Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-237


__ADS_3

Tes!


Darah mengalir dari sudut mulut Xika. Tapi itu adalah akibat paling ringan yang ada setelah Xika memakan sekian banyak pil secara bersamaan. Di dalam tubuhnya, Xika merasakan sakit yang semakin menjadi-jadi. Setiap sarafnya, saluran-saluran tubuhnya mulai melebar. Dan itu adalah tanda-tanda bahwa tubuhnya akan meledak tak lama lagi.


Heiliao menatap Xika dalam diam. Di matanya terpancar kepercayaan pada anak itu. Tindakan yang dilakukan Xika sebelumnya dapat dengan mudah dikategorikan sebagai tindakan bodoh. Tapi Xika melakukan itu karena percaya padanya. Jadi ia juga harus percaya pada Xika. Meskipun, bila situasi mendesak, ia akan memotong salah satu bagian tubuh Xika yang mengandung banyak qi sehingga tubuh Xika tak perlu meledak. Tapi itu hanya dalam situasi gawat.


Xika menelusuri tubuhnya baik-baik. Ia berusaha mencari di mana letak bersatunya antara tubuh dan sayapnya. Masalahnya, ia sama sekali tidak ada bayangan di mana saluran itu berada. Dan ia akan meledak kalau tak menemukannya.


Dantiannya bekerja dengan baik. Ia bisa merasakan perasaan bahwa ia akan menerobos. Sayangnya, ada masalah lain yang lebih mendesak. Kali ini ia bahkan berhasil membagi konsentrasi menjadi tiga. Satu untuk mengawasi jalannya perputaran qi melalui pola dantiannya, satu untuk menahan qi yang tersisa agar tidak meledakkan tubuhnya, dan satu lagi untuk mencari di mana letak sayapnya terhubung.


Meskipun waktu yang ada cukup sedikit, tapi Xika mampu memindai tubuhnya dengan cepat. Sayangnya, ia masih tidak bisa menemukan letak sayapnya. Sempat terpikirkan untuk memperbesar sayapnya agar lebih mudah mencari namun gagasan itu langsung ia tepis karena rasa sakit yang melandanya begitu memperbesar sayap pastinya dapat merusak konsentrasi dan langsung meledakkan tubuhnya.


Ia kembali memindai. Masih tidak ada. Sekali lagi. Dan hasilnya tetap sama. Akhirnya Xika sampai pada kesimpulan (karena waktu yang tersisa tidak cukup baginya untuk memikirkan kesimpulan lain) bahwa di tubuhnya tak ada tempat yang menghubungkan sayapnya.


Di tengah waktu yang sempit, Xika mencoba mengingat-ingat kembali perjumpaan pertama dirinya dengan sayapnya. Di makam waktu itu, di dalam kolam ia menemukan sayap ini dan bertemu dengan pemiliknya. Kalau tidak salah, Huo Bing bilang burung itu tidak keberatan meminjamkan sayapnya. Apa itu artinya masa pinjamnya sekarang sudah habis? Gawat kalau begitu.


Tapi bukankah setelahnya burung itu sendiri yang mengatakan bahwa ia meninggalkan sayapnya untuk Xika, bukan untuk keluarga burung itu? Ia jadi semakin bingung. Sayangnya, ia tak memiliki waktu untuk bingung. Qi yang tersisa dalam tubuhnya harus disalurkan, entah ke mana. Atau ia akan mati.


Sayapnya jelas adalah pilihan yang paling tepat. Selain menyembuhkan, mungkin juga bisa memperkuatnya. Namun masalahnya tak ada jalur yang menghubungkan tubuhnya dengan sayapnya.


DRRTT!!


Tubuh Xika mulai bergetar. Nampaknya ia akan meledak tak lama lagi. Ia menggertakkan giginya dengan paksa. Ia hanya punya satu ide di kepalanya. Ide yang gila, tapi hanya itulah yang dimilikinya.


Tes!


Darah mulai keluar dari telinga, hidung, dan mulutnya. Ia berusaha keras mengabaikan rasa sakit yang datang. Dengan sisa konsentrasinya, Xika mengarahkan qi yang tersisa itu ke bagian belakang tubuhnya, kurang lebih di punggungnya, sejajar dengan dadanya hanya saja berada di bagian belakang.


