
SRINGGG!!!!
Cahaya yang membutakan mata banyak orang itu bersinar selama beberapa saat. Kepala Desa yang terdengar sangat marahpun harus menunggu beberapa saat sampai cahaya itu meredup untuk bisa marah. Tapi sayangnya, ia masih tak bisa marah sekalipun cahaya itu telah meredup.
Alasannya karena siluet yang muncul di belakang tugu batu itu setelah meredup. Ada dua siluet yang muncul, laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki terlihat sangat bangga dan percaya diri sementara yang perempuan terlihat lembut dan menenangkan.
Tak berselang lama setelah siluet itu muncul, terdengar suara tawa membahana yang tidak kalah bangga dan bahagia dengan wajah yang ditampilkannya.
"HAHAHAHA................"
Semua penduduk desa tertegun mendengar suara itu, baik yang ada di tempat ini ataupun di tempat lain. Mereka semua menghentikan kegiatan mereka secara serempak dan melihat ke arah tawa itu berasal. Xika juga memiliki reaksi yang tidak berbeda jauh. Di wajahnya, terpampang kebahagiaan, kebanggaan, sekaligus kerinduan yang bercampur kesedihan.
Bruk!
Xika jatuh berlutut di depan tugu batu itu sebelum memeluk benda bersinar itu. Air mata kembali mengalir di wajahnya bersamaan dengan sejuta perasaan yang ia rasakan. Perhatian penduduk desa teralihkan pada Xika yang memeluk tugu batu itu.
Suara tawa itu masih terdengar selama beberapa saat sebelum menghilang dan menyisakan sebuah kartu yang melayang di depan tugu batu itu. Di atas kartu itu tertulis sebuah nama.
Xing Xika.
Di sisi depan kartu itu terdapat gambar malaikat yang bersinar sementara di baliknya terdapat gambar badut seram yang memegang sabit. Badut itu bersinar juga, dan tampilannya sama dengan joker di kartu yang diberikan ayahnya.
Xika mengangkat tangannya perlahan mengambil kartu itu. Ia mencermati gambar yang tertera baik-baik beberapa saat sebelum menemukan artinya. Matanya melebar bersamaan dengan mulutnya. Lalu kembali terdengar suara tawa, tawa yang berbeda dengan sebelumnya tapi mengandung kebahagiaan juga.
"HAHAHAHAHA..............................."
Para penduduk desa masih belum pulih dengan munculnya siluet yang tiba-tiba, namun setelah mereka melihat seorang pemuda yang tertawa di depan benda berharga mereka, kesadaran mereka langsung pulih. Meskipun begitu, mereka tetap bingung dengan anak itu. Mengapa ia tertawa sendiri?
Tawa Xika menyadarkan Zheng Wei. Ia ingat sebelum tugu itu bersinar, kepala desa memanggilnya dengan penuh amarah. Ia harus membawa Xika selagi bisa.
"Xika? Kau baik-baik saja? Sebaiknya tunda tawamu sebentar. Kita harus pergi sekarang."
Tapi sayangnya kepala desa beserta warganya tidak membiarkan mereka pergi.
"ZHENG WEI!"
Deg!
Zheng Wei langsung berdiri tegak sadar dirinya sudah terlambat. Kepala desa mendekat dengan mata penuh amarah padanya, sama seperti yang ada dalam mata warga lain.
"Zheng Wei."
"Y-ya, Kepala Desa."
"Aku mendengar kau membawa orang asing ke desa kita?" Pria tua itu berhenti sebentar melihat Xika, kemudian kembali menatap Zheng Wei, " Sepertinya itu benar. Apa kau tahu kesalahan apa yang kau lakukan?"
"Aku tidak melakukan kesalahan apapun, Kepala Desa."
Kepala Desa menghantamkan kakinya ke tanah dengan kuat hingga membentuk gelombang yang membuat Zheng Wei hampir jatuh. Tapi anehnya Xika biasa saja, bahkan terlihat goyahpun tidak.
"Kau membawa orang asing ke desa kita. Apa kau sudah lupa peraturan desa? Atau kau sudah tidak peduli lagi dengan peraturan yang ada?"
