
"............."
Xika mengerutkan keningnya. Ia diam menunggu Huo Bing melanjutkan.
"Aku tak tahu sejarah awalnya, tapi hanya sekte hitam yang mampu memikirkan hal keji seperti itu. Ada alasan kenapa sekte-sekte di dunia ini dibagi menjadi aliran hitam dan putih. Dan aku tak perlu menjelaskan kenapa hanya sekte hitam yang akan melakukan hal keji seperti itu."
"Aku tak setuju denganmu. 'Hanya sekte hitam yang mampu memikirkan hal keji seperti itu'? Keji atau tidak itu tergantung cara penggunaanya. Kalau aku membunuh seseorang untuk melindungi diri, apakah itu termasuk keji? Bagaimana kalau aku membunuh seseorang untuk kesenangan pribadi? Apakah itu termasuk keji?"
Huo Bing tersenyum tipis.
"Sekalipun aku memahami maksudmu, aku tak yakin orang-orang lain akan sama. Bahkan aliran putih mungkin akan menganggapmu sebagai mata-mata aliran hitam bila kau mengatakan hal seperti itu terang-terangan."
Xika mendengus kesal. "Tak ada yang benar-benar hitam dan putih di dunia ini. Semuanya abu-abu. Kalau kau mengatakan itu aku malah membenci sekte putih. Kesannya mereka munafik."
"Yah, itulah kenapa aku tidak menyukai politik. Dan aku yakin tamu-tamumu tak akan setuju dengan pendapatmu barusan."
Tepat setelah Huo Bing selesai bicara, terdengar ketukan di pintu halaman Jade Village. Xika keluar dan melihat yang datang adalah Penatua Fen dan Penatua Lan. Xika kembali masuk.
"Tampaknya kau benar." Kemudian ia menoleh pada Heiliao, "Apa kau sudah selesai? Berapa banyak pil yang kau buat?"
"Aku hanya membuat masing-masing satu. Hyper Swift Pill dan Forming Cloud Pill."
"Eh?! Kenapa hanya satu?"
"Untuk kau pelajari. Sisanya kau buat sendiri."
"Kau bahkan tidak mengajariku!"
"Aku sudah melakukannya di depan matamu."
"Tapi tadi kan aku sedang bercerita!"
"Salahmu yang tidak memperhatikan."
Sebelum Xika sempat memprotes, suara Penatua Fen terdengar.
"Bocah, kau sudah keluar kenapa masuk lagi? Keluarlah! Kami ingin bicara."
Xika menghela nafas. Ia berdiri dan berjalan menuju pintu. Di belakang, Huo Bing dan Heiliao juga ikut berdiri menemaninya. Ia tersenyum kecil. Sekalipun keduanya menyebalkan, tapi mereka tak akan meninggalkannya.
Di luar, Penatua Fen menatap Xika dengan pandangan rumit, begitu juga dengan Penatua Lan di sebelahnya.
"Nak, kau sudah membuat masalah besar kali ini."
"Itukah sebabnya anda membawa dia?" tanya Xika sambil menunjuk Penatua Lan dengan kepalanya. Terlihat jelas Xika masih kesal dengan Penatua Lan. Wanita berjubah biru itu sendiri juga terlihat kesal, tapi ia tidak mengatakan apa-apa.
"Hahahaha.......jangan begitu. Kami datang untuk membawamu menemui Kepala Akademi."
"Kenapa kalian harus datang? Apa anda pikir saya akan lari?"
"Entahlah. Ini perintah. Sudah, pokoknya kau ikut saja. Ah, dan dua temanmu itu bisa tetap disini. Kami hanya ingin berbicara dengan Xika."
Huo Bing dan Heiliao tetap berjalan mengikuti Xika, seolah tak mendengar perkataan Penatua Fen. Penatua Fen sendiri hanya mendesah dan menggeleng. Ia menatap Penatua Lan dengan tatapan 'Sudah kubilang bukan?'
Dikawal oleh dua Penatua, Xika berjalan menuju Gedung Utama untuk menemui Kepala Akademi. Dalam hati ia agak merasa kesal. Yang mau bicara kan pria botak itu, kenapa ia yang harus mendatanginya?
Andai saja pikirannya itu terdengar oleh orang lain mereka pasti akan menganggap Xika kurang ajar. Yah, memang begitu sih sebenarnya.
Tok! Tok!
Penatua Lan mengetuk pintu sebelum terdengar suara si pria botak menjawab,
"Masuk."
Pintu terbuka dan Xika melihat pria botak itu tengah berdiri memunggunginya. Ketika berbalik, wajahnya menunjukkan ekspresi rumit.
"Nak, inikah rencanamu? Tujuanmu yang sebenarnya?"
Xika menghela nafas. Ia sudah menduga hal ini. Pasti ia akan ditanyai hubungannya dengan sekte hitam dan semacamnya.
