
Xika berdiri di tengah ruangan bawah tanah itu sambil memegang piringan bulat yang sebelumnya merupakan bagian tengah dari lantai ruangan atas.
"Jadi........kutaruh begini saja?"
"Benar. Sekarang mundurlah." ucap Huo Bing.
Setelah itu ia melebarkan sayapnya yang mulai bersinar dan keluarlah dua klon dirinya dari masing-masing sayapnya.
Huo Bing beserta kedua klonnya membuka mulut mereka. Kemudian menembakkan serangan berkekuatan sama besar menuju piringan bulat itu.
Ia menembaknya selama beberapa saat. Kemudian piringan itu bersinar. Pola-pola lain yang ada di dinding juga ikut bersinar.
Cahayanya semakin terang sampai Xika harus menutup matanya selama beberapa saat.
Namun ketika ia membukanya lagi.........
"Eh? Kenapa kita masih disini? Huo Bing, apa kau belum makan? Seingatku kau yang menghabiskan daging Viper tadi."
Huo Bing tidak menanggapi Xika. Ia juga sama bingungnya dengan anak itu.
Kemudian Huo Bing mencobanya sekali lagi.
Ia menembakkan serangannya lebih lama dibanding sebelumnya. Piring itu kembali bersinar, diikuti dengan pola di dinding. Cahaya semakin menyilaukan dan........
Tidak terjadi apa-apa.
Heiliao mencari tahu apa yang salah. Tapi Huo Bing masih mencobanya lagi.
Setelah kegagalannya yang keempat, Huo Bing baru berhenti.
"Hah...hah........sepertinya.......ada yang salah.....dengan...hah......formasinya...." ucap Huo Bing kelelahan karena kehabisan qi.
Xika juga ikut berpikir di sebelah Heiliao.
"Apa formasinya rusak?"
"Tidak. Formasinya tidak akan menyala kalau itu rusak. Pasti ada hal lain."
"Apa karena beberapa pola di dinding telah rusak karena pertarungan kita?"
"Bisa jadi. Aku akan mencoba memperbaikinya."
Kemudian serigala itu berjalan ke bagian dinding yang retak. Ia menempelkan cakarnya di dinding. Kemudian cakarnya bersinar dan pola yang sebelumnya terhapus karena pertarungan mereka kembali muncul di dinding yang retak itu.
Heiliao berjalan ke semua dinding yang hancur atau retak. Ia memperbaiki semuanya.
Setelah selesai, ia kembali ke samping Xika dan berteriak pada Huo Bing.
"Coba lagi!"
Huo Bing menampilkan ekspresi yang aneh ketika Heiliao berteriak. Xika menduga sepertinya ia kelelahan.
Huo Bing membuka mulutnya hendak protes.
"Apa? Kau sudah kelelahan? Hmph! Ternyata memang harus aku yang maju." kata Heiliao meremehkan.
Dan Huo Bing kembali menutupnya.
"A-aku tidak pernah bilang aku lelah. Kapan aku bilang itu? Aku hanya mau bilang kau bisa mengandalkanku." ucap Huo Bing yang diakhiri dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Cepatlah kalau begitu." ucap Heiliao senang karena siasatnya berhasil.
Huo Bing kembali melebarkan sayapnya, dan kembali menciptakan dua klon.
Ia melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Menembak piringan bulat itu.
Tapi tidak ada yang terjadi setelah formasi itu menyala.
Huo Bing tiduran di tanah. Ia kelelahan. Ia langsung mengumpulkan qi untuk menghilangkan rasa lelahnya.
"Hmm.....sepertinya bukan itu masalahnya." ucap Heiliao tidak mempedulikan Huo Bing yang kelelahan.
Kemudian menoleh pada Xika dan bertanya,
"Ada usul lain?"
Xika diam sebentar sebelum menjawab ,
__ADS_1
"Formasi itu memindahkan semua yang tidak berkepentingan. Apa itu artinya kita masih punya kepentingan di tempat ini?"
"Masuk akal." ucap Heiliao sambil mengangguk. Kemudian ia berjalan mengelilingi ruangan itu hendak mencari tahu apa lagi yang harus mereka lakukan untuk pergi dari tempat ini.
Xika juga ikut dengan Heiliao. Ia mengamati sekelilingnya dengan seksama.
Sementara itu Huo Bing masih mengumpulkan qi dengan susah payah.
Xika dan Heiliao selesai mengelilingi tempat itu entah untuk yang keberapa kalinya. Tapi mereka tetap tidak menemukan apapun.
Kemudian Xika mengangkat kepalanya dan menoleh ke sebuah sudut di ruangan itu.
