
"Royal-Jack?!"
Huo Bing mengangguk. "Mm. Di atas tahap Forming Qi adalah Tahap Royal. Royal terbagi menjadi tiga, Jack-Queen-King. Masing-masing di bagi lagi menjadi low, middle, dan high."
"Lalu pemimpin ular itu berada di tingkat mana?"
"High-Jack." jawab Huo Bing dengan wajah muram.
"Bagaimana dengan dirimu dan Heiliao?"
"Low-Jack." ucap Heiliao yang disetujui anggukan oleh Huo Bing.
"Sial."
"Bagaimana dengan lima ular yang menjaganya?"
"Tiga di tahap Forming Qi 9, dua di tahap Low-Jack."
Mendengar hal itu membuat wajah Xika jadi buruk juga. Satu ular di tahap High-Jack, lima di tahap Low-Jack. Dan masih ada ribuan yang berada di tingkat Forming Qi. Itu bukan sesuatu yang bisa dengan mudah mereka kalahkan.
"Tenanglah. Meskipun kami hanya di tingkat Low-Jack, melawan musuh di tahap High-Jack bukan masalah bagi kami. " Huo Bing berusaha menyemangati Xika.
Dalam perang, ada hal yang lebih penting dari kekuatan dan hal itu adalah semangat. Tentu, kekuatan juga berperan dalam perang, tapi tidak sebesar peran semangat. Jika ada dua pasukan yang memiliki kekuatan seimbang, maka semangatlah yang akan menentukan kemenangan.
Saat ini, mereka memang kalah dalam segi jumlah maupun kekuatan. Tapi Huo Bing tak mau Xika putus semangat. Xika juga tahu hal itu. Dan ia juga tahu sekalipun melawan musuh di tingkat High-Jack bukanlah masalah bagi Huo Bing dan Heiliao, tapi keduanya telah menghabiskan qi yang tidak sedikit sejauh ini.
Mungkin Heiliao bisa memakan pil buatannya untuk memulihkan qi, tapi beda halnya dengan Huo Bing. Burung itu tidak dapat menggunakan qi semudah Heiliao. Selain itu, pil juga tidak bekerja maksimal sebagaimana bekerja pada Heiliao.
Belum selesai Xika memikirkan jalan keluar, ia merasakan hawa membunuh yang pekat. Bersamaan dengan munculnya hawa membunuh itu, ular-ular di sampingnya tak lagi menyerangnya. Mereka mundur secara teratur seolah ada yang memberi perintah.
Dan memang ada yang memberi perintah.
Ular-ular itu mundur dan membentuk lingkaran yang mengepung ketiganya. Lalu kerumunan ular itu perlahan menepi memberi jalan pada sosok yang berjalan mendekati Xika.
Dua sosok ditambah tiga ular yang sebelumnya dilukai Huo Bing, total lima ular. Namun kelimanya tidak lagi berwujud ular, melainkan manusia.
Xika pernah membaca bahwa pada tingkat tertentu Spirit Beast bisa berubah menjadi manusia. Melihat lima sosok di hadapannya seperti buku yang ia baca itu benar.
"Heh. Akhirnya pemimpinnya keluar." Huo Bing memberikan senyum mengejek pada kelima sosok yang kini berhadapan dengannya.
Xika dan Heiliao tak berbicara. Keduanya menatap sosok di hadapan mereka lekat-lekat. Terutama dua sosok yang berdiri paling depan. Melihat dari auranya, sepertinya mereka berada di tahap Low-Jack.
"Hm? Tiga lainnya mana? Kenapa hanya kalian saja yang kesini?" ucap Huo Bing setengah bingung setengah mengejek.
"Heh. Kami saja sudah lebih dari cukup untuk mengurus kalian." Sosok yang paling depan berbicara. Ia mengenakan baju hitam bergaris putih. Sepertinya wujud alisnya merupakan ular dengan motif garis-garis.
"Tiga lainnya membantu pemimpin kalian menyegel tempat ini. Benar kan?" Heiliao juga ikut bicara.
Tak ada yang menjawabnya, tapi hal itu justru membuat Heiliao yakin bahwa ia benar.
"Nah, sekarang......bagaimana kita akan mengurus mereka?" Sosok lain yang berada di tahap Jack berbicara. Ia mengenakan jubah berwarna hitam yang bercampur abu lumpur sehingga tercipta warna yang jelek.
