
"AHHHHH!!!"
"Xika! Hentikan!"
Huo Bing dan Heiliao berteriak berharap Xika berhenti mengejar Heiliao dengan pisau di tangannya, tapi tampaknya anak itu tidak peduli.
"Hentikan! Hentikan!! Akan kukeluarkan kadal tadi!" ucap Heiliao terengah-engah.
Heiliao cukup kaget Xika dapat membuatnya terdesak. Anak itu benar-benar pantang menyerah. Ia mengkuti Heiliao kemanapun serigala itu pergi. Bahkan ketika Heiliao berpindah tempat, Xikapun ikut beprindah tempat.
"Hoekkk!! Cuh! Cuh!"
Heiliao mengeluarkan beberapa suara aneh dari mulutnya, kemudian mengeluarkan kadal yang ia telan bulat-bulat sebelumnya.
Tapi sayangnya kadal itu tidak lagi bernyawa.
Ketika Heiliao mengangkat kepalanya dari bangkai kadal itu menuju Xika, ia menemukan dua pasang mata yang bersinar begitu terang.
"Bawakan aku beberapa kadal. Hidup-hidup. Kalau kau gagal aku akan membelah perutmu untuk mencari kadal lain yang telah kau makan."
Heiliao buru-buru berlari mencari kadal yang tersisa. Entah kenapa, hanya Xika seorang yang berani bersikap seperti itu pada Lang Heiliao, serigala perkasa keturunan penguasa ruang hitam.
"Dan kau!"
Xika menunjuk Huo Bing setelah melihat Heiliao berlari mencari kadal.
"Jangan berani untuk makan cacing lagi."
"Apa?"
Huo Bing tidak bersikap sama dengan Heiliao. Ia tidak mau menuruti perkataan Xika.
"Jadi kau menolak untuk berhenti makan cacing?"
"Tentu saja."
"Bagaimana kalau kita bermain capsah? Kalau kau menang aku akan mencarikan cacing tambahan untukmu. Kalau kau kalah kau harus berhenti makan cacing dan mencarikan cacing untuk diuji pada formasi itu. Bagaimana?"
"..............."
Itu tawaran yang cukup menggiurkan. Huo Bing bisa makan cacing sepuasnya bahkan Xika akan membantunya, tapi kalau ia kalah, ia tidak akan diperbolehkan makan cacing lagi. Bahkan ia harus mencarikannya untuk uji coba formasi.
Hadiah yang cukup besar, tapi resikonya juga cukup besar. Huo Bing cukup ragu untuk menerima tantangan Xika. Terlebih anak itu luar biasa dalam capsah. Tapi bukan berarti ia tak terkalahkan. Ia juga pernah mengalahkannya dua kali.
Akhirnya Huo Bing menerima tawaran Xika.
"Baiklah. Aku setuju."
"3 ronde. Deal?"
"Deal."
Xika mengambil kartu dari balik jubahnya dan mulai mengocok.
"Tunggu. Biarkan aku yang mengocok." kata Huo Bing.
Ia takut Xika bermain curang. Tapi Huo Bing tidak tahu bahwa Xika tetap bisa curang meskipun bukan dirinya yang mengocok kartu.
Tapi untuk permainan ini, Xika tidak akan curang.
Kartu dikocok oleh Huo Bing. Kemudian ia membaginya menjadi empat tumpukan. Meskipun hanya ada dua pemain karena Heiliao masih sibuk, ia tetap membaginya menjadi empat. Memang seperti itulah biasanya ia bermain. Xika juga memiliki kebiasaan yang sama.
Ronde pertama.
__ADS_1
Huo Bing memiliki dua kartu dengan angka yang sama di tangannya. Sementara Xika masih memiliki 7 kartu.
Sekarang giliran Xika. Sebelumnya Huo Bing mengeluarkan dua buah kartu dengan tulisan A tertera di atasnya. Sementara kartu di tangannya memiliki angka 2. Ia yakin ia akan memenangkan ronde pertama ini.