Ia diam sebentar sebelum mengutarakan apa yang ada di pikirannya.
"Heiliao, sepertinya memang benar urusan kita belum selesai di tempat ini."
"Hm? Apa kau sudah menemukannya?"
Xika mengangguk. Kemudian ia memberi tanda menggunakan kepalanya agar Heiliao melihat arah yang ia tunjuk.
Heiliao menoleh dan menemukan apa yang diduga Xika masih memiliki urusan dengan mereka.
Di sudut itu terletak mayat Tetua Agung yang tiga ular itu bicarakan sebelumnya. Mayatnya sudah cukup membusuk hingga tinggal tersisa tulangnya. Tapi ukurannya membuat siapapun tahu bahwa ia adalah mahkluk yang cukup berbahaya ketika ia hidup.
Heiliao dan Xika berjalan mendekati mayat itu. Sebelumnya mereka sama sekali tidak pernah mendekatinya karena ada aura tidak mengenakan di sekitarnya. Tapi kali ini, apa boleh buat.
Semakin dekat dengan mayat itu, aura tidak mengenakan itu semakin terasa.
Kini Xika dan Heiliao berdiri di depan mayat itu dengan jarak beberapa meter.
"Apa yang harus kita lakukan dengan mayat ini?" tanya Xika sambil menatap mayat ular dengan diameter tubuh 25 meter itu.
"Entahlah. Coba kita periksa saja dulu."
Kemudian Heiliao berjalan mendekati mayat itu. Xika sebenarnya tidak mau melakukannya, tapi Heiliao sudah maju jadi ia terpaksa mengikutinya.
Mereka berdua berjalan dengan jarak satu meter dari mayat itu. Xika kembali menatap mayat itu dan bertanya,
"Kalau aku menempa tombak atau pedang menggunakan tulangnya, berapa banyak yang bisa kubuat?"
Xika mengangguk mendengar ucapan Heiliao. Kemudian ia melangkah maju hendak memeriksa kualitas tulang di depannya ini.
"Tunggu!"
Tapi teriakan Heiliao menghentikannya.
Xika berhenti dengan satu kaki masih melayang.
"Ada apa?" katanya.
"Jangan mendekat. Mundurlah. Jangan injakan kakimu lebih maju selangkahpun."
Xika menuruti ucapan Heiliao dan berjalan mundur. Ia kembali di sisi Heiliao dengan pandangan bertanya.
Heiliao menggunakan kepalanya untuk menunjuk sesuatu.
Xika menoleh dan di bawah mayat itu ia menemukan..........
formasi spiritual?
"Fo-formasi apa itu?" tanya Xika cukup terkejut karena ia akan menginjak formasi itu bila Heiliao tidak memberitahunya.
"Entahlah. Tapi untuk sementara jangan dekati formasi itu sedikitpun." ucap Heiliao dengan tatapan serius yang dibalas dengan anggukan dari Xika.
Mereka kembali ke Huo Bing. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Huo Bing membuka matanya dan menemukan mereka beruda menunggunya.
"Ada apa?"
"Sepertinya formasi itu tidak bekerja pada kita karena kita masih punya kepentingan di sini. Dan kepentingan itu adalah........"
Xika tidak meneruskan ucapannya, tapi ia menoleh untuk menatap mayat Tetua Agung.
Huo Bing mengikuti pandangannya dan seketika raut mukanya memburuk. Ia mengerti apa yang dimaksud Xika.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Xika setelah Huo Bing memahami maksudnya.
"Entahlah. Formasi itu ingin kita melakukan sesuatu terhadap mayat sialan itu, tapi aku tidak tahu apa yang harus kita lakukan."
__ADS_1
Kemudian mereka bertiga terdiam.
Setelah beberapa menit berlalu, Heiliao yang pertama kali buka suara.
"Bagaimana kalau kita telusuri sejarahnya. Kenapa ular-ular ini mengejar kalian?"
"Bukan kalian. Kau." ucap Xika mengoreksi ucapan Heiliao. "Aku hanya dikejar karena mereka tahu Huo Bing bersamaku" lanjutnya.
Heiliao diam sebentar kemudian bertanya lagi.
"Dan kenapa mereka mengejarmu? Bukankah kau sudah mati? Apa yang kau lakukan sampai mereka mengejarmu meskipun sudah mati?"
"Mereka ingin memusnahkanku sepenuhnya. Meskipun ragaku sudah tiada, tapi jiwaku masih ada."
"Kenapa mereka melakukan itu?"