Setelah menyiapkan tekadnya, yang berlangsung kurang dari sedetik, Xika mendorong qi itu untuk menembus tubuhnya.


WRUSH!


Rasa sakit semakin parah. Ingin rasanya Xika melupakan segalanya dengan pingsan, tapi tampaknya ia tak akan bisa bangun lagi kalau menyerah sekarang. Ia harus tetap mempertahankan kesadarannya untuk menjalankan rencananya.


Yaitu, untuk membuat jalur yang menghubungkan tubuh dengan sayapnya. Ia tak memiliki jalur itu. Jadi apa solusinya? Buat saja jalurnya. Mudah untuk dikatakan, sinting untuk dilakukan. Ia yakin Huo Bing maupun Heiliao pasti akan memarahinya habis-habisan. Biarlah. Itu lebih baik daripada mati. Lagipula, pilihan apa lagi yang ia miliki?


SRASH!


Terdengar suara aneh dari belakang punggungnya. Sesaat kemudian Xika baru sadar bahwa itu adalah suara dagingnya yang tercabik. Giginya gemetar hebat menahan rasa sakit. Tangannya terkepal erat-erat.


Di depannya, Heiliao sudah berdiri. Serigala itu mulai menelusuri tubuh Xika, berusaha mencaritahu di bagian mana qi paling padat terdapat, dan berniat menebasnya untuk mencegah Xika meledak.


SWOSH!


Setitik lubang yang kecil telah terbentuk di belakang punggung Xika. Dari lubang itu ada sedikit qi yang keluar, tapi Xika tahu bahwa qi itu tidak terbuang sia-sia. Ia merasakan bahwa ia telah melubangi tubuhnya dengan tepat. Di sanalah tepatnya kedua sayapnya terletak. Kecil sekali memang, tapi ia bisa merasakannya.


Dan sedikit qi yang keluar itu membuat sayapnya merasa lebih baik, meskipun hanya sedikit. Xika menjadi bersemangat, sekalipun tertutupi oleh rasa sakitnya. Tekadnya semakin kuat dan ia mendorong qi yang tersisa untuk terus melubangi punggungnya.

__ADS_1


Sementara itu, Heiliao sudah memperhatikan baik-baik tubuh Xika. Meskipun ia tidak tahu kenapa, tapi qi paling padat sedang berkumpul di punggung Xika. Ia mendesah. Kalau seperti ini, ia harus menyayat sebagian daging Xika. Tapi biarlah, itu lebih baik daripada membiarkan Xika mati.


Telapak tangannya melebar, dan membentuk bola hitam kecil. Ia bersiap untuk menyayat sebagian punggung Xika, tapi tepat ketika tangannya hendak melayangkan bola hitam itu, ia berhenti. Serigala itu merasakan ada suatu aliran yang keluar dari punggung Xika.


Ia menyipitkan matanya dan kembali memperhatikan punggung Xika. Setitik lubang kecil dapat terlihat. Untungnya, ia adalah serigala. Serigala sakti malahan. Jadi ia memiliki penglihatan yang lebih tajam dari rata-rata manusia lain. Bahkan daripada kultivator yang memiliki tahap kekuatan yang sama, matanya masih tajam.


Setelah diperhatikan lebih baik, qi yang keluar dari tubuh Xika tidak menyatu dengan alam begitu saja. Tampaknya itu terhenti karena suatu alasan. Sayangnya, Heiliao tidak mampu memahami apa yang menghentikan qi Xika kembali ke alam.


Perlahan-lahan lubang yang ada di tubuh Xika semakin besar. Tentunya, penderitaan yang ia rasakan semakin bertambah juga. Tapi, Xika berhasil mempertahankan kesadarannya. Berkali-kali ia berpikir untuk menyerah. Untuk meninggalkan semuanya begitu saja. Banyak sekali cobaan yang telah ia lalui.


