Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-110


__ADS_3

Lang Hu sedang mengobrol ditemani Hongbao dan teman-temannya ketika ayahnya datang. Ia dan semuanya langsung berdiri dan memberi hormat.


"Ayah."


"Pemimpin Yan."


Yang lainnya juga menyapa Lang Yan. Serigala tua itu mengangguk.


"Hu'er. Dimana temanmu itu?"


"Ah, maksud ayah, Xika?" Lang Hu mencari-cari di sekeliling perayaan tapi tidak menemukan manusia itu. Ia bertanya pada teman-temannya tapi mereka juga tidak tahu keberadaan Xika.


"Aku akan mencarinya ayah. Ayo."


Lang Hu berdiri dan mengajak Hongbao serta teman-temannya mencari Xika. Lang Yan hanya mengangguk sebagai jawaban.


Kemudian Lang Hu memanggil beberapa serigala lagi dan pergi mencari keluarga barunya itu.


-------------


"Huo Bing..........apa kau rindu.......?"


"Namanya Gu Xun. Dan ya. Aku sangat merindukannya. Sangat. Aku bersedia melakukan apapun untuk bertemu dengannya kembali."


Xika memang tidak pernah mendengar cerita langsung dari Huo Bing tentang kekasihnya. Tapi ia tahu Huo Bing memiliki seorang kekasih. Pernah. Kadang-kadang ia bisa merasakan perasaan Huo Bing. Dan saat ia tidur, terkadang ia melihat kenangan Huo Bing sebagai mimpinya dan mengetahui sedikit-sedikit tentang masa lalu burung itu.


Yah, itulah resiko memiliki dua jiwa dalam satu tubuh. Kadang-kadang, ingatan mereka akan 'bocor' ke pihak lain.  Xika tidak tahu apakah Huo Bing tahu tapi membiarkannya saja dan pura-pura tidak tahu atau memang burung itu tidak tahu Xika melihat sedikit kenangannya. Tapi melihat dari reaksinya sepertinya ia tahu hanya saja berpura-pura tidak tahu.


"Apa kalian sudah resmi berpacaran?"


Huo Bing diam selama beberapa saat. Kemudian ia tersenyum kecil. Senyum yang mengandung kesedihan sama banyaknya dengan Xuehao.


".............tidak. Ia meninggal sebelum aku sempat mengutarakan perasaanku."


Xika tidak bertanya lagi. Bahkan kalaupun jiwa Huo Bing tidak berada dalam tubuhnya ia tahu bahwa Huo Bing kembali teringat kekasihnya itu.


"Heiliao? Bagaimana denganmu? Kau sudah mengutarakan perasaanmu?"


Heiliao juga terdiam cukup lama. Ia tidak memberikan senyum. Tapi dalam wajahnya yang dingin terpancar kesedihan yang teramat sangat. Serigala itu mengangguk sedikit.


"Berulang kali."


Huo Bing menatap serigala itu dengan kagum untuk pertama kalinya. Ia sendiri bahkan tidak memiliki keberanian untuk menyatakan perasaannya. Tapi serigala dingin nan sombong ini telah menyatakan perasaanya berulang kali?


"Lalu apa katanya?"


Xika langsung menyesali perkataannya. Ia seharusnya tidak menanyakan hal itu. Bahkan orang bodohpun tahu hubungan mereka tidak berlangsung baik. Kalau tidak, Heiliao tidak akan meninggalkan kaumnya dan mengabaikan tugasnya. Ia juga tidak akan memasang wajah sedih seperti itu.


"Ia juga mencintaiku."


"Eh?"


Xika terkejut dengan jawaban Heiliao. Serigala yang dicintai Heiliao memiliki perasaan yang sama dengannya?


"Lalu.........apa yang terjadi? Apa serigala itu.........meninggal?"


Heiliao menggeleng.


"Tidak. Ia bukan serigala........................Untuk pertanyaan kedua aku tidak tahu apa jawabannya."


Xika hendak bertanya lagi tapi sebuah suara menghentikannya.


"HOIII!!!! Apa yang kalian lakukan? Kami mencari kalian kemana-mana!"


Yang berbicara adalah Lang Hu. Ia tidak menunggu jawaban dari ketiga mahkluk itu. Ia langsung melolong dan beberapa saat kemudian teman-temannya datang menghampiri ketiganya.


"Dasar! Kemana saja kalian? Bahkan pemimpin Yan mencarimu, tahu!"