Kemudian Xika mengeluarkan dua kartu juga. Huo Bing melebarkan matanya ketika melihat kartu yang dikeluarkan Xika.
Kartu yang dikeluarkan Xika adalah kartu yang juga bertuliskan 2. Hanya saja yang dikeluarkan Xika tingkatnya lebih tinggi dibanding yang di tangan Huo Bing. Jadi Huo Bing tidak bisa melawan Xika.
Untuk putaran itu ia terpaksa cus, yang berarti melewati gilirannya dan membiarkan Xika mengeluarkan kartu terlebih dahulu. Tapi ia tidak kecil hati. Ia masih yakin bisa memenangkan ronde pertama ini dengan kartu di tangannya.
Tapi keyakinanya memudar ketika melihat senyum di wajah Xika. Kebetulan, kartu di tangan Xika berjumlah 5 buah.
Dan Xika mengeluarkan semuanya secara bersamaan. Dengan begitu, kartu di tangannya habis dan ia memenangkan ronde pertama.
Huo Bing masih tidak percaya ia bisa dikalahkan ketika kemenangan sudah begitu dekat. Tapi ia menenangkan dirinya.
Masih ada dua ronde lagi, batinnya.
Namun Huo Bing kalah telak di ketiga ronde. Xika menghabisinya tanpa ampun.
Beberapa kali, Huo Bing sempat ragu untuk mengeluarkan kartu berangka besar, dan kemudian ia menyesalinya. Di ronde berikutnya, ia berusaha untuk tidak mengulangi kesalahannya. Tapi justru ia malah mengeluarkan kartu besarnya terlalu awal dan ia kalah lagi.
"Sesuai perjanjian. Carikan cacing dan jangan memakannya satu ekorpun."
Huo Bing terbang dengan tidak semangat.
Mungkin di dunia ini, hanya Xika yang berani bersikap seperti itu pada hewan-hewan suci yang legendaris. Yah, ia tidak terlalu mempedulikan sebutan 'hewan suci'. Ia bahkan pernah berkata bahwa hewan suci pun bisa diternakkan. Setiap kali Huo Bing mengingat ucapan Xika waktu itu, ia batuk-batuk sendiri saking kesalnya.
Selama Huo Bing dan Heiliao mencari kadal dan cacing untuk uji coba formasi, Xika berkultivasi. Ia mencoba untuk melangkah ke tahap selanjutnya, tapi nampaknya untuk saat ini masih belum bisa. Kecepatannya saat ini juga sudah layak untuk disebut jenius di dunia luar. Jadi ia tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.
Beberapa saat berlalu. Heiliao dan Huo Bing kembali dengan kadal dan cacing yang cukup banyak di mulut mereka. Keduanya berusaha sangat keras untuk tidak memakan mahkluk-mahkluk itu.
Xika berdiri dan menghampiri mereka.
"Bagus. Sekarang apa yang harus kita lakukan?"
"Apa?"
Heiliao dan Huo Bing menatap Xika dengan bingung. Daritadi ia yang paling sibuk mengurusi bahan untuk uji coba formasi, tapi setelah bahannya terkumpul, ia malah tidak tahu apa yang harus dilakukan?
"Tunggu. Jadi selama ini kau tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mengaktifkan formasi itu?"
"Tentu saja tidak. Kalian pikir aku ini ahli formasi atau apa?"
"Jadi untuk apa kau meminta kami mengumpulkan bahan uji coba formasi dari tadi?"
"Kalau aku tidak melakukannya, maka tidak akan ada mahkluk hidup yang tersisa untuk dijadikan bahan uji coba."
"............."
Heiliao dan Huo Bing tidak bisa menjawab perkataan Xika.
Kemudian mereka berdiskusi sebentar. Dan ketiganya tidak tahu bagaimana cara untuk mengaktifkan formasi itu.
Sebenarnya, ada banyak cara untuk mengaktifkan formasi. Tapi karena tidak ada yang tahu formasi apa itu, jadi mereka tidak yakin cara apa yang harus digunakan untuk mengaktifkan formasi itu.
