
"PAMAN!"
Xika segera berlari mendekati pamannya. Ia berlutut dan langsung memeriksa luka-luka pamannya. Tanpa pikir panjang Xika segera memasukkan berbagai pil ke dalam mulut pamannya dan mendorongnya masuk menggunakan qi.
"Lukanya cukup parah dan banyak. Tapi setidaknya ia masih hidup dan dantiannya aman. Setelah ini selesai kita rawat ia sampai pulih sepenuhnya." ucap Heiliao yang mendekat bersama Huo Bing.
Xika mengangguk sambil menatap pamannya dengan tatapan hampa. Bagaimana ini terjadi? Kenapa pamannya bisa berada di tangan Tian Yin? Bukannya sebelumnya Hei Bao mengatakan hanya pamannya yang lolos? Bagaimana pamannya bisa berakhir dalam kondisi seperti ini?
Kemudian Xika tersadar. Semua itu karena dirinya. Tujuannya memenangkan kompetisi penyambutan sudah terpenuhi. Namanya sudah tersebar kemana-mana, pasti karena itu pamannya tahu tentang dirinya dan lokasi dirinya berada. Tapi, mungkin karena hal itu juga Tian Yin menyadari kedatangan pamannya dan bersiap-siap. Kemudian ia menangkap Fa Diala dan menyebabkan pamannya berakhir seperti ini.
Tian Yin menatap Xing Xika yang terdiam lesu menatap pamannya sambil tersenyum keji. Dari samping, ayahnya Tian Yue memperhatikan baik-baik putranya.
"Sekarang kau mengerti apa akibatnya berurusan denganku? Kalau sudah mengerti, minggirlah." Tian Yin berjalan maju tanpa rasa takut sedikitpun. Ketika ia bersisian dengan Xika, ia berhenti sebentar untuk menatap Xika dengan pandangan hina. Kemudian ia menendang Fa Diala dan kembali melangkah maju.
"BRENGSEK!"
WHOSH!
SYUT!
JLEB!
CRAT!
"Blegh!"
Tian Yin menatap dengan tak percaya tongkat putih yang menembus tubuhnya. Bagaimana mungkin? Sebelumnya bahkan Xika tak bisa melukainya.......kenapa....sekarang.......
Xika segera menarik Space Shifter dan melemparkan Tian Yin ke belakang hingga jatuh berguling-guling ke kaki ayahnya. Setelah itu ia mengangkat sedikit kepalanya dan menatap para Pemimpin Sekte dengan tajam.
"Nak, tenang dulu. Aku bisa memberikan obat-obatan untuk pria itu..........jangan bertindak gegabah, oke? Mari kita bicarakan baik-baik......." Xian Cheng merasakan firasat buruk melihat pandangan Xika karena itu ia berusaha mencegah Xika melakukan hal yang tidak-tidak.
".............."
Melihat Xika yang hanya diam saja, Xian Cheng mengira Xika setuju untuk berbicara jadi ia maju perlahan sambil mengangkat kedua telapak tangannya ke arah Xika menandakan ia tak berniat bermusuhan.
Namun sayang, Xika memiliki niat yang berbeda.
SYUT!
Dengan satu lambaian tangan, sebuah lubang hitam muncul di sisi Pohon Kehidupan dan menarik semua buah-buah kehidupan yang ada.
"TIDAK!"
Xian Cheng segera melesat maju namun udara di depannya mendadak meledak dan membuatnya terlempar kembali ke jajaran para Pemimpin Sekte. Para Pemimpin Sekte yang lainpun berniat bertindak namun sudah terlambat. Xika telah memutar tangannya dan menutup lubang hitam itu.
Kini hanya tinggal empat buah yang tersisa di pohon tersebut. Ia segera menyisakannya untuk menciptakan perpecahan diantara perkumpulan sekte besar ini.
Semua itu terjadi begitu cepat sehingga selain Xian Cheng, tak ada Pemimpin Sekte lain yang bereaksi. Semuanya masih terbengong-bengong dengan pohon yang sebelumnya penuh buah kini hanya tersisa empat. Bayangan lubang hitam yang menghisap semua harta karun berharga itu terus terputar di benak mereka.
"Nak, sebelumnya aku berniat melepaskanmu. Tapi apakah kau tahu apa maksud dari tindakanmu ini? Apa kau berniat memulai perang? Keluarkan semua buah-buahan itu selagi aku masih berbicara baik-baik atau tanggung sendiri akibatnya." Xian Cheng menatap Xika dengan kesal karena gagal menghentikan Xika mengambil hampir semua Buah Kehidupan itu.
Xika menoleh menatap Heiliao.
"Tunggu apa lagi? Cepat panggil bala bantuan atau setidaknya pindahkan kita ke tempat lain!"
