
Tidak jauh dari tempat Xika berdiri, berbaring seorang pemuda berambut hitam panjang. Wajahnya cukup rupawan dan memancarkan arogansi sekalipun ia terlelap. Bahkan Xika bisa merasakan aura seorang penguasa dari pemuda itu.
Tapi pakaiannya cukup aneh. Setengah berwarna biru dan setengah lagi berwarna merah. Xika menatap pemuda itu dengan waspada. Bagaimana pemuda itu bisa muncul di tempat ini? Apalagi Lang Shan mengatakan seolah ia datang dari udara kosong.
XIka mulai mendekat secara perlahan tapi tidak menurunkan kewaspadaannya. Ketika jaraknya tinggal beberapa langkah lagi, Xika berusaha membangunkan pemuda itu.
Tapi yang dipanggil tak kunjung bangun. Kalau melihat pemuda itu yang tak bangun sekalipun sudah dipanggil berkali-kali, Xika jadi ingat perkataan Huo Bing tiap kali membangunkan dirinya. Huo Bing? Benar juga! Bagaimana kondisi Huo Bing? Apa burung itu baik-baik saja?
Ketika memikirkan Huo Bing, tanpa sadar Xika menurunkan kewaspadaannya di dekat pemuda itu. Ia menutup matanya kemudian berkonsentrasi mencari Huo Bing di dantian yang biasa ditempati burung itu. Auranya masih ada. Tapi kenapa rasanya lebih samar?
Apa burung itu sekarat? Tapi bukankah bola cahaya nan aneh tadi berkata akan membantu Huo Bing? Xika sendiri melihat bola itu masuk ke dalam Huo Bing.
"Uhhh...."
Xika langsung tersentak. Ia mendengar suara Huo Bing. Tapi kenapa suara itu kedengarannya tidak berasal dari dantiannya? Sebaliknya suara itu malah terdengar dari luar tubuhnya. Ia membuka matanya dan tidak menemukan ada yang berubah.
Tidak ada sosok burung dua warna yang transparan. Hanya ada Lang Shan, para warga, dirinya dan.....pemuda itu. Pemuda berbaju aneh itu menggerak-gerak tubuhnya beberapa kali sebelum membuka matanya.
Srek!
Space Shifter di tangan Xika hanya berjarak beberapa senti lagi dari kepala pemuda itu.
"Siapa kau? Bagaimana kau bisa kesini? Apa urusanmu di tempat ini?"
Dan reaksi yang diberikan pemuda itu benar-benar diluar dugaan Xika. Ia menduga akan mendapatkan amarah, penolakan, atau ketidakacuhan mengingat betapa arogannya wajah pemuda itu. Tapi bukan itu reaksi yang didapatnya. Sebaliknya reaksi yang diberikan pemuda itu adalah,
"Bocah! Hentikan leluconmu! Di mana Serigala Gosong?" ucap pemuda itu sambil menepis Space Shifter menjauh dari wajahnya.
Xika membelalakkan matanya. Suara itu......suara yang dikeluarkan pemuda itu sama persis dengan suara yang telah menemaninya selama beberapa tahun belakangan ini.
"Hu-Huo Bing?"
Bukannya menjawab, pemuda itu malah bertanya balik,
"Bocah, kenapa tampangmu seperti sedang menatap hantu? Aku sudah lama menjadi hantu tahu."
"Kau.....benar-benar Huo Bing?"
"Bukan, aku kakek buyutmu. Tentu saja aku Huo Bing, apa kau buta? Kau tak melihat bulu indah-"
Pemuda itu melebarkan matanya melihat tangannya sendiri.
"-ku......"
Pandangannya seolah mengatakan ia tidak percaya dengan keberadaan kedua tangannya. Kemudian ia menatap tubuhnya, kakinya, dan bagian belakang tubuhnya. Setelah itu kepalanya berbalik menatap Xika dan baru mengerti apa yang anak itu bicarakan dari tadi.
__ADS_1
TAK!
"Sialan! Kenapa kau memukulku?"
"Ternyata ini bukan mimpi."
"Ini......memang bukan mimpi."
Pemuda-Huo Bing terdiam sebentar kemudian mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.
