Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-115


__ADS_3

BUAK!


"AW! Kenapa kau memukulku?"


"Karena kau bersikap misterius. Cepat katakan apa yang kau pikirkan."


Xika kembali tersenyum.


"Sedikit banyak aku belajar cara untuk terlihat keren sekaligus misterius dari Heiliao."


"Aku berani taruhan, dari semua yang kau pelajari itu tidak akan ada yang berguna ketika berhadapan dengan gadis tanpa ekspresi itu."


Senyuman Xika hilang digantikan ekspresi kecewa.


"Sejujurnya, aku juga berpikir seperti itu."


"Jadi kau benar-benar menyukainya? Kau mencintainya? Kau rela melakukan apa saja untuknya? Bahkan mati untuknya?"


Xika menatap Huo Bing dengan kesal sekaligus terganggu. Burung ini sangat suka bergosip. Kemudian ia menghela nafas.


"Entahlah. Aku tidak terlalu yakin. Aku mengakui bahwa ia gadis tercantik yang pernah kutemui dan aku cukup kagum padanya. Tapi aku tidak tahu apakah perasaanku saat ini adalah cinta yang sebenarnya atau hanya perasaan kagum semata. Lagipula kalaupun aku benar-benar cinta, aku tidak tahu apa yang membuatku cinta padanya. Maksudku, paras elok saja tidak menjamin."


Huo Bing mengangguk-nganguk sok bijak. Sementara itu Xika teringat sesuatu, saat ia bertemu Heiliao dan serigala itu mengajukan pertanyaan yang menurutnya cukup aneh.


Xingli muncul dari lubang putih dan menatap dirinya kemudian Heiliao. Gadis itu memperhatikan dirinya selama beberapa saat dan menyadari auranya berantakan. Dan tanpa bicara sepatah katapun, gadis itu menghunuskan pedangnya tanpa mempedulikan badannya yang kelelahan dan dibasahi keringatnya sendiri. Dan saat itu, ia melakukannya tanpa keraguan sedikitpun.


Xika tersenyum mengingat kenangan itu. Kalau ia butuh alasan..............apakah kejadian itu cukup?


Sementara itu si burung dua warna melihat saudara manusianya tersenyum sendiri dan langsung tahu apa yang dipikirkannya. Ia juga ikut tersenyum. Tapi senyum yang berbeda dengan senyum Xika, senyum miliknya ini adalah senyum busuk.


"Yin Xingli."


Xika melebarkan matanya dan langsung menoleh. Tentu saja ia tidak menemukan siapapun.


Butuh beberapa detik untuknya sadar apa yang terjadi. Burung di sebelahnyalah yang bicara.


"Burung Setengah Matang sialan! Aku benar-benar kesal kau bisa meniru suara seperti itu! Kau boleh meniru suara siapa saja, tapi jangan dia oke?"


"Tentu. Aku mengerti." ucap Huo Bing masih menggunakan suara Xingli.


"Diamlah sialan!"


Huo Bing tertawa dengan sangat puas di bawah tatapan kesal Xika.


"Lanjutkan saja ketawamu. Aku tidak akan memberitahu apa yang kupikirkan."


"Ah, Xika-pfttt......tunggu dulu.......pftttt......aduh.......hahahahaha.........tunggu sebentar.........puahahaha......."


Tapi meskipun Xika telah bicara begitu, Huo Bing masih tertawa selama beberapa menit sebelum benar-benar berhenti.


"Baiklah, baiklah. Aku berhenti. Katakan apa yang ada kau pikirkan."


"Telat."

__ADS_1


"Xika, jangan begit-pftttt......."


Dan Huo Bing kembali tertawa.


"Hei, Xika! Tunggu, tunggu! Aku berhenti! Aku berhenti."


Kali ini Huo Bing benar-benar berhenti tertawa. Xika berpikir burung itu sudah kembali fokus. Tapi yang sebenarnya terjadi adalah burung itu sedang menahan tawa setengah mati.


"Jadi? Kau berencana meminta apa?" tanya Huo Bing sambil berusaha keras untuk tidak terdengar seperti sedang menahan tawa.


"Aku tidak terlalu yakin. Mungkin aku ingin meminta kaum serigala menjadi pasukanku."


