Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-181


__ADS_3

"Nah, sekarang......bisa kita mulai?" ucap Xika masih dengan senyum di wajahnya.


Glek!


Pria itu menelan ludah melihat sosok Xika yang kini menjadi menyeramkan.


"Siapa yang mengirimmu?"


"Aku tak akan bicara."


Krak!


"AHHH!"


Xika mematahkan jari telunjuk pria berjubah ungu itu. Dengan senyum di wajahnya tentu saja.


"Siapa yang mengirimmu?"


"Aku.....tak akan-"


Krak!


"ARGH!!"


Krak!


Kini teriakan pria itu berubah menjadi jeritan yang tak terdengar seperti seorang pria lagi. Pria itu menatap ketiga jarinya yang telah menekuk ke arah yang tidak seharusnya dengan ngeri. Nafasnya semakin tidak beraturan. Selama ini selalu ia yang memberi teror.


Siapapun yang berselisih paham dengannya akan menerima batunya. Ia akan memberikan penderitaan yang tiada tara bagi mereka yang menentangnya. Ia suka menikmati ekspresi mereka ketika kesakitan, terutama ketika terkena racunnya perlahan-lahan.


Tapi kali ini merupakan pertama kalinya ia menerima teror. Ia yang selama ini menjadi pemburu, kini berbalik menjadi mangsa. Setelah bertemu Xika, ia sadar bahwa teror yang ia berikan selama ini tak ada apa-apanya. Dan ia tahu bahwa Xika masih memiliki lebih banyak metode lagi untuk membuatnya tersiksa yang tentunya tak mau ia coba satu-satu.


"Jadi? Sudah mau bicara? Atau masih kurang?"


"Aku bicara.......aku bicara......"


Sejujurnya, Xika yang dulu tak akan bisa melakukan ini. Sekalipun ia selalu menerima hinaan dan penderitaan setiap hari, tapi menurutnya kala itu, ia tak akan membiarkan orang lain menderita selama ia bisa mencegahnya. Tapi keberadaan Huo Bing serta Heiliao sedikit banyak telah merubahnya.


Entah berubah ke arah yang lebih baik atau buruk. Tapi untuk saat ini Xika tak peduli. Kalau ia yang dulu, ia pasti akan menyerah membuka mulut orang keras kepala seperti pria berjubah ungu ini. Namun kini, ia percaya tak ada mulut yang tak bisa dibuka. Ia telah mempelajari seribu satu metode dari Huo Bing dan Heiliao yang tak sabar ia praktikan pada mereka yang keras kepala.


Jadi dengan itu, Xika mulai mengajukan beberapa pertanyaan seperti siapa yang mengirimnya, kenapa ia bisa diserang secepat itu, bagaimana pria ini menemukannya, dan dimana ia bisa mendapatkan kamar. Sayangnya, pria itu tak sempat menjawab pertanyaan yang terakhir karena sudah pingsan ketakutan, atau mungkin kesakitan.


"Sial. Sepertinya aku harus kembali lagi ke tempat tadi."


Tapi dengan ini, setidaknya ia bisa tahu seberapa besar kekuatan Burning Abyss Clan, tempat Han Shan berasal. Seperti yang ia duga, pelakunya tak jauh-jauh antara Burning Abyss Clan, atau dua kekuatan lain yang muridnya telah dikalahkan Huo Bing dan Heiliao. Atau bisa saja ketiganya.


Xika kembali ke tempat tadi bersama dengan Huo Bing dan Heiliao. Keduanya berjalan dalam diam. Ia merasa seperti memiliki pengawal pribadi saja. Tapi kepalanya langsung mendapat dua jitakan ketika ia bicara.


Kriettttt!!!


Pintu terbuka, ratusan pasang mata menatapnya. Sama seperti sebelumnya. Hanya saja kali ini semuanya memiliki tatapan yang berbeda dibanding sebelumnya. Tatapan yang berisi......rasa takut.


Xika langsung berjalan ke penjaga meja.