__ADS_1
"........."
"Hei, anu.....ng, Xika? Jadi begini, masalahnya..........sebelumnya Serigala Gosong sudah mengatakan padaku bahwa ia tak bisa menggunakan elemen ruangnya di tempat ini......"
"Apa?! Lalu mengapa tadi aku bisa menggunakannya?"
"Itu juga yang ingin aku tanyakan padamu."
"Ck, sialan!"
Xika kembali menatap para Pemimpin Sekte. Namun kali ini rasanya suasananya lebih berat setelah tahu Heiliao tak bisa menggunakan elemen ruang. Itu artinya mereka tak bisa memanggil bala bantuan para serigala, atau bahkan mereka tak bisa melarikan diri.
"Yah, sepertinya rencana kalian gagal? Bagaimana?" ucap Han Li memprovokasi.
"Penawaranku sebelumnya masih berlaku. Serahkan semua buah-buahan itu kemudian enyahlah. Ini kesempatan terakhir kalau kalian masih ingin mempertahankan hidup kalian." Xian Cheng kembali bernegosiasi.
"Brengsek. Kalau seperti ini, kita hanya bisa bertarung sampai mati." Xika menggertakkan giginya. Ia menguatkan pegangannya pada Space Shifter dan bersiap untuk bertarung. Begitu juga dengan Huo Bing dan Heiliao yang terlihat sudah siap.
Para Pemimpin Sektepun juga sudah siap untuk mendapatkan Buah Kehidupan itu dengan segala cara.
TAP! TAP! TAP!
Terdengar langkah kaki dari belakang. Tak lama kemudian keluarlah sesosok gadis yang merupakan salah satu dari anggota Empat Gadis Tercantik. Gadis tersebut berhenti sesaat untuk melihat situasi dan ketika ia mengerti apa yang sebentar lagi akan terjadi, ia segera berlari menuju gurunya.
"Guru," ucap Liang Jihua sambil memegang tangan Meng Fuqin, Pemimpin dari Northern Light Palace, "kumohon, mundurlah untuk kali ini saja, ya? Mengingat persahabatan yang dimiliki muridmu ini dengan Xing Xika, tolong kabulkan permintaanku sekali ini saja. Kedepannya, Hua'er tak akan membantah lagi dan mematuhi semua permintaan guru."
Meng Fuqin memandang Liang Jihua sesaat kemudian memandang Xika. "Hua'er, kau masih muda. Kau mudah dibutakan oleh cinta. Kau bahkan rela memohon padaku demi pria yang tidak mencintaimu? Jangan biarkan cinta mengekangmu dan membuatmu melakukan hal-hal yang akan kau sesali di masa depan."
"Guru!"
"K-kumohon guru! Hanya ini saja permohonanku! Aku tidak akan malas latihan lagi! Aku akan mengikuti perjodohan yang guru berikan! Aku akan melakukan semua perintahmu! Kumohon guru!"
Meng Fuqin tidak merepotkan dirinya dengan muridnya lagi. Ia mengibaskan tangannya dan menghempaskan muridnya ke tembok.
BRUK!
Kemudian es mulai menutupi Liang Jihua secara tiba-tiba dan membekukannya hingga hanya kepalanya yang tersisa.
Xika melihat seluruh kejadian itu tanpa ekspresi. Kemudian ia menatap Meng Fuqin dan tersenyum sinis,
"Aku tidak percaya kau mengatakan hal seperti itu. Mendengar perkataanmu sebelumnya artinya kau masih belum memiliki pasangan ya? Kasihan. Apa kau hendak membuat muridmu juga menjadi perawan tua seperti dirimu? Ck ck ck........"
"LANCANG!"
SYUT!
Ratusan duri es yang muncul entah dari mana segera melayang menuju Xika. Namun satu meter dari Xika, semua duri-duri itu hancur terpecah menjadi ribuan kristal indah yang terbang ke mana-mana.
"Heh, dasar perawan tua! Cari lawan yang sepadan denganmu, bodoh!" ucap Huo Bing tersenyum mengejek. Ia yang menghancurkan duri-duri es itu sebelumnya. Kini ia menemukan seorang pengguna es yang cukup jarang, ia jadi ingin menantangnya.
"Brengsek! Kau memanggilku perawan tua?!"
"Benar, perawan tua. Rupanya kau tuli. Kemari dan cari lawan yang seimbang!" Huo Bing masih terus memprovokasi.
"ARGHHHHH!!!!"
__ADS_1
Meng Fuqin melesat menuju Huo Bing dengan kecepatan tinggi. Heiliao sudah bersiap, namun Huo Bing segera memberi tanda.
