
Huo Bing menghela nafas kecewa.
Xika dan Heiliao langsung membalikkan badan.
Ternyata Huo Bing mendengar dugaan Xika tadi. Xika tidak tahu sejak kapan Huo Bing tidak lagi tenggelam dalam pikirannya.
Xika menunggu beberapa saat, kalau-kalau Huo Bing akan menyangkalnya. Tapi burung itu tidak melakukan apa-apa selain menghela nafas penuh kekecewaan.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara. Xika maupun Heiliao tidak tahu harus bicara apa dan bagaimana dalam situasi seperti ini.
"Hahh...........Tak kusangka bangsa Phoenix adalah pengkhianat. Jadi aku adalah keturunan pengkhianat?" tanya Huo Bing lebih kepada dirinya sendiri. Tapi tatapan matanya sudah tidak memiliki harapan hidup.
Di matanya, sudah tidak ada lagi artinya ia hidup. Ditambah seberkas memori yang mendadak muncul di kepalanya membuatnya semakin merasa tidak layak hidupnya.
-------------------------------------------------
"Kak Huo! Sesuai rencanamu, kami berhasil menangkap ular-ular sialan ini." kata seekor burung muda pada Huo Bing.
Ia menghampiri Huo Bing bersama beberapa burung lainnya yang membawa sebuah kurungan yang ditutupi kain di kaki mereka.
"Hmph! Kenapa kalian membawanya kesini? Kenapa tidak dibunuh?"
Burung itu tertawa sedikit mendengar pertanyaan Huo Bing.
"Ehehe........kami tahu. Tapi mereka semua ingin merasakan masakanmu lagi."
Kemudian terdengar pernyataan tidak setuju dari burung lainnya.
"Kami tidak pernah bilang begitu!"
"Benar! Yang bilang itu tadi kan kau!"
"Sstt......kalian ingin makan enak tidak? Diamlah!" ucap burung muda itu pelan pada teman-temannya di belakang.
Burung muda itu memiliki penampilan yang cukup menawan untuk seekor burung. Ia memiliki sayap warna biru bercampur hijau. Biru di bagian atas lebih dominan dibanding hijau. Tapi semakin ke bawah semakin banyak warna hijau hampir menutupi seluruh warna biru. Selain warnanya yang menarik, ia juga memiliki perawakan yang cukup gagah yang membuatnya dikagumi oleh banyak burung betina lainnya.
Tapi Huo Bing mendengarnya. Ia hanya tersenyum mendengus.
"Baiklah. Tapi jangan disini. Nanti persembunyian kita bisa ketahuan."
Kemudian Huo Bing terbang ke pedalaman hutan diikuti burung lainnya.
Setelah dirasa cukup jauh dari markas mereka, Huo Bing berhenti dan memerintahkan yang lain untuk ikut berhenti juga.
Mereka mendarat di tengah hutan dengan pohon yang cukup tinggi dan rimbun. Saking rimbunnya sampai menghalangi sinar matahari dan membuat tempat itu tidak jauh berbeda dari malam hari.
Salah satu burung itu mengangkat kain yang menutupi kurungan itu dengan cakarnya.
Dan terlihatlah isi kurungan itu. Beberapa ular terbaring di sana dengan lemas.
"Racun?" tanya Huo Bing.
Burung berwarna biru kehijauan itu mengangguk dengan senyum lebar di wajahnya.
Namanya Lan Gao. Ia ahli dalam menggunakan racun. Hal yang cukup aneh mengingat racun paling sering digunakan oleh ular sehingga bisa dianggap racun adalah simbol ular. Tentu saja banyak burung yang tidak suka dengan Lan Gao karena ia menggunakan racun. Ia dijauhi dan dikucilkan. Ia dianggap keturunan ular yang menyamar sebagai burung.
Karena perlakuan itu, Lan Gao berhenti menggunakan racun yang merupakan hal yang paling disukainya. Ia berharap, burung-burung lain akan kembali berteman dengannya. Tapi mereka tetap menjauhi Lan Gao. Bahkan menghinanya semakin parah.
Alhasil, Lan Gao pindah ke pinggir hutan untuk menghindari perlakuan tidak mengenakkan itu. Selama beberapa bulan, ia hidup dengan tenang tanpa ada hinaan dan makian dari sekitarnya. Tapi tetangganya yang merupakan penghuni hutan memiliki lidah yang lebih kejam daripada burung lainnya.