Pria botak itu mengerutkan keningnya melihat sikap Xika.
"Jawab aku, bocah!"
__ADS_1
SYUSH!
Jing Wei memberikan tendangan yang mengincar perut Xika. Sekilas, kakinya terlihat seolah terbentuk dari cahaya.
Xika tak sempat bereaksi, tentu saja. Cahaya adalah salah satu hal yang tercepat di dunia. Tapi bukan berarti Huo Bing dan Heiliao tidak bisa bereaksi.
Mata Huo Bing menyala dan pilar api menyala di antara Jing Wei dan Xika, sementara Heiliao menghilang. Mata Jing Wei juga ikut bersinar, bersamaan dengan kakinya yang bersinar makin lama makin terang. Tendangannya menembus pilar api Huo Bing.
Jeda singkat itu cukup bagi Xika untuk membuat Simbol Elemen untuk melindunginya, tapi tendangan Jing Wei lebih dari apa yang bisa Xika tahan.
DUAK!
Xika tak tahu apakah Simbolnya berhasil melindunginya atau tidak. Perutnya terasa melilit-lilit.
JLEB!
JLEB!
CRAS!
Es tajam dan pisau dari bayangan berhasil menusuk perut dan bahu kanan Jing Wei.
Pria itu mundur beberapa langkah sambil mengeluarkan darah dari sudut bibirnya. Pandangannya dipenuhi nafsu membunuh. Ia benar-benar berpikir Xika berasal dari sekte hitam.
"Melihat kalian yang melindunginya memperjelas bahwa kalian berasal dari sekte hitam. Anak itu adalah putra dari Kepala Sekte Hitam atau semacamya kan? Dan kalian diutus untuk melindunginya?"
"Pfft-Uhuk!"
Xika tertawa sebentar sebelum terbatuk. Perutnya makin sakit saat ia tertawa. Sepertinya ia tak bisa tertawa sedikitpun.
"Heh, botak! Berani sekali kau berpiki bahwa aku adalah pengawalnya?"
Heiliao tidak bicara, tapi kelihatannya ia juga kesal. Aura hitam yang aneh berkumpul di sekitar dirinya. Dalam hati Xika berpikir, 'bukannya kalian memang pengawalku?'
"Heh, masih tidak mau mengaku rupanya." Jing Wei mengusap darah dari sudut bibirnya, kemudian merentangkan kedua tangannya yang seketika itu juga bercahaya. Tampaknya ia hendak mengeluarkan teknik berbahaya.
Di hadapannya, Huo Bing berdiri dengan sigap. Keduanya bola matanya memancarkan warna yang berbeda satu sama lain. Heiliao juga sudah siap. Ia melapisi Xika dengan kabut hitam, agar tak terkena dampak dari pertarungan mereka.
Set!
"Tuan, menurut saya ini berlebihan. Kita bisa bicara dengan mereka."
Cahaya di kedua lengan Jing Wei meredup, begitu juga dengan aura Huo Bing dan Heiliao. Tapi mereka semua masih memasang tatapan waspada terhadap satu sama lain.
"Bicara? Pada mereka? Dan memberi mereka kesempatan untuk menyesatkan kita?"
"Tuan, saya yakin anda juga tidak percaya mereka berasal dari Sekte Hitam. Kenapa kita tak membiarkan mereka menjelaskan saja?"
Jing Wei mendengus. "Huh. Berterima kasihlah padanya. Kalau bukan karena dia aku sudah membunuh kalian."
"Heh. Belum pasti siapa yang akan terbunuh, botak!" balas Huo Bing.
Dan keduanya kembali mengeluarkan aura mereka. Penatua Fen buru-buru menengahi mereka. Ia melirik Xika dan meminta bantuannya.
Xika menelan pil dari Heiliao sebelum berdiri. Ia berjalan maju. Huo Bing dan Jing Wei masih menatap satu sama lain tidak mau kalah. Sementara Heiliao berdiri diam di belakang dengan mata tertutup. Tapi kalau ada sesuatu terjadi, ialah yang akan pertama bertindak.
Jing Wei menatap Xika sebentar sebelum kembali menatap Huo Bing.
"Yah, kurasa tak ada yang perlu dijelaskan. Kalau kalian juga yakin aku tidak berasal dari Sekte Hitam, ya sudah. Tak ada lagi yang perlu dijelaskan."
"Bocah, tak semua hal bisa selesai dengan kata-kata. Sebaiknya kau menjelaskan dengan benar sebelum aku berubah pikiran untuk membunuhmu."
"Memangnya kenapa kalau kau berubah pikiran? Aku sih sampai sekarang masih berniat untuk membunuhmu." Huo Bing kembali bicara. Kepalanya ia angkat untuk menantang Jing Wei. Sebagai Cygnix, ia memiliki arogan yang tak ada batasnya. Ia tak akan membiarkan dirinya diremehkan oleh siapapun.
