
BRUK!
Xika langsung jatuh berlutut karena aura luar biasa yang mendadak muncul itu. Huo Bing dan Heiliao, sekalipun tidak sampai menunduk, tapi mereka juga tak bisa berdiri dengan tegak seperti biasa.
Pandangan semua mata kini tertuju pada pohon yang sebelumnya ditunjuk Huo Bing. Lebih tepatnya ke cahaya yang muncul di depan pohon itu yang perlahan-lahan berkumpul membentuk sebuah sosok pria yang cukup tinggi.
SHHHH!!!
"Apa ini? Bagaimana kau bisa masuk ke sini? Aku yakin sudah membuat penghalangnya dengan benar......"
Suara itu berasal dari sosok pria yang sebelumnya merupakan kumpulan cahaya. Pria itu jugalah sumber aura menakutkan yang membuat semua mahkluk di tempat ini merasa tertekan. Pria itu menatap Xika dengan bingung dan kening berkerut. Kemudian pandangannya beralih pada kumpulan Spirit Beast yang lain dan baru menyadari ia juga membuat para Spirit Beast itu tertekan.
"Ah. Maafkan aku, teman-teman." Pria itu segera menarik auranya dan hanya menyisakannya pada Xika yang merasa aura yang menekannya kini semakin berat. Tanah di bawah lututnya pun sampai retak menahan tekanan aura tersebut.
"Jadi? Siapa kau? Dan bagaimana kau bisa masuk ke sini?" tanya pria itu sambil menatap Xika lekat-lekat, berusaha menemukan rahasia Xika.
Xika menggertakkan giginya, untuk menahan tekanan, kemudian menjawab,
"Mana kutahu! Aku hanya berlari memasuki celah ruang itu lalu sesaat kemudian aku berada di tempat ini!"
Pria itu menatap Xika dengan penasaran dan terlihat meragukan jawabannya, namun sebelum ia mengajukan pertanyaan lain, sebuah bola yang mengandung elemen api dan es melayang menuju kepalanya.
SYUT!
BLAR!
Pria itu menepis serangan Huo Bing hanya dengan lambaian tangannya. Ia bahkan sama sekali tak menengok. Heiliao mulai menyadari ada yang salah tapi Huo Bing masih menatap pria itu dengan berang. Ia tak akan membiarkan Xika disakiti.
Kemudian pria itu menoleh,
"Hm? Ah, rupanya ada pendatang baru. Selamat datang. Maaf aku tak menyadari keberadaan kalian sebelumnya. Tapi kenapa kau menyerangku tiba-tiba?"
"Turunkan dia!" teriak Huo Bing.
SYUSH!
Grep!
Heiliao segera berubah kembali menjadi manusia lalu memegang bahu Huo Bing yang sudah kembali berwujud manusia sejak menyerang. Serigala itu berusaha mengingatkan Huo Bing untuk tidak bertindak gegabah. Ia baru menyadari ada dua hal yang salah.
Pertama, ia tak bisa mendeteksi tingkat kultivasi pria itu. Kedua, ia tak bisa menggunakan elemen ruang di tempat ini. Ketika ia memberi tahu Huo Bing hal barusan, burung itu terlihat terkejut. Meskipun begitu, mereka tetap tak bisa membiarkan pria itu menyakiti Xika begitu saja.
"Oh? Rupanya kau memiliki hubungan dengan manusia ini. Apa kau yang membantunya masuk ke tempat ini? Tidak, tidak. Bahkan sekalipun dibantu oleh Spirit Beast, seorang manusia tetap tak akan bisa masuk ke tempat ini."
"Apa kau merupakan Spirit Beast?" tanya Xika yang mendengar pria itu bicara seolah dirinya bukanlah manusia.
"Aku manusia." jawab pria itu dengan tenang.
__ADS_1
"Lalu kenapa kau menatap manusia lainnya dengan bermusuhan dan kebalikannya saat menatap Spirit Beast?"
"Karena aku tidak percaya pada manusia. Aku pernah dikhianati oleh manusia. Pada saat itu, yang mengangkatku dari jurang keputusasaan bukanlah manusia melainkan Spirit Beast. Sejak saat itu aku berteman dengan Spirit Beast dan membenci manusia."
Xika berusaha mengangkat kepalanya dan menatap pria itu sekalipun aura yang dikeluarkannya membuat ia ingin menundukkan kepala.