"Pasukan? Untuk apa?" tanya Huo Bing dengan ekspresinya yang sudah kemali serius.


"Seperti yang kukatakan, aku tidak yakin. Tapi aku memiliki firasat kita akan terlibat sebuah perang. Dalam hal itu, bukankah lebih baik kita berada di sisi yang sama dengan para serigala?"


Huo Bing mengangguk-ngangguk.


"Masuk akal. Lalu mengenai perang yang kau katakan.........apakah ini ada kaitannya dengan bocah sombong sialan itu?"


"Firasatku mengatakan ya. Tapi jangan terlalu yakin. Mungkin saja, aku salah. Siapa yang tahu."


Burung itu kembali mengangguk-ngangguk.


"Tunggu. Bukannya kau bilang tadi memiliki beberapa gambaran? Kenapa hanya satu?"


"Yah, bisa saja keadaan mendesak dan aku terpaksa meminta sesuatu dari para serigala sebelum aku terlibat dalam perang. Tapi sejujurnya aku mengatakan memiliki beberapa agar terdengar lebih keren saja."


Anak itu mengangguk. Kemudian ia berjalan menuju sungai tempat para serigala biasa mandi. Ia ingin menghilangkan panas ini.


Tapi ada rencana lain yang tidak ia katakan pada burung itu. Entah kenapa ia memiliki firasat untuk tidak mengatakannya di tempat ini. Dan firasatnya terbukti benar, karena seekor serigala tua berdiri di atas pohon beberapa puluh meter dari dirinya. Serigala itu bisa mendengar dengan jelas dari jarak sejauh itu.


Lang Yan masih meragukan keputusan Xika dan mengikutinya untuk beberapa saat. Setidaknya ia harus memiliki bayangan tentang apa yang akan bocah itu minta. Dan untunglah ia mengetahuinya. Meminta para serigala berpihak padanya memang cukup berat. Tapi ia juga memiliki pikiran yang sama dengan bocah itu. Sebisa mungkin ia juga ingin berada dalam sisi yang sama dengan bocah itu, kalau perang benar-benar terjadi.


Setelah mengetahui pikiran anak itu, Lang Yanpun pergi melanjutkan jalan-jalannya. Ia juga menebak-nebak tentang bocah sombong yang burung itu sebutkan. Sepertinya itu adalah musuh Xika. Ia menghela nafas. Yang semula bertujuan menjernihkan pikiran malah menambah beban pikiran. Tapi biarlah, ia akan pikirkan ini lagi nanti.


Xika bicara dengan Huo Bing menggunakan jiwanya.


"Ada gambaran lain yang belum kukatakan padamu."


"Benarkah? Apa itu? Kenapa kau tidak memberitahuku daritadi?"


"Aku merasakan perasaan tidak nyaman ketika berada di tempat itu. Perasaan yang sama ketika desaku dibantai. Tidak sekuat itu, tapi tetap saja ini perasaan yang sama, kau tahu."


Huo Bing diam untuk beberapa saat.


"Lalu rencana apa yang kau miliki?"


"Kali ini aku benar-benar menggunakan kata 'beberapa'. Kalau, jika, andaikan, hanya kemungkinan, aku tidak, kau tahu..............menemukan orangtuaku meskipun kita sudah berkeliling, aku ingin meminta bantuan mereka."


"Lalu? Selain itu?"


"Aku bermaksud membantu Heiliao menemukan cintanya. Kalau ia bisa menemukan cintanya lagi, aku ingin membantunya."

__ADS_1


Huo Bing menyetujui ucapan Xika itu dalam hati. Ia tahu bagaimana pedihnya kehilangan orang yang ia cintai. Ia pernah mengalaminya. Ia tidak ingin serigala itu mengalaminya juga. Lagipula dari memori yang diperlihatkannya, serigala itu tidak memperlihatkan kekasihnya meninggal. Jadi setidaknya masih ada harapan. Berbeda dengannya, ia sudah benar-benar tidak memiliki harapan. Meskipun kedengarannya juga cukup sulit untuk berkomunikasi dengan bintang.


"Emm.....sebenarnya masih ada satu pilihan lagi. Tapi aku tidak yakin harus mengatakannya atau tidak."


Huo Bing diam selama beberapa detik.


"Katakan."


"Aku.........ingin meminta mereka membangkitkan yang sudah mati."