Sementara Jing Wei, sebagai seorang Kultivator Cahaya, ia juga memiliki kebanggaannya tersendiri. Mirip dengan Huo Bing. Jadi ketika keduanya bertemu dalam kondisi tegang, tak ada yang mau mengalah.
Xika menahan Huo Bing yang hendak melangkah maju. Penatua Fen juga berniat melakukan hal yang sama, tapi tampaknya itu tak perlu. Jing Wei menatap Huo Bing dengan tajam sebelum menarik nafas dalam-dalam. Tampaknya ia sudah kelepasan sebelumnya.
"Bicaralah. Aku tak akan membunuhmu."
"Sialan, kau botak! Daritadi bicara bunuh, bunuh terus. Memangnya kau siapa, hah?! Kaupikir bisa membunuhku? Coba saja. Ayo, coba saja!" Huo Bing semakin marah. Baginya, Jing Wei memperlakukan mereka seolah nyawa mereka ada dalam genggamannya. Dan itu adalah penghinaan.
Jing Wei kembali menarik nafas dalam-dalam. Penatua Fen bisa melihat urat kepalanya yang menonjol akibat menahan emosi.
__ADS_1
"Nak, bicaralah. Aku butuh penjelasan. Para petinggi sekte lain sudah bertanya tentang hal ini berkali-kali."
Huo Bing mendengus. "Begitu lebih baik."
Penatua Fen kembali bersiap menahan Jing Wei, tapi untungnya Sang Kepala Akademi masih bisa mengendalikan emosinya. Meskipun hampir diambang batas.
"Aku tak yakin bisa memberikan penjelasan yang memuaskan. Aku bukan berasal dari Sekte Jahat. Kalau iya, kenapa aku harus menyusup masuk ke sini? Aku hanya seorang bocah antah berantah yang berniat untuk menjadi lebih kuat.
Mengenai teknik yang sebelumnya, aku tak mempelajarinya dari siapa-siapa. Itu muncul begitu saja di kepalaku. Lalu alasanku melakukannya pada Hua Zhantian, karena.......dendam mungkin?
Lagipula ia memang layak merasakan teknik itu. Aku tak menyesal melakukannya."
Jing Wei menatap Xika dengan tajam. "Nak, tahukah kau bahwa ucapanmu barusan dapat membuatmu dianggap berasal dari Sekte Hitam?"
Xika mendecakkan lidahnya kesal. Jelas-jelas ia mengatakan tidak berasal dari Sekte Hitam, kenapa ia malah dianggap berasal dari Sekte Hitam?
Ia tidak menjawab Jing Wei. Sebaliknya, ia malah menoleh pada Penatua Lan. Sambil tersenyum, Xika berkata,
"Kenapa tidak anda saja yang menjelaskannya? Bukankah sebelumnya anda bilang anda mengetahui semua yang terjadi di Akademi? Harusnya anda tahu apa saja yang sebenarnya terjadi bukan?"
Penatua Lan hendak membalas, tapi ia melihat tatapan tegas di mata Jing Wei dan menahan dirinya.
"Baiklah, aku minta maaf untuk kejadian sebelumnya. Aku tak mengetahui semua yang terjadi di Akademi."
"Apa?! Jadi sebelumnya anda berbohong? Sungguh mengejutkan." ucap Xika dengan raut wajah yang dibuat-buat. Heh, akhirnya ia bisa menyelesaikan dendam lama. Meskipun Penatua Fen telah meminta maaf mewakili Penatua Lan, tapi itu tetap tidak menyelesaikan masalah. Ia harus mendengar pernyataan maaf dari mulut Penatua Lan sendiri.
"Bocah, kau dengar apa yang dia katakan. Cepat ceritakan alasanmu."
Makna dibalik ucapan Jing Wei sangat jelas. 'Aku sudah memberimu wajah, sekarang gantian kau yang memberiku wajah.'
"Sebelumnya, Hua Zhantian hendak melecehkan Wu Liao. Ia sengaja membawa Wu Liao ke gunung belakang tempat rahasia Akademi. Ia tahu disana tak ada siapapun yang akan mengganggunya, karena Murid Inti yang ada di sana hanya akan fokus berkultivasi, dan hampir tidak ada Murid Dalam yang tahu pintu masuk ke sana. Kalau saya tak menghentikan Hua Zhantian, mungkin sekarang kita akan menemui Lu Bei kedua."
Penatua Lan tersentak ketika mendengar nama Lu Bei.
"Jadi kau bertarung dengan Hua Zhantian untuk melindungi Wu Liao?"