"Tenang, serahkan perawan tua ini padaku." ucapnya penuh percaya diri mengabaikan Meng Fuqin yang berteriak semakin keras.
Sayangnya, yang melesat menuju Huo Bing bukan hanya Meng Fuqin saja. Han Li juga ikut menyerang. Entah karena ia naksir dengan Meng Fuqin (meskipun ia tua, namun ia mempertahankan wujud gadisnya sehingga masih tampak rupawan dan berusia awal dua-puluhan) dan berniat mendapatkan hatinya, atau ia memang punya dendam tersendiri dengan Huo Bing.
Sekali lagi, Huo Bing memberikan tanda pada Heiliao,
"Tenang saja. Aku akan mengurus perawan tua dan duda mata keranjang itu. Kau urus saja sisanya."
"Brengsek, istriku masih hidup sialan!"
Huo Bing sudah menghadapi pemimpin Burning Abyss Clan dan Northern Light Palace. Namun masih ada Immortal Pearl Pavillion, Sky Devouring Castle, Di Clan, dan Divine Array Clan yang menunggu. Kalau saja Xika sekuat Huo Bing dan Heiliao, masing-masing bisa melawan dua pemimpin.
Tian Yue dan Xian Cheng sudah bersiap. Begitu juga dengan Shu Chen, kepala dari Divine Array Clan. Pria itu melambaikan tangannya dan sebuah array besar muncul di samping Xika. Heiliao segera menarik Xika mundur dan bersiap menyerang atau menghindar.
Namun rupanya yang keluar dari array tersebut adalah Shu Chen sendiri. Heiliao menduga bahwa ini adalah klon Shu Chen namun di seberang sana hanya tinggal tiga pemimpin yang tersisa. Pria itu memandang Xika dan Heiliao yang tampak waspada dan berjalan mendekat. Kemudian ia membalikkan badannya sehingga posisinya kali ini berhadapan dengan tiga pemimpin yang lain.
"Apa-apaan ini Saudara Shu?" tanya Xian Cheng.
"Maaf, tapi aku berada di pihak anak ini kali ini."
"Apa? Mengapa?"
Anehnya, pertanyaan tersebut bukan keluar dari mulut Tian Yue atau Xian Cheng, bukan juga dari Di Xinwang kepala dari Di Clan, melainkan dari Xika sendiri. Shu Chen menaikkan salah satu alisnya bingung melihat respon Xika, namun masih tetap menjawabnya.
"Aku harus melindungimu atau klanku akan hancur."
"Apa? Mengapa?" tanya Xika dengan kalimat yang sama.
"Shu Mang akan bunuh diri bersama dengan seluruh rahasia bila aku membiarkanmu mati." ucap Shu Chen tanpa ekspresi.
Pantas saja Xika merasa ada yang aneh. Ia tidak merasakan aura permusuhan dari Shu Chen, tapi juga bukan aura pertemanan. Singkatnya hanya orang biasa yang tak memiliki hubungan. Lantas mengapa pria itu berniat membantunya? Rupanya alasannya karena Shu Mang. Ia harus membalas kebaikan pria itu berikutnya kalau bisa selamat.
"Ck, dasat pengkhianat! Biarlah! Kita masih bertiga, mari kita-"
"Maaf, untuk pertarungan kali ini aku tak akan mengambil pihak. Aku tak terlalu tertarik dengan Buah Kehidupan itu, jadi untuk kalian saja. Sampai jumpa." ucap Di Xinwang sambil melambaikan tangannya dan berjalan pergi.
"Apa-apaan?!"
Di He. Xika yakin sekali ini karena Di He. Setelah Shu Mang, berikutnya Di He. Ia memang tak salah memilih teman. Kalau saja waktu itu ia memilih membunuh Di He, mungkin hari ini ia yang akan mati.
Xian Cheng tak peduli lagi. Ia melesat maju dan berniat menyerang Xika. Namun tiba-tiba, dari bayangannya sendiri muncullah kepalan hitam yang membuatnya terdorong mundur.
"Wah, wah, wah........apa-apaan ini? Seorang pemimpin sekte menyerang murid?"
Dari bayangan Xika, muncullah seorang pria santai yang mengenakan jubah kelabu. Ketika melihat wajahnya Xika dapat melihat kemiripan dengan Li Tang. Apakah pria ini juga berasal dari Dark Shade Abyss?
"Li Ming dari Dark Shade Abyss, siap melayani anda!" ucapnya sambil tersenyum menatap Xika.
-----------------------------
Bisa bisanya aku membiarkan sebuah komentar menjatuhkan diriku.
CCS tidak akan update terlalu sering seperti sebelumnya dikarenakan saya yang sedang menghadapi ujian akhir. Terima kasih.
__ADS_1