"Ahahaha.......maaf, maaf. Kami hanya berjalan-jalan. Pemandangannya bagus sekali jadi kami memutuskan untuk menikmatinya lebih lama."


Semua serigala langsung bertatapan mendengar ucapan Xika. Hal itu membuat Xika kebingungan.


"Ada apa? Apa aku salah bicara?"


Lang Hu menggeser kepalanya untuk menatap belakang Xika. Ia menemukan sosok serigala besar yang memperlihatkan punggungnya yang kesepian. Kemudian ia mendekatkan moncongnya pada Xika.


"Kali ini mungkin kebetulan. Tapi berikutnya kau harus berhati-hati. Jangan ke tebing itu lagi."


"Eh? Kenapa?"


"Itu adalah area pribadi milik Pemimpin Hao. Ia melarang siapapun berjalan ke arah sana, bahkan para pemimpin lain. Pernah sekali ada seorang pemimpin kaum serigala yang duduk di tebing itu tanpa sengaja. Hal itu menyebabkan Pemimpin Hao marah besar. Sejujurnya, aku heran kenapa Pemimpin Hao tidak mengusirmu. Tapi mungkin saja hanya kebetulan. Ayo cepat pergi sebelum Pemimpin Hao tahu. Ia mungkin akan marah kalau tahu kau jalan-jalan di tebing pribadinya."


Xika memiliki berbagai pikiran dan dugaan dalam benaknya. Tapi ia tidak menunjukkannya. Ia hanya mengangguk dan mengikuti Lang Hu. Heiliao ditinggalkannya karena sepertinya serigala itu masih butuh waktu sendiri. Apa yang Xika dan Lang Hu tidak tahu adalah sesosok besar berbulu putih berada di atas pohon dan ia mendengar semua pembicaraan mereka.


Mereka berjalan ke perayaan sambil mengobrol.

__ADS_1


"Eh, Xika. Biarkan aku melihat teman burungmu sekali lagi. Lang Si tidak percaya aku sudah melihatnya."


Huo Bing muncul tanpa perlu Xika beritahu.


"Apa kau pikir aku ini barang jadi bisa kau pemerkan?"


"Maaf, Tuan Burung. Tapi penampilan anda sangat luar biasa dan para serigala betina akan tertarik pada kami bila mereka tahu kami sudah bertemu dengan anda."


Burung itu mengerutkan keningnya.


"Jadi maksudmu, bertemu denganku dapat memperlancar hubungan asmaramu?"


"Kurang lebih begitu Tuan Burung. Saya harap anda tidak keberatan."


Xika tidak perlu berbagi tubuh untuk tahu pikiran Huo Bing dalam hal ini. Ia melihat senyum sombong dan angkuh pada burung itu.


"Huh! Kau memang kurang ajar. Tapi sekali ini kumaafkan."


"Terima kasih Tuan Burung."


"Aku punya nama. Dan namaku Huo Bing. Mengerti?"


Lang Tao yang menjadi lawan bicara Huo Bing mengangguk. Ia sedang mengejar serigala betina bernama Lang Si. Ia sudah meminta saran pada Xika. Dan ia bersyukur Huo Bing tidak keberatan dengan alasannya.


Ketika Xika sampai di tempat perayaan berlangsung, ia melihat berbagai bangkai hewan tergeletak di sana-sini. Darah terlihat dimana-mana. Ia hendak bertanya tapi Huo Bing langsung menghentikannya.


"Apa yang kau harapkan? Mereka adalah serigala. Bukan manusia. Dan sejujurnya, aku cukup suka menunya."


Setelah mengatakan itu Huo Bing langsung terbang dan memakan bangkai rusa secara rakus dan membuat beberapa serigala ketakutan melihat bangkai rusa menghilang dengan cepat setiap detiknya.


Lang Hu disampingnya bertanya.


"Ada apa? Apa ini tidak sesuai dengan seleramu?"


"Tak apa. Aku hanya perlu sedikit variasi."


Kemudian ia berjalan mendekati bangkai kelinci. Tangannya bergerak mengambil bangkai itu dan ia langsung membakarnya.


"Oh, kau suka di bakar? Daging yang dibakar ada disana. Disini tempatnya daging segar. Serigala juga punya berbagai selera, kau tahu." ucap Lang Hu sambil menunjuk sebuah arah.


"Terima kasih."