Lidahnya mengandung racun. Benar, ia seekor ular.
Seekor ular datang ke tempat Lan Gao tinggal dan hendak memangsanya. Lan Gao melakukan segala cara untuk menyerang balik atau setidaknya kabur, tapi ia gagal. Ia sudah mencoba berbagai cara, namun tak ada yang berhasil.
Akhirnya, ia menggunakan kembali racunnya yang tidak mau ia gunakan lagi. Lan Gao berhasil membunuh tetangganya menggunakan racun itu. Tapi kini ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak bisa kembali ke desanya. Mereka akan tetap menghinanya apapun yang ia lakukan. Tapi ia juga tidak bisa terus tinggal di pinggir hutan. Kedatangan ular itu membuatnya sadar bahwa tinggal di pinggir hutan tidaklah aman.
Disitulah Lan Gao pertama kali bertemu dengan Huo Bing.
Seperti biasa, Huo Bing sedang terbang berkelana, menjelajah sambil menghindari pemburunya. Ia hinggap di sebuah dahan pohon dan memperhatikan pertarungan antara Lan Gao dengan ular itu. Ia cukup terkejut melihat Lan Gao memiliki banyak persediaan racun dan berhasil menggunakannya untuk mengalahkan ular yang merupakan simbol dari racun.
Huo Bing turun ke depan Lan Gao.
"Wah, kau berhasil membunuh simbol ular dengan racun? Hebat juga."
Awalnya kedatangan Huo Bing membuat Lan Gao ketakutan. Ia takut Huo Bing akan menyebarkan bahwa ia kembali menggunakan racun. Tapi perkataan yang keluar dari mulut Huo Bing mengejutkannya. Itu bukan pandangan penuh hinaan atau sarkasme, tapi murni kekaguman.
"Siapa namamu?" tanya Huo Bing pada Lan Gao.
"Eh? Ah, La-Lan Gao......."
"Lan Gao ya........kenapa kau tinggal disini?"
Mendengar pertanyaan Huo Bing, Lan Gao menundukkan kepalanya. Huo Bing tidak memaksanya bicara setelah melihat reaksi Lan Gao.
__ADS_1
"Lan Gao, apa kau mau ikut denganku?"
"Eh?"
Pertanyaan Huo Bing begitu tiba-tiba. Lan Gao sampai bengong mendengarnya. Wajar saja, seumur hidupnya tidak pernah ada yang mengajaknya melakukan sesuatu bersama. Dan burung yang tidak dikenal mendadak mengajaknya berpergian bersama tentu saja mengejutkan Lan Gao.
"Tidak mau ya?" tanya Huo Bing melihat Lan Gao yang hanya diam.
Kemudian ia berbalik dan melebarkan sayapnya hendak pergi. Tapi ucapan Lan Gao menahannya.
"Tu-tunggu! A-aku mau......."
Huo Bing berbalik sedikit, kemudian ia tersenyum.
"Tunggu apa lagi? Ayo pergi!"
"Ba-baik!"
Kemudian Huo Bing terbang bersama Lan Gao menjelajahi tempat baru. Lan Gao tidak merasa menyesal atau rindu sedikitpun pada desanya.
Baginya, rumahnya adalah bersama Huo Bing. Burung itu bukan hanya tidak mengejeknya karena menggunakan racun, tapi justru membantunya mempelajari racun lebih dalam.
"E-eh? Belajar racun lebih dalam?"
"Benar. Kenapa memangnya?"
"I-itu......."
Kemudian Lan Gao menceritakan alasannya tinggal di hutan dan sebisa mungkin tidak mau berurusan dengan racun lagi. Tapi jawaban Huo Bing adalah,
"Apa? Tidak mau? Sayang sekali........padahal kau sangat berbakat di bidang itu. Kulihat juga kau sangat menyukainya, apa aku salah?"
"Ti-tidak......tapi, menggunakan racun itu......"
"Sudahlah......Tidak perlu memikirkan apa kata orang lain. Kau hidup untuk dirimu sendiri, bukan untuk mereka, untuk apa memikirkan perkataan mereka? Lagipula itu kan hal yang kausukai dan kau tidak melakukan dosa apapun menggunakan racun itu. Bukankah racun pernah menyelamatkan nyawamu?"
