
Tempat yang sebelumnya penuh dengan gelak tawa itu kini digantikan dengan kesunyian. Benar-benar tidak ada suara. Tak ada yang menyangka Xika dapat menghindar dari serangan tiba-tiba Tan Wu.
Tan Wu memiliki reputasi yang lumayan terkenal. Karakternya buruk. Ia sering mencari masalah dengan murid lain yang lebih lemah dari dirinya hanya untuk bersenang-senang. Xika yang masuk ke tempat ini tanpa tahu apa-apa dan terlihat lemah menjadi mangsa yang sangat cocok bagi Tan Wu, apalagi saat ini ia sedang bosan.
Tapi ia tak pernah menyangka bahwa mangsanya yang lemah itu dapat menghindari serangannya. Apalagi kini mangsanya tengah tersenyum seolah menantang dirinya.
"Keberuntungan. Pasti keberuntungan." geram Tan Wu dalam hatinya.
"Kalau begitu coba yang ini!"
Kalau sebelumnya Tan Wu hanya main-main, kali ini ia serius. Ia mengumpulkan qi di tangannya sampai membentuk kepalan yang membara kemudian mengarahkannya menuju Xika.
WHUSH!
TAP!
"Masih sama." Xika memegang tinju Tan Wu yang membara dengan santai. Senyum ramahpun mash tergantung di wajahnya. "Aku tak melihat tanda-tanda bencana. Yang kulihat hanyalah sampah yang banyak tingkah."
Krak!
Xika memutar lengan Tan Wu sampai terpelintir membuat pria itu menjerit kesakitan. Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada penjaga meja panjang. Masih dengan senyum ramah di wajahnya, ia kembali bertanya,
"Di mana aku bisa mendapatkan kamar?"
"....."
Penjaga meja itu terlalu kaget sampai tak bisa bicara. Selain itu Xika tak lagi terkesan ramah. Senyumnya kini terkesan menakutkan ketika melihatnya masih memegang lengan Tan Wu dan pria itu yang tidka berhenti menjerit.
"Kalau aku tak salah, harusnya kau murid baru kan?"
Tepat ketika suasana semakin mencekam, sebuah suara terdengar.
Xika berbalik dan melihat pria lain dengan jubah ungu bersandar di samping pintu sambil melipat tangannya.
"Benar, aku murid baru. Dimana aku bisa mendapatkan kamar?"
"Bukan disini tempatnya. Ikut aku." Tanpa menoleh, pria berjubah ungu itu melangkah pergi.
__ADS_1
Bruk!
Xika menghempaskan Tan Wu kemudian berjalan mengikuti pria berjubah ungu itu. Pria itu tak berhenti ataupun menoleh sama sekali seolah yakin bahwa Xika akan mengikutinya. Tapi semakin jauh mereka berjalan, Xika mulai merasa ada yang tidak beres. Bukannya berjalan ke gedung lain, pria itu malah menuntunnya ke tempat sepi.
"Melihat dua orang di belakangmu itu, harusnya kau adalah murid baru itu kan?"
"Melihat suasana sepi disini, harusnya sudah cukup untuk mengatakan tujuan aslimu bukan?" Xika tak membalas perkataan pria itu dan malah bertanya balik.
"Hehehe.....mendengar jawabanmu itu sepertinya aku tak salah orang."
Xika mengangkat sebelah alisnya. Perkataan pria itu seolah mengisyaratkan bahwa ia memang mencari Xika.
"Jadi? Apa maumu?"
"Sederhana. Aku ingin kalian terbaring di kasur selama satu tahun."
"Mungkin lebih tepat bila dikatakan 'orang di belakangmu'. Bukan begitu?"
Pria berjubah ungu itu hanya tersenyum tipis tak memberikan jawaban. Tapi itu saja sudah cukup bagi Xika. Orang ini ingin melukainya, kalau begitu ia tidak akan berbelas kasihan.
Whush! Set! Set!
"Coba ini! Venom Shoot!"
Dari tangan pria itu, keluar qi tipis berwarna keunguan. Kecepatannya tidak bisa diremehkan, apalagi bentuknya yang tipis membuat serangan pria itu semakin cepat.
"Oh? Kau menggunakan racun?" Melihat serangan yang datang itu, Xika tidak bergerak dari tempatnya. Ia hanya mengangkat tangannya dan menunggu serangan itu datang.
SYUT!
TAP!
Dengan tangan kosong, Xika menangkap jarum qi itu, kemudian menghancurkannya semudah menghancurkan kertas.
"Heh. Dasar gila. Kau menangkap racunku dengan tangan kosong?"
"Gila atau tidak, lihat saja sendiri."
__ADS_1
Selesai bicara, Xika menendang tanah dan bergegas menuju pria itu. Terlihat jelas bahwa pria itu terkejut Xika masih bisa bergerak bahkan mengambil inisiatif untuk menyerangnya. Padahal Xika baru saja menyentuh racunnya dengan tangan kosong.
