
Wu Liao hanya bisa diam memandang pria di depannya. Ia tidak bisa melakukan apapun pada pria ini. Baik dalam status maupun murni tenaga sendiri, pemuda itu di atasnya.
Kemudian ia menoleh dan menatap Xika. Dagunya kotor. Pandangannya kosong. Ia tidak tahu kenapa Xika bersikap seperti itu. Bahkan ketika berhadapan dengan Cao Ping ia tidak pernah bersikap seperti itu. Apa karena ia tahu identitas Tian Yin?
Haruskah ia menghentikkan Tian Yin? Besar kemungkinan bahwa hubungannnya dengan Tian Yin akan memburuk bila ia melakukan itu. Tapi ia tidak bisa membiarkan Tian Yin melakukan ini pada Xika. Kenapa?
Wu Liaopun mulai berpikir. Kenapa ia akan melakukan hal itu pada Xika? Kenapa ia mau makan di tempat kumuh bersama Xika? Bukankah ia hanyalah pengembara dari antah berantah? Ia bahkan tidak mau memberi tahu asal-usulnya.
Kalau seperti itu bukankah ia tidak perlu melindungi Xika? Pada awalnya mereka bukanlah siapa-siapa selain orang asing. Kenapa tidak kembali menjadi orang asing?
Pada saat itu, terjadi perdebatan besar dalam batin Wu Liao. Tapi Tian Yin tidak mau menunggu.
"Minggir."
Dan akhirnya Wu Liao memilih untuk menyingkir. Sebagian besar dari hatinya tidak ingin melakukan hal itu. Tapi kepalanya terus-menerus membenarkan perbuatannya. Pada akhirnya Wu Liao telah membuat sebuah jurang antara dirinya dan Xika. Ia tak akan bisa menyeberanginya tak peduli apapun yang ia lakukan.
Wu Liao berdiri dan perlahan, ia berjalan ke samping membiarkan Tian Yin mendekati Xika. Mata Wu Liao dipenuhi keraguan. Bahkan pada saat itupun, dirinya masih terus bergumul.
Tian Yin berdiri diam setelah Wu Liao menyingkir. Ia menatap Xika dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia sedang memikirkan metode yang tepat untuk menyiksa anak itu. Ia akan mencoba dengan membakar anak itu terlebih dahulu.
Kedua tangan Tian Yin mulai membara. Wu Liao di sisi lain, masih terus berdebat. Haruskah ia menghentikkan Tian Yin atau tidak? Tapi Tian Yin tidak akan menungggunya. Tangannya mulai terangkat. Namun ketika ia melemparkan api di tangannya, ia meleset.
Serangannya tidak mengenai Xika. Sebaliknya, apinya malah mengenai seorang gadis yang melintas di saat yang tidak tepat.
Bruk!
Yan Fu tergeletak tidak jauh dari Xika dan Wu Liao. Matanya kosong. Ia hanya ingin berlari menuju Wu Liao ketika sebuah bola api melaju menuju dirinya.
Perutnya bolong. Ia tidak merasakan apa-apa lagi. Bahkan panaspun tidak. Ia berusaha melihat sekeliling dan mencari bantuan. Tapi tidak ada yang bersimpati padanya.
Dan dengan berat hati, ia menutup matanya untuk selama-lamanya tanpa ditangisi oleh seorangpun.
Wu Liao melihat gadis itu. Bagaimana ia berlari dan terkena serangan Tian Yin. Tapi ia tidak lagi bersimpati. Kepalanya sudah terlalu pusing untuk memikirkan tentang Xika sampai ia tidak bisa lagi bersimpati pada seorang gadis menjelang ajalnya.
Wu Liao, satu dari Empat Gadis Tercantik, yang terkenal karena kebaikan hatinya, membiarkan seseorang meninggal di depan matanya.
Tian Yin bahkan tidak melirik Yan Fu sedikitpun. Ia menendang tubuhnya agar lebih mudah untuk mencapai Xika. Kepalan tangannya kembali membara. Ia mengangkat tangannya. Dan kali ini ia tidak meleset.
WHUSH!!