Dan burung itu kembali diam. Tapi kali ini lebih dari beberapa detik. Ia masih diam meskipun mereka sudah sampai di sungai. Ia memikirkan beberapa hal.


Ia sangat tersentuh dengan pikiran Xika. Bahkan ia sendiri berpikir bahwa tidak ada harapan untuknya, namun Xika tidak. Anak itu memikirkan apa yang tidak ia pikirkan . Tidak pernah sekalipun dalam pikirannya terlintas untuk membangkitkan yang sudah mati. Ia begitu bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak yakin apakah benar-benar bisa membawa mereka yang sudah mati kembali ke sisinya.


Dan kalaupun memang bisa, harga macam apa yang harus dibayar? Pastinya sebuah benda berharga yang sulit didapat. Jangankan benda berharga, tubuhpun ia tidak punya. Ia tidak bisa meminta anak itu menggunakannya permintaanya untuk membantunya. Ia memenangkan pertarungan itu sendiri, jadi ia sendirilah yang harus menggunakannya. Ia yakin Heiliaopun akan sepemikiran dengannya.


Sejujurnya, ia juga sama dengan serigala itu. Ia sudah menyerah dengan cinta. Cintanya hanya satu. Baik dulu maupun sekarang. Dan kalau memungkinkan, lebih baik Xika menggunakan permintaannya itu untuk Heiliao alih-alih dirinya. Tentu saja akan lebih baik kalau Xika menggunakannya untuk dirinya sendiri.


Xika cukup terkejut melihat kondisi sungai. Disana sangat penuh. Xika sama sekali tidak menduganya. Kalau ia bisa berpikir untuk bersantai di sungai, kenapa para serigala tidak bisa? Penuhnya sungai itu membuat Xika tidak lagi tertarik untuk masuk. Ia yakin di dalam sungai lebih panas dibanding berdiri disini.


Jadi ia berjalan pergi. Beberapa serigala menyapanya dan menawarkan untuk bergabung. Xika menolak mereka. Kemudian ia teringat satu kolam yang pernah dikatakan Lang Hu. Ia langsung mengepakkan sayapnya dan menuju ke sana.


Betapa kecewanya dia setelah sampai di kolam yang dikatakan Lang Hu. Air kolam itu sangat keruh. Kenapa ia bisa lupa bahwa ia membersihkan dirinya di kolam ini?


Huo Bing terlalu sibuk berpikir hingga tidak sadar kemana Xika membawanya.


"Eh? Kenapa kita disini? Apa yang kau lakukan?"


"Ah. Aku lupa aku sudah membuat kolam ini kotor. Sayang sekali. Padahal airnya sebelumnya begitu jernih dan bersih."


Huo Bing menatap Xika dengan aneh.


"Kau bicara seolah-olah tidak menguasai elemen air saja."


"Ah! Benar juga. Aku sampai lupa. Tapi sepertinya aku membutuhkan bantuanmu untuk membuat kolam ini kembali seperti semula. Mengangkat semua kotoran masih terlalu berat bagiku."


Huo Bing tersenyum sombong.


"Heh. Apa yang bisa kau lakukan tanpa Tuan Huo Bing ini?"


"Diam dan angkat saja kotorannya."


Huo Bing mengepakkan sayapnya dengan wajahnya yang masih memasang senyum sombongnya. Ia berputar beberapa kali di atas kolam itu dan semua kotoran yang Xika buang sebelumnya terangkat naik.


Xika harus mengakui bahwa burung itu benar-benar hebat, terlepas dari fakta bahwa burung itu selalu sombong. Ia menunggu beberapa saat sebelum semua kotorannya telah hilang kemudian melompat masuk ke dalam kolam itu.


"Heh. Karena siapa kau dapat menikmati kolam ini?"


"Baiklah, baiklah. Semuanya karena Tuan Huo Bing, terima kasih." jawab Xika tak peduli. Ia sudah terlalu senang memiliki kolamnya sendiri untuk menghilangkan panas dan tidak terlalu memikirkan perkataan Huo Bing. Burung itu tersenyum bangga.


"Hm? Apa itu?"


Xika melihat sesuatu dari sudut matanya. Sesuatu yang berwarna hitam dan berbentuk bulat seperti pil.

__ADS_1


__ADS_2