layak hidup.


Xika tidak tahu apa yang ia rasakan. Bingung? Sedih? Marah? Entahlah. Semuanya seolah bercampur aduk menjadi satu dan mengaduk-ngaduk perasaannya saat ini. Pikirannya juga kalut, tapi ia berusaha untuk fokus dengan pembicaraan keduanya.


"Cukup basa-basinya. Aku kemari bukan untuk mendengarkan omong kosongmu. Bagaimana dengan klan yang sebelumnya kusebutkan? Apa namanya? Shaking Card? Heh. Nama yang konyol."

__ADS_1


Hei Bao tidak terlihat tersinggung ketika pemuda itu bersikap tidak sopan padanya. Tapi ia tidak langsung menjawab. Ia tersenyum sopan sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Pemuda itu melihat bahu kiri Hei Bao dan keningnya sedikit berkerut.


"Dimana tanganmu satunya lagi?"


Untuk sesaat, Xika tidak mengerti apa yang pemuda itu bicarakan. Ia mengumpulkan qi di matanya kemudian pandangannya menjadi lebih jelas. Dan ia melihat bahwa dari bahu kiri ke bawah, tidak ada apa-apa. Tempat di mana seharusnya terletak tangan kiri Hei Bao kini tak ada apa-apa.


Ia tidak menyadarinya sebelumnya ketika melihatnya di jalan.


Hei Bao menoleh ke arah bahu kirinya.


"Ini? Ah, ini bukan apa-apa. Saya berjanji hal ini tidak akan mempengaruhi saya kedepannya."


Menurut Xika, Hei Bao lebih takut tidak digunakan lagi karena memiliki satu lengan daripada dimarahi karena hanya memiliki satu lengan. Firasat buruk beserta dugaan-dugaan buruk merayap naik ke kepalanya. Tapi ia menyangkalnya. Tidak mungkin pemuda itu terhubung dengan pembantaian Desa Crucosyta.


"Kuharap begitu." Pemuda itu melirik Hei Bao sekilas kemudian melihat hal lain. "Apa kau sudah menyelesaikannya?"


Hei Bao sedikit menunduk.


"Mengenai masalah itu..........saya sudah membereskan hampir seluruhnya. Mereka memberikan sedikit perlawanan tapi itu tidak masalah. Pemimpin mereka meledakkan dirinya berharap berhasil membunuh saya, tapi ia hanya berhasil meledakkan tangan saya. Semua generasi muda sudah saya bereskan. Shaking Card tidak akan muncul lagi dalam peta."


Setiap kata yang dikeluarkan Hei Bao membuat perasaan Xika semakin buruk. Eskpresinya pun tidak jauh berbeda.


Pemuda itu menatap Hei Bao dengan tajam. Dan tatapannya berhasil membuat pria berusia kepala tiga itu menundukkan kepalanya sambil berkeringat dingin.


"Kau sudah tahu maksud perkataanku. Apa anak itu masih hidup."


Pemuda itu bertanya dengan nada yang tidak bertanya. Dan hal itu membuat Hei Bao mengucurkan keringat dingin yang lebih banyak.


"U-untuk saat ini belum diketahui.......Ta-tapi saya akan pastikan secepat mungkin."


Pemuda itu menatapnya. Hei Bao sama sekali tidak berani membalas. Ia hanya menundukkan kepalanya. Tanpa sadar tubuhnya gemetar.


Xika harusnya senang melihat Hei Bao yang selama ini bersikap sombong dan angkuh kini ketakutan. Tapi ia tidak merasakannya sekarang. Mungkin karena pemuda itu penyebabnya.


Heiliao menatap Xika dari samping. Mungkin anak itu tidak sadar, tapi ia mengepalkan kedua tangannya kuat sekali. Tapi itu tidak sebanding dengan tatapannya. Tatapannya begitu penuh dengan kebencian dan niat untuk membunuh, Heiliao tidak tahu kebencian dan niat membunuh itu diarahkan kemana.


"Hampir seluruhnya. Berapa banyak orang yang masih hidup?"


Hei Bao berusah menenangkan tubuhnya yang gemetaran. Tatapan pemuda itu semakin intens dan membuatnya takut. Sementara itu Xika sedang menahan nafasnya. Ia takut untuk menerima kebenaran tapi ia juga ingin mengetahui keadaan pamannya.


"Du-dua........" jawab Hei Bao dengan tubuh bergetar. Nampaknya usahanya untuk menenangkan tubuhnya tidak berhasil.


"Siapa?"

__ADS_1


Jantung Xika berdegup sangat cepat sekarang. Cukup cepat sampai ia bisa merasakan detakannya tanpa meletakkan tangannya di dadanya.


"A-adik dari pemimpin klan..........."


Xika melepaskn nafas penuh kelegaan. Ia tidak sadar tapi sebelumnya ia menahan nafas. Kini ia bernafas kembali dengan tenang. Pikirannya jadi lebih tenang. Dan ia berkonsentrasi lebih banyak pada Hei Bao dan pemuda itu.


Ketika Xika ingin melihat ke bawah kembali, Heiliao menghentikannya.


"Xika, sudah cukup. Mundurlah. Mereka akan menyadarimu bila kau melihat ke bawah lagi. Untuk sementara dengarkan saja suara burung itu."


Dengan enggan Xika berjalan mundur dan merapat ke depan pintu kamarnya, menghilang sepenuhnya dari pandangan Hei Bao yang sudah mulai merasakan keberadaan lain. Ngomong-ngomong, Heiliao memiliki ikatan dengan Xika, jadi ia tahu bila Huo Bing dan Xika sedang berkomunikasi.


"Apa kau sudah memastikan identitas anak itu?"


Meskipun sudah tidak bisa melihat lagi, tapi Xika masih tetap mendengar perbincangan keduanya dari Huo Bing.


"A-anu......"


Xika memang tidak lagi melihat. Tapi ia yakin bahwa Hei Bao saat ini sedang menundukkan kepala dengan tubuh gemetaran sedangkan si pemuda tengah menatapnya dengan tajam.


"Saat itu Tuan Muda terlihat tidak peduli, ja-jadi saya......"


PLAK!


Tanpa perlu melihatpun Xika sudah tahu apa yang terjadi. Pemuda itu menampar Hei Bao. Xika ingin sekali melihat ekspresi Hei Bao saat ini.


Setelah itu terdengar suara kursi digeser dan langkah kaki yang berjalan menjauh. Sepertinya pemuda itu tidak ingin bicara lagi.


Xika menunggu cukup lama sebelum Huo Bing akhirnya kembali. Tapi ia datang dari arah yang berbeda. Bukan dari arah bawah melainkan dari samping Xika.


"Kenapa kau datang dari situ?"


Huo Bing melakukan gerakan seolah ia kelelahan.


"Hah....Pria itu cukup waspada. Sepertinya ia mulai menyadari keberadaanku. Ia menyebarkan qi nya di seluruh lantai satu. Kalau tidak cukup hati-hati mungkin ia akan menemukanku."


Xika mengangguk menanggapi Huo Bing. Tapi Huo Bing tahu ada yang salah dari ekspresi Xika.


"Ada apa? Apa kau mendapatkan sesuatu?"


Huo Bing cukup bingung. Harusnya Xika senang karena pamannya masih hidup dan belum tertangkap. Apa mungkin ia sedih karena klannya telah dibantai habis? Tapi sejauh yang Huo Bing tahu, Xika tidak memiliki perasaan apapun pada klan itu.


"Kita bicara di dalam." kata Xika dengan muram.


Dengan Huo Bing dan Heiliao di pundaknya, Xika melangkah masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2