"HAHAHAHAHA.........................Aku benar-benar memiliki tubuh sekarang.....HAHAHAHAHAHA........." Huo Bing tertawa sambil mengeluarkan auranya untuk meyakinkan dirinya bahwa ini benar-benar nyata. Namun tanpa sadar aura yang ia keluarkan menekan sebagian besar mahkluk yang hadir.
Bahkan Lang Shan merasa harus mewaspadai Huo Bing sekalipun tingkat kultivasinya lebih kuat dari burung itu saat ini.
"Tapi....bagaimana bisa? Terakhir aku sedang bertarung dengan para ular, lalu......" Huo Bing menghentikan tawanya kemudian menoleh melihat Lang Shan. "Kau serigala yang waktu itu......Dimana Serigala Gosong?"
Lang Shan kelihatan tidak senang ketika tahu siapa yang dimaksud Huo Bing. Tapi serigala itu melangkah ke samping dan membiarkan Huo Bing melihat Heiliao yang sedang terbaring penuh luka tak sadarkan diri.
Huo Bing, yang kini berwujud seorang pemuda, perlahan mendekati serigala hitam yang terbaring dikelilingi banyak serigala.
"Ho-hoi.......Serigala Gosong....?"
Ia mencolek Heiliao beberapa kali tapi serigala itu hanya diam saja.
"BAHAHAHAHA...........Hoi Serigala Gosong, kau benar-benar pingsan? Sayang sekali kau tidak melihat tubuh baruku yang indah ini." Setelah mengatakan itu Huo Bing kembali tertawa mengabaikan tatapan menusuk yang diberikan para serigala.
"AW!"
"Serigala Gosong sialan! Sakit! Lepaskan tanganku! Aduh-aduh!"
Tanpa diduga-duga, Heiliao bangun dan langsung menggigit tangan Huo Bing yang sedari tadi menunjuk dirinya.
"Burung Setengah Matang sialan!"
"Kau kan sudah pingsan, kenapa bangun lagi?"
"Tawa sialanmu membuatku terbangun."
"Heh, itu berarti kau bisa melihat tubuh baruku yang indah ini."
"Biasa saja."
"Bah! Tubuhku sekarang jauh lebih indah dari tubuhmu. Dibandingkan bulu-bulu kusutmu, sayap-sayapku jauh lebih.....SAYAPKU! DIMANA SAYAPKU?!"
"Jauh lebih bagus tanpa sayap. Seperti burung botak"
__ADS_1
Sementara Huo Bing dan Heiliao saling mengejek, Xika teringat kembali dengan apa yang ia alami sebelumnya. Ia yaking perbincangannya dengan bola cahaya itu benar-benar terjadi. Kalau begitu besar kemungkinan tubuh Huo Bing terkait dengan bola cahaya itu.
Syukurlah burung itu akhirnya bisa memiliki tubuh lagi. Janjinya dengan Huo Bing kini sudah terpenuhi. Seiring berjalannya waktu, hubungan mereka semakin dekat dan Huo Bing mulai melupakan peranjian mereka di pertemuan pertama itu. Tapi justru ia takut bahwa karena Huo Bing tak pernah membahas masalah itu lagi, ia jadi melupakannya dan tidak menepati janjinya.
Ia menatap tangannya dan mengepalkannya kuat-kuat. Mengingat masa-masa yang telah ia lalui itu......Ia sudah berkembang sekarang. Ia sudah bertambah kuat. Tapi masih belum cukup. Beberapa saat yang lalu ia hampir saja kehilangan nyawanya.
Ketika mengingat kejadiaan saat pemimpin ular menghantam dirinya, tangannya terkepal semakin kuat. Qinya mengalir menuju tangannya. Ia masih belum cukup kuat. Masih belum.
"Hm?"
Mendadak Xika merasakan perubahan di tangannya. Lebih tepatnya di bagian yang ia aliri qi. Kepadatan dan kemurniannya berbeda dengan sebelumnya. Ia menutup matanya dan merasakan baik-baik dantiannya.