Orangtuanya, pamannya, klannya, Tian Yin, Heiliao, Huo Bing, Xingli. Masing-masing telah memberikannya masalah. Beberapa bahkan masih belum selesai sampai saat ini.


Tapi memangnya, sejak kapan hidup menjadi mudah? Kalau tak ingin sulit, mati saja. Ia kembali memikirkan saat-saat ketika ia bertemu orangtuanya, atau minimal pamannya. Lalu momen ketika ia membuat Tian Yin bertekuk lutut di hadapannya. Dan Xingli. Yang terakhir itu tidak sempat ia pikirkan karena sudah ada sensasi lain di punggungnya.


Sebelumnya, qinya memang telah menyentuh sayapnya. Tapi hanya itu saja. Kini, semakin banyak qi yang menyentuh sayapnya, dan perlahan Xika mulai bisa menguasai qinya. Jadi ia mencoba untuk mengikat sayapnya ke tubuhnya.


Kali ini, ada rasa sakit yang teramat sangat. Tentu saja, sayapnya telah rusak jadi kontak sekecil apapun memberinya rasa sakit. Tapi selama beberapa menit terakhir, tubuhnya telah mengalami rasa sakit yang tiada duanya. Tambah sedikit lagi bukan apa-apa. Jadi Xika tidak menyerah dan terus mengikat sayapnya ke tubuhnya.


Perlahan, sayapnya mulai bergerak. Sayap itu mulai masuk ke dalam tubuhnya. Tapi ketika ia hendak menyelesaikan langkah terakhir, sensasi yang ia rasakan sebelumnya kembali muncul. Kali ini bahkan lebih kuat.


Xika tidak menyadari bagaimana tubuhnya di luar, tapi Heiliao terkesiap kaget melihat punggung Xika yang mendadak bersinar lalu menutupi seluruh tubuhnya hingga sang serigala tak dapat melihat.


"Ehh?"


Di hadapan Xika, berdiri roh burung pemilik sayapnya sebelumnya. Xika tak tahu bagaimana burung itu bisa berada di sini padahal terakhir kali Xika melihatnya burung itu sudah menghilang. Tapi ia tak berani bersikap tak sopan. Sayapnya (atau sayap burung itu) sudah banyak membantu dirinya. Cepat-cepat Xika menyatukan kedua tangannya.


"Tepat. Dan kali ini karena dirimu."


Xika menunjuk dirinya kebingungan. Sementara sang burung tak mempedulikannya. Ia malah berputar dan melihat baik-baik punggung Xika. Dan Xika langsung tersentak. Tampaknya burung itu tahu bahwa sayapnya rusak.


"M-maaf, senior. Sayapnya memang rusak, tapi saat ini saya tengah memperbaikinya. Seharusnya tak lama lagi-"


"Bagaimana?"


"Eh?"


"Bagaimana ceritanya sampai kau merusak sayapku?"


Xika yakin ia tidak melihat raut wajah seperti itu terakhir kali mereka bertemu. Ia meyakinkan dirinya bahwa lain kali ia harus membawa Huo Bing bila bertemu burung lainnya. Atau roh burung.


"Anu, saya melindungi seor-"


"Mellindungi." Burung itu terdiam sebentar. Seolah sedang menimang-nimang jawaban Xika apakah bagus atau tidak, lalu tersenyum. "Itu bukan alasan yang buruk."


Seketika itu juga Xika menghela nafas lega.


"Aku kesini karena suatu alasan." Ia kembali melirik punggung Xika. "Tampaknya tubuhmu sudah mulai menerima sayapku, ya?"

__ADS_1


"Begitulah, senior....." Sejujurnya, Xika tak yakin apa yang dibicarakan burung itu.


"Sebenarnya aku tak yakin tubuhmu dapat menahan sayapku."


"Maaf?" Xika sebenarnya ingin berkata, 'Kalau begitu kenapa kau berikan padaku?'


"Tapi temanmu berusaha keras meyakinkanku. Jadi akhirnya aku setuju untuk memijamkan sayapku. Aku meninggalkan sebagian rohku disini untuk melihat apakah kau cocok dan layak memiliki sayapku ini. Terakhir kali kita bertemu, kau bisa menyatu dan menggunakan sayapku itu semata-mata karena restuku.