__ADS_1
Tidak seperti sosok sebelumnya yang memiliki pakaian menyerupai manusia, sosok ini memiliki pakaian yang tidak berbeda jauh dari wujud ularnya. Dan melihat pakaian itu membuat sebuah nama terlintas di kepala Xika.
Boa.
Ular yang terkenal suka membelit lawannya hingga kehabisan nafas. Xika yakin wujud sebenarnya dari sosok berpakaian warna jelek itu pasti ular boa.
"Xika."
Huo Bing mengirim pesan suara pada Xika.
"Aku sudah melukai tiga ular yang dibelakang tadi. Kau tahan mereka semampumu. Dua yang di depan serahkan saja padaku dan Serigala Gosong. Kami akan membantumu setelah menyelesaikan keduanya."
Setelah melihat Xika menggangguk, Huo Bing mengepakkan sayapnya membuat langkah pertama. Ia terbang menuju sosok berpakaian hitam putih sambil mengarahkan cakarnya.
Sosok itu menghindarinya dengan mudah. Tapi karena serangan tadi, ia jadi memiliki jarak dengan Xika. Dan memang itulah yang hendak Huo Bing lakukan. Burung itu terus memberikan serangan dan perlahan-lahan membawa ular itu menjauh dari Xika.
Heiliao juga melakukan hal yang sama. Ia menerjang si ular boa dan menggiringnya menjauh. Menyisakan Xika dan tiga ular di tahap Forming Qi 9.
"Yah......meskipun kita tidak sebanding dengan mereka, tidakkah ini berlebihan mengurus anak ini bertiga?"
"Kau urus saja anak ini. Aku masih ingin membalas burung sialan itu."
"Cih."
Xika yang mendengar percakapan ketiganya hanya tersenyum kecil.
"Kalian boleh meremehkanku. Tapi kalian akan menyesalinya." Selesai mengatakan itu, Xika tidak menunggu jawaban. Ia menendang tanah bergegas maju sambil melemparkan dua lembar kartu mencegah dua lainnya agar tidak mengganggu pertarungan Heiliao dan Huo Bing.
Xika melayangkan Space Shifter menuju Ular Pohon. Pandangan ketiganya langsung berubah setelah menyaksikan pertarungan Xika dengan Ular Pohon. Ketiganya mulai meningkatkan kewaspadaan mereka.
"Tidak. Itu memang tingkat kultivasi sebenarnya. Auranya sangat stabil. Orang yang menyembunyikan tingkat kultivasinya tak akan memiliki aura sestabil itu."
"Tapi ia jelas tidak sebanding dengan kultivator tahap Forming Qi 2. Pola serangannya seperti sudah bertarung bertahun-tahun saja."
"Kalian menonton terus dari tadi. Kenapa tidak bergabung juga?" Xika menghilang dan muncul di belakang Ular Rumput dan Ular Daun. Ia memberikan berbagai tebasan menggunakan kartu dan Space Shfternya.
Tentu saja Ular Pohon tak akan tinggal diam melihat Xika mengabaikan dirinya.
"Bocah, kau berani sekali mengabaikanku! Kau cari mati!"
Ular Pohon membuka mulutnya dan menembakkan segumpal qi yang berwarna kecoklatan. Xika tak tahu apakah serangan itu beracun atau tidak dan ia juga tak mau mencari tahu. Jadi ia melompat dan menghindari serangan itu.
Tepat ketika ia hendak mendarat, Ular Daun telah menunggunya. Xika berusaha mengubah posisinya untuk bertahan.
DUAK!
Bruk!
Xika terlempar beberapa meter karena serangan Ular Daun. Baru saja, Ular Daun menendang punggungnya. Dan ia merasa sakit. Padahal ada Nexus yang melapisi tubuhnya. Kenapa ia bisa merasakan sakit?
Tapi Xika tak punya waktu untuk memikirkan jawabannya karena ratusan daun telah berkumpul mengincar dirinya dan setiap daun itu memiliki tepi yang setajam pedang.
__ADS_1
Belum selesai, dari tanah muncul akar-akar pohon yang menahan kakinya agar tidak dapat bergerak.
"Heh. Tanah ya?"
Xika tidak panik dalam situasi itu. Malahan, ia tersenyum. Ia menatap ratusan daun yang tinggal beberapa meter lagi dari dirinya kemudian pandangannya beralih pada akar-akar pohon yang menahan dirinya.
