
Xika terhisap ke dalam lubang hitam kemudian terlempar ke tempat lain.
Tempat yang sangat suram. Tempat itu berupa hutan tandus dengan beberapa sisa kayu yang sudah mengering dan seluruh tanahnya berwarna hitam.
Xika melihat sekelilingnya dan tidak menemukan mahkluk hidup selain dirinya. Pohon-pohon yang terhisap sebelumnya pun tidak ada disekitarnya.
"Tempat apa ini?"
"Entahlah, aku tak tahu. Aku tidak pernah melihat tempat seperti ini sepanjang hidupku."
Xika memutuskan untuk berjalan-jalan mengamati tempat sekitarnya.
"Apa kau tahu lubang hitam yang tadi menghisap kita sebelumnya?"
".........entah kenapa aku seolah pernah melihatnya, tapi aku tak ingat dan tak ada gambaran tentang lubang itu sama sekali."
Sepanjang perjalanan, yang Xika lihat hanyalah tanah hitam dan pohon-pohon kering. Tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali.
"Tempat apa ini sebenarnya? Kenapa tanahnya berwarna hitam dan tidak ada mahkluk hidup lain?"
Xika mengajukan pertanyaan itu kepada dirinya sendiri.
Mendadak Xika melompat kesamping.
Sepersekian detik setelahnya, sebuah cakar mendarat di tempat Xika berada sebelumnya.
Cakar itu milik seekor macan yang berwarna hitam dengan bintik-bintik putih di tubuhnya.
Melihat serangannya gagal, macan itu menatap Xika baik-baik, hendak mengukur kekuatan lawannya.
"Huo Bing, mahkluk apa itu? Kenapa aku tak bisa merasakan hawa keberadaannya sama sekali meskipun ia berada di hadapanku?"
".....mungkin karena dia memiliki elemen ruang. Ia bersembunyi dalam ruang terpisah sebelumnya, kemudian menunggu kau datang dan menyerang."
Xika semakin waspada mendengar perkataan Huo Bing. Ini akan semakin berbahaya melawan hewan berelemen ruang. Hewan itu dapat muncul dan menghilang sesuka hati, yang berarti ia dapat menyerang Xika dan Xika tidak dapat menyerangnya.
Macan itu sedikit bingung melihat Xika. Karena aura yang Xika keluarkan sama sekali tidak berbahaya, namun Xika dapat menghindari serangannya dengan sempurna.
Macan itu tidak repot-repot memikirkannya karena berpikir memang bukan itu keahliannya. Ia membuka mulutnya dan menembakkan qi.
Xika ingin mencoba senjata barunya, jadi ia tidak menggunakan kartu ayahnya. Ia membesarkan tongkat pemberian Huo Bing sampai sebesar dirinya.
Xika menunggu serangan itu datang atau menghantam tongkatnya yang kini sudah membesar, namun tak ada yang terjadi.
Xika ingin mengintip sedikit dari tongkatnya, namun sebelum ia melakukan itu, sebuah sinar hitam berasal dari tongkatnya datang dan menghantam dirinya.
"Uhuk...."
Karena tidak ada pohon yang menahannya Xika terlempar lebih jauh dari seharusnya.
Xika terpental sekitar 10 meter karena serangan itu dan memuntahkan darah.
"Hah...hah...hah....."
Xika mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk dengan susah payah.
"Apa....yang terjadi? Kenapa dari......tongkatku keluar serangan?"
"Itu bukan dari tongkat mu. Itu serangan hewan itu. Kau lupa dia berelemen ruang? Serangannya menembus tongkatmu sehingga terlihat seperti berasal dari tongkatmu."
Pantas saja Xika tidak merasakan getaran atau suara hantaman sama sekali. Serangan macan itu menembus tongkatnya tanpa bisa ditahan.
Macan itu puas melihat serangannya berhasil sehingga berjalan perlahan mendekati Xika.
Mendadak Huo Bing berteriak,
"Xika, menghindar!"
Xika berguling ke kanan dan sebuah cakar mendarat tidak lama setelahnya.
Ia terkejut melihat serangan yang datang. Padahal masih ada jarak sekitar 8 meter antara dirinya dan macan tersebut.
