Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-50


__ADS_3

Xika terdiam mendengar ucapan Qin Mo.


"A-apa yang kau....."


"Benar, merampok. Aku tidak salah bicara. Tujuan kita memang untuk merampok"


"........"


"Kau bilang kau pergi ke toko Si Aneh Lian namun tutup, sebelumnya kan? Itu karena ia sedang menilai mana toko yang cocok untuk kita rampok."


"........"


"Ah, kita sudah sampai."


Xika tidak sempat memberikan komentar apa-apa. Mereka kini sudah berhenti di depan toko Lian Minjie. Toko itu terlihat tidak berbeda ketika Xika mengunjunginya namun masih tutup. Lampunya tidak kelihatan menyala sama sekali, pintunya juga tertutup seperti sebelumnya,


Namun ternyata pintu itu tidak dikunci.


Qin Mo mendorong pintu itu dengan mudah, kemudian melangkah masuk. Xika mengikuti di belakang.


Ketika mereka berdua masuk, pintu langsung tertutup dan beberapa balok kayu penahan langsung terbang mencegah pintu di buka.


Di dalam toko Lian Minjie masih sama seperti tadi siang. Hanya saja ada seorang lagi yang Xika tidak kenal.


Sepertinya itu anggota kelompok mereka satu lagi yang dipanggil 'Si Konyol Lin' oleh Lian Minjie.


"Hoi, Minjie sialan!"


Begitu masuk, Qin Mo langsung mengatai Lian Minjie. Ia tida terlalu peduli pada pintu yang kini terkunci.


"Lain kali kalau mau mengajak berkumpul, beritahu bocah ini dulu sebelumnya."


"Berisik, kau tidak berhak mengatakan itu padaku setelah mengirim anak ini tanpa memberitahunya."


Dan mereka berdua pun berdebat.


Xika dan seorang lagi hanya diam menyaksikan. Mereka berdua saling berpandang-pandangan.


Orang itu menatap Xika tanpa senyum sedikitpun.


"Lin Zhu."


"A-ah, ya. Saya Xing Xika."


Mendadak Lian Minjie memukul kepala Lin Zhu.


"Berhenti bersikap sok keren."


"Sialan! kesanku jadi burukĀ  di hadapan anggota baru sekarang."


"Diamlah. Lagipula sejak awal kau memang kesanmu memang sudah buruk."


"Setuju. Jadi berhentilah bersikap sok keren." kata Qin Mo menimpali.


Beberapa saat yang lalu mereka sedang berdebat, dan kini mereka berdua sudah kompak. Xika hanya bisa menggeleng-geleng kepala melihat kedua orang itu.


Setelah Lin Zhu berdebat beberapa saat dengan Qin Mo dan Lian Minjie dan akhirnya kalah, ia berbalik melihat Xika.


Namun kali ini, ada senyum yang cukup lebar di wajahnya.


"Ah, biar kuulangi lagi. Namaku Lin Zhu, salam kenal."


Xika juga sekali lagi memperkenalkan dirinya.


Ketika mereka hendak membahas rencana perampokan, Lin Zhu mendadak bertanya.


"Tunggu dulu. Sebelum berbicara lebih lanjut, aku ingin mengetahui kenapa kalian berdua memilih dia."


Lin Zhu bertanya sambil melihat Xika, tapi bukan dengan tatapan tidak suka atau meremehkan, tapi murni rasa ingin tahu.


"Yah, aku tidak memiliki alasan khusus. Aku melihatnya membawa kartu, jadi kukirim saja di ke Minjie."


"Aku juga tidak memiliki alasan khusus. Anak ini menang Capsah 10 kali dari 10 ronde melawanku. Selain itu, kemampuannya bertarung juga cukup bagus."


"Apa? Kau kalah dari Xika? Pfftt...."


Qin Mo dan Lin Zhu sama-sama tertawa mendengar pengakuan kalah dari Lian Minjie.


Mereka berdua tertawa selama beberapa menit tanpa mempedulikan Lian Minjie yang berkali-kali menjelaskan.


Sementara Xika jadi tidak enak hati telah mempermalukan Lian Minjie di depan temannya.


"Maaf, kak Lian."


"Tidak apa. Dua monyet sialan ini memang selalu kurang ajar."


Mendadak Lian Minjie memiliki sebuah ide.


"Benar juga. Kalau kalian tidak percaya dengan penjelasanku, ayo kita main Capsah sekarang."


Usul itu disetujui oleh semua orang, kebetulan mereka berjumlah empat orang. Jumlah pemain yang pas untuk permainan Capsah.

__ADS_1


Mereka bermain sebanyak sepuluh ronde dan Xika memenangkan sembilan di antaranya sementara sisanya ia tidak kalah, juga tidak menang.


