Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-157


__ADS_3

Xika langsung bergegas mendekati Heiliao, tapi gerombolan warga menghalanginya melakukan itu. Ia berusaha meminta jalan tapi tak dipedulikan, para warga terlalu sibuk dengan mahkluk buas di depan mereka. Sampai seorang pria yang kesal karena didorong Xika berbalik ingin melihatnya, tapi terkejut ketika menemukan pemuda yang ada di depannya.


"Maaf, permisi."


"Ta....Taiyang?"


"Apa? Taiyang?"


"Taiyang ada di sini? Xing Taiyang?"


"Bagus! Taiyang! Tolong kami!"


Cahaya remang-remang yang ada membuat Xika semakin terlihat mirip dengan ayahnya. Sayangnya banyak warga yang tidak menyadari hal itu. Xika tidak tahu bagaimana mereka akan bereaksi setelah tahu ia bukan ayahnya. Dan tidak butuh waktu lama untuk mengetahuinya.


"Tidak. Dia bukan Taiyang. Perhatikan baik-baik."


Perkataan pria yang-kalau Xika tidak salah ingat-dipanggil Fu Shang membuat para warga berhenti bersorak dan memandangi dirinya lekat-lekat. Sejujurnya, Xika agak terganggu dengan pandangan mereka. Para penduduk desa itu memandanginya tanpa etika sama sekali.


"Fu Shang benar. Di-dia bukan Xing Taiyang......."


"Apa?"


"Benar juga. Setelah dilihat-lihat, meskipun mirip tapi ia bukan Taiyang....."


Segera, pandangan mata yang penuh kelegaan dan sukacita itu digantikan tatapan takut yang penuh dengan teror.


Xika tak mempedulikan mereka lagi. Ia menghampiri Heiliao dengan mudah karena semua orang menepi ketika ia bergegas maju.


"Heiliao. Kau tak apa? Apa yang terjadi?"


"Aku tak apa. Daripada aku, lebih baik kau mengkhawatirkan mereka."


Xika berbalik. Dan ia menemukan pandangan ketakutan. Dari ketakutan berubah menjadi kebencian. Dan dari kebencian berubah menjadi kemarahan. Kemarahan yang mendatangkan niat membunuh.


"Se-serigala itu bisa bicara......."


"Mereka datang lagi.....Mereka datang lagi!"


"Xing Taiyang tak ada disini....habislah kita......"


"Tidak! Taiyang sudah mengajarkan kita cara bertahan. Kita harus bertahan."


"Benar, benar. Kita harus bertahan."


"Tapi.....bagaimana caranya?"


"Bunuh dia!"


"BUNUH DIA!"


Para warga yang tadinya berusaha berdiri sejauh mungkin dari Heiliao, kini berusaha mendekat sambil menyerangnya. Tentu saja itu bukan masalah untuk menghindari serangan-serangan itu bagi Heiliao sekalipun ia membawa seekor rusa betina.


"Tolong tunggu sebentar!"

__ADS_1


Xika berdiri di depan Heiliao dan merentangkan tangannya.


"Serigala ini temanku. Ia tidak berbahaya."


Xika berharap sebagai sesama manusia, dengan menyatakan bahwa Heiliao tidak berbahaya maka mereka juga akan percaya. Tapi sayangnya penduduk desa malah fokus ke hal lain.


"Kau teman serigala ini?"


"Benar-"


"Kalau begitu kau juga disini dengan tujuan yang sama dengannya?"


Xika mengerutkan keningnya karena tidak mengerti apa yang dibicarakan.


"Bunuh dia juga!"


"BUNUH ANAK ITU!"


Para warga langsung berlari dan menyerang Xika sekaligus Heiliao, tak mempedulikan Xika yang masih berusaha memberi penjelasan.


Ada yang membawa tombak, ada yang menggunakan qi, ada juga yang hanya menggunakan tangan kosong. Tapi semua warga menyerang tak peduli apakah mereka memiliki senjata atau tidak.


Di dalam desa, Kepala Desa sedang gelisah karena banyak dari warganya yang belum kembali. Setelah menghadapi kejadian yang hampir memusnahkan desa mereka, Kepala Desa mengatur jadwal yang harus ditepati semua orang. Jadi bila ada satu orang saja yang tak kembali, maka seluruh desa akan langsung mengetahuinya.


Sebelumnya, Tang Chu bilang ia mendengar suara binatang buas. Ia hendak memeriksanya. Beberapa warga lain juga ikut menawarkan diri. Setelah beberapa saat tidak kembali, semakin banyak warga yang ingin turut memeriksa juga.


Saat ini sudah lebih dari setengah desa yang pergi tapi masih belum ada yang kembali. Sebagai Kepala Desa, ia tak bisa mengirimkan warganya lebih banyak lagi. Ia yang harus pergi sendiri. Beberapa warga langsung menahannya, berkata siapa yang akan memimpin mereka kalau ada sesuatu yang terjadi padanya.


Wakil Kepala Desa maju dan menenangkan warga. Ia mengangguk dan membiarkan Kepala Desa pergi. Tepat pada saat itu, terdengar suara,


"BUNUH DIA!"


"BUNUH ANAK ITU!"


Pria tua itu berlari secepat yang ia bisa, namun ketika ia sampai ke arah suara itu berasal, pertarungan telah dimulai. Pertarungan antara seekor serigala dan remaja melawan setengah desa.