Bola api melayang dan membakar Xika. Tapi bahkan itu tidak cukup untuk menyadarkan Xika. Pandangan matanya tetap kosong. Heiliao bahkan sudah menggigitnya, tapi tidak membuahkan hasil.
"Xika! Xika! Bangunlah! Bukankah kau sudah berjanji tidak akan menyia-nyiakan hidupmu? Kau sudah bisa berkultivasi, ingat?"
"Bangkitlah, Xika! Bangkit dan hajar anak itu!"
Xika tidak bergeming. Huo Bing memang mengatakan hal itu ketika ia bertarung di Diamond Shake dulu. Waktu itu Huo Bing berhasil menyadarkan dirinya.
__ADS_1
DUAK!
Tian Yin menendang perut Xika.
"Xika! Xika! Bangunlah, nak! Kau berjanji akan memperlihatkan alasanmu hidup bukan? Kalau begitu bangkit dan perlihatkanlah padaku! Aku tidak mengulang hidupku hanya untuk melihat hal ini!"
DUAK!
Kali ini tendangan Tian Yin mendarat di kepala Xika.
"XIKA!"
Tak peduli apapun yang dikatakan Huo Bing atau Heiliao, Xika tetap diam. Anak itu terlarut dalam masa lalunya. Dalam kenangan buruk yang selalu menghantuinya. Tapi bila ia tidak berdiri, maka kenangan buruk itu tidak akan menghantuinya lagi. Ia tidak akan hidup lagi untuk bisa dihantui kenangan buruk.
Huo Bing dan Heiliao semakin cemas. Ini pertama kalinya Heiliao melihat Xika seperti ini. Sebelumnya Xika selalu bersikap ceria. Kini Xika hanya diam saja menerima semua pukulan yang dilayangkan Tian Yin. Dan hal itu membuatnya cemas.
Huo Bing tidak lebih baik. Ia pernah melihat Xika seperti ini beberapa kali. Biasanya, Xika akan bangun di detik-detik terakhir. Tapi Tian Yin tidak menunjukkan tanda-tanda selesai dengan Xika. Pemuda itu benar-benar berniat membunuhnya.
Perlahan, gambar-gambar tentang orangtuanya dan pamannya melintas di kepala Xika. Tapi kali ini bukan karena kekuatan Heiliao.
Gambar-gambar berganti dan kini Xika berada di ruangan kosong tempatnya bertarung dengan jiwa ular. Ia melihat sekelilingnya, tidak mengerti kenapa ia bisa berada di tempat ini lagi. Keluar dari tempat ini memang mudah, tapi masuknya tidak semudah itu. Xika sudah mencoba beberapa kali dan ia gagal.
Kemudian ekor mata Xika menangkap sesuatu. Ia melihat tiga sosok berdiri diam menatapnya.
Ayah, Ibu, dan Pamannya.
Ia berjalan mendekati mereka. Senyum sedih muncul di wajahnya.
Mereka tidak menjawab, tentu saja. Ia tahu ini hanyalah pikirannya. Mereka tidak benar-benar berada di sini.
Ketiganya hanya tersenyum.
"Apa kalian akan memaafkanku bila aku mati sekarang?"
Ayahnya berpikir sebentar kemudian berkata,
"Mm....Tidak."
Di sampingnya, Ibunya dan Pamannya juga menggeleng.
"Lalu apa yang harus kulakukan? Ia sudah pernah menghancurkan hidupku. Dan kalian tidak ada disana saat itu terjadi."
Ketiganya memiliki pandangan sedih. Seolah mereka benar-benar menyesali hal itu.
"Dia lebih kuat dariku. Tidak ada yang bisa kulakukan padanya. Sekarangpun kalian tidak ada disini. Aku tidak punya siapa-siapa. Kenapa tidak membiarkanku mati saja?"
Kesedihan bertambah dalam di mata mereka. Ekspresi mereka menunjukkan penyesalan.
__ADS_1
Xika menutup matanya, berniat mengakhiri hidupnya sendiri. Setelah ia melakukan itu, jiwanya akan mati. Dan tubuhnyapun akan menyusul tidak lama lagi. Tapi kemudian, sebuah suara terdengar.
