
Lang Jin kembali di pagi hari bersama dengan Lang Shu dan beberapa serigala lainnya. Ia membawa Lang Shu karena serigala itu bisa membaca tanda yang diberikan Xika padanya. Berjaga-jaga kalau Xika memberikan tanda lagi.
Ia mendekat dan melihat Xika masih tidur. Ia menggeram untuk membangunkan Xika.
Namun ia gagal. Sebaliknya, malah Shu Mang yang terbangun. Ia tidak tidur dengan nyenyak dan mudah terbangun. Mungkin karena ia masih belum nyaman berada di tempat asing ini. Yah, itu wajar saja karena ia masih tidak yakin apakah bisa membuka mata lagi atau tidak kalau ia menutup matanya.
Shu Mang melihat kedatangan para serigala dan membangunkan Xika.
"Hei. Bangun. Para serigala mencarimu."
Xika tetap tertidur.
Lan Jin menyalak buas untuk membangunkan Xika. Shu Mang bahkan sampai terkejut dan berpikir Lang Jin melakukan itu karena marah pada dirinya. Tapi yang Xika lakukan hanyalah membuka matanya sebentar kemudian kembali menutupnya dan mengubah posisi tidurnya hingga membelakangi para serigala.
"Hoi! Xika! Bangun! Para serigala akan memakanmu!"
Tapi ucapan Shu Mang itu tidak terlalu berguna. Anak itu hanya mengelurkan suara yang terdengar seperti gumaman tidak jelas. Ia tidak membuka matanya.
Lang Jin kembali menyalak. Sekali lagi, Shu Mang terkejut. Tapi tidak dengan Xika. Ia masih tidur dengan nyenyak. Entah karena ia sudah nyaman di tempat ini atau karena memang bawaannya yang suka tidur.
Lang Jin berpikir sebentar. Ia tidak tahu harus melakukan apa untuk membuat Xika bangun tanpa bicara atau menyentuhnya sama sekali. Yang bisa ia lakukan hanyalah menggeram, tapi itu tidak berhasil. Ia akan mencoba sekali lagi.
Serigala hitam itu mengumpulkan seluruh tenaganya di mulut untuk mengeluarkan suara paling keras yang ia bisa. Kemudian ia membuka mulutnya dan keluarlah suara yang cukup untuk membuat Shu Mang tersentak sekalipun ia sudah bangun. Usaha Lang Jin itu berhasil. Xika bangun. Tapi ia membuka matanya dengan santai tanpa terkejut atau merasa bersalah sama sekali. Seolah yang terdengar adalah kokokan ayam dan bukan geraman buas seekor serigala.
Xika masih setengah sadar. Tapi untungnya ia tidak bicara, kalau tidak ia akan membongkar sandiwaranya kemarin. Ia menatap sekelilingnya selama beberapa detik sebelum sadar apa yang ia lakukan kemarin malam.
"Kalian sudah datang." Xika menoleh pada para serigala. Kemudian pada Shu Mang.
"Aku harus bicara pada mereka."
"Kenapa kau tidak bicara dari sini saja?"
"Sulit untuk bicara teriak-teriak seperti kemarin. Lagipula aku cukup haus. Sekalian mencari kolam untuk minum"
"Kau minum dari kolam?" tanya Shu Mang setengah bingung setengah tidak percaya.
"Ini tanah para serigala. Apa kau berpikir mereka akan memberiku botol minum atau semacamnya?"
Shu Mang mengangguk mengerti. Sepertinya ia masih belum sepenuhnya sadar karena baru bangun.
Kemudian Xika berjalan mendekat pada Lang Jin. Dan Shu Mang melihat serigala itu mundur beberapa langkah sebelum mengajak Xika berjalan menjauh.
--------------------
Saat Xika berjalan mendekat pada Lang Jin, ia memberikan tanda untuk mundur tanpa terlihat oleh Shu Mang. Lang Shu disamping menerjemahkan tanda Xika. Lang Jin adalah aktor yang baik, hanya saja ia tidak pandai membaca tanda.
Mereka terus berjalan sampai tiba di sebuah pohon besar yang menghalangi pandangan Shu Mang. Lang Jin bertanya pada Xika.
"Bagaimana?"