Xika berjalan pergi. Ia menengok Huo Bing dan ternyata burung itu juga cukup menyukai daging mentah. Padahal sebelumnya ia cukup cerewet ketika memakan masakan Xika. Huo Bing mengajarinya di gua. Katanya ia harus bisa memasak meskipun sedikit, kalau tidak ia akan sangat menderita. Pada saat itu ia benar-benar terdengar seperti manusia. Siapa yang menyangka ia akan menyukai daging mentah?


Kini Xika sampai di tempat yang dikatakan Lang Hu sebagai tempat daging bakar berada. Dan memang benar. Ia melihat berbagai daging baik yang sudah dibakar atau sedang di bakar. Kemudian ia mendengar seseorang memanggilnya. Mungkin lebih tepat disebut, serigala.


Suara itu berasal dari Lang Yi. Teman Lang Hu yang Xika temui sebelumnya. Lang Yi sedang bersama-sama serigala lain dan ia tidak pernah melihat beberapa diantara mereka. Tapi Xika tidak terlalu memperdulikannya dan bergegas mendekati Lang Yi.


"Kemarilah. Kami sedang membicarakan hal yang seru. Duduklah. Ambil saja dagingnya kalau kau mau."


Xika duduk dan mengambil daging seukuran tujuh puluh sentimeter. Ia langsung mengigitnya. Serigala lain yang belum pernah ia lihat tidak keberatan dengan sikapnya. Mereka hanya bersikap seperti biasa. Sebagaimana mereka memperlakukan serigala lain.


"Apa yang kalian bicarakan?"


Beberapa menoleh memperhatikan sekeliling dengan waspada sementara beberapa mendekatkan moncongnya.


"Sttt......jangan keras-keras. Mendekatlah. Ya, cukup segitu."


Yang bicara adalah serigala yang belum pernah Xika lihat. Bulunya berwarna abu dengan beberapa memiliki percikan emas. Dari serigala yang lain, kelihatannya ia yang paling senang bergosip.


"Apa kau tahu cinta Pemimpin Hao?"


"Bukankah Pemimpin Hao telah mengatakan tidak akan menikah?"


"Kau ketinggalan, kawan. Pemimpin Hao berkata seperti itu karena cintanya ditolak. Ia hanya mencintai seekor serigala. Dan hanya satu. Baik dulu, sekarang, ataupun nanti."


"Wahhhhh......Pemimpin Hao benar-benar serigala yang setia."


"Benar. Andai saja Lang Yi juga seperti itu aku akan sangat bersyukur."


"Sialan! Kau hanya iri karena masih jomblo sampai sekarang kan? Mengaku saja kau!"


"Eh, tunggu-tunggu. Coba lanjutkan lagi. Ada apa dengan cinta Pemimpin Hao?"


"Kudengar, ia adalah serigala yang datang dengan, ehh....siapa namamu?"


"Xika." jawab Xika sambil tersenyum. Ia baru tahu serigala juga suka bergosip.


"Ah, ya. Xika. Serigala yang datang dengan Xika katanya adalah cinta Pemimpin Hao."


"Apa?"


"Lalu bagaimana?"


"Apa ia datang untuk menikah dengan Pemimpin Hao?"

__ADS_1


"Benar. Apa mereka akan menikah?"


"Hehe.....kalian akan sadar bahwa harapan kalian itu sia-sia." kata seorang serigala berbulu abu campur hitam. Ia berpura-pura bersikap misterius.


"Sialan! Cepat katakan saja, jangan sok misterius."


"Kalian tidak tahu siapa nama serigala yang datang dengan eh, Xika, bukan?"


"Tidak."


"Memangnya kenapa? Apa ia serigala terkenal?"


"Hah. Bahkan terkenal tidak cukup untuk menggambarkan dirinya."


"Cepat katakan namanya." kata Lang Yi sambil memukul kepala serigala berbulu abu campur hitam itu.


"Aduh. Namanya adalah.......Lang Heiliao."


Untuk sesaat tidak ada yang berbicara. Kemudian mendadak, mereka semua langsung heboh.


"Apa? Kau bilang Lang Heiliao? Pemimpin Heiliao yang terkenal itu?"


"Apa kau berbohong?"


"Kudengar ia berhasil mengalahkan jenius terkuat di kaum serigala saat baru berumur lima belas tahun."


"Kudengar ia mampu mengalahkan lawannya yang dua tingkat diatasnya."


"Ada yang bilang ia pernah disergap waktu tidur oleh segerombolan serigala. Ia mengalahkan mereka semua dengan mudah."


Dan banyak lagi legenda tentang Heiliao yang belum pernah Xika dengar. Ia tidak pernah tahu Heiliao begitu hebat sampai-sampai para serigala lainnya mengidolakan dirinya.