"Kau tidak punya siapa-siapa? Kau sebut diriku apa bocah cacat?"
Sosok Huo Bing muncul di depannya. Kemudian Heiliao juga muncul.
"Kau tidak bisa mati begitu saja. Kau punya janji padaku, ingat?" kata serigala itu.
Setelah itu muncul tiga sosok lagi. Masing-masing memiliki kartu yang sama dengan miliknya. Mereka semua tersenyum padanya.
Benar. Ia tidak lagi sendiri. Ia tidak seperti dulu. Kali ini ia memiliki Huo Bing dan Heiliao di sisinya. Ada juga Lian Minjie, Qin Mo, dan Lin Zhu. Mereka tidak akan membiarkan dirinya mati. Ia juga tidak bisa.
Xika tersenyum. Sosok-sosok di depannya memudar. Dan iapun menutup matanya. Tapi kali ini dengan senyum di wajahnya.
------------------
Di luar alam jiwa Xika........
Tian Yin mengangkat kakinya. Kali ini ia hendak menginjak wajah Xika secara langsung. Tapi kakinya tidak mendarat di tujuan.
GREP!
Alih-alih mendarat di wajah Xika, kakinya mnendarat di tangan Xika.
Untuk sesaat, Tian Yin terkejut. Dan momen itu digunakan Xika untuk mendorong Tian Yin.
Tian Yin mundur beberapa langkah. Ia menatap Xika dengan pandangan terkejut. Tapi tidak untuk waktu yang lama. Bocah itu berdiri sekarang. Lalu apa? Berdiri ataupun tidak, tidak akan ada bedanya.
Xika mengusap darah dari bibirnya. Normalnya, tendangan biasa tidak akan membuat dirinya terluka. Tapi Tian Yin bukanlah pria biasa. Ia lebih dari mampu untuk melukai Xika.
Tian Yin kembali menyerang. Kali ini ia mengangkat tinjunya.
Xika menepisnya. Tapi tangannya terasa sedikit sakit. Ia memandang kesamping dan menemukan tubuh Yan Fu tergeletak tak bernyawa.
Untuk sesaat, tidak ada apapun dalam kepala Xika. Kemudian ia menoleh dan melihat Tian Yin sedang tersenyum sinis. Kemudian pria sombong itu meludah. Ia memberikan tatapan penuh tantangan di matanya.
Dan hal itu berhasil membangkitkan amarah Xika. Ia marah bukan karena Yan Fu meninggal. Tapi ia marah karena Tian Yin tidak menganggap kehidupan berharga. Ia memandang kehidupan manusia seperti serangga. Itu dua hal yang berbeda.
Tidak jauh dari Yan Fu, Xika melihat Wu Liao. Gadis itu hanya menatap dirinya tanpa melakukan apapun. Apa lagi yang ia harapkan? Pada dasarnya mereka bukanlah siapa-siapa selain orang asing. Bagaimana ia bisa mengharapkan gadis itu melakukan sesuatu? Salahnya karena berharap gadis itu melakukan sesuatu.
Xika menendang tanah melesat maju menuju Tian Yin.
Mereka saling bertukar serangan. Awalnya, pertarungan berjalan seimbang. Tapi lama kelaman mulai berat sebelah. Xika mulai sulit mengimbangi Tian Yin ketika pemuda itu melapisi dirinya dengan qi. Memang benar tubuhnya lebih kuat dari kultivator biasa dan ia punya empat dantian.
Tapi Tian Yin bukanlah kultivator biasa. Terlebih ia berada enam tingkat di atas Xika. Itu bukanlah jarak yang dapat diseberangi dengan mudah.
Xika juga sudah melapisi dirinya menggunakan qi, tapi hal itu tidak banyak membantu.
__ADS_1
DUAK!
Tian Yin berhasil menyarangkan tendangan di perut Xika dan membuat anak itu mundur beberapa meter. Xika memegangi perutnya berusaha meredakan rasa nyeri walau sedikit. Tapi Tian Yin tidak akan membiarkannya. Di sekelilingnya, bola-bola api terbang, siap untuk membakar siapapun yang berada dalam jalan mereka.