"Ya dan tidak. Awalnya saya hanya mengganggunya sebentar untuk menyelamatkan Wu Liao. Tapi setelah itu ia jadi dendam pada saya. Saya bertarung dengannya beberapa kali, dan bisa dibilang saya mendapat luka yang cukup berat. Pertarungan terakhir itu siang tadi yang banyak dibicarakan banyak orang.
Saya tidak tahu apakah anda mendengar beritanya dengan lengkap atau tidak. Yang pasti, saya kesulitan melawannya. Bahkan saya hampir kalah. Mendadak teknik itu muncul di kepala saya, jadi saya menyerangnya dengan teknik itu. Bisa dibilang ini adalah tindakan membela diri."
Jing Wei menutup matanya sambil berpikir. Wajahnya kelihatan pusing sekali. Akhirnya setelah beberapa saat, pria botak itu membuka matanya sambil menghela nafas.
"Nak, katakan. Kenapa aku harus mempercayaimu dan menyelamatkanmu? Kau hampir merusak nama baik Akademi ini."
"Sederhana. Karena hanya saya satu-satunya peserta dalam Kompetisi Penyambutan ini. Akademi tidak memiliki peserta lain kalau saya dikeluarkan atau dibunuh saat ini."
"Kalau begitu bukankah aku bisa dengan mudah membunuhmu setelah Kompetisi selesai?"
"Hehehe......tidak semudah itu, Kepala Akademi. Setelah saya memenangkan Kompetisi ini, nama saya akan tersebar ke seluruh Dinasti Lin. Pada saat itu, orang banyak akan bertanya mengapa saya menghilang secara mendadak. Saya bertanya-tanya apa yang akan anda lakukan bila itu terjadi. Lagipula saya tak yakin kedua teman saya ini akan membiarkan anda membunuh saya."
Jing Wei menatap Xika dengan tajam. Xika juga balas menatapnya tanpa gentar. Huo Bing sudah bersiap-siap menyerang kalau Jing Wei menunjukkan gerak-gerik mencurigakan. Sementara Heiliao masih berdiri dalam diam di belakang.
"Hahhhhhh........" Jing Wei menghela nafas. Ia melambaikan tangannya mengusir Xika keluar. "Pergilah."
Sekalipun tak mengatakan dengan jelas, Xika memahami maksud perkataan Jing Wei. Pria botak itu mempercayainya. Ia tak akan membahas masalah ini lebih jauh.
Dengan senyum di wajahnya, Xika meninggalkan ruangan. Huo Bing mendengus kecil sebelum ikut keluar juga. Sementara Heiliao tak mengatakan apapun dan langsung menghilang dari tempatnya berada.
Penatua Lan menatap kepergian Xika beberapa saat sebelum kembali memandang Jing Wei.
"Tuan, bolehkah saya bertanya? Apa yang membuat anda mempercayai anak itu?"
Jujur saja, Penatua Lan cukup bingung dengan pria botak di depannya ini. Sebelumnya ia menyerang Xika tanpa basa-basi, tapi berikutnya ia melepaskan Xika sekalipun Xika tidak memberikan alasan yang jelas bahwa ia tidak berasal dari Sekte Hitam, Hanya kalimat 'Aku tidak berasal dari Sekte Hitam' saja tidak cukup.
"Anak itu memiliki cahaya."
"Maaf?"
"Pandangan anak itu dipenuhi dengan cahaya. Aku baru menyadarinya sekarang. Ia tak gentar sekalipun aku sudah menyerangnya, bahkan setelah menerima seranganku. Ia juga tak terlihat panik. Kalau ia berasal dari Sekte Hitam harusnya ia sudah panik karena ketahuan. Lagipula apa yang dikatakannya sebelumnya itu memang benar.
Gadis bernama Wu Liao itu melapor padaku beberapa saat sebelum ia dan Hua Zhantian bertarung. Gadis itu adalah gadis polos, ia tak mungkin berbohong. Aku tahu saat melihatnya."
"Lalu bagaimana dengan kedua temannya? Bukankah anda menganggap mereka sebagai pengawalnya?"
__ADS_1
"Heh. Melihat betapa marahnya anak itu ketika aku menyebutnya pengawal sudah lebih dari cukup. Lagipula, meskipun ia sombong dan arogan, ia tidak berasal dari Sekte Hitam. Kesombongannya itu murni berasal dari harga dirinya. Rata-rata kultivator aliran hitam tidak memiliki harga diri setinggi itu.
Biasanya mereka dipenuhi dengan rasa bersalah. Sekalipun sudah membunuh banyak orang, bukan berarti mereka menikmatinya. Harga diri setinggi itu datang dari perasaan bangga yang tidak akan muncul pada kultivator aliran hitam yang dipenuhi dengan rasa bersalah. Lagipula kebanyakan kultivator aliran hitam tidak menganggap harga diri mereka penting."