".................."
Lan Gao tidak bisa menjawab.
Jadi akhirnya, dibawah dorongan Huo Bing, Lan Gao kembali menggunakan racun. Tidak butuh lama baginya untuk kembali bereksperimen menggunakan racun.
Teman-temannya yang lainpun tidak ada yang mengejeknya. Justru mereka malah mendukungnya. Selain Lan Gao, Huo Bing bertemu beberapa burung lain yang memiliki nasib serupa dengan Lan Gao. Ia membawa mereka bersamanya. Jumlah mereka semakin banyak hingga akhirnya mereka membentuk sebuah kelompok dengan nama Burning Ice dengan Huo Bing sebagai pemimpin.
Sebenarnya ia tidak terlalu peduli dengan pembuatan kelompok ataupun nama kelompok itu, ia hanya membawa burung-burung yang bernasib sama dengannya atau Lan Gao. Meskipun sudah resmi menjadi ketua Burning Ice, Huo Bing tetap bersikap seperti biasanya.
Kematian Gu Xun menimbulkan luka yang teramat dalam di hatinya sampai ia menutup hatinya pada semua orang. Tapi ketika melihat burung lain yang bernasib sama dengan dirinya-sendirian, dikucilkan, tidak memiliki kelompok-Huo Bing merasa hatinya tergerak hingga ia menolong burung-burung itu.
Ia tidak pernah berbicara sesuatu yang sentimental atau menceritakan kisah tentang dirinya, tapi burung-burung itu menerimanya. Bagi mereka, Huo Bing sudah menerima mereka yang hancur ini tanpa syarat, tentu saja mereka juga akan menerimanya tanpa syarat.
Huo Bing mulai menikmati masa-masanya bersama Burning Ice. Masa-masa dimana dirinya diterima dan memiliki sebuah keluarga. Demikian juga burung-burung lain. Mereka memiliki masa lalu yang sama sehingga mereka memiliki rasa persaudaraan yang kuat yang membuat mereka menerima satu sama lain tanpa pandangan merendahkan sedikitpun. Dan Huo Bing benar-benar berharap masa-masa itu berlangsung selamanya.
Tapi tidak ada yang abadi di dunia ini, begitu juga dengan kebahagiaan.
Hari itu tepat peringatan sepuluh tahun Burning Ice. Burning Ice telah menjadi kelompok yang cukup disegani oleh berbagai kaum, baik Spirit Beast maupun manusia. Tujuan utama mereka adalah membasmi semua ular di daratan itu dan mencegah burung lain memiliki nasib yang sama dengan mereka.
Sudah banyak burung yang hendak bergabung, tapi ditolak. Alasan utama kelompok itu berdiri bukanlah kekuatan, melainkan kasih persaudaraan. Dan tidak ada yang memilikinya dari semua burung yang hendak bergabung.
Markas Burning Ice berlokasi di sebuah puncak gunung. Bukan hal yang sulit untuk mencapainya, tentu saja karena mereka adalah burung.
Burning Ice telah mengambil banyak sekali nyawa ular. Saat ini, Huo Bing berada disebuah ruangan bersama beberapa burung lainnya sedang membicarakan langkah penyerangan pada kediaman sebuah kelompok ular.
Huo Bing duduk dengan tiga burung lainnya. Lan Gao salah satunya. Ia menjadi salah satu komandan tertinggi setelah mengikuti Huo Bing selama bertahun-tahun. Meskipun begitu, ada tidaknya dia dalam ruangan ini tidak terlalu berpengaruh. Otak bukanlah bagiannya, dan ia mengikuti perintah Huo Bing apapun itu, bahkan bila Huo Bing memintanya mati.
"Kak Huo, rencana penyerangan ini terlalu beresiko. Kita tidak tahu berapa banyak jumlah musuh dan berapa tingkat kultivasi mereka." kata seekor burung dengan bulu coklat bercampur putih. Ia memiliki penampilan normal selayaknya elang biasa, hanya saja tubuhnya lebih besar dari elang normal dan matanya lebih tajam dari elang manapun. Ia bernama Bai Feng, si Angin Putih.