__ADS_1
Meskipun tubuhnya gemetar ketakutan, Zheng Wei tetap berdiri tegak menjawab Kepala Desa.
"K-kepala Desa, saya tak membawa orang asing. Saya membawa putra Xing Taiyang, penyelamat kita. Dia bukan orang asing. Juga, saya tidak melanggar peraturan. Anak ini berhasil masuk dengan kemampuannya sendiri. Saya tidak membawanya masuk, hanya mengajaknya berkeliling."
Pria tua yang merupakan kepala desa itu mengerutkan keningnya. Ia diam beberapa saat memikirkan jawaban yang diberikan Zheng Wei.
"Kau bilang anak ini berhasil masuk dengan kemampuannya sendiri? Meskipun aku tak dapat melihat tingkat kultivasinya dengan jelas, tapi ia tak sekuat itu sampai dapat melewati formasi yang dibuat Taiyang. Ia sendiri yang mengatakan dengan bangga bahwa hanya orang-orang kuat yang dapat menembus formasinya. Dan aku tahu siapa yang dimaksud orang kuat itu."
"Ah.....Kepala Desa mengenai hal itu........." Zheng Wei seolah ingin mengatakan sesuatu tapi ragu. Kepala Desa memberi tanda agar ia bicara.
"Apa anda ingat kunjungan terakhir Xing Taiyang? Apa yang ia lakukan?"
"Kalau tak salah.......memperkuat formasi.......apa hubungannya hal itu dengan anak ini?"
"Saat itu, saya bertemu dengannya di hutan. Ia memang memperkuat formasi yang ada, tapi ia juga membuat metode lain."
"Metode lain? Metode apa? Untuk apa?"
"Mengenai hal itu saya tidak tahu. Tapi kalau alasannya.......saya menduga berkaitan dengan keluarganya." Zheng Wei menoleh menatap Xika meminta kepastian.
Yang dijawab dengan anggukan Xika. Anak itu melangkah maju dan ikut bicrara.
"Benar. Setiap malam, ayah saya selalu menceritakan hutan ini sebagai cerita pengantar tidur sampai saya menghafalnya. Sejujurnya, seperti yang anda katakan, saya tak akan bisa melewati hutan ini hanya dengan kemampuan saya. Tapi selain menceritakan hutan ini, ia juga memberitahu saya metode rahasia untuk memasukinya."
Kepala Desa kembali diam. Keningnya masih berkerut. Zheng Wei kembali bicara untuk meyakinkan pria tua itu.
"Kepala Desa, coba anda pikir baik-baik. Kalau anak ini tidak memiliki hubungan dekat dengan Taiyang, apa mungkin ia mengetahui metode rahasia itu? Lalu, tugu itu bereaksi terhadap anak itu setelah bertahun-tahun tidak melakukan apa-apa. Selain itu............anak ini tidak mati."
Setelah beberapa saat, ia menghela nafas.
"Zheng Wei."
"Ya, Kepala Desa."
"Anak ini tidak boleh memasuki desa, kecuali bila kau menemaninya. Ia tak boleh tinggal di sini, tapi jangan usir dia dari tempat ini."
Setelah mengatakan itu, Kepala Desa memandang Xika lekat-lekat selama beberapa saat sebelum berbalik pergi. Warga desa tak ada yang protes dan sepertinya setuju itu adalah keputusan terbaik terhadap anak itu. Muka Zheng Wei berubah-rubah beberapa kali selama Kepala Desa bicara tapi pada akhirnya ia menghela nafas lega.
Mengikuti Kepala Desa, warga yang lain juga ikut pergi satu-persatu. Ada yang kembali menjalankan aktivitas mereka, ada juga yang kembali ke rumah mereka, tapi setidaknya tatapan menusuk dan penuh ketakutan yang selalu diarahkan pada Xika berkurang banyak.
Tidak lama kemudian, hanya tinggal Xika dan Zheng Wei yang ada di tempat itu. Zheng Wei menepuk Xika beberapa kali sambil tersenyum, yang juga dibalas dengan senyuman oleh Xika.