"Ah! Pantas saja. Pemimpin Hao jatuh cinta dengan senior Alpha. Aku juga akan jatuh cinta padanya kalau kami berada dalam satu generasi."


"Kau benar. Tapi pantas saja cinta Pemimpin Hao ditolak. Lagipula yang menolaknya adalah Sang Alpha sendiri. Siapa lagi yang akan bisa menolak cinta dari seorang seperti Pemimpin Hao?"


"Tapi sayang sekali mereka tidak bersama. Aku berpikir mereka cukup cocok."


"Aku juga. Tapi kalau aku berada dalam posisi Pemimpin Hao aku juga tidak akan mencari serigala lain."


"Kenapa?"


"Kau masih bertanya? Kenapa lagi? Apa kau pernah melihat serigala yang lebih baik dari senior Alpha? Tidak heran Pemimpin Hao tidak mencari serigala lain. Standarnya sudah tinggi. Ia tidak bisa menikah dengan serigala lain yang lebih rendah dari Senior Alpha. Dan tidak ada serigala lain yang lebih baik dari senior Alpha."


"Hmm....Masuk akal."


Di saat mereka semua sedang mengobrol, Xika melihat dari sudut matanya seekor serigala putih berjalan mendekat. Kemudian ia menoleh dan menatap sekelilingnya. Tidak ada serigala lain. Sepertinya hanya tinggal mereka saja yang berada di bagian daging bakar ini. Mungkin karena topik yang mereka bicarakan berkaitan dengan kedatangan sosok putih itu.


Xika mulai berusaha keluar dari obrolan. Ia mundur pelan-pelan. Tapi Lang Yi dan serigala lain melihatnya.


"Hei, Xika! Tidak perlu malu-malu seperti itu."


"Benar. Kita semua adalah keluarga sekarang. Jangan merasa tidak enak."


"Lagipula kau sudah mengalahkan Senior Jin, jadi kau secara resmi adalah bagian dari kaum serigala. Mendekatlah kemari."


"Apa? Siapa? Aku? Ah, tidak. Tidak perlu. Aku disini saja."


"Astaga. Sudah kubilang, jangan malu-malu. Ini ambil lagi dagingnya."


Serigala yang berbicara adalah Lang Shu. Serigala dengan bulu abu dan memiliki percikan emas. Serigala lain sering memelesetkan namanya menjadi Lang Shuo, karena Shuo artinya adalah bicara. Mengingat serigala satu itu sangat suka bicara.


Tapi ternyata dagingnya habis.


"Lang Hao, ambilkan beberapa daging lagi."


Serigala yang dipanggil Lang Hao berdiri dan mengambil daging. Tapi seketika itu juga ia melihat sosok putih yang mendekat dan tidak kembali lagi.


"Astaga, kenapa Lang Hao lama sekali, sih? Lang Yi, kau saja yang ambil." Kemudian Lang Shu menoleh kembali pada Xika. "Hei, Xika. Tidak perlu malu-malu. Kemarilah. Ah, apa kalian pernah dengar Pemimpin Hao mengungkapkan cintanya tapi ditolak mentah-mentah oleh Alpha kita?"


Tapi tidak ada tanggapan dari serigala lain. Mereka duduk dalam posisi lingkaran dan saat ini Lang Shu sedang membelakangi sosok putih yang telah dilihat serigala lainnya.


"Kenapa dengan kalian?"


Lang Yi dan beberapa serigala lainnya memberikan kode melalui mata mereka tapi Lang Shu tidak mengerti.


"Eh, kalian ingat tebing yang memiliki pemandangan indah terutama di malam hari itu? Apa kalian tahu kenapa Pemimpin Hao melarang siapapun masuk ke sana?"


Tidak ada yang menjawab. Juga tidak ada pertanyaan penasaran seperti 'kenapa?' dan lainnya. Sebuah suara yang berasal dari belakang Lang Shu bertanya,


"Kenapa?"


"Kudengar, tebing itu awalnya adalah milik Senior Heiliao. Pemimpin Hao menjaganya dengan baik untuk mengembalikannya lagi pada Senior Heiliao."


"Oh, begitu."

__ADS_1


"Benar, begitu. Ah, lalu apa kau tahu-" ucap Lang Shu sambil mengangguk. Kemudian ia berbalik untuk menatap lawan bicaranya dan seketika itu juga wajahnya langsung pucat.


__ADS_2