"Benar, tapi ini adalah kesempatan besar. Kita telah mengetahui letak sarang mereka. Penyerangan harus dilakukan secepatnya sebelum mereka sadar. Sebelumnya kita berhasil memukul mereka mundur sebelumnya, kali ini kita akan memukul mereka sampai tidak bisa mundur lagi." ucap Huo Bing percaya diri.
Keberhasilannya selama ini membuatnya percaya diri dan yakin bisa melakukan apapun. Baginya, tidak ada yang tidak bisa ditaklukan. Namun kepercayaan dirinya membuat dirinya lengah dan tidak bisa melihat dari semua sisi.
"Kak Huo........sejujurnya aku cukup ragu dengan penyerangan ini........"
Yang bicara adalah seekor burung yang duduk di sebelah Bai Feng. Ia bernama Lei Yu, si Badai Petir. Lei Yu memiliki karakter yang sama dengan Lan Gao, bersemangat dan mudah emosi. Ia memiliki tubuh dengan bulu perak dominan bercampur ungu. Lei Yu cukup dekat dengan Lan Gao. Mereka sudah melakukan banyak hal nekat bersama. Tapi kali ini, bahkan Lei Yu pun menolak rencana Huo Bing.
"Hei, hei.......Apa yang kalian ragukan? Kita pasti bisa menaklukan sarang Crimson Flare. Aku yang akan maju kalau kalian tidak percaya." ucap Lan Gao percaya diri. Ia percaya dengan apapun yang dilakukan Huo Bing dan ia siap mengikuti semua perintahnya bahkan bila kedengarannya tidak masuk akal.
Akhirnya setelah perdebatan yang cukup panjang, penyerangan tetap dilakukan. Tadinya Lan Gao ingin mempimpin penyerangan, tapi Bai Feng mengajukan diri karena ia merasakan firasat buruk. Lei Yu juga ikut pergi dengan Bai Feng untuk berjaga-jaga. Penyerangan akan dilakukan dengan membawa dua ratus anggota.
Huo Bing akan tetap di markas mereka. Tapi ia melihat keraguan di wajah Bai Feng dan Lei Yu. Setelah itu Lan Gao mendorongnya untuk turut serta dalam penyerangan untuk menghilangkan keraguan di wajah kedua temannya.
"Kakak pergi saja. Masalah disini, serahkan saja padaku." katanya percaya diri.
Dan akhirnya Huo Bing beserta dua komandang tertinggi lainnya pergi untuk melakukan penyerangan. Dan markas mereka hanya dijaga oleh satu komandan tertinggi.
__ADS_1
Huo Bing ingat sekali senyum percaya diri di wajah Lan Gao waktu itu. Tapi siapa sangka, bahwa itu adalah terakhir kalinya ia melihat senyum Lan Gao?
Penyerangan yang dikepalai oleh Huo Bing dan dua komandan tertinggi lainnya berlangsung sukses. Ada sedikit perlawanan, tapi mereka berhasil menundukannya dengan mudah.
Kemudian mereka kembali ke markas mereka.
Tapi mereka tidak menemukan markas mereka. Yang mereka temukan hanyalah tanah yang sudah luluhlantak dengan berbagai bekas pertempuran di sana sini. Ada beberapa mayat burung di sana.
Bai Feng mendekati salah satu dari mereka yang masih bernafas. Bai Feng mendekat dan memeriksanya.
"Hehehe......akhirnya kalian datang juga."
"Lan Gao?! Apa yang terjadi? Dimana anggota kita yang lainnya?"
"Kita dijebak. Crimson Flare memiliki jumlah anggota yang jauh lebih banyak dan lebih kuat dari mereka. Serangan sebelumnya hanyalah sandiwara. Mereka sengaja mengalah untuk memancing kita."
"Apa? Jadi ini semua ulah Crimson Flare?"
Lan Gao menolehkan kepalanya pada Huo Bing.
"Kak Huo.......maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga markas."
Huo Bing mendekat dengan muka sedih. Ia tidak mengatakan apapun, tapi air mata menetes mengalir di wajahnya.
"Jangan menangis Kak Huo. Itu tidak cocok denganmu. Omong-omong, aku belum pernah mendengar satupun cerita tentang dirimu. Bisakah kau menceritakannya padaku?"