Whush!
Tapi daun-daun itu tidak berhasil mencapai targetnya. Xika menghilang di telan tanah dengan kaki masih terikat oleh akar pohon.
Ular Daun menoleh dan menduga hal itu disebabkan oleh Ular Pohon, tapi yang di tatap juga hanya menggeleng. Di sisi lain, Ular Rumput menutup matanya menyebarkan aura berusaha mencari keberadaan Xika.
Ia membuka matanya dan berseru, "Di bawah!"
Telat sedikit saja, kartu Xika akan membelah Ular Daun. Karena peringatan Ular Rumput, Xika hanya berhasil memberikan goresan pada Ular Daun.
Tapi goresan itu cukup untuk membuat Ular Daun menggertakkan giginya menahan amarah.
"Bocah sialan! Kau berani menyerangku?! Kau benar-benar cari mati!" Ular Daun menembakkan qi ke langit yang berubah menjadi ratusan daun. Kali ini dedaunan itu turun begitu saja seperti hujan.
Xika tak terkecoh dengan penampilannya. Ia yakin bahwa serangan itu tidak sesederhana kelihatannya. Sebisa mungkin ia menghindari hujan daun itu.
KRTTT!!!!
Ular Pohon menciptakan sebuah batang pohon kemudian menggunakannya untuk menyerang Xika. Ular Rumput disisi lain, menciptakan rumput tipis yang tajam seperti jarum.
Sementara Xika bertarung dengan Ular Pohon, ia harus menghindari hujan daun dan lemparan rumput tajam bagaikan jarum.
Huo Bing, setelah berhasil menjauhkan si ular garis-garis dari Xika, tak menyerang seagresih sebelumnya. Ia lebih memilih bertahan dan mengamati serangan lawannya.
"Kenapa? Sudah lelah? Memang sisa jiwa sepertimu tak akan bisa mengalahkanku."
Burung itu tidak terprovokasi dengan perkataan ular garis-garis. Ia bahkan membalas provokasinya.
"Kenapa bajumu tidak asing ya? Biar kuingat sebentar......Ah! Ular-ular di sungai sebelumnya. Kalian memiliki pola yang sama. Itu baju yang bagus. Sayang aku membakar mereka semua. Kalau tahu kulit mereka bisa dibuat baju yang bagus aku tidak akan membakar mereka. Sayang sekali."
Dan Huo Bing berhasil. Si ular garis-garis termakan provokasinya.
"Daritadi aku terus mencari tahu siapa yang berani membunuh pasukanku. Ternyata hanya seonggok jiwa yang akan mati sebentar lagi. Karena kau sangat ingin mati, biarkan aku membantumu!"
Ular bergaris-garis itu memberikan serangan yang semakin lama semakin liar. Huo Bing sampai kewalahan menghadapinya.
Tapi burung itu tersenyum. Ia memang sengaja memprovokasi ular itu agar memberikan serangan membabibuta yang memiliki banyak celah.
Heiliao, yang menghadapi Ular Boa, cukup kesulitan. Ia berusaha menjaga jarak agar tidak dililit oleh Ular Boa. Tapi hal itu malah membatasi pergerakannya sehingga ia tak leluasa menyerang dan bertahan.
"Kau hanya bisa menghindar ya? Dari tadi menghindar terus. Apa semua serigala sepengecut dirimu? Atau hanya dirimu saja?"
Heiliao hanya diam tak memberikan jawaban. Kalau seperti ini terus maka lama kelamaan ia akan kelelahan menghindar dan pada akhirnya tertangkap tanpa memberikan serangan atau tidak memiliki tenaga untuk melawan. Daripada seperti itu, kenapa tidak memberikan serangan saja?
Dengan pemikiran itu, Heiliao mengubah gaya bertarungnya. Ia tidak hanya bertahan secara pasif saja, ia juga mulai memberikan serangan secara aktif.
__ADS_1
Tapi itulah yang ditunggu Ular Boa daritadi. Sejujurnya, ia tak bisa melilit Heiliao karena serigala hitam itu terus-menerus menghindar setiap kali ia mendekat.
Situasi saat ini, dimana Heiliao mulai memberikan serangan dan tidak hanya bertahan, adalah situasi yang memungkinkannya untuk membelit lawan.