"Jadi, setelah kau dikhianati manusia kau membenci manusia? Bodoh sekali pemikiran itu."
"Oh? Kau punya pandangan yang lebih baik?" ucap pria itu dengan tenang, tapi ia memperkuat aura yang dikeluarkan sehingga kali ini Xika kembali menunduk dan tak bisa mengangkat kepalanya walau sudah berusaha sekuat tenaga.
"Heh. Hanya karena kau dikhianati oleh manusia bukan berarti semua manusia jahat. Katakan, apa kau tidak pernah digigit Spirit Beast sekalipun? Hanya karena kau digigit Spirit Beast sekali, bukan berarti seluruh Spirit Beast itu jahat.
Aku sendiri sudah pernah merasakan betapa pahit dan busuknya seorang manusia. Aku bahkan merasakan penderitaan yang luar biasa dari manusia. Tapi dari manusia jugalah aku merasakan hal yang indah seperti cinta dan keluarga. Yang harusnya kau benci bukanlah seluruh manusia, tapi manusia yang mengkhianatimu."
"Kau bisa bicara seperti itu karena kau tidak mengerti apa yang kurasakan."
"Heh. Saat umurku lima tahun, seluruh desaku dibantai oleh manusia. Orangtuaku meninggalkanku. Aku dihajar habis-habisan dan dantiannku pecah. Lalu aku ditinggalkan dalam keadaan sekarat tanpa ada seorangpun yang dapat menolong. Lantas mengapa?"
Mendadak pandangan pria itu berubah. Bahkan Xika merasakan aura yang menekannya berkurang walaupun tidak secara signifikan.
"Kau............juga merasakannya? Ketika seluruh dunia meninggalkanmu, ketika tak ada lagi tempat untuk bersandar, ketika kau menyadari bahwa kini kau benar-benar sendirian di dunia ini...........bahkan setelah semua itu kau tidak kehilangan kepercayaan pada manusia?"
Xika terdiam beberapa saat sebelum ia menjawab,
"Bohong kalau aku bilang aku tidak kehilangan kepercayaan. Tapi kau merasa sendiri karena kau hanya diam. Cobalah untuk berdiri dan melihat sekelilingmu. Masih ada orang yang bisa kau percayai."
"Lalu? Apa hubunganmu dengan mereka berdua?" tanyanya sambil memberi tanda pada Huo Bing dan Heiliao.
"Mereka saudaraku." jawab Xika dengan penuh keyakinan.
"Hah. Apa kubilang, Spirit Beast memang lebih baik daripada manusia. Kau sendiri mengakuinya."
"Dalam beberapa hal, memang. Tapi itu tak menjadikan semua manusia jahat."
''Terserahlah. Katakan bagaimana kau bisa masuk ke tempat yang hanya dimasuki Spirit Beast ini. Kalau jawabanmu membuatku tidak puas, maka ucapkan selamat tinggal pada dunia ini. Oh, dan sekalipun kau memberikan jawaban yang baik, jangan harap bisa mendapatkan segigitpun dari buah-buahan di pohon ini." ucapnya sambil menunjuk pohon besar di tengahnya.
Xika berpikir sebentar kemudian memutuskan untuk menjawab dengan jujur.
"Aku mendapat darah seekor Spirit Beast. Mungkin itu yang membuat diriku bisa memasuki tempat ini."
"KAU MEMINUM DARAH SPIRIT BEAST? SEKALIPUN KAU MENYEBUT SPIRIT BEAST SEBAGAI SAUDARAMU?"
Aura yang sebelumnya sudah berkurang kini kembali muncul. Tapi kali ini dengan intensitas yang berbeda. Aura itu tidak diarahkan hanya untuk menekan Xika seperti sebelumnya, tapi kali ini berkumpul di sekitarnya dan benar-benar bermaksud untuk membunuhnya.
"Aku tidak meminumnya. Ia yang meneteskan darahnya sendiri ke lukaku. Dan sepertinya tubuhku menyerap darahnya."
Xika sebenarnya bisa memberikan alasan lain berupa sayapnya. Sayap juga merupakan bagian dari Spirit Beast kau tahu. Namun ia memutuskan untuk merahasiakannya karena sulit untuk menceritakannya pada pria jangkung itu.
__ADS_1
Mendengar ucapan Xika, pria itu menghentikan auranya untuk sesaat tapi kelihatannya masih tidak percaya.
"Itu darah dari kaumku. Dan aku berani bersaksi bahwa ia tidak berbohong." ucap Heiliao.