"............hidupku begitu buruk. Tidak ada yang perlu diceritakan."
Lan Gao terdiam kemudian bicara lagi.
"Kak Huo, tahukah kau? Bertemu denganmu di hutan pada waktu itu adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi bila kau tidak membawaku bersamamu saat itu. Kau telah memberikanku hidup yang baru, Kak Huo.
Saat-saat bersamamu dan Burning Ice adalah hal yang sangat kusyukuri. Aku tidak keberatan mati bersama mereka. Lagipula, kaulah yang memberikanku hidup. Aku siap untuk mengembalikannya."
Huo Bing terdiam dengan air mata yang terus menetes.
Kemudian Lan Gao mengucapkan kalimat terakhirnya,
"Sekalipun tubuhku dibakar dan jiwaku membeku, aku akan setia sampai mati!"
Setelah mengatakan slogan Burning Ice, Lan Gao menutup mata untuk selamanya.
"AHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!"
Huo Bing berteriak sangat keras di depan tubuh Lan Gao yang kini sudah tak bernyawa.
Kematiannya ditangisi oleh dua ratus anggota beserta komandang tertinggi yang tersisa. Kemudian Huo Bing beserta anggota yang lain memakamkan jasad-jasad.
Huo Bing mengusap air matanya kemudian menghadap dua ratus anggota yang tersisa.
"Persiapkan diri kalian. Kita akan berangkat sepuluh menit lagi."
"Apa?"
"Kita akan membalaskan dendam saudara kita. Jangan biarkan kematian mereka sia-sia."
"APA?! KAU MEMINTA KAMI PERGI MENYERBU MARKAS MEREKA? KAU TIDAK DENGAR MEREKA MEMILIKI JUMLAH DAN KEKUATAN YANG LEBIH UNGGUL? KAU SUDAH MEMBUAT LEBIH DARI SETENGAH ANGGOTA MATI. APA KAU MAU MEMBUAT KAMI SEMUA MATI?" teriak Lei Yu emosi.
Bai Feng tidak mengatakan apa-apa.
Huo Bing juga hanya terdiam mendengar ucapan Lei Yu.
"INI SEMUA GARA-GARA KAU! KAU DAN RENCANA BODOHMU! KALAU SAJA KITA TIDAK-"
"Lei Yu, sudahlah." ucap Bai Feng menghentikkan Lei Yu. Ia beserta beberapa burung lainnya menahan Lei Yu yang sepertinya hendak menyerang Huo Bing.
Huo Bing sendiri hanya menundukkan kepalanya dalam diam.
Kemudian ia mencabut sepuluh bulu dari sayap kanannya dan sepuluh lagi dari sayap kirinya. Ia meletakkan bulu-bulunya yang terbakar dan beku itu di depannya.
Huo Bing menekuk kedua sayapnya di hadapan semua anggota yang tersisa. Kemudian ia menundukkan kepalanya.
Amarah menghilang di wajah Lei Yu setelah melihat apa yang dilakukan Huo Bing. Mencabut bulu dari sayap sendiri adalah suatu bentuk pernghormatan tertinggi bagi kaum burung. Lei Yu tidak menyangka Huo Bing akan melakukan hal itu.
Setelah itu Huo Bing melebarkan sayapnya, kemudian mengepakkan sayapnya. Ia pergi meninggalkan Burning Ice, keluarganya yang telah menemaninya selama sepuluh tahun. Ia sudah tidak layak berada disana. Ia tidak lagi memiliki muka untuk bertemu anggota Burning Ice.
Luka yang sebelumnya hampir sembuh, kini kembali terbuka. Bahkan, luka itu bertambah parah.
----------------------------------------------------------
Benar. Ia sudah membuat anggotanya meninggal karena rencana bodohnya. Anggotanya meninggal di tangan Crimson Flare, kelompok yang terdiri dari berbagai macam ular. Dan leluhurnya bekerjasama dengan ular-ular yang telah memusnahkan lebih dari setengah anggota Burning Ice.
Dirinya sudah tidak memiliki hak untuk hidup di dunia ini.
__ADS_1
Ia hendak mengakhiri hidupnya.
Tubuh Huo Bing menyala seluruhnya. Pancaran aura yang kuat keluar darinya. Ia hendak meledakkan dirinya.