"Bagaimana apanya?"
"Manusia itu, tentu saja. Apa yang berhasil kau ketahui?"
"Oh, itu. Ia berasal dari Divine Array Clan. Han Mang itu bukan nama asli. Namanya yang sebenarnya-"
"Cukup. Itu tidak penting. Apa ia bersedia membagi hartanya?"
"Yah, aku mendapat total tiga puluh lima persen."
Lang Shu di samping terkejut.
"Ia bersedia memberikan sebanyak itu? Bukankah itu berarti ia hanya mendapatkan sepuluh persen?"
__ADS_1
"Tentu saja tidak. Ia hanya bersedia memberikan sepuluh persen padaku. Sisa dua puluh lima persennya berasal dari kalian."
Lang Shu melebarkan matanya.
"Apa? Sebelumnya kau bilang kami akan mendapatkan lima puluh lima persen." ucapnya sambil merengut.
"Aku hanya mengatakan itu di depannya. Lagipula kalau aku berkata aku akan mendapat lebih banyak daripada serigala, apa kau pikir ia akan percaya dengan sandiwara kita ini?"
"Tapi tetap saja......." ucap Lang Shu masih tidak mau mengalah.
"Cukup. Kita akan bicarakan ini nanti dengan para pemimpin yang lain."
Lang Jin kembali bertanya.
"Lalu apa lagi yang kau tahu? Dari siapa ia melarikan diri? Kenapa ia bisa sampai disini? Harta apa yang ia temukan?"
"Entahlah. Ia tidak menjelaskan secara spesifik. Katanya, orang itu memang sudah berniat membunuhnya sejak lama. Ia memasuki celah spasial dan kebetulan menemukan tambang batu spasial. Kemudian ia melarikan diri melalui celah spasial yang ada. Itulah kenapa ia tidak tahu dimana ia berada dan mengapa ia bisa sampai disini."
Xika diam sebentar. Kali ini ia bertanya.
"Bagaimana dengan ayahmu? Apa keputusan mereka?"
Lang Jin menjawab pertanyaan itu dengan pertanyaan lagi.
"Apakah ia teman atau musuh?"
"Aku tidak yakin. Untuk saat ini bukan keduanya."
"Maksudmu ia bukan teman tapi juga bukan musuh?" tanya Lang Jin mengkonfirmasi jawaban Xika yang terdengar cukup aneh.
"Kurang lebih begitu."
"Kenapa?"
"Ia bukan teman dari musuhku. Tapi ia juga bukan musuhnya musuhku."
"Memangnya siapa musuhmu?"
"Hmm........itu......siapa ya namanya............tadi ia sudah bilang..............aduh, namanya jelek sekali sih, jadi aku lupa.........siapa ya.......?"
"Cukup. Jangan keluar dari topik. Apakah menurutmu ia bisa dipercaya?"
"Mungkin. Setidaknya ia tidak akan mengkhianati kita untuk saat ini."
"Kenapa?"
"Pertama, ia bukan tipe yang seperti itu. Kedua, ia tidak punya siapa-siapa. Ia hanya sendirian. Ia tidak punya pertahanan bila mengkhianati kita."
"Oh? Bagaimana dengan klannya?"
"Ia tidak menceritakannya secara lengkap padaku. Tapi aku menebak ia tidak mempunyai hubungan yang baik dengan klannya."
"Kenapa?"
"Kalau ia punya hubungan yang baik dengan klannya, ia tidak akan berakhir di tempat ini dan kita tidak akan tahu sama sekali tentang tambang batu spasial itu."
Lang Jin mengangguk-ngangguk.
"Lalu bagaimana dengan orang yang menyerangnya? Ada berapa banyak? Berapa tingkat kultivasinya?"
"Aku tidak yakin. Ia keluar dengan terburu-buru, jadi tidak bisa memastikan. Lalu katanya, meskipun orang yang menyerangnya memiliki beberapa pasukan, kalau kalian benar-benar berniat menguasai tambang itu, maka orang itupun tidak akan bisa menghentikkan kalian."
"Menurutmu, ia lebih berpotensi untuk menjadi teman atau musuh?"