Kemudian Xika menoleh dan melihat pemilik cakar yang menyerangnya agak berbeda dengan macan yang menyergapnya.
Ternyata ada satu macan lagi yang datang menyerang Xika.
__ADS_1
"Sial! Satu saja sudah susah, sekarang ada dua! Darimana macan itu datang sebenarnya?"
Macan pertama melihat macan kedua dengan tatapan tajam. Macan kedua balas menatap tak mau kalah.
Mereka berdua langsung melompat dan saling menyerang. Sepertinya mereka memperebutkan siapa yang akan memangsa Xika.
Mereka saling mengayunkan cakar dan melemparkan serangan yang sama yang membuat Xika terlempar tadi.
Xika diam sebentar melihat perkelahian kedua mahkluk di depannya. kemudian ia beranjak pergi secara perlahan-lahan.
Setelah beberapa saat tidak ada yang menyerang, Xika berkata,
"Sepertinya mahkluk-mahkluk itu tidak terlalu pintar."
Dan sebuah cakar melayang menuju wajah Xika menyangkal perkataannya.
Dihadapannya berdiri seekor macan hitam yang kurang lebih sama seperti sebelumnya.
Xika menoleh ke belakang dan melihat hanya satu macan yang ada.
Di satu sisi ia sedikit lega karena macannya tidak bertambah banyak, hanya dua. Tapi di sisi lain ia semakin cemas karena mahkluk itu dapat memindahkan seluruh tubuhnya dalam jarak yang cukup jauh.
Macan di depan melangkah maju perlahan sama seperti macan di belakang. Sepertinya mereka mencapai kesepakatan bahwa yang membunuh Xika duluanlah yang berhak memakannya atau mereka bersedia berbagi.
Tapi yang pasti, Xika dikepung dari depan dan belakang oleh macan hitam yang dapat berpindah ruang dan menyerang sesukanya.
Macan di belakangnya melompat menerjang sementara macan di depan menembakkan sinar hitam lagi.
Xika diam tak bergerak. Ia menunggu.
Menunggu saat yang tepat.
Ketika jarak antara Xika, sinar hitam, dan mulut macan di belakangnya tinggal satu meter, Xika segera menghindar kesamping. Ia menggunakan elemen angin untuk mempercepat tubuhnya.
Sinar hitam tersebut mengenai macan yang di belakangnya, namun kelihatannya ia tidak terlalu terluka.
"Cih. Sepertinya serangan itu tidak terlalu melukainya."
Xika mengubah tongkatnya menjadi gelang kemudian memakainya di tangan. Ia mengeluarkan kartu dari jubahnya.
Lima kartu ia lemparkan dan melayang diatas, sepuluh kartu ia bentuk menjadi sebuah tongkat dan sisanya ia gunakan untuk menutupi dirinya.
Kartu yang melayang ia gunakan untuk menyerang macan yang kini di berada di kirinya sedangkan ia sendiri maju dan menyerang macan yang di kanan.
Xika bertarung sambil mengendalikan lima kartunya untuk menyerang macan yang lain.
Macan yang di depannya cukup gesit karena berhasil menghindari semua serangan Xika.
Xika melepaskan beberapa kartu yang menjadi pelindungnya dan menggunakannya untuk menyerang.
Disaat macan itu teralihkan dengan kartunya, Xika maju dan memukulkan tongkatnya.
BUAKK!!
Serangan Xika sukses mengenai macan tersebut, namun macan tersebut hanya melangkah mundur dan sedikit terhuyung. Selain dari itu, sepertinya ia tidak terlalu terluka.
CRAT!
Kartu Xika yang berhadapan dengan macan lain berhasil merobek kulitnya dan darah berwarna hitam mengalir.
Xika sedikit teralihkan melihat macan yang lain sehingga macan di depannya berhasil menyerangnya.
BUKK!!
Untungnya serangan tersebut mengenai bagian tubuhnya yang ditutupi kartunya, jadi ia tidak terlalu terluka, hanya organ dalamnya saja yang sedikit bergetar dan dirinya yang mundur beberapa langkah.
Xika kembali memfokuskan pandangannya ke macan yang didepannya.
Tongkat yang ia bentuk dari kartu kini ia ubah sedikit bagian ujungnya jadi tajam dan kini berbentuk tombak.