"Paman Zheng, terima kasih banyak. Kalau bukan karena bantuanmu, aku tak yakin akan dapat memasuki desa ini dengan selamat."
Wajah Zheng terlihat sedikit tidak suka saat dipanggil Paman, tapi ia berusaha menerimanya.
"Sama-sama. Lagipula sebagian besar juga karena dirimu yang menyentuh tugu batu itu tepat waktu. Yah, meskipun itu sempat membuat jantungku benyanyi keras. Jangan lakukan itu lagi lain kali."
Xika mengusap bagian belakang kepalanya sambil tertawa dan meminta maaf.
"Jadi apa yang harus kulakukan sekarang Paman Zheng?"
__ADS_1
"Aku tak yakin. Tadinya aku ingin mengajakmu menginap di rumahku, tapi sepertinya kedua temanmu diluar tak akan setuju bukan?"
Xika mengangguk.
"Kalau begitu kau kembalilah dulu. Besok pagi aku akan menjemputmu. Kita akan berjalan-jalan lagi keliling desa. Siapkan dirimu."
Xika kembali mengangguk. Setelah itu ia berjalan keluar desa ditemani Zheng Wei. Mereka melewati beberapa warga, ada yang di dalam rumah, ada juga yang sedang melakukan kegiatan lain seperti bertani. Mereka menatapnya dengan berbagai pandangan, tapi Xika tak bisa mengartikannya. Jadi ia memutuskan tidak terlalu memikirkannya dan bersikap biasa. Mengangguk sopan dan menyapa beberapa.
"Yah, kita berpisah sekarang. Jangan lupa besok pagi."
"Ya. Sekali lagi, terima kasih banyak Paman Zheng."
Zheng Wei menepuk Xika beberapa kali lagi sebelum kembali ke desanya. Matahari sudah hampir terbenam menandakan berakhirnya hampir seluruh kegiatan. Huo Bing dan Heiliao langsung mendekat setelah Zheng Wei pergi.
Tadinya Huo Bing tak mau mempedulikan pria itu, tapi Heiliao bersikeras menunggu ia pergi mengingat ketakutan yang ditunjukannya terakhir kali.
"Xika! Bagaimana? Kau menemukan siapa yang memanggilmu?"
"Yah, lebih tepat disebut apa dibanding siapa."
"Berisik! Jangan banyak bicara. Cepat tunjukkan benda itu!" ucap Huo Bing tak sabar. Di sampingnya, Heiliao juga mengangguk setuju sama penasarannya dengan Huo Bing.
Xika tersenyum. Ia merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan benda yang memanggilnya selama ini. Huo Bing dan Heiliao menatap kartu itu lekat-lekat selama beberapa saat.
"Eh, aku tau kau suka kartu. Tapi apa maksudnya ini? Kau yakin tak salah desa? Mungkin saja yang memanggilmu berada di desa sebelah."
"Aku tak salah. Memang benda ini yang memanggilku."
"Kalau begitu apa gunanya kartu ini? Apa bisa digunakan sebagai senjata? Atau berisi teknik lain?"
Xika berpikir sebentar sebelum menggeleng dengan senyum.
"Kurasa tidak. Kalian ingat kartu ini?" Xika mengeluarkan kartu lain dari jubahnya. Kartu yang menyatakan identitasnya sebagai anggota Stellar Joker. Huo Bing dan Heiliao langsung mengangguk melihatnya.
"Sepertinya fungsinya tidak jauh berbeda dengan kartu ini."
"Aku masih tidak mengerti."
"Sudah kuduga para burung memang memiliki otak yang kecil."
"Berisik, Serigala Gosong! Beritahu aku bila kau tahu!"
"Kalau tidak salah, selain menjadi pelindung kartu ini juga menjadi tanda satu sama lain bukan? Kita bisa memeriksa apakah mereka masih hidup atau tidak melalui kartu ini."
"Benar. Memang itu yang ditunjukkan kartu ini."
"Lalu hidup siapa yang ditunjukkannya?"
Xika tersenyum,
"Ayah dan ibuku."
__ADS_1