Sejujurnya, memecahkan racunnya seperti yang Xika lakukan barusan bukanlah hal yang luar biasa. Banyak orang yang bisa melakukan hal itu. Tapi yang membuat pria itu terkejut adalah Xika berani menyentuh racunnya. Meskipun ada banyak orang yang bisa menghancurkan racunnya dengan mudah, tidak ada yang berani melakukannya karena mereka takut terkena racun.
Jadi daripada menghancurkan jarum qi milikinya, banyak orang lebih memilih untuk menghindarinya. Tapi di depan matanya saat ini ia baru saja menyaksikan hal gila tersebut. Tapi keterkejutan itu tidak berlangsung lama.
"Rupanya kau mampu menahan racunku untuk sementara waktu. Mari kita lihat kau bisa menahannya selama apa setelah kutambah dosisnya."
Pria itu segera pulih dari keterkejutannya dan memberikan senyum lebar di wajahnya. Baginya, Xika ini sudah pasti mencari mati dengan memegang racunnya seperti tadi. Ia menyambut serangan Xika.
Xika agak bingung dengan gerakan pria itu yang tidak biasa. Meskipun ia sudah sering melawan serigala, tapi setidaknya ia punya perkiraan kasar mengenai gerakan manusia saat bertarung. Tapi pria didepannya ini menggunakan gerakan yang sangat jauh dari perkiraannya.
Meskipun begitu, entah kenapa Xika bisa membaca pola serangan pria itu dan mengatasinya dengan mudah. Setelah beberapa saat akhirnya Xika menyadari gerakan yang digunakan pria itu. Awalnya ia menduga bahwa pria itu adalah suruhan Tian Yin, jadi pasti akan menggunakan gerakan yang tidak jauh berbeda dari bajingan itu.
Tapi setelah dilihat lagi, ternyata pria itu menggunakan gerakan ular. Pantas saja ia merasa familiar sekaligus benci melihat gerakan pria itu. Tapi mau Tian Yin ataupun ular, dua-duanya sama saja. Ia membenci keduanya dan tidak keberatan menghabisi mereka yang berkaitan.
"Tidak mungkin! Bagaimana bisa kau menghindari seranganku?"
Kalau tindakan Xika yang menangkap racunnya dengan tangan kosong masih dianggap normal, kali ini pria berjubah ungu itu tidak bisa tetap tenang. Sebagai pengguna racun, ia tahu kelemahan terbesarnya adalah pertarungan jarak dekat.
Karena itu, alih-alih menjaga jarak, kau harus memperpendek jarak dengan pengguna racun. Paling tidak itulah yang diketahui orang banyak. Tapi beda halnya dengan pria itu. Ia berhasil menemukan teknik misterius yang mengajarinya gaya bertarung unik.
Di saat pengguna racun lainnya berusah menghindari pertarungan jarak dekat, ia justru malah menantikan pertarungan jarak dekat. Ia menemukan bahwa teknik misterius itu mengajarkannya gaya bertarung yang unik yang tidak mudah diprediksi kultivator lain.
Semakin banyak pertarungan dan kemenangan yang ia lalui, semakin besar kepercayaannya bahwa ia tak terkalahkan dengan teknik misterius itu. Jadi saat Xika mengambil inisiatif untuk menyerangnya pria itu berpikir bahwa Xika sedang mencari kematiannya sendiri.
Tapi tak pernah ia duga bahwa Xika bisa dengan mudah menghindari berbagai serangannya, seolah ia sudah tahu pola serangannya. Ini benar-benar diluar perkiraannya. Kepercayaan yang dibangun atas kemenangannya selama ini perlahan-lahan mulai runtuh. Ia yang tak pernah mengenal rasa takut sejak menemukan teknik misterius itu, kini kembali mengenal rasa takut.
DUAK!
Tendangan Xika berhasil mendarat di perut pria itu dan membuatnya tersungkur di tanah.
"I-ini mustahil.......bagaimana bisa...kau membaca seranganku....?"
Xika mendekat dengan senyum di wajahnya.
"Sepertinya kau masih belum paham situasinya. Saat ini, bukan tempatmu untuk mengajukan pertanyaan. Yang perlu kau lakukan hanyalah menjawab semua pertanyaanku. Mengerti?" Setelah mengatakan itu, Xika mengeluarkan auranya. Aura yang berasal dari gabungan lima elemen yang sanggup membuat pria itu gemetar ketakutan. Selain itu, Xika mengeluarkan aura kelam yang samar.
__ADS_1
Dan pria itu akhirnya menyadari bahwa seharusnya ia tidak menerima permintaan ini. Ia tak seharusnya mencari masalah dengan Xika. Pekerjaan yang ia kira mudah ini ternyata berbanding terbalik dengan harapannya. Kalau waktu bisa diputar, ia akan menolak pekerjaan ini. Tapi pada akhirnya, tak ada yang bisa membalikkan waktu. Juga tak ada obat penyesalan. Yang bisa dilakukan pria itu hanyalah menyalahkan dirinya sendiri.