"Hei. Dimana aku bisa mendapatkan kamar?"


"A-ah.....anu...bagaimana kalau...kamar Ta-tan Wu....?" Penjaga meja itu bicara dengan bibir bergetar.

__ADS_1


"Tan Wu? Apa dia pria yang tadi kukalahkan?"


"B-benar...."


"Yah, tak masalah. Yang penting aku mendapat kamar."


Setelahnya penjaga meja mengantar Xika ke lantai dua dan menuju kamar yang dihuni Tan Wu. Tan Wu yang sedang mengobati tangannya terperanjat begitu melihat Xika datang. Ia tak mengatakan apa-apa dan langsung lari. Penjaga meja membungkuk sekali sebelum kembali ke lantai bawah, meninggalkan Xika bertiga.


"Enak juga seperti ini. Mengambil kamar orang dengan mudah."


"Hah. Itulah mengapa aku mengatakan bahwa kau harus menunjukkan kekuatanmu. Ingat, dunia manusia lebih kejam dari dunia hewan spiritual. Kau mungkin tak akan diganggu sekalipun tak menunjukkan kekuatan di tanah para serigala.


Tapi disini, dimana semua manusia berkeliaran, kau harus menunjukkan kekuatanmu."


"Kau mengatakan 'berkeliaran' seolah binatang saja."


Huo Bing tak mempedulikan ucapan Xika itu. Ia berbalik dan menghempaskan tubuhnya ke kasur empuk yang sebelumnya digunakan Tan Wu. Heiliao juga naik dan akhirnya mereka berdua berebut kasur sementara Xika berusaha menerobos ke Forming Qi 6.


Ia merasa bahwa ia tak jauh lagi dari tingkat itu dan berusaha menerobosnya. Apalagi di tempat ini kekuatan sangat penting. Beda satu tingkat saja sudah beda kasta.


Malam berlalu dan pagipun tiba. Xika masih belum menerobos, tapi ia merasa semakin dekat. Sementara itu, baik Heiliao maupun Huo Bing tak ada yang berhasil tidur di kasur karena bertengkar semalaman.


"Ayo pergi. Elder Bai meminta kita berkumpul di Halaman Utama."


"Serigala Gosong sialan. Kau membuatku tak tidur semalaman."


"Harusnya aku yang bilang begitu, Burung Setengah Matang."


Ketiganya menuruni tangga dengan menuai banyak tatapan. Terutama Heiliao dan Huo Bing karena mereka masih berdebat sekalipun sudah mendekati Halaman Utama.


Tap!


Xika merasakan sebuah sosok tiba di sampingnya. Tanpa menoleh, Xika sudah tahu siapa sosok itu.


"Apa kau tidur nyenyak semalam?" tanya Xika berbasa-basi.


Xingli menjawabnya dengan anggukan ringan.


"Beruntung sekali. Aku harus bertarung dulu agar bisa mendapat kamar. Setelah itupun aku tak bisa tidur karena adanya dua mahkluk yang tak pernah berhenti berdebat." Xika menatap Huo Bing dan Heiliao.


Keduanya langsung diam setelah mendengar perkataan Xika. Dan entah mengapa, mendadak keduanya memiliki sinar jahil yang sama.


Tap!


Heiliao menepuk pundak Xika, "Jangan berbohong begitu. Bukankah kau sendiri yang tak bisa tidur karena terlalu senang bertemu dengan.....ekhem!"


"Nona Xingli! Ahhhh.....akhirnya aku bertemu lagi denganmu! Apakah ini memang kehendak langit? Apakah kita memang ditakdirkan bersama? Kalau begitu, izinkan aku menciummu, nona Xingli!" ucap Huo Bing dengan bibir dimonyongkan.


"Sialan!"


Kini Xika tak lagi memiliki wajah di depan Xingli. Ia tak berani menatap mata wanita itu, juga tak berani mengartikan arti di balik tatapan tersebut.


"Kemari kalian berdua!"