__ADS_1
"Aku masih tidak yakin. Ia memberikan kesan abu-abu. Ia masih menyembunyikan beberapa hal dariku. Aku masih tidak bisa membuat dugaan tentangnya. Masih terlalu awal."
Lang Jin memikirkan ucapan Xika. Kalau begini akan sulit untuk menjelaskan pada para pemimpin serigala yang lain.
"Kalau begitu kau harus ikut denganku untuk bicara dengan para pemimpin. Lidahmu lebih hebat dibanding diriku."
Lang Jin harus mengakui bahwa Xika benar-benar pembohong yang hebat. Ia dapat berbicara dengan lancar tanpa ragu sedikitpun. Ia bahkan membuat Shu Mang percaya bahwa apa yang dikatakan Xika itu benar. Ia bersyukur sebelumnya ia bertarung dengan Xika secara fisik, bukan secara pikiran. Kalau tidak, ia pasti akan kalah telak. Yah, meskipun ia tetap kalah pada Xika juga akhirnya, setidaknya itu pertarungan yang baik.
Xika memberikan ekspresi aneh mendengar kalimat terakhir Lang Jin. Ia tidak tahu harus tertawa atau menangis. Apakah kalimat itu pujian atau hinaan juga ia tidak tahu.
"Ah, lalu celah spasial yang ia lalui sebelumnya sepertinya tidak terlalu stabil. Aku tidak yakin berapa lama celah itu akan bertahan."
"Apa ia sudah bisa bergerak sekarang?"
"Tidak. Seperti yang kau lihat, lukanya cukup parah."
"Kira-kira berapa lama sampai ia sembuh? Atau setidaknya sampai ia bisa menuntun kita ke sana?"
"Entahlah. Aku tidak ahli dalam pengobatan. Tanya saja serigala yang datang bersamamu kemarin. Ah, dan ia bilang penyembuhannya tergantung bagaimana kalian akan menyembuhkannya."
Setelah itu Xika menoleh dan mencari sosok serigala yang membantunya mengobati Shu Mang kemarin. Serigala itu mengangkat kepalanya.
"Apa kau bisa memeriksa lukanya dari jarak ini?"
"Tidak akan akurat."
Xika mengangguk-ngangguk. Jadi penglihatan serigala tidak sebagus itu.
"Kita belum berkenalan secara resmi. Namaku Lang Yao."
"Ah, ya. Aku Xing Xika."
"Aku tahu."
'Kalau kau tahu kenapa kau masih mengajakku berkenalan?' Xika ingin mengatakan itu, tapi ia berusaha untuk tidak memperdulikan masalah itu.
"Lalu apa yang akan kita lakukan saat ini?" tanya Lang Shu yang sudah diam sejak topik pembicaraan diluar pemikirannya.
Xika menatap Lang Jin. Serigala hitam itu balas menatapnya. Ia yang pertama bicara.
"Kita akan pergi melaporkan hal ini pada para pemimpin terlebih dahulu sebelum mengambil langkah lebih lanjut."
"Kita harus memeriksa kondisinya terlebih dahulu."
Lang Jin berpikir sebentar kemudian mengangguk. "Baiklah."
Lang Yao berjalan mendekati Shu Mang.
"Ah, satu lagi. Di depannya, jangan bicara sama sekali. Cukup mengeluarkan geraman saja."
Lang Yao mengangguk. Ia melihat apa yang dilakukan Xika kemarin. Ia mengerti apa tujuan Xika memintanya melakukan hal itu.
Kemudian mereka berjalan bersama menuju Shu Mang yang terbaring di tengah rumput ungu yang berduri.
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Aku harus menemui pempimpin serigala. Mereka membutuhkan kesaksianku. Kau harus menunggu sebentar lagi. Ah, serigala ini serigala yang sama yang membantuku mengobatimu sebelumnya. Ia akan memeriksamu terlebih dahulu."
Kemudian Xika menoleh pada Lang Yao.
"Bagaimana? Apa kau bisa menyembuhkannya?"
Lang Yao memberikan geraman sebagai jawaban.
__ADS_1
"Katanya ia harus tahu racun apa yang menyerangmu. Kalau tidak, akan sulit untuk menyembuhkanmu."
Shu Mang terdiam mendengar pertanyaan Xika.