
Han Mang mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum benar-benar sadar. Ia berusaha bangkit namun tidak berhasil. Ia kembali mengerang.
Xika membisikkan sesuatu pada Lang Jin dan yang lainnya sebelum berjalan mendekati Han Mang.
"Apa kabar?"
Han Mang tersentak. Ia mengangkat tangannya di depan lukanya untuk bertahan, takut orang yang bicara akan menyerangnya.
"Kau tidak ingat?"
Han Mang menurunkan tangannya kemudian mengernyit. Ia menatap Xika selama beberapa saat.
"Kau........yang waktu itu di gua........"
"Xing Xika."
"Ah,ya........."
Han Mang tidak bicara lagi. Ia menatap sekelilingnya. Pertama pada pohon tempat ia bersembunyi sebelumnya, kemudian pada rumput-rumput ungu yang mengelilingnya dan terakhir pada para serigala. Kemudian ia kembali menatap Xika.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Aku juga ingin bertanya itu padamu."
".............aku tidak bisa memberitahumu."
Xika menatap Han Mang sebentar sebelum menoleh pada para serigala.
"Apa maunya?" teriak Lang Jin.
Han Mang yang melihat itu kembali bertanya.
"Apa mereka akan memakanku?"
"Entahlah."
"Bagaimana denganmu?"
"Tidak. Untuk saat ini."
"Lalu kenapa mereka bertanya padamu?"
"Karena kita sama-sama manusia. Dan mereka berpikir sebagai manusia, aku akan lebih mudah untuk berbicara denganmu dibanding mereka yang berbicara denganmu."
"Apa yang ingin mereka bicarakan?"
"Apa tujuanmu, apa yang kau lakukan dan kenapa kau bisa berada disini."
"Apa ini Tanah Para Serigala?"
Xika menoleh untuk bertanya pada Lang Jin. Untuk saat ini ia harus memberikan kesan abu-abu untuk hubungannya dengan para serigala. Setidaknya sampai ia tahu apakah Han Mang adalah kawan atau lawan. Dan untuk itu ia harus berpura-pura tidak tahu dimana ia berada.
Lang Jin meneriakkan sesuatu yang tidak didengar jelas oleh Han Mang.
"Ya, ini Tanah Para Serigala."
__ADS_1
".........."
Han Mang kembali terdiam. Ia memikirkan berbagai hal. Khususnya bagaimana menjawab pertanyaan tadi.
"Hei, aku mungkin bisa menunggu, tapi aku tidak yakin mereka akan menunggu lebih lama lagi. Kau lihat serigala yang paling besar itu? Ia sudah sangat tidak sabar untuk berpesta dengan dagingmu." ucap Xika sambil menunjuk Lang Jin.
"Bisakah aku berbicara pada serigala saja?"
Xika langsung mengerti niatnya. Han Mang tidak ingin ia tahu apa yang ia lakukan disini dan apa tujuannya. Ia juga tidak terlalu peduli. Toh, nantinya ia tinggal bertanya pada Lang Jin saja. Tapi sepertinya ia tidak bisa membiarkannya begitu saja.
"Entahlah."
Xika kembali berteriak pada Lang Jin. Lagi-lagi Han Mang tidak mendengarnya dengan jelas. Xika kembali menoleh.
"Tidak. Sekelilingmu penuh dengan racun. Mereka tidak mau mendekat."
Han Mang menatap Xika selama beberapa saat. Dan Xika bisa menebak apa yang dipikirkannya. Han Mang menduga bahwa ia memiliki hubungan yang cukup tegang dengan para serigala. Hal itu terlihat jelas dari Xika yang berada disini, tempat yang penuh dengan racun. Para serigala tidak peduli dengan nyawa Xika. Alasan Xika berada disini bukan karena ia adalah manusia, tapi karena nyawanya tidak berharga dan bisa dikorbankan siapa saja. Yah, Xika akan membiarkannya berpikir sesukanya.
Han Mang berpikir sebentar sebelum akhirnya bicara.