Setelah sepuluh ronde berlalu dan mereka melihat kemampuan Xika, mereka bertiga kembali berdebat.


Dan ucapan Xikalah yang menghentikkan perdebatan mereka.


"Anu, senior? Kapan kita akan merampok dan bagaimana caranya?"


"Hohoho....rupanya ada yang bersemangat dalam merampok."


"Katakan nak, ini pasti bukan pertama kalimu merampok."


"Ehh...anu......"


Xika bingung harus menjawab apa.


Untunglah Lian Minjie langsung masuk pembicaraan.


"Baiklah, sudah cukup main-mainnya. Sekarang mari fokus. Tadinya aku berencana untuk merampok toko judi, mengingat betapa hebatnya Xika dalam bermain kartu. Tapi tidak ada salahnya untuk berolahraga. Lagipula, merampok toko judi itu terlalu mudah. Ditambah, kalian berdua pasti belum melihat kemampuan bertarung Xika."


Xika sedikit menundukkan kepalanya, malu dipuji oleh Lian Minjie.


"Tidak masalah. Dimana target kita?"


"Tunggu dulu. Memangnya toko apa yang akan kita rampok?"


Qin Mo dan Lin Zhu tidak mempermasalahkan toko apa yang mereka rampok, tapi Xika penasaran.


"Ah, mengenai hal itu, aku punya beberapa pilihan. Ada toko senjata, toko obat, toko perhiasan, rumah makan-"


"Tunggu dulu. Untuk apa kita merampok rumah makan?"


"Masuk akal. Daripada merampok rumah makan, lebih baik kita culik saja kokinya."


Qin Mo mengangguk setuju dengan usulan Lin Zhu sementara Xika masih bingung dengan diskusi ini.


"Jadi? Toko apa yang kalian pilih?"


"Rumah makan saja, aku lap-"


"Toko senjata saja. Kita harus punya cadangan senjata dan memperkuat senjata kita."


Qin Mo memotong ucapan Lin Zhu.


"Anu...bagaimana kalau toko obat saja?"


"Hmmm, menarik. Apa alasanmu anak muda?" tanya Lin Zhu dengan mengelus dagunya dan berpura-pura seperti orang tua.


"Bukankah kita harus memiliki obat untuk berjaga-jaga? Lagipula, bukankah persenjataan kita sudah cukup baik?"


"Masuk akal." kata Qin Mo sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Melihat tidak ada satupun dari kalian yang menyarankan toko perhiasan, sepertinya kalian semua memang jomblo ya?"


Mendengar ucapan menusuk Lian Minjie, Lin Zhu dan Qin Mo menatap Lian Minjie dengan tajam. Sementara Xika hanya garuk-garuk kepala bingung harus menjawa apa.


"Heh, Minjie sialan. Jangan bicara seolah kau sudah memiliki gadis ya."


"Benar. Katakan hal itu sekali lagi, dan kau akan kutinggalkan kau di toko rampokan kita nanti."


Mereka bertiga kembali berdebat.


Sementara Xika hanya menikmati suasana yang cukup berkeluarga ini.


"Huo Bing, bagaimana mereka menurutmu?"


"Tidak buruk. Mungkin saja mereka akan memberimu bantuan di masa depan. Meskipun otak mereka masing-masing agak bermasalah, tapi sepertinya tidak apa untuk berteman dengan mereka."


Xika hanya tersenyum canggung ketika mendengar Huo Bing bicara otak mereka yang bermasalah.


"Anu....kapan kita akan pergi?"


"Sekarang, tentu saja."


Mereka semua langsung berhenti berdebat dan mempersiapkan diri ketika mendengar ucapan Xika.


Ketika mereka semua hendak menuju pintu, Qin Mo berkata,


"Tunggu. Jadi toko apa yang akan kita rampok? Toko obat? Tidak ada masalah?"


Dua orang lainnya diam, jadi mereka sepakat merampok toko obat.


Ketika keluar dari toko Lian Minjie, hanya Xika yang tidak menggunakan penutup wajah.


"Ah, Xika. Tempelkan kartu yang kuberikan padamu sebelumnya seperti ini."


Xika mengikuti gerakan Lian Minjie dan mendadak, kartu yang diberikan Lian Minjie menempel di wajah Xika dan menutupi wajahnya sampai hanya mata saja yang terlihat.


"Bagus. Sekarang kita sudah siap. Toko obat berada 700 meter ke arah tenggara."


Selesai bicara, Lian Minjie langsung melompat ke atap rumah dan menghilang dari pandangan.

__ADS_1


Qin Mo dan Lin Zhu juga mengikuti.


"Ayo, Xika." kata Lin Zhu setengah berbisik sebelum ia melompat.