Xika mencekik Huo Bing dan Heiliao, tapi ia tak bisa menghentikkan keduanya tertawa puas. Tanpa disadari siapapun, sudut bibir Xingli terangkat sedikit, sedikit sekali. Bahkan Xingli sendiri tidak menyadarinya.


Tanpa bisa menghentikan tawa Huo Bing dan Heiliao, keempatnya terus berjalan menuju Halaman Utama dipimpin oleh Xingli.

__ADS_1


Tapi hal itu justru membuat mereka menarik perhatian. Apalagi tawa Huo Bing dan Heiliao yang sama sekali tak bisa dibendung semakin menarik perhatian siapapun yang lewat.


"Jadi sepertinya rumor itu memang benar."


Seorang pria besar berdiri menghalangi jalan Xika dan lainnya. Terlihat jelas ia mengagumi Xingli dari tatapannya. Kemudian ketika melihat Xika, tatapannya berubah menjadi permusuhan yang sangat terasa.


"Nona Yin, anda tak layak bersama para sampah rendahan ini. Izinkan saya menemani anda." ucap pria berbadan besar itu sambil setengah membungkuk pada Xingli. Sangat jelas para sampah yang ia sebut disini adalah Xika dan lainnya.


Tap! Tap!


Namun Xingli bahkan tidak berhenti sedetikpun. Ia berjalan terus seolah tak ada orang disana. Xika dan lainnya yang melihat itu tak bisa menahan tawa lagi.


"Bahahahahaha! Kau lihat itu? Kau lihat bagaimana Xingli mengacuhkan pria itu?"


"Lihat mukanya! Seperti ingin buang air besar! Aduh, perutku benar-benar sakit. Nona Xingli benar-benar hebat."


Heiliao tak mengatakan apa-apa, tapi ia juga tak menyembunyikan tawa dari wajahnya.


Pria berbadan besar itu, sepertinya dikatakan Huo Bing, wajahnya sangat buruk setelah Xingli mengabaikannya begitu saja, apalagi setelah mendengar perkataan Huo Bing dan Xika, saking buruknya, ia terlihat seolah sedang ingin buang air besar.


"Brengsek! Kau bilang apa tadi?"


"Wah, mulai nih! Gorilanya marah tuh, Xika!"


"Bahahahahah! Gorila? Cocok juga."


Xika dan Huo Bing justru malah tertawa semakin kencang melihat pria besar itu marah.


"Bajingan! Mati sana! Thunderstorm!"


Pria itu mengayunkan tinjunya yang dikelilingi angin tajam beserta percika petir-petir kecil.


Greb!


"Baiklah, baiklah. Terima kasih atas leluconnya. Aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa!"


Pria itu menatap Xika dengan tidak percaya. Salah satu teknik andalannya, Thunderstorm, ditahan oleh Xika dengan satu tangan, bahkan ia menggunakan tangan kiri. Selain itu, Xika sangat santai dan tidak terkesan kesulitan menahan serangannya.


Set!


Xika melepas tangan pria itu, kemudian menepuk bahunya dua kali setelah itu berjalan kembali menuju Xingli yang sudah menunggunya.


"Pfttt....."


Huo Bing berusaha keras menahan tawanya ketika melihat mata pria itu yang begitu kecewa melihat Xingli berdiri menunggu Xika. Xingli, pujaan hatinya, dewi yang ia impikan tiap malam, yang baru saja mengabaikannya, saat ini sedang menunggu Xika? Bocah bau kencur yang baru masuk itu?


"SIALAN!"


Dengan amarah membara, pria itu berlari dan menyerang Xika. Kali ini bahkan lebih ganas dari sebelumnya. Meskipun ia tidak ingin membunuh Xika, setidaknya ia ingin Xika menderita hingga tak bisa bangun selama satu tahun.


"Xika!"


"Hm?"


Pada saat Xika berbalik, kepalan tangan itu sudah berada di depan wajahnya.


SLASH!

__ADS_1


__ADS_2