"Tentu saja karena mereka dikirim..........." ucapan Huo Bing terhenti bersamaan dengan matanya yang membesar.
"Dikirim oleh siapa?" tanya Heiliao penasaran.
"..................klan ibuku." jawab Huo Bing setelah cukup lama diam.
"Ibumu? Phoenix atau Cygnus?"
Heiliao sudah bisa menebak ayah dan ibu Huo Bing berasal dari ras apa. Hanya saja ia tidak tahu yang mana klan ayah dan yang mana klan ibunya.
"Phoe.......nix........" jawab Huo Bing dengan suara yang semakin lama semakin mengecil.
Heiliao bepikir sebentar kemudian bicara lagi.
"Jadi bangsa Phoenix mengirim ular-ular itu untuk memusnahkanmu? Aku bisa mengerti kalau itu hewan lain, atau bahkan manusia. Tapi kenapa ular? Seingatku ular adalah musuh alami burung. Apa mungkin, bangsa Phoenix........"
"Tidak! Tidak mungkin Phoenix melakukan itu. Darah mereka mengalir dalam diriku, jadi aku tahu mereka tidak mungkin melakukan itu. Bangsa Phoenix tidak mungkin berkhianat!"
Kemudian Huo Bing diam dan tenggelam dalam pikirannya. Pertanyaan Heiliao berhasil membuka fakta yang selama ini berusaha keras ia tolak.
"Hei, tenanglah. Dari mana kau tahu bahwa klan ibumu yang mengirim mereka? Mungkin saja kau salah dengar?"
Xika mendekat dan berusaha menenangkan Huo Bing.
"Tidak.......aku mendengarnya dari ibuku langsung. Ibuku tidak mungkin berbohong."
Dan Huo Bing kembali tenggelam dalam pikirannya.
Xika berjalan agak jauh dari Huo Bing bersama dengan Heiliao. Kemudian ia mengeluarkan pendapatnya.
"Sebelumnya aku mengira bahwa klan ibunya mengejarnya karena tidak terima kaum mereka 'dinodai'."
Heiliao mengerutkan keningnya.
"Yah, kau tahu bahwa bangsa Phoenix itu leluhur para burung? Mereka tidak suka bahwa salah satu dari mereka yang merupakan burung terhormat menikah dengan bangsa lain. Kudengar hal itu dapat merusak garis keturunan.
Jadi mereka mengirim pembunuh untuk menghapuskan 'aib' mereka."
Heiliao mengangguk-angguk mendengar cerita Xika yang cukup masuk akal.
"Setidaknya begitulah yang kuduga. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, sebenci apapun bangsa Phoenix pada Huo Bing, mereka tidak akan mau bekerja sama dengan musuh mereka hanya karena Huo Bing. Tapi beda lagi ceritanya kalau bukan itu kejadian yang sebenarnya."
"Apa maksudmu?" tanya Heiliao yang menduga memang itulah kejadian sebenarnya.
"Bagaimana jika bukan itu alasan sebenarnya? Bagaimana jika mereka mengejar Huo Bing beserta orang tuanya karena alasan lain?"
Heiliao kembali mengerutkan keningnya.
"Ini hanya dugaanku saja.
Bagaimana bila ayah dan ibu Huo Bing kebetulan mengetahui bahwa bangsa Phoenix telah berkhianat dan bekerja sama? Mungkin saja mereka hendak memberitahukan ini pada kaum burung yang lainnya. Namun tentu saja kaum Phoenix tidak bisa membiarkan rencana mereka bocor. Jadi mereka mengirimkan ular-ular itu untuk memburu keduanya.
Di tengah pelarian itu, ayah dan ibu Huo Bing saling jatuh cinta dan akhirnya melahirkan-menetaskan Huo Bing. Setelah hidup dalam pelarian begitu lama, akhirnya mereka memiliki seorang anak. Dan mereka tidak bisa hidup dalam pelarian seperti ini terus, terutama karena mereka sudah memiliki anak. Jadi akhirnya mereka menyerahkan diri demi anak mereka. Namun siapa sangka bahwa bangsa Phoenix masih mengejar anak mereka? Mungkin mereka ingin memastikan bahwa rencana mereka benar-benar tidak bocor."
"................."
Heiliao terdiam mendengar dugaan Xika. Tapi dugaanya kali ini lebih masuk akal dibanding ceritanya sebelumnya.
Namun tanpa mereka sadari, ada satu mahkluk lagi yang mendengarkan dugaan Xika.
Jarak antara mereka memang cukup jauh, tapi Huo Bing masih tetap bisa mendengar suara Xika dengan jelas.
__ADS_1