Ia sadar bahwa kartunya dapat melukai macan tersebut, meskipun belum tentu bisa menahannya. Namun setidaknya ia dapat memberikan perlawanan.
Xika memutar tombaknya kemudian melompat maju.
Melihat Xika maju, macan tersebut membuka mulutnya.
__ADS_1
"Sial!"
Xika menancapkan tombaknya kemudian melompat.
Sinar hitam itu hampir mengenai dirinya, hanya berjarak beberapa mili.
Xika mendarat, dan ketika ia menoleh ke belakang ia melihat sebuah rahang berjarak tidak jauh dari dirinya.
Ia memutar tombaknya kemudian menusuk mulut macan tersebut.
JLEBB!!!
Tombaknya sukses menembus mulut macan tersebut. Darah menetes dari mulutnya.
Xika menarik tombaknya dan tak lama kemudian macan tersebut jatuh.
Sementara macan lain yang masih menghadapi kartunya berteriak melihat kaumnya mati.
Ia segera berlari menuju Xika dan mengabaikan kartu-kartu Xika yang terus menyerangnya.
"Aku tidak mengerti mahkluk ini. Tadi mereka saling bertarung, sekarang ketika temannya mati ia malah marah. Bukannya harusnya ia senang bisa memangsaku sendiri? Itupun kalau berhasil memangsaku."
Xika melepas beberapa kartu lagi dari tubuhnya dan mengarahkannya menuju macan yang sedang berlari ke arahnya.
Kartu-kartu Xika terus menyerangnya dan akhirnya macan tersebut jatuh karena kehabisan darah.
Xika berjalan mendekati macan itu. Meskipun ia jatuh karena kehabisan darah tapi ia belum mati.
"Grrrr....."
Macan tersebut menggeram melihat Xika berjalan mendekat.
"Jangan menatapku seperti itu. Kau juga hendak membunuhku sebelumnya. Jadi yang kulakukan hanyalah membela diri."
Kemudian Xika mengangkat tombaknya dan mengakhiri nyawa macan tersebut.
JLEB!
Mata macan tersebut membesar sedikit kemudian mengecil dan akhirnya tertutup untuk selamanya.
"Hah.....hah...hah....."
Xika jatuh terduduk.
Meskipun ia tidak menggunakan elemen sama sekali dan qi nya tidak berkurang, tapi pikirannya sangat lelah karena harus bertarung sambil mengendalikan kartu untuk menyerang dan membuat senjata beserta pelindung tubuh.
"Hei Xika. Kau tidak bisa tidur sekarang. Aku tidak tahu mahkluk-mahkluk itu berasal dari mana, tapi ada kemungkinan mereka dapat mencium bau sesamanya. Kau harus menguliti mereka atau setidaknya memasukkan mereka ke cincin spasial."
"......"
Xika tidak menjawab karena pikirannya masih lelah, namun ia mengerti apa yang dikatakan Huo Bing.
Ia tidak mau repot jadi ia memilih untuk memasukkan mayat macan tersebut ke cincin spasial.
Namun mayat tersebut tidak masuk ke dalam cincinnya.
Xika mengerutkan kening.
Ia mencobanya lagi beberapa kali, namun tetap tidak berhasil.
Kemudian Huo Bing berbicara,
"Sepertinya karena mereka memiliki elemen ruang jadi tidak bisa dimasukkan ke dalan cincin spasial."
"Jadi apa yang harus kulakukan?"
"Simpan yang bisa kau simpan, yang tidak bisa bakar saja."
Sebenarnya Xika ingin tidur sekarang juga, tapi ia tahu bahwa ia tidak bisa meninggalkan mayat-mayat itu begitu saja.
Jadi ia memotong cakar dan gigi macan-macan tersebut kemudian membungkusnya menggunakan kain.
Setelah itu ia memotong-motong tubuh macan tersebut dan membakarnya. Xika sudah sering melihat Huo Bing memotong daging Spirit Beast untuk mereka makan jadi kurang lebih ia mampu melakukannya.
Rencananya mereka akan memakan daging sebanyak yang mereka bisa sementara sisanya akan mereka bakar, tapi karena Huo Bing tidak memiliki fisik, ia dapat mengubah makananya menjadi energi, jadi semua daging dimakan habis.
__ADS_1