"Aku tidak memiliki tujuan yang buruk. Aku sama sekali tidak berniat mengganggu para serigala. Aku kesini tanpa sengaja. Aku hanya melarikan diri. Tunggu sampai lukaku sembuh, tidak, tunggu sampai aku bisa bergerak maka aku akan segera pergi."
Xika tidak memberikan reaksi yang bisa dibaca Han Mang. Ia hanya memberitahukan pada para serigala apa yang dikatakannya. Lang Jin membalas sambil menggeram. Xika kembali menoleh.
"Katanya, jawabanmu terlalu tidak jelas. Tujuanmu masih belum jelas. Bagaimana kau bisa sampai kesini? Kau melarikan diri dari siapa? Dan mereka tidak bisa membiarkanmu bergerak, karena racunmu akan menghancurkan tanaman yang ada. Ah, dan apakah mereka akan membiarkanmu sembuh atau tidak, tergantung dari jawabanmu."
Han Mang mendecakkan lidahnya. Ia sudah menduga para serigala tidak akan menerima jawaban itu. Sebelum ia sempat berpikir, Lang Jin sudah kembali menggeram. Xika menerjemahkan.
"Cepat jawab.Waktumu tidak banyak. Kau bisa mengucapkan selamat tinggal pada dunia saat matahari terbenam."
"Aku menemukan sebuah harta." ucap Han Mang pada akhirnya. "Aku tidak sendiri. Dan kami bertarung. Aku melarikan diri darinya. Mengenai kenapa aku bisa sampai disini aku juga tidak terlalu mengerti. Aku hanya meminta diizinkan tinggal sampai lukaku sembuh. Itu saja. Aku akan langsung pergi dan tidak akan mengatakan apapun mengenai Tanah Para Serigala."
Xika memberitahukan ucapan Han Mang pada Lang Jin. Serigala besar itu memberikan jawaban dan Xika kembali menerjemahkannya.
"Katakan apa harta itu dan kau diizinkan tinggal."
"Akan kukatakan, bila para serigala berjanji tidak akan merebutnya."
Xika menoleh dan kembali menerjemahkan.
"Kalau begitu ia tidak menjamin sampai kapan bisa menahan rasa laparnya. Katanya, kadang ia kesulitan mengendalikan emosinya dan melampiaskannya dengan makan daging segar."
Han Mang kembali mendecakkan lidahnya frustasi. Ia sangat ingin berteriak. Tapi luka di perutnya tidak akan membiarkannya melakukan hal itu.
"Akan kukatakan. Tapi kalau para serigala berhasil mendapatkannya, aku ingin mendapat bagian juga."
Kali ini Han Mang dapat mendengar jelas apa yang keluar dari mulut Lang Jin. Dan itu hanya berupa geraman saja.
"Grrrr........" (Setuju. 80 : 20)
"Tidak. 50 : 50"
"Grr...." (paling banyak 70 : 30)
"Tidak bisa. Itu adalah harta yang berharga. Akan terjadi perang besar bila klan lain tahu tentang keberadaan harta itu. Bahkan kaum Spirit Beast pun akan bergabung. Aku bisa menjamin itu. 50 : 50. Aku bisa memberitahukan letaknya, tapi kita harus membaginya sama rata. Kalau kalian bersikeras membunuhku, aku masih bisa memberikan sinyal terakhir. Meskipun aku mati, klankupun akan tahu tentang keberadaan harta itu. Dan kalian tidak akan tahu letaknya. Kalaupun kalian bersikeras mencari tahu, klanku tidak akan tinggal diam dan perang tidak akan terhindar."
__ADS_1
Xika kembali memberitahunya pada Heiliao. Serigala itu agak bingung bagaimana harus bersikap, jadi ia hanya diam saja. Untungnya Han Mang mengira serigala itu sedang berpikir. Lagipula wajahnya memang datar dan tidak banyak memberikan banyak ekspresi. Diam-diam, Xika memberikan tanda pada Lang Jin. Lang Shu disamping mengartikan tanda itu karena Lang Jin tidak pandai membaca tanda.