Sayangnya, aku hanya memberikan setengah restuku waktu itu. Itu kulakukan agar mudah memisahkan sayapku dari tubuhmu, kalau misalnya tubuhmu tidak cocok dengan sayapku. Tapi tampaknya kau cukup berhasil sampai saat ini. Tapi ini sudah batasnya.


Kau benar-benar menghancurkan sayapku sampai seperti ini. Tindakanmu membentuk saluran untuk menyatukan sayapku dengan tubuhmu sudah benar. Tapi perlu kau ingat, bahwa tanpa restuku, tindakanmu ini sia-sia dan akan menyebabkan luka yang parah, kalau bukan kematian."


"Apa? Sialan! Bilang dari awal, dong!"


"Kali ini, aku datang untuk memberikan restuku sepenuhnya. Setelah ini, sayapku akan pulih dengan lebih cepat dan akan menjadi lebih kuat. Juga, sayap ini akan menjadi milikmu sepenuhnya."


Burung itu terdiam sebentar. Xika ingin sekali melayangkan protes, tapi karena ia takut sayapnya akan diambil kembali, jadi ia juga ikut diam.


"Kalau tidak salah, sebelumnya kau telah meneteskan darahmu pada sayapku, dan setelah itu sayapku berubah warna bukan?"


Xika mengangguk. Ia ingat warna sayap itu berubah menjadi biru gelap seperti langit dengan banyak titik terang ketika ia meneteskan darahya.


"Warna biru-hijau adalah milikku. Warna berikutnya yang muncul setelah kau meneteskan darahmu adalah warnamu sendiri. Sebelumnya itu memang sempat berubah warna, tapi karena aku memberikan setengah restuku, maka sayapmu berubah warnanya kembali menjadi warnaku.


Setelah ini, sayapmu akan kembali ke warna aslimu. Tenang saja, kau masih bisa mengubah ukurannya, kok. Bagaimanapun juga itu adalah hadiah dariku. Tapi mungkin kau akan membutuhkan sedikit penyesuaian lagi."


Burung itu kembali terdiam. Entah apa yang ia pikirkan sampai terdiam cukup lama.


"Yah, sepertinya tak ada lagi yang harus kusampaikan. Apa ada yang mau kau tanyakan?"


Dalam hati Xika ingin agar burung ini pergi secepatnya, tapi ia harus menjaga kesopanan jadi sebaiknya memberi satu-dua pertanyaan.


"Senior, boleh saya tahu nama anda?"


"Zi Lan. Kau yakin hanya itu yang ingin kau tanyakan?"


"Sejujurnya, saya tak tahu lagi harus bertanya apa. Mungkin senior memiliki saran yang bagus untuk menjaga sayap?"


"Melindungi itu alasan yang bagus. Tapi sebaiknya kau tidak menghancurkan sayapku lain kali. Kalau tak ada lagi yang ingin kau katakan aku pergi dulu."


Xika tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Kali ini Zi Lan bercahaya kemudian menghilang. Ketika Xika membuka matanya ia menemukan Heiliao tengah menatap dirinya dengan bingung. Beberapa saat kemudian ia baru sadar bahwa senyum bodohnya masih ada di wajahnya.


Ia berusaha pura-pura sibuk untuk mengabaikan serigala itu. Xika melihat punggungnya dan menemukan sayapnya. Kini sayapnya tak lagi berwarna biru kehijauan. Warnanya sama seperti ketika Xika pertama kali meneteskan darah. Biru gelap dengan titik terang.


Ia mencoba menggerakkan sayapnya. Memang agak kaku, tapi kali ini tidak butuh waktu lama seperti sebelumnya untuk membiasakan diri. Sekarang, sayap itu benar-benar menjadi miliknya. Meskipun motifnya berubah dan menjadi lebih gelap, ia menyukainya. Seolah-olah sayapnya menggambarkan langit dengan bintangnya.


Dan, tanpa sadar ia sudah menerobos ke Forming Qi 7.

__ADS_1


__ADS_2