Xika masih menahan diri. Ia tidak membunuh mereka, hanya membuatnya pingsan. Tapi sepertinya Heiliao lebih kesulitan. Serigala itu tidak bisa membuat para warga pingsan semudah yang dilakukan Xika. Setidaknya ia harus memberikan luka cakar sampai mereka kehabisan darah dan pingsan.


Ia tak berani melepaskan dagingnya karena takut diambil. Pemikiran yang akan langsung disetujui Huo Bing kalau ia mendengarnya. Burung itu tidak ikut bertarung. Saat ini Xika dan Heiliao cukup menguasai pertarungan. Tapi ia sadar bahwa pertarungan ini didasari salah paham. Kalau ia ikut, bisa-bisa malah bertambah kacau.


Jadi ia hanya terbang dan mengawasi keadaan sekitar. Kebetulan ia melihat seorang pria tua berlari dengan tergesa. Kalau pria itu datang hanya untuk memperkeruh suasana, bisa-bisa semakin repot. Lebih baik ia hadang.


WHOSH!


"Pak tua, kau mau kemana?"


Sang Kepala Desa langsung menghentikan langkahnya terkejut dengan suara yang muncul di sampingnya. Ia menoleh tapi tak menemukan sosok yang berbicara. Beberapa saat kemudian ia baru melihat sosok burung samar-samar yang terbang di dekatnya.


"Roh burung?"


"Aku tanya sekali lagi. Kau. Mau. Ke. Mana?"


"Ke sana," tunjuk Kepala Desa, "Apa yang terjadi?"

__ADS_1


"Ada sedikit kesalahpahaman. Kalau kau ingin memperkeruh suasana lebih baik kau diam saja."


"Kepala Desa! Kemari, cepat!"


Tadinya Huo Bing hendak menghentikan pria tua itu, tapi setelah mendengar ia dipanggil kepala desa, ia membiarkannya lewat.


Kepala Desa langsung berlari menembus kerumunan dan melihat wajah di samping serigala. Ia mengerutkan keningnya bersamaan dengan kakinya yang menghentak tanah.


TAK!


Pertarungan langsung berhenti. Lebih tepatnya para warga. Mereka menatap Kepala Desa mereka.


"Apa-apaan ini?"


Belum ada yang menjawab pertanyaannya, sebuah suara menyelanya.


"Xika?"


Seluruh pasang mata berbalik dan menemukan sosok Zheng Wei yang terengah-engah. Pria itu pergi tidak lama setelah Kepala Desa. Entah kenapa ia punya fiasat buruk dan saat ini firasatnya terbukti benar.


"Kepala Desa, tunggu apa lagi? Ayo bunuh mereka!"


Berbagai sorakan penuh persetujuan terdengar.


"Bunuh? Kenapa?"


"Kepala Desa, ada apa dengan anda? Tidakkah anda lihat serigala besar itu? Ia disini untuk membunuh kita. Anak itu juga bersamanya. Kita harus membunuh mereka secepat mungkin sebelum kawanan serigala itu datang."


Sorakan persetujuan kembali terdengar. Kali ini bahkan lebih keras.


TAK!


Kepala Desa menghentakkan kakinya lagi membuat semua penduduk desa terdiam.


Pria Tua itu menghembuskan nafasnya secara kasar sebelum perlahan-lahan menjadi tenang. Tadinya ia ingin memarahi warganya karena menyerang putra Xing Taiyang. Tapi kemudian ia ingat, sebagian penduduk tidak berada di desa sehingga tidak mengenali wajahnya sementara sisanya tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena kurangnya pencahayaan di malam hari.


Ia ingin memperkenalkan putra Xing Taiyang besok pagi bersama Zheng Wei yang katanya hendak mengajak jalan-jalan. Siapa sangka ia harus memperkenalkannya lebih cepat. Tapi saat ini terlalu larut.


Kemudian kepalanya menoleh menatap serigala di samping Xika. Ia hampir melupakan keberadaannya. Kenapa Xika bersama serigala itu? Apa memang benar Xika datang dengan tujuan yang sama dengan serigala itu? Tujuan yang sama yang hampir menghancurkan desa mereka?


Tepat disaat Kepala Desa mulai menebak-nebak, Zheng Wei mendekat dan membisikkan beberapa kata. Wajah Kepala Desa menjadi lebih tenang. Ia mengangguk beberapa kali kemudian menoleh menatap warganya.


"Ini semua hanyalah kesalahpahaman. Kita akan bahas ini lagi besok. Sekarang kembalilah. Hari sudah larut."


Banyak penduduk melayangkan protes tidak setuju, tapi semua berhenti setelah Kepala Desa menghentakkan kakinya. Akhirnya mereka berjalan kembali dengan perasaan tidak puas, tapi tak ada yang bisa mereka lakukan saat ini.


Kepala Desa yang terakhir pergi untuk memastikan semua warga kembali. Saat ia melewati Xika, ia berkata,


"Datanglah besok pagi."


Setelah mengatakan itu ia berjalan pergi.


Xika dan Heiliao saling berpandangan tak mengerti apa yang terjadi. Tapi setidaknya malam ini mereka aman.

__ADS_1


"Yah, meskipun aku tidak terlalu mengerti apa yang terjadi, tapi setidaknya malam ini kita tidak akan tidur dengan perut kosong."


Meskipun ucapan Huo Bing itu tak sesuai dengan pemikiran dua lainnya, tapi mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu dan tidak memusingkan masalah yang tadi. Yah, Heiliao sedikit bercerita bagaimana ia bisa bertemu warga sambil makan.


__ADS_2