Dan Lang Jin menyalak buas. Ia memamerkan giginya dan membuat air liurnya menetes.
Han Mang terlihat sedikit takut karena tindakan Lang Jin itu. Kemudian Xika berbicara. Kali ini bukan untuk menerjemahkan melainkan karena pikirannya sendiri.
"Bagaimana kalau 40 : 40 : 20? Kenapa kalian tidak menghitung keberadaanku?"
Lang Shu membisikkan sesuatu pada Lang Jin dan serigala itu kembali menyalak buas. Kali ini bahkan lebih buas daripada sebelumnya. Kemudian ia memberikan geraman beberapa kali dan Xika memasang ekspresi berpikir.
Han Mang menoleh padanya, ingin tahu apa yang dikatakan serigala itu.
"Apa ia setuju?"
"Katanya, ia harus menerima paling sedikit, lima puluh lima persen. Tidak bisa kurang dari itu. Mengenai pembagian sisanya, aku bebas mendiskusikannya padamu. Jadi kurasa yang harus kulakukan adalah bicara denganmu."
Han Mang tidak langsung menjawabnya. Ia butuh waktu untuk berpikir. Karena para serigala sudah setuju, sepertinya tidak apa ia menunda waktu sebentar untuk Xika.
"Sebelumnya di makam, kau diteleportasikan kemana? Kenapa aku tidak melihatmu?"
Xika membalas pertanyaan itu dengan pertanyaan.
"Apa semuanya diteleportasikan ke tempat yang sama?"
"Tidak juga. Hanya sebagian."
Xika mengangguk-ngangguk.
"Yah, aku hanya dipindahkan ke tempat yang berbeda."
Han Mang masih tidak yakin dengan jawaban Xika tapi ia tidak mencari tahu lebih lanjut.
"Jadi? Apa kau bersedia berbagi denganku? Aku tidak masalah mendapat sepuluh persen. Lima persenpun tak apa."
"Aku tidak yakin kau dapat menjaga harta itu. Lebih baik kau biarkan saja daripada nyawamu melayang."
"Dari yang kau bicarakan, harta itu kelihatannya bukan sesuatu yang tunggal seperti sebuah artefak. Kalau tidak, kau tidak akan membicarakan mengenai pembagian. Seharusnya itu adalah sesuatu yang dapat dibagi. Kalaupun artefak, mungkin ada beberapa. Atau mungkin.......sebuah tambang? Kristal Elemen?"
Pada saat Xika mengatakan tambang, ekspresi Han Mang berubah. Kemudian kalimat berikutnya membuat Han Mang kembali tenang.
Kristal Elemen cukup berharga. Di atas koin emas, ada tingkatan yang lebih tinggi, yaitu: Batu Spiritual. Batu Spiritual terbagi lagi menjadi tiga tingkat, yaitu rendah, menengah, dan tinggi. Kualitasnya ditentukan berdasarkan seberapa banyak qi yang dikandung batu tersebut.
Seperti Batu Spiritual, Kristal Elemen juga memiliki tingkatan yang sama: tinggi, menengah, dan rendah. Kristal Elemen sebenarnya adalah Batu Spiritual, namun mengandung elemen tertentu sehingga membuatnya lebih langka dibanding Batu Spiritual. Meskipun begitu, ekspresi Han Mang menjadi santai ketika Xika mengatakan Kristal Elemen. Itu berarti apa yang Han Mang temukan lebih berharga daripada Kristal Elemen.
"Aku tidak bisa memberitahumu. Mungkin aku akan berubah pikiran kalau kau memberitahuku latar belakangmu. Darimana kau berasal?"
"Sebelum aku memberitahu dirimu, aku harus menanyakan sesuatu."
Sambil berkata seperti itu, Xika mengeluarkan pisaunya. Han Mang mengerutkan alisnya ketika melihat itu.
"Apa?"
"Kau itu kawan?"
Xika mendekatkan pisaunya pada leher Han Mang bersiap menebasnya.
__ADS_1
"Atau itu lawan?"