Akhirnya mereka memutuskan untuk mencoba metode paling umum dan primitif.
Menyentuh formasi.
Mereka bertiga berjalan mendekati mayat ular besar itu. Mereka berhenti ketika jarak mereka dengan formasi di bawah ular itu cukup dekat.
"Jadi........mana yang akan kita gunakan?" tanya Xika sambil melirik hewan-hewan yang Huo Bing dan Heiliao kumpulkan.
__ADS_1
Ia membuat mereka melayang agar mudah dibawa sekaligus mencegah mereka melarikan diri. Kenapa Xika yang membawa hewan-hewan itu? Karena ia tidak yakin pada Huo Bing maupun Heiliao. Mereka bisa memakan hewan-hewan itu kapan saja.
"Kita gunakan yang ini saja dulu." kata Huo Bing menunjuk kadal mati yang dikeluarkan Heiliao sebelumnya.
Xika mengangguk. Kemudian ia melempar bangkai kadal itu ke formasi di depan mereka itu.
Syunggg!!!
Pluk!
Bangkai kadal itu mendarat di dalam formasi itu. Kemudian formasi itu menyala.
WHOSH!
Dan ketika formasi itu kembali meredup, bangkai kadal itu sudah hilang tanpa jejak.
Ketiganya menatap formasi itu dengan mulut terbuka. Mereka sama-sama bingung kemana hilangnya kadal itu.
"Ayo kita coba dengan cacing kali ini." usul Xika.
Kebetulan, cacing yang berhasil mereka tangkap cukup gemuk.
Ketika Huo Bing hendak melemparkan seekor cacing gemuk dengan ekspresi tidak rela, Xika menghentikannya.
"Tunggu!" katanya.
Huo Bing langsung menghentikan cakarnya. Ia menatap dengan penuh harap agar Xika bisa membiarkannya memakan cacing itu.
"Tidak perlu satu-satu. Lemparkan saja semua cacing itu."
Tapi perkataan Xika berikutnya membuat Huo Bing lebih kecewa dibanding sebelumnya.
Dengan berat hati, Huo Bing melemparkan semua cacing yang ia kumpulkan ke dalam formasi itu.
Formasi itu kembali menyala dengan terang.
Kali ini ketiganya berusaha keras untuk tidak menutup mata dan melihat apa yang sebenarnya terjadi dalam formasi itu.
Cukup sulit, karena cahaya yang dikeluarkan formasi itu amat menusuk mata. Meskipun Xika berhasil untuk tidak menutup matanya, ia hanya bisa melihat sedikit yang terjadi dalam formasi itu.
Samar-samar ia melihat cacing-cacing itu.........menyusut?
Setelah cahaya memudar, ketiga mahkluk itu butuh beberapa saat untuk membiasakan mata mereka.
Sebelumnya, mereka terbiasa memandang di tempat yang gelap. Kini cahaya yang cukup menusuk bersinar ke mata mereka, wajar saja mata mereka tidak terbiasa.
"Huo Bing, Heiliao. Apa kalian melihat sesuatu?"
"Penglihatanku tidak terlalu bagus. Aku terbiasa hidup di tempat gelap, jadi aku tidak bisa melihat dengan baik di tengah cahaya yang menyilaukan." ucap Heliao sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku berhasil melihatnya. Tapi itu membuat perasaanku lebih buruk."
Di antara ketiganya, Huo Bing lah yang paling dapat melhat dengan jelas. Ia merupaka roh, jadi hukum fisik tidak berpengaruh baginya.
"Benarkah? Jadi apa yang kau lihat? Aku hanya melihat cacing-cacing itu menyusut. Tapi aku tidak yakin benar atau tidak."
Huo Bing diam sebentar.
"Ya, benar. Apa yang kau lihat itu memang benar. Cacing itu menyusut. Lebih tepatnya diserap."
"Apa?'
"Formasi apa itu sebenarnya?"
__ADS_1
"Aku tak tahu.
Tapi yang pasti, formasi ini lebih mengerikan dibanding formasi yang digunakan oleh ular-ular sialan itu sebelumnya."