Xika mencoba melompat tanpa menggunakan qi, dan lompatannya sedikit lebih tinggi dari atap rumah.


Ia segera melapisi kakinya dengan angin untuk memperlambat jatuh sehingga tidak menimbulkan suara.


Saat Xika sampai di atap pertama, tiga orang di depannya sudah berjarak beberapa rumah darinya.


Ia segera mempercepat geraknya.


Ketika mereka berada di atas toko obat yang akan mereka rampok, Lian Minjie melompat pergi ke toko lain.


Qin Mo yang melihat Xika memperhatikkan Lian Minjie, mengajaknya masuk.


"Biarkan saja dia. Nanti ia akan menyusul. Ayo kita masuk."


Lin Zhu sudah membuka beberapa genteng dan membuat bolong atap toko tersebut, jadi mereka dapat masuk dengan mudah.


Tepat ketika Xika mendaratkan kakinya di dalam toko obat, teriakan bahaya terdengar.


"PENCURI! PENCURIII!!!! TOLONG!! TOLONG!!!!"


Tapi teriakan itu bukan berasal dari toko obat tempat mereka berada sekarang, melainkan dari arah yang Lian Minjie tuju sebelumnya.


Pemilik toko itu pun berlari keluar dari tokonya dan bergegas membantu toko tetangganya.


Xika dan dua pemuda lainnya segera bersembunyi ketika pemilik toko obat itu keluar dari kamar tidurnya.


"Bagus, sekarang kesempatan kita. Ambillah sebanyak yang kalian bisa."


Setelah mengatakan itu, Lin Zhu melesat menuju ruang tidur pemilik toko obat itu, hendak memeriksa kalau kalau ada obat berharga yang ia sembunyikan di kamar tidurnya.


Qin Mo masuk ke ruangan lain yang tidak terlalu jauh dari kamar tidur itu sementara Xika hanya mengambil obat di rak terdekat.


Tidak lama kemudian, Lian Minjie bergabung dengan mereka.


Ia tidak banyak bicara dan hanya mengambil apa yang ada di depan matanya.


Xika cukup kagum dengan perubahan mereka bertiga. Sebelumnya mereka begitu penuh dengan canda tawa hingga Xika ragu bahwa mereka akan benar-benar merampok toko. Tapi kini mereka semua begitu serius sama sekali berbeda dengan beberapa saat yang lalu.


Setelah beberapa menit, terdengar suara langkah kaki pemilik toko obat yang mendekat. Sepertinya para warga tidak berhasil menemukan pelaku yang melubangi jendela toko perhiasan. Pemilik toko perhiasan yang panik begitu jendelanya pecah, langsung berteriak tanpa memeriksa kondisi sekitar.


"Cepat! Waktu kita sudah tidak banyak."


Xika mengumpulkan beberapa botol guci lagi dan memasukkannya ke dalam cincin spasialnya.


"Sudah. Sekarang apa yang harus kita lakukan?"


"Bersembunyilah. Mari berharap bahwa langit cukup gelap agar pemilik toko tidak menyadari raknya yang kosong."


Selesai bicara, mereka berempat langsung berpencar mencari tempat persembunyian yang bagus.


Pemilik toko itu berjalan masuk. Ia mengunci pintunya kemudian masuk ke dalam kamar tidurnya.


Ia tidak terlalu memperhatikan sekitarnya dan langsung tidur.


Setelah yakin bahwa pemilik toko itu benar-benar tidur, mereka kembali berkumpul.


"Sekarang bagaimana kita akan keluar?"


"Lewat jendela. Kita bisa membukanya dari dalam."


"Tunggu dulu. Di mana Qin Mo?"


Mereka menolehkan kepala mencari Qin Mo beberapa kali namun tidak menemukannya.


"Sialan! Sepertinya si bodoh itu bersembunyi dalam kamar tidur pemilik toko."


"Apa? Benar-benar bodoh! Sekarang apa yang harus kita lakukan?"


Xika langsung berkata.


"Aku akan keluar dulu. Setelah itu akan kupecahkan jendelanya agar pemilik toko ini bangun dan keluar."


"Tunggu dulu. Itu cukup beresiko."


Tanpa mendengarkan Lian Minjie dan Lin Zhu, Xika langsung membuka jendela dan keluar.


"Anak itu benar-benar gila."


"Si Gila Xing, itu nama yang cukup bagus. Sekarang kita sudah punya julukan masing-masing."


"Sialan, bukan saat memikirkan hal itu."


PRANGGG!!!!


Setelah memecahkan kaca, Xika langsung berteriak,


"TOLONG!!!! PENCURI! PENCURI!!!"

__ADS_1


Kemudian XIka langsung berlari pergi.


__ADS_2