"Begitu juga denganku." Huo Bing juga melangkah maju. Sekalipun ia tahu pria di hadapannya ini luar biasa kuat, tapi ia tak akan membiarkan pria itu menyakiti Xika.
Pria itu menatap Xika, Huo Bing, dan Heiliao dengan tajam satu-persatu berusaha mencari kebohongan di mata mereka, tapi pada akhirnya tidak menemukannya. Lalu ia menarik kembali auranya.
"Kau beruntung karena teman-teman Spirit Beast-mu. Aku tak akan membunuhmu hari ini, tapi jangan harap kau bisa mencicipi Buah Kehidupan itu."
Xika melebarkan matanya. Mendadak pembicaraan beberapa waktu lalu mengenai harta karun Akademi yang terkait dengan Rahasia Kehidupan muncul kembali di kepala Xika. Jadi yang dimaksud dengan Rahasia Kehidupan itu adalah Buah Kehidupan.
Dan seketika itu juga ia teringat dengan Han Li dan pemimpin sekte lainnya yang masih menunggu di luar.
"Senior! Tidak masalah kalau anda tidak mengizinkan saya mendapat Buah Kehidupan itu, tapi tolong izinkan kedua saudara saya mendapatkannya. Saya tidak akan mencicipinya sedikitpun. Di luar celah ruang yang anda ciptakan, banyak manusia berkumpul dan berusaha masuk ke tempat ini. Masing-masing dari mereka memiliki kultivasi yang kuat dan kedua saudara saya tak dapat mengalahkan mereka semua." ucap Xika sambill menyatukan kedua tangannya dan membungkukkan badannya.
"Jadi, kau bermaksud menggunakan Buah Kehidupan agar kedua temanmu itu bisa menerobos ke tingkat selanjutnya dan mengalahkan manusia-manusia lainnya?"
"Benar senior."
"Aku tak bisa melakukan hal itu."
Cahaya di mata Xika meredup. Tanpa Buah Kehidupan itu, kecil kemungkinannya Huo Bing dan Heiliao mengalahkan pemimpin sekte yang lain. Dan lagi, keberadaannya di tempat ini sama sekali tak membantu.
"Aku membangun tempat ini untuk mengekspresikan rasa terima kasihku pada Spirit Beast. Setiap Spirit Beast yang ada di tempat ini memiliki hak yang sama untuk mendapat Buah Kehidupan itu.
Tapi tak perlu khawatir. Manusia-manusia yang kau sebutkan itu tak akan bisa masuk ke tempat ini tak peduli sekeras dan selama apapun mereka mencoba. Kau dapat berlatih di tempat ini sampai cukup kuat kemudian keluar untuk membunuh mereka semua.
Lagipula, kalaupun ada manusia selain dirimu yang bisa masuk ke tempat ini, ia adalah keturunanku. Ia pasti akan datang membawa bala bantuan."
Xika mengangkat kepalanya dan menatap pria jangkung itu. Cahaya kembali ke matanya meskipun tak seterang sebelumnya. Setidaknya, pria itu mengizinkannya berlatih di tempat ini sekalipun ia tetap tak diizinkan mencoba Buah Kehidupan. Tak masalah. Tempat ini penuh dengan energi kehidupan dan qi yang murni. Berlatih di tempat ini juga akan memberinya manfaat.
KRAK! KRAK!
Mendadak terdengar suara sesuatu yang pecah, Xika menoleh kesana kemari sebelum menyadari yang pecah adalah ruang. Ruang yang membatasi tempat ini dengan ruang bawah tanah sebelumnya.
"Tak perlu takut. Itu adalah keturunanku."
Entah mengapa, sekalipun pria jangkung itu berkata tak perlu takut, tapi Xika merasakan firasat buruk. Ia segera menelan beberapa pil dan bersiap untuk yang terburuk.
KRAK!
PRANG!!
Ruang di hadapan Xika pecah dan tampaklah sebuah wajah yang tak asing. Pemilik wajah itu pernah merusak sayapnya dan Xika sudah pernah mengalahkannya.
Murid Dalam nomor satu di Akademi, Hua Zhantian.
__ADS_1
Namun, ia tidak sendiri. Di belakang Hua Zhantian, berdiri secara teratur para pemimpin dari sekte-sekte lain, disertai dengan beberapa ratus murid mereka yang sebelumnya gagal memasuki celah ruang tersebut.