Forming Qi tingkat 5! Ia sekarang berada di Forming Qi tingkat 5. Bagaimana bisa? Bukankah sebelumnya ia masih berada di Forming Qi 2? Meskipun dua dantiannya sudah mencapai Forming Qi 3, tapi dua lainnya belum. Bagaimana bisa kekuatannya naik tiga tingkat? Terlebih ia punya empat dantian. Dan dilihat dari kepadatan qinya, ia saat ini berada di puncak Forming Qi 5 dan tak akan lama lagi sampai menembus Forming Qi 6.
Xika tak bisa memikirkan hal lain selain bola cahaya itu. Ini semua pasti terkait dengan dirinya. Tapi bola itu sudah menyatu dengan Huo Bing, jadi tak ada yang bisa ditanya untuk meminta kepastian. Sekalipun begitu, Xika sangat berterimakasih pada bola cahaya itu.
Kemudian pandangannya menangkap wujud baru Huo Bing yang sedang berdebat dengan Heiliao. Ia berjalan mendekati keduanya.
"Hah! Lihat sayapku ini seribu kali lebih baik dari bulu kusutmu itu." Huo Bing sedang memamerkan sayapnya yang baru ia temukan beberapa waktu lalu terselip di punggungnya.
"Setidaknya aku tidak terlihat seperti burung botak."
"Baiklah, baiklah. Sudah cukup berdebatnya. Ayo kita beristirahat." ucap Xika sambil merangkul keduanya. Tinggi Heiliao yang setara dengan pria dewasa membuat Xika bisa melakukan hal itu dengan mudah.
Ketiganya berjalan bersama menjauhi para warga dan serigala. Dan tak ada yang menghentikan mereka. Para warga tak tahu bagaimana harus bersikap sedangkan para serigala tak mau mengganggu waktu pemimpin mereka.
Xika, Heiliao, dan Huo Bing dengan wujud barunya itu berkumpul di ladang Hydrangea yang telah hancur lebur. Heiliao memperhatikan raut sedih yang hanya sesaat di wajah Xika. Mereka tertawa dan menghabiskan waktu bersama, seperti dahulu.
Mereka saling bertukar cerita, ketika mereka hampir kehilangan nyawa mereka, atau ketika mereka gagal menghabisi nyawa musuh mereka. Di desa itu tak ada arak, jadi ketiganya hanya berpesta sambil minum air sungai.
Semalaman mereka menghabiskan waktu bersama. Mereka juga membahas beberapa hal mengenai tubuh Huo Bing, kemampuan ruang Heiliao, dan kekuatan Xika. Selama itu, tak ada warga ataupun serigala yang mengganggu mereka sama sekali. Malam itu benar-benar milik mereka.
Esok harinya mereka bangun dan membantu Xika membereskan kebun bunga yang hancur. Xika berusaha keras menepis sorot sedih di wajahnya. Ingatan tentang ibunya kembali membanjiri kepalanya. Ia berusaha tidak terlalu memikirkan ibunya.
Bukan berarti ia melupakan ibunya, tapi saat ini ia sedang bersama saudara sehidup semati yang nyaris tak bisa berkumpul kembali. Ia ingin menikmati waktunya bersama mereka tanpa terbayang masa lalunya.
"Hm? Apa ini?"
Xika menemukan masih ada sebuket bunga Hydrangea yang masih hidup, berdiri tegak, dan memancarkan aura yang tak biasa. Seingatnya tak ada bunga seperti itu terakhir kali ia kesini. Lalu warnanya agak aneh. Tidak seperti biru muda cerah yang biasa, buket bunga ini berwarna biru tua dan memiliki bercak-bercak merah darah.
Sekilas Xika mengira bercak itu adalah darah sungguhan. Tapi ketika ia menyentuhnya, itu hanyalah motif dari bunga tersebut. Namun ia merasakan aura aneh yang tak biasa dari bunga itu. Ia memutuskan untuk memanggil Huo Bing dan Heiliao.
"Huo Bing, Heiliao, coba lihat apa yang kutemukan!"
"Hm? Memangnya ada.......apa......Xika....?"
__ADS_1
Huo Bing berjalan mendekat, tapi tiap langkah yang ia ambil membuat kepalanya semakin